Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 47 Bukti-Bukti Yang Meyakinkan


__ADS_3

Sesuai rencana, malam itu Marissa mengundang keluarga Jovan untuk makan malam bersama di kediaman Alex.


Tepat pukul 19.00, 2 keluarga telah berkumpul di ruang keluarga, menunggu di mulainya makan malam bersama.


Diantara wajah-wajah ceria menyambut pernikahan Jovan dan Marissa, terdapat ketegangan berbeda yang dirasakan oleh Marissa.


Kegugupannya pun tak dapat disembunyikan dengan baik dan keluarga Jovan pun mengira kegugupan Marissa dikarenakan pernikahannya nanti.


"Eh, tangan kamu kok dingin begini??" tanya Jovanka setelah ia menggenggam tangan Marissa.


"Ehmm, ga papa, Bun," jawab Marissa dengan suara bergetar.


"Cha, kamu sakit?? kalau iya, kamu istirahat aja," tanya Jovanka lagi.


Marissa pun menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


Alex pun memulai perannya, untuk menyudahi ketegangan yang dirasakan oleh keponakannya itu.


"Baiklah, kita mulai saja acara makan malam kita. Mari, silahkan," ucap Alex sambil mengajak tamunya menuju ke ruang makan.


Keluarga Jovan pun dibuat takjub dengan kemewahan kediaman Alex. Walaupun Alex telah mendesain sedemikian rupa rumahnya, agar tidak terlalu memperlihatkan kekayaannya, tetapi bagi beberapa orang yang mengerti akan seni, penilaian mereka pun akan berbeda.


Sesaat sebelum dimulainya makan malam bersama, Alex pun berdiri untuk memberikan pengumuman.


"Maaf, saya interupsi sesaat. Ada seseorang yang Icha harapkan kehadirannya malam ini dan sebetulnya karena orang inilah, Icha mengundang keluarga Bapak Jorrian dan Ibu Jovanka untuk makan malam bersama sekaligus memperkenalkan orang yang sangat berarti baginya. Saya persilahkan, Mas Mario Sofyan untuk memasuki ruangan."


Wajah yang penuh dengan tanda tanya dan kemarahan pun berkumpul menjadi satu, begitu nama Mario disebut, terlebih Jorrian dan Jovanka yang selalu mendampingi Riska setelah ditinggalkan oleh Mario.


Mario pun memberanikan diri untuk muncul dengan wajah tegak, ia telah mempersiapkan mendapatkan cacian dari Jorrian yang telah banyak membantunya dahulu.


Jorrian pun bangkit dari duduknya, begitu melihat Mario memasuki ruangan. Rahangnya mengeras, ia pun mengepalkan tangannya, guna menahan emosinya.


Jovanka pun menarik tangan suaminya agar tidak melangkah lebih jauh, walaupun ia juga merasakan kemarahan yang sama.


"Ngapain kamu disini!! bukannya kamu sudah mati!! bahkan adik kamu yang bilang kalau kamu sudah mati, 5 tahun yang lalu!! apa kamu tiba-tiba bangkit dari kubur??!!! hah!!" ucap Jorrian penuh emosi.


Jovanka pun tidak berhasil menahan kemarahan suaminya. Jorrian segera mendekati Mario kemudian menarik kerah kemejanya sedangkan tangan yang satu lagi telah siap untuk menghantam wajah Mario.

__ADS_1


Jovan pun segera berdiri menahan ayahnya untuk tidak berbuat lebih lanjut.


Urat-urat di tangan Jorrian telah membesar, menunjukkan emosi yang ia rasakan saat itu.


Suasana pun semakin mencekam, membuat Marissa menangis ketakutan.


Alisa pun berusaha menenangkan keponakannya itu dengan memeluk dan membelai Marissa.


Marissa pun hanya dapat berkata lirih, memanggil ayahnya dalam tangisnya.


"Ayah.... Ayah jangan, Ayah tolong jangan sakiti Ayah."


Akhirnya Jorrian pun melunak, setelah mendengarkan suara tangisan Marissa.


Ia pun segera melepaskan tangannya dan menjauhi Mario, walaupun rasa hatinya ingin menghajar Mario sekuat tenaga.


Jorrian pun menghampiri Marissa sebelum kembali ke kursinya.


"Cha, maafkan Ayah. Tapi manusia bejat seperti itu tidak pantas untuk dibela!! perbuatannya tidak dapat dimaafkan, ia pantas untuk masuk penjara, bukannya masih dapat bernafas bebas diluar sana!!" ucap Jorrian penuh emosi.


"Bang, saya minta maaf..," ucap Mario yang segera dipotong oleh Jorrian.


"Ayah, tolong dengarkan penjelasan ayah terlebih dahulu," ucap Marissa dengan berderai air mata.


Jovan telah kehilangan semua kata-katanya, ia berusaha mencerna peristiwa yang terjadi, tetapi tidak ada satupun petunjuk yang membuat dirinya mengerti dengan apa yang terjadi.


Ia pun merasakan kepedihan hati Marissa, yang masih terisak dipelukan Alisa.


"Kamu hutang penjelasan kepada kami!! dan Alex, kenapa kamu mengatakan bahwa Mario telah meninggal, sedangkan kamu tahu ia masih hidup??!! drama macam apa ini??!!" ucap Jorrian dengan berapi-api.


Tiba-tiba, seorang pria paruh baya memasuki ruangan dengan membawa berkas-berkas di tangannya dan ditemani oleh 2 orang polisi menyamar.


"Maaf, sepertinya saya harus turun tangan untuk menghindari kesalahpahaman lebih lanjut. Perkenalkan saya adalah Robert Chandra, pengacara pribadi Bapak Mario Sofyan yang telah mendampingi beliau selama lebih dari 20 tahun."


"Saya harap Anda semua tenang, untuk mendengarkan penjelasan lebih lanjut yang akan saya sampaikan."


Jorrian akhirnya berusaha untuk menenangkan dirinya dan mendengarkan penjelasan apa yang akan disampaikan oleh pengacara Mario.

__ADS_1


"Pertama-tama, Bapak Mario Sofyan adalah saksi yang dilindungi atas percobaan pembunuhan dirinya yang dilakukan oleh ibu Winda Pratama."


"Kedua, proses hukum atas pembunuhan berencana terhadap ibu Riska Savitri, masih tetap berjalan dan Bapak Mario Sofyan merupakan saksi kunci kasus tersebut."


"Ketiga, selama 5 tahun ini, Bapak Mario Sofyan berada dalam program perlindungan saksi, sehingga beliau bukanlah penipu atau penjahat, semua yang dilakukannya telah diketahui oleh pihak yang berwajib."


"Semua aktivitas yang dilakukan Bapak Mario Sofyan terpantau oleh pihak kepolisian, guna melindungi beliau."


"Kemunculannya saat ini, terkait rencana pernikahan putri beliau yaitu Marissa Shafeeya. Pihak kepolisian telah memberikan izin kepada Bapak Mario Sofyan untuk menghadiri pernikahan putrinya, dengan pengawasan yang ketat."


"Segala hal yang berhubungan dengan status Bapak Mario Sofyan dapat Anda tanyakan kepada saya."


Keheningan pun terjadi, semua orang terlihat sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Lalu Alex kembali angkat bicara, dengan menunjukkan beberapa lembar foto dan surat-surat perjanjian kerjasama.


"Foto-foto ini adalah hasil pengamatan yang dilakukan oleh tim pengacara Mas Mario, jadi ini semua legal."


"Dapat dilihat, bahwa setiap perkembangan Marissa terpantau oleh Mas Mario. Bukan itu saja, pemberian beberapa bantuan modal tak langsung kepada usaha mbak Aini adalah salah satunya. Dapat dikatakan jika kehidupan perekonomian keluarga Mas Aryo berangsur-angsur meningkat, itu salah satunya dengan bantuan dari Mas Mario."


Jorrian dan Jovan pun segera memeriksa satu persatu bukti kebenaran yang disampaikan oleh Alex.


Membaca lembar demi lembar surat-surat hasil penyelidikan dari tim investigasi kepolisian maupun dari tim yang dimiliki oleh pengacara pribadi Mario.


Surat-surat dan foto-foto yang merupakan bukti terkuat akhirnya telah berhasil meyakinkan Jorrian dan Jovan.


"Kenapa kamu sembunyikan semua ini selama bertahun-tahun, sehingga membuat kamu kehilangan kebahagiaanmu, keluarga yang kamu cintai, putri yang kamu sayangi??!!" tanya Jorrian.


"Semuanya untuk melindungi Icha, Bang. Aku telah gagal melindungi Riska dan aku tidak mau kejadian serupa menimpa Icha, she's my precious," jawab Mario.


"Kenapa Winda tidak segera ditangkap??" tanya Jorrian.


"Dia segera terbang ke Australia, sebelum aksinya terungkap dan bukti-bukti yang mengarah pada keterlibatannya tidak pernah terungkap, dia sangat cerdas dan licik," jawab Mario.


"Jadi apa rencanamu??" tanya Jorrian.


"Maaf, tetapi ini akan berhubungan dengan acara pernikahan Jovan dan Marissa, dimana saya yang akan langsung menyerahkan putri saya. Disaat itu pasti akan terjadi keramaian dan berita itu akan segera sampai ditelinga Winda. Winda pasti tidak akan tinggal diam, yang pasti pihak kepolisian telah mengawasi gerak-gerik Winda untuk menghindari hal-hal yang buruk kembali terjadi."

__ADS_1


"Setelah nantinya media akan memberitakan bahwa saya menikahkan Icha, kita akan menunggu ia menangkap umpannya."


__ADS_2