
Tibalah hari pemutaran perdana film "Cinta Yang Hilang", dimana Jovan dan Marissa sudah tidak sabar untuk menyaksikannya bersama dengan seluruh anggota keluarga Chen dan Sofyan.
Penampilan baru Marissa pun mengejutkan keluarga Chen.
"Sejak kapan memutuskan bercadar?" tanya Jovanka.
"Sejak 2 pekan yang lalu, menjelang premiernya," jawab Marissa.
"Kenapa?" tanya Jovanka lagi.
"Aku nggak mau mereka menyimpan gambar Icha, aku juga nggak mau mereka menikmati wajahnya, karena Icha is mine!" jawab Jovan.
"He's jealous," tambah Mario yang membuat semua mata melirik ke arah Jovan sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Tapi curang dong, kalau Marissa ditutup tapi kamu tidak, sedangkan....," belum selesai Jovanka berbicara, Jovan segera memakai maskernya.
"Oouu, kamu tambah ganteng Van!! Nggak guna kamu pakai masker, mereka jauh lebih histeris nantinya," sahut Jordan.
"Kan nggak mungkin aku oplas!" jawab Jovan gemas sambil memberikan lirikan tajam ke arah abangnya.
"Resiko punya genetik ganteng, bedanya Jovan terkenal, kalau kamu yaa cukup dikenal dikalangan sendiri," canda Jorrian kepada Jordan.
"Abang tu, popular di kalangan pramugari dan pilot. Banyak yang ingin jadi awak kabinnya, iya kan Bang?" sahut Jessie.
"Yaa begitulah, but my heart belongs to Allah and you my dear," jawab Jordan.
"Cha, are you okay? Is your stomach fine?" tanya Jovan untuk mencandai Jordan dan Jessie.
"I'm okay, aku memakai jurus perisai anti badai gombal yang menerjang! So, I'm fine, thank you for your corncerne, my prince," jawab Marissa santai.
Jovan pun mengedipkan 1 matanya lalu menuntun Marissa masuk ke dalam mobil yang sedari tadi telah menunggu.
"Kolaborasi 2 anak itu memang membuat kita tak berkutik!" sahut Jovanka gemas yang disambut dengan gelak tawa 2 keluarga.
Mereka berangkat bersama menggunakan mobil mewah keluaran terbaru, yaitu Mercy Sprinter dengan kapasitas hingga 12 orang, yang tentu saja, interiornya telah dimodifikasi oleh Mario.
__ADS_1
"Berasa artis Korea, mereka ga limoan, tapi van-an," ucap Marissa sesaat setelah kendaraan mereka bergerak menuju tempat pemutaran perdana film Cinta yang Hilang.
"Well, kan ini acaranya Jovan jadinya van-an, right?!" sahut Jovan sambil menjabat tangan Marissa.
"Left, biar kita nggak tabrakan," sambung Marissa yang tentu saja membuat seluruh anggota keluarganya kembali menggelengkan kepalanya.
"Aku jadi penasaran, Riska dulu makan apa sih, sampai punya anak yang randomnya kayak gini?" tanya Jovanka.
"Riska dulu suka nonton Friends, karakter favoritnya adalah Joe dan Phoebe, jadilah putrinya seperti ini," jawab Mario sambil mencandai putrinya.
"Sepertinya anak-anak kita semua roaming dengan Friends," sahut Jorrian.
"Jelas roaming, mereka kan masih kecil, belum nonton sitkom, hanya kartun dan Power Rangers," ucap Jovanka menimpali.
Marissa dan Jovan saling berpandangan setelah mendengar orang tua mereka berbincang, keduanya lalu saling memberikan lirikan dan smirk khas mereka berdua yang berarti mereka sedang memikirkan sesuatu yang sama.
Dengan secepat kilat, mereka memulai penelusuran akan serial sitkom Friends dan mencari karakter Joe dan Phoebe. Setelah menemukannya, Jovan pun menghubungkannya dengan TV, sehingga semuanya dapat menyaksikannya.
Jordan pun bertepuk tangan, setelah melihat intro serial tersebut di layar TV, sedangkan Jovan dan Marissa tetap fokus menyaksikannya.
Setelah tayangannya selesai, keduanya kembali berpandangan.
"I think you're much more random and funnier than Phoebe," ucap Jovan.
"Hmmm ini pujian atau...."
"Ada gantengnya, so it's pujian," jawab Marissa.
"But anyways, why both of you keep silence? Kok nggak ngedumel seperti biasanya ?" tanya Marissa kepada adik kembarnya.
"Today is your day, is your stage, we wouldn't ruined it," jawab Marendra.
"Oouuch cooo cwiiiit, thank you my sweet lil brother and sister," ucap Marissa sembari ingin memeluk kedua adiknya.
"Waiiit!! No hug! No!" tolak Marendra sambil menjauhkan tangan Marissa darinya.
Tetapi Marissa tak hilang akal, ia pun dengan cepat menarik tangan Marendra lalu ciuman hangat pun mendarat di pipi.
"Mbaaaaaak!!! Aaarrghh, what... !!"
__ADS_1
"Adek tidak boleh protes, kan boleh kakakmu tercinta dan tercantik ini nyium adiknya yang tiba-tiba jadi baik," potong Marissa.
Riska pun mulai menjauhkan dirinya dari Marissa.
"Eit, kalian itu nggak bisa kemana-mana, sini! Kakakmu lagi baik nih," lanjut Marissa yang mendekati kedua adiknya lalu mencium kedua pipinya, yang tentu saja segera mereka hapus dengan kedua tangan mereka.
"Ish, di hapus??!! Aku nggak terima.. "
"Ssst udahlah Yang, biarin aja. Nanti sesudah acara bisa dilanjutkan, sekarang biarin aja mereka," potong Jovan untuk menyudahi keagresifan Marissa kepada Marendra dan Mariska.
Perjalanan menuju tempat pemutaran perdana film "Cinta yang Hilang", di cinema XXI Grand Indonesia cukup lancar. Mereka pun tiba 30 menit sebelum film diputar. Awak media baik dari dalam negeri maupun Singapura dan Malaysia telah berkumpul untuk mengambil gambar dan mewawancara lepas para pemain dan sutradaranya.
Kedatangan Jovan pun disambut hangat oleh semua tamu undangan penayangan perdana film tersebut.
Penampilan Jovan yang memakai masker, tidak membuat mereka sulit mengenalinya, dikarenakan postur tubuhnya yang memang diatas rata-rata orang Melayu.
Rakesh selaku produser pun segera menghampiri dan menyalaminya, disusul dengan sutradara dan para pemainnya.
Kilatan blitz kamera beradu, membuat mata Marissa sakit, sehingga ia pun memilih menyingkir, tetapi Jovan menahan tangannya. Lalu tanpa mengucapkan sepatah kata, Jovan melindungi Marissa dengan punggungnya.
"Maaf, tetapi kilatan blits kamera kalian, sedikit mengganggu mata kami. Bisa tolong, bergantian saja? Saya akan meladeni kalian semua, tapi tolong untuk bergantian, yaa maksimal 2 kamera saja," pinta Jovan dengan halus agar tidak menyinggung awak media.
Adam dan Faisal juga segera memasang badan mereka di samping Jovan. Melihat 2 pria berperawakan tinggi besar dan wajah yang tegas, mereka pun akhirnya mundur dengan teratur dan mengikuti perintah Jovan untuk bergantian.
Kilauan Jovan memang mengalahkan para aktor yang membintangi filmnya, bahkan mereka pun ikut terhipnotis dengan kedatangan Jovan.
Selama 15 menit itu pun Jovan harus meladeni pertanyaan dan permintaan foto, sebelum mereka semua memasuki studio teater XXI.
Setelah seluruh undangan memasuki studio, sutradara Cinta yang Hilang memberikan sambutannya lalu memperkenalkan para pemainnya.
Marissa pun tersenyum ketika melihat para aktor yang memerankan dirinya dan Jovan.
"Kenapa, Yang," tanya Jovan.
"Gantengan Abang daripada artisnya," jawab Marissa.
"Hmmm mereka sulit menemukan aktor yang memiliki ketampanan terhakiki macam Abang, jadi yaa itulah yang paling mendekati," sahut Jovan dengan kenarsisannya.
"Ooo I see, well of course, I'm not blind," timpal Marissa.
__ADS_1
"Eh yang jadi Bang Jordan juga kurang ganteng tuh! Kurang besar badannya, nah yang jadi Bang Josie, hmm he's not sweet enough, but we'll see how they played the Abangs," lanjut Marissa.
Tak lama kemudian, lampu studio pun mulai dipadamkan.