Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 59 Mario vs Aryo


__ADS_3

Mario yang baru saja sampai di kamar hotel berbintang 5 tersebut, segera menghubungi Marissa agar Aryo menemuinya langsung di dalam kamarnya.


Seperti yang sudah direncanakan, Aryo pun menemui Mario selepas Ashar di kamar hotelnya.


Sesaat setelah menekan tombol bel, Raka pun segera membuka pintunya.


"Silahkan masuk, Pak," ucapnya kepada Aryo.


Aryo pun berjalan masuk ke dalam kamar dan dilihatnya Mario tengah berjalan ke arahnya, kemudahan Mario pun menyalami Aryo.


"Assalamu'alaikum, Mas. Silahkan duduk," ucap Mario.


"Wa'alaikumsalam, terima kasih," jawab Aryo ketus dan wajah dingin sambil menarik kursi di seberang Mario.


"Silahkan Mas Aryo, silahkan berbicara lebih dulu," ucap Mario.


"Icha sudah menceritakan semuanya ke saya, Jovan juga memberikan rekaman video penjelasan dari para pengacara, tetapi itu semua tidak berguna untuk saya, karena kebodohan kamu yang mau menikahi perempuan bejat yang telah membunuh satu-satunya adik yang aku miliki!! Apa yang kamu pikirkan pada saat menerima permintaannya?? apakah perusahaan lebih penting ketimbang keluarga ?? Riska yang kamu kejar cintanya sejak SMA dan pengorbanan kamu untuk meyakinkan bapak dan ibu kalau kamu pantas menjadi imam untuk Riska, itu semua kamu hilangkan begitu saja??!! hanya karena harta??!!" cecar Aryo yang tentu saja telah diantisipasi oleh Mario sebelumnya.


"Benar, Mas. Itu adalah kesalahan terbesar yang pernah saya buat, tetapi saya tidak mau berandai-andai, jikalau saya tidak melepaskan Riska, jikalau saya tetap merangkak mencari jalan untuk kelangsungan hidup puluhan karyawan saya, saya tidak ingin pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantui . Saya percaya, apa pun yang terjadi di dunia ini adalah kehendak Allah dan saya mengakui kesalahan saya, kesalahan yang tidak dapat diperbaiki lagi, saya sadar akan itu, Mas. Walau bagaimana pun, saya tetap ayah kandung Icha, saya bertanggung jawab penuh atasnya, walaupun saya tidak hadir di 17 tahun hidupnya, tetapi paling tidak saya dapat membahagiakannya walau sesaat. Memberikannya rasa bagaimana memiliki seorang ayah. Fokus saya saat ini adalah Icha, saya tidak ingin Icha sedih dengan perselisihan kita, sepanjang hari kemarin dia cukup stress memikirkan apa yang akan terjadi pada pertemuan kita," jawab Mario panjang lebar dengan harapan Aryo akan sedikit melunak padanya.


"Baik, saya terima pembelaanmu, tetapi tidak ada yang namanya mantan anak, kemana tanggung jawabmu selama 17 tahun kehidupannya??" tanya Aryo lagi.


Mario mengeluarkan foto-foto yang ia ambil secara diam-diam sewaktu Marissa masih tinggal bersama Aryo, ia juga memberikan salinan bukti pengiriman uang setiap bulan melalui gaji Aryo, kemudian pembelian bumbu pecel Ainun dan promosi yang dilakukannya untuk mendongkrak penjualannya, selain hadiah-hadiah dari setiap lomba yang Marissa ikuti.


Aryo terdiam, ia pun menyadari perekonomian keluarganya semakin membaik semenjak ia mengasuh Marissa, semua itu berasal dari Mario, pria yang ia benci selama itu jua.

__ADS_1


"Mas, saya tidak berharap Mas Aryo memaafkan saya, tetapi berilah saya kesempatan untuk membahagiakan Marissa secara langsung, berikan kesempatan pada Marissa untuk berkumpul bersama saya, dia satu-satunya yang saya miliki saat ini," ucap Mario.


"Maaf Mas, mungkin tadi sedikit memperhatikan, ada beberapa pria berbadan cukup besar, berjaga di sekitar kamar hotel," lanjut Mario.


"Iya, saya melihat beberapa orang yang berpakaian safari hitam," ucap Aryo


"Mereka adalah pengawal pribadi yang bekerja untuk saya," ucap Mario sambil menunjukkan beberapa foto.


"Ini adalah Sila dan ini Faisal, suaminya. Mereka berdua telah mengawasi Icha sejak 5 tahun yang lalu. Semenjak Icha lulus SMA, mereka selalu berada di sekitar Marissa. Sewaktu Icha mengikuti kompetisi di Singapura, mereka berdua juga ikut dengan penerbangan dan menginap di penginapan yang sama," lanjut Mario.


"Setiap saat, mereka akan melaporkan semua peristiwa yang dialami oleh Icha. Paling tidak, mereka berdua telah menjadi mata saya selama 5 tahun belakangan ini," tambah Mario yang akhirnya membuat Aryo melunak.


Walaupun Aryo belum memafkan 100% kesalahan Mario, tetapi ia memutuskan untuk legowo dengan apa yang telah terjadi. Ia lalu mengulurkan tangannya ke arah Mario.


Mario pun menyambut uluran tangan Aryo dengan rasa haru.


Mereka kemudian berpelukan sebagai tanda akhir dari kesalahpahaman selama bertahun-tahun.


Sementara itu, Marissa tampak gugup menunggu pakdenya keluar dari kamar hotel Mario. Pikirannya pun mulai bercelaru, membayangkan apa yang terjadi antara ayah dan pakdenya.


"Mario!! yang kamu lakukan itu jahat!!" ucap Aryo setengah berteriak sambil menggebrak meja.


"Aku terpaksa, Mas!! aku tahu yang kulakukan salah, tetapi aku terpaksa, untuk kelangsungan hidup karyawan dan keluargaku," jawab Mario membela diri.


"Tetapi itu terlalu kejam, Mario!! Kau meninggalkan istri dan anakmu, demi perjanjian-perjanjian yang tidak masuk diakal!! Kamu tega!!" ucap Aryo penuh emosi.

__ADS_1


"Tapi Mas, walaupun begitu, aku tetap bertanggungjawab akan Riska dan Icha, aku tetap membiayai mereka, aku tetap memantau perkembangan dan pertumbuhan Icha dari jauh. Kasih sayangku kepadanya tidak berubah," jawab Mario.


"Aku tidak mempercayai pembelaan dirimu!!"


"Bughhh!!" Aryo pun meninju badan Mario.


Mario yang merasa bersalah tidak berusaha membalasnya sama sekali.


Jovan yang memperhatikan Marissa sedari tadi pun bertanya-tanya, mengapa ia menutup kedua matanya sambil mengernyitkan wajahnya, serta menggelengkan kepalanya berulang-ulang.


"Yang, kamu kenapa??" tanya Jovan sambil menepuk bahu Marissa yang membuatnya terkesiap.


"Eh, ga papa," jawab Marissa.


Tak lama, pintu kamar dibuka dari dalam, Aryo dan Mario pun terlihat berjalan dan bersalaman.


"Yowes, nanti kita makan malam bareng," ucap Aryo sambil menepuk-nepuk punggung Mario.


"Iya Mas, in syaa Allah," jawab Mario.


Marissa pun memandangi Mario dari ujung rambut hingga kakinya dengan wajah penuh tanda tanya.


"Ayah, ga papa?? ga ada yang luka atau memar, gitu??" tanya Marissa yang membuat Mario, Aryo dan Jovan mengernyitkan dahi mereka.


"Memar?? kamu ngomong apa??" tanya Mario tidak mengerti.

__ADS_1


"Ayah ga dipukul pakde??" tanya Marissa yang membuat Mario dan Aryo tertawa terbahak-bahak, sedangkan Jovan segera mengangkat Marissa dengan satu lengannya menuju kamarnya, sembari berucap, "Yang, kambuhnya kok, begini??"


__ADS_2