Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 80 Menuju Pulau Sentosa


__ADS_3

Di hari terakhir sebelum bertolak menuju Kuala Lumpur, rombongan 'Cinta yang Hilang' menuju Pulau Sentosa untuk bermain di Universal Studio dengan menaiki gondola lalu melanjutkannya dengan menaiki bus.


Marissa terlihat sangat senang, karena ini adalah kali pertamanya mengunjungi taman bermain setelah kepindahan keluarga Chen ke Singapura semasa ia kecil.


Jovan pun ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Marissa. Ia tak melepaskan genggaman tangannya sesaat pun dari Marissa, hal ini membuat para aktor dan rombongan lainnya tersenyum melihat keromantisan Jovan kepada Marissa. Walaupun sepertinya sepele, tetapi hal itu dirasa lebih dalam dibandingkan kata-kata manis.


"Bang Jovan itu romantisnya seperti apa sih? yang ngasih coklat, bunga atau gimana?" tanya salah satu aktor.


Jovan hanya tersenyum dan melirik ke arah Marissa, seperti memiliki kekuatan telepati, Marissa pun menjawab pertanyaannya.


"Bang Jovan itu dilarang ngucapin kata-kata manis bin mesra, cukup ada trus tetiba senyum sewaktu aku nengok ke arah Abang, that's my kind of romantic."


"Yup, she's as simple as that. Kalau ngambek cukup ajak ke resto favorit atau delivery order. Life is beautifull, as long as you live with someone who really loves you," tambah Jovan.


"Sepertinya sudah settle banget yaa, jadi iri. Pingin punya love story seperti kalian berdua," ucap salah satu aktor lainnya.


Jovan dan Marissa pun tersenyum mendengarnya.


"Yaaa, mereka sekarang dalam kondisi stabil, tetapi jika tiba-tiba salah seorang kambuh, love scene itu akan berubah menjadi sketsa komedi," sahut Jovanka yang kemudian mendapatkan lirikan tajam dari Jovan, sedangkan Marissa hanya tertawa cekikikan.


"Ih Abang, serius amat! Senyum dong, ntar gantengnya hilang," canda Marissa.


"Ga papa, yang penting bukan cinta yang hilang, nggak boleh hilang lagi!! ini harus diiket, dirantai biar tetep disini nggak kemana-mana!" sahut Jovan yang membuat Marissa tertawa hingga wajahnya memerah.


"Bang Jovan, ternyata posesif juga yaa?"

__ADS_1


"Akumulasi rasa sedari kecil, membuat Jovan sedikit over protektif," jawab Jorrian mewakili Jovan.


"Cukup berpisah 12 tahun, aku nggak mau ngerasain kangen yang sampai bikin sesek lagi," tambah Jovan.


Marissa pun mengerutkan kedua alisnya, seraya bertanya akan maksud kalimat Jovan.


"Cha, Jovan sebenarnya sempat sakit beberapa kali, tetapi nggak ada penyebabnya," jawab Jovanka.


"Wait, kok Bunda tahu aku sakit? kapan, yang mana?" selidik Jovan.


"Sewaktu Bunda sakit karena tidak bisa menghubungi tante Riska, terus kehilangan jejak Icha, kamu ingat?" tanya Jovanka.


Jovan pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


"Kok aku nggak tahu?" tanya Jovan.


"Yaa, karena saat menjelang shubuh, Bunda segera bangun, lalu membangunkan kamu dan


kedua abangmu," jawab Jovanka.


"Cha, Jovan itu seperti kehilangan separuh nyawanya sewaktu kamu menghilang. Tapi, Jovan mempunyai karakter yang tangguh, jika sudah meniatkan sesuatu, ia pasti harus mencapainya, walaupun membutuhkan waktu dan tenaga yang tak sedikit," lanjut Jovanka.


"Makanya dia benar-benar serius sekolah, agar cepat lulus dan memulai pencariannya sendiri," tambah Jorrian.


Seluruh rombongan pun dapat merasakan apa yang dirasakan Jovan selama itu.

__ADS_1


"Jovan itu selalu bergerak dalam diam, dari dulu selalu seperti itu. Dia selalu tahu apa yang Icha butuhkan dan inginkan, itu yang membuat Josie sadar, tidak akan pernah dapat menyaingi perhatian Jovan kepada Icha," lanjut Jorrian.


Jovan dan Marissa pun memandang Jorrian dengan penuh tanya.


"Josie sudah tahu sejak jauh-jauh hari, kalau ia hanyalah Abang yang ramah untuk Icha, bukan Abang yang dirindukan ataupun dinantikan. Bahasa tubuh Icha mengungkapkan semuanya," jelas Jorrian.


"Apakah aku sejelas itu?" tanya Marissa.


Dengan kompak, Jorrian, Jovanka dan Jordan menjawab, "Iya!"


"Tapi hanya Jovan yang buta dan tuli," sahut Jordan yang membuat Jovan melayangkan pandangan menusuk ke arah abang satu-satunya ini.


"Nggak papa, Bang. Sekarang biarkan Bang Jovan tetap buta dan tuli akan wanita lain," ucap Marissa yang membuat Jovan tersipu.


"Jiyaaaa, Van!! muka kamu auto udang rebus!!" goda Jordan yang memecahkan suasana.


Jovan pun menarik tangan Marissa untuk berjalan lebih cepat dan mendahului rombongan.


"Vaaaan!! jangan ngilang berduaan!!!" panggil Jordan yang tak diindahkan oleh adik bungsunya ini.


Anggota rombongan pun tertawa melihat aksi Jovan yang seperti anak kecil.


"Laki-laki kalau jatuh cinta itu, nggak bisa bohong, ketahuan banget!!" sahut Jovanka mengomentari putranya.


Jovan pun memisahkan diri dari rombongan untuk dapat menikmati permainan hanya dengan Marissa.

__ADS_1


__ADS_2