Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 82 Gala Dinner


__ADS_3

Setelah seharian menghadiri fans meeting, keesokan malamnya mereka semua menghadiri gala dinner di salah satu gedung tertinggi di dunia, yaitu Menara Petronas.


Gala dinner tersebut dihadiri oleh selebriti lokal Malaysia juga beberapa pengusaha kenamaan setempat. Awak media lokal serta dari Singapura dan Indonesia, terlihat sibuk meliput acara tersebut, bahkan hingga ditayangkan live pada channel youtube 'Cinta yang Hilang'.


Keluarga Chen dan ayah Marissa beserta adik kembarnya pun turut hadir pada acara tersebut. Mereka berlima duduk dalam meja yang sama, sedangkan Jovan dan Marissa berada di meja yang berbeda, bersama dengan pengusaha-pengusaha kenamaan Malaysia.


Di meja keluarga Chen dan Sofyan, orangtua Jovan dan ayah Marissa menikmati makan malamnya sambil berbincang.


"Rio, kamu nggak nikah lagi? Sampai kapan kamu mau ngejomblo dimasa tua kamu?" tanya Jorrian kepada ayah Marissa tanpa basa basi.


"Belum kepikiran, Bang. Saya sudah cukup bahagia dengan berkumpul kembali dengan Icha, buat saya itu sudah cukup," jawab Mario.


"Lagipula siapa yang mau dengan duda tua seperti aku, Bang?"


"Banyak, yang jelas kalau yang matre pasti banyak yang mau. Kalaupun nggak matre, tapi lihat fisik, pasti juga mau. Kamu tuh masih gagah, umur berapa sih? palingan 50-an awal, kan?" lanjut Jorrian.


"52, Bang," jawab Mario.


"Nah, for 52 years old man,you look great. Go find a wive," lanjut Jorrian lagi.


"Nggak lah, Bang. Aku mau nikmati kesendirian aku bersama anak-anak yang sudah lama kutinggalkan. Aku ingin fokus merawat mereka, menemani dan membersamai mereka. I want to build a strong bonding with them. Kalau Icha, karena sudah memiliki Jovan, dia tidak akan selalu bergantung padaku, tetapi masih ada Endra dan Ika, yang harus aku didik benar-benar, agar tidak menjadi anak yang manja dan malas, yang cuma bisa mengandalkan kekayaanku. Alhamdulillah, gertakan Icha sedikit banyak telah merubah Endra dan Ika. Aku harus fokus ke mereka, apalagi mereka masih dalam proses adaptasi dengan lingkungan sekolah. Aku mau fokus ke anak-anak saja," jawab Mario.


"But don't you think, they need a mother?" tanya Jorrian.

__ADS_1


"I don't know, you'll ask them lah," jawab Mario.


Jorrian pun mengalihkan pandangannya ke Marendra dan Mariska yang asyik menikmati steak wagyu dan saladnya.


"Ndra, Ika, boleh Ayah tanya?"


Marendra dan Mariska pun melirik ke arah Jorrian tanpa menghentikan makannya dan menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


"What do you think of a new mom?" tanya Jorrian.


Keduanya pun saling berpandangan dan terdiam sesaat, lalu Mariska menjawabnya.


"Hmm terserah ayah, yang penting jangan sampai lebih galak dari Mbak Icha. Hii serem banget kalau mbak Icha sudah a witch mode on!! Berasa mau dimakan, kek gini," jawab Mariska sambil menunjukkan dirinya memotong-motong daging steaknya.


"But she's acting like a witch in front of us, no smile, just fierce look, Yah!! She's always like that, even Bang Jovan does the same thing," jawab Mariska.


"When I watch the girls screaming at him, just like a pop star, I feel like, you're guys being deceive by his looks, he's not that sweet romantic kind of guy!! he's actually the witch husband!!" ucap Mariska kesal.


"Exactly!! Both of them is scary," tambah Marendra yang setuju dengan pendapat saudara kembarnya.


Mendengar jawaban Mariska dan Marendra, Jorrian dan Jovanka pun tertawa, karena yang mereka tahu Jovan dan Marissa adalah badut dalam keluarga. Galak adalah hal yang tidak pernah terlintas dalam pikiran mereka.


"Jovan dan Icha memang bersikap sangat keras kepada Endra dan Ika. Mereka berdua tidak main-main jika menyangkut kedisiplinan," jelas Mario.

__ADS_1


"Masalah kamar berantakan saja bisa panjang urusannya, belum termasuk piring kotor yang hanya diletakkan pada sink tanpa dicuci. Endra dan Ika bisa diseret paksa untuk mencucinya sampai bersih," tambahnya lagi.


"Ternyata mereka berdua bisa serius juga yaa. Terakhir kali melihat Jovan serius, sewaktu ia menulis novel pertamanya, sampai seperti mayat hidup. Kantung matanya terlihat jelas, seperti mata panda. Sampai Jordan mengajak Jovan bicara, agar tidak memvorsir dirinya yang dapat berpengaruh pada kesehatannya," ucap Jovanka.


"Eh Bang Jovan sampai segitunya waktu nulis novel? Waktu nyari mbak Icha?" tanya Mariska.


"Iya, sangat serius. Sepulang kerja, langsung ke kamar untuk ngetik sampai lewat tengah malam, hingga akhirnya dia memutuskan resign setelah Jordan menasehati. Yaaah begitulah Jovan, selalu tekun dan serius dengan apa yang ia kerjakan. Makanya diantara ketiga Jo bersaudara, Jovanlah yang paling cemerlang prestasinya," jelas Jovanka.


"Apa Bang Jovan lebih pintar dari Bang Jordan?" tanya Marendra.


"Kalau dilihat secara akademis, mereka hampir sama. Perbedaannya kalau Jordan lebih menyukai sains dan matematika, berbeda dengan Jovan yang mempunyai jiwa bebas, dia lebih tertarik pada art, makanya dia kuliah di desain multimedia," jawab Jovanka.


"Hmmm, Bun, boleh tanya tentang Bang Josie nggak?" tanya Mariska.


"Apa yang mau kamu tanyakan?" Jovanka balik bertanya.


"Hubungan Bang Josie sama Bang Jovan sama mbak Icha itu sebetulnya gimana sih? Apa cinta segitiga?"


Jorrian dan Jovanka pun tertawa mendengarkan pertanyaan polos Mariska.


"Tidak ada cinta segitiga, terakhir mereka bertiga bersama ketika Icha masih SD kelas 2 dan Jovan SMP, sedangkan Josie sudah SMA. Mereka bertiga sudah seperti saudara kandung. Icha adalah putri kami yang tidak pernah aku lahirkan," jawab Jovanka.


"Mungkin akan terjadi cinta segitiga jika mereka bertemu saat sudah dewasa, seperti saat ini. Tetapi Allah memberikan jalan yang berbeda untuk Josie dan Jovan. Mungkin Allah akan memberikan Josie seorang bidadarinya nanti di akhirat," tambah Jovanka.

__ADS_1


__ADS_2