Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 35 Komisaris Utama


__ADS_3

Sesuai janji Alex, mulai malam itu Marissa tinggal bersama dirinya dan di hari Senin, ia menemani Marissa ke kantornya untuk bertemu langsung dengan Ardan dan beberapa petinggi perusahaan tempat Marissa bekerja.


Suatu hal yang membuat Marissa kembali bertanya-tanya, mengapa semua orang di kantornya memperlakukan pamannya layaknya orang yang sangat berpengaruh dalam perusahaan tersebut.


Dari sambutan salam, semuanya berdiri dan mempersilahkan Alex masuk ke ruang kerja mereka, dimana tidak semua orang dapat memasukinya.


"Pagi, Pak," sapa Zahra.


"Pagi, Ardan mana?" tanya Alex.


"Sedang rapat dengan bagian properti, Pak," jawab Zahra.


"Nanti kalau dia datang, minta dia temui saya di ruang rapat utama. Oiya, minta Johan dan Yudhi sekalian untuk temui saya di ruang rapat utama," pinta Alex.


"Baik, Pak," jawab Zahra yang sedikit bingung dengan kedatangan Alex yang mendadak.


"Maaf Pak, tetapi ada apa ya Pak? kok mendadak datang??" tanya Zahra.


"Ada beberapa urusan yang harus saya tangani sendiri, tenang saya bukan sidak kok," jawab Alex.


"Silahkan kembali bekerja, santai saja," lanjut Alex.


Alex lalu membalikkan badannya menghadap Marissa yang berdiri di belakangnya.


"Mana meja kerjamu," tanya Alex kepada Marissa.


"Yang ujung kiri, Om," jawab Marissa


Jawaban Marissa membuat seluruh staff bagian desain pun melihat kearahnya.


Alex pun menduduki kursi kerja Marissa.


"Nice view from up here," ucap Alex yang memandang ke arah jendela.


"Oiya Cha, maaf Om jadi ganggu. Silahkan kamu kerjakan apa yang harus kamu kerjakan. Om ke ruang rapat," ucap Alex sambil berjalan ke ruang rapat.


"Iya, Om."


Alex pun menunggu Ardan di ruang rapat utama, sementara itu Marissa kembali mengerjakan proyeknya.


"'Ris, kamu kenal Pak Alex?? " tanya Fitri.


"Yaa kenal lah," jawab Marissa santai.


Sekejap itu pun semua desainer mendekat dengan kursinya masing-masing.


"Eh kenapa??" tanya Marissa tidak mengerti.


"Eh kenapa?? dia tanya kenapa ?!! Kamu memangnya ga tahu beliau itu siapa ?" tanya Michael.


"Memangnya siapa??" tanya balik Marissa.


"Pak Alex itu komisaris utama kantor kita!!" jawab Michael.


"Apa???!! Om Alex??!! dia komisaris disini??!!! kok bisa??!!! dari kapan?" tanya Marissa lagi.


"Om Alex?? kok kamu panggil Om?? eh ada, hubungan apa kamu sama Pak Alex, jangan macam-macam kamu, Ris!!" ucap Novi.

__ADS_1


"Lah memangnya aku ga boleh manggil paman sendiri dengan sebutan Om, apa harus pakai sebutan yang lain??"


"Waaa jangan ngadi-ngadi kamu Ris!! kamu??? keponakannya Pak Alex?? dari mana??" tanya Novi yang meragukan jawaban Marissa.


Marissa menarik nafas panjangnya, ia menyadari jika ia mengatakan siapa dirinya, pasti tidak ada satupun dari mereka yang percaya. Jadi ia memilih diam saja dan mengalihkan pembicaraan.


"Yaa pokoknya gitu. Eh sudah yaa, back to work, nanti Ardan bisa ngamuk kalau kita masih ngobrol aja," ucap Marissa mengalihkan pembicaraan.


Pikiran Marissa pun kembali berkelana, memikirkan tentang Alex yang merupakan komisaris utama kantornya.


"Pantesan semuanya gampang!! Dia yang punya!! Waaaa kok bisaa??? hubungannya apa sama percetakan??" gumamnya dalam hati.


Sementara itu, Ardan segera menemui Alex yang tengah menunggunya.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi Pak Alex," sapa Ardan.


"Wa'alaikumsalam, Pagi Dan. Gimana proyek-proyek?? lancar semua??" tanya Alex.


"Alhamdulillah," jawab Ardan singkat.


Kemudian Ardan menjelaskan semua proyek yang sedang mereka tangani.


"Nice, but actually saya kesini bukan untuk itu, but seperti biasa, tim desain yang kalian miliki is the best. So keep on the good work," ucap Alex setelah mendengarkan penjelasan Ardan akan proyek-proyek yang sedang mereka tangani.


"Terima kasih, Pak."


"So, saya langsung saja yaa. Well, you know Marissa, right??" tanya Alex.


"Yes, Sir."


"She's my neice and I want her to quit from her job as soon as possible, kalau bisa immediately. She said nanti ia terkena penalti, it's okay, saya akan bayar," ucap Alex.


"Oke. Oiya, untuk proyek yang sedang ia kerjakan, tolong segera cari penggantinya. Marissa baru akan berhenti setelah ada penggantinya, jadi tolong disegerakan prosesnya," ucap Alex.


"Kalau boleh tahu, kenapa Risa berhenti, Pak? kenapa mendadak?" tanya Ardan.


"Well, you have no idea what she's been through. Saya mau dia istirahat, saya yang minta dia untuk berhenti," jawab Alex.


"Baik Pak, saya akan bantu untuk penyelesaian tugas-tugasnya," ucap Ardan.


" Terima kasih, silahkan kembali bekerja," ucap Alex lagi.


"Terima kasih, Pak. Saya permisi."


Setelah Ardan keluar ruangan, Alex mulai membicarakan rencananya kepada Yudhi Prawira selaku direktur utama dan Johan Atmadja, selaku manajer HRD.


"Oiya, bulan depan disaat rapat komisaris, saya akan memberikan saham saya sebesar 10% kepada Marissa. Tolong siapkan surat-suratnya dan untuk pengunduran dirinya tolong juga disegerakan. Jika ada penalti yang harus Marissa bayarkan, tolong tagihkan ke rekening saya."


"In syaa Allah tidak ada yang perlu dibayarkan, Pak," ucap Johan.


"Baiklah kalau begitu, saya rasa itu saja yang perlu saya sampaikan. Assalamu'alaikum," ucap Alex mengakhiri pertemuannya.


"Wa'alaikumsalam."


Alex pun kembali menghampiri Marissa di ruang kerjanya.


"Cha, Om pulang dulu. Nanti sore, supir akan jemput. Jangan kemalaman, pulang setelah maghrib jangan nunggu jam 7 atau 8."

__ADS_1


"Kok Om tahu?"


"Ini kantor punya siapa?? Om sudah hafal kebiasaan kerja disini," jawab Alex.


"Iya deh, Pak Owner."


"Good. Assalamu'alaikum," ucap Alex sambil berlalu.


"Wa'alaikumsalam."


Tak lama, Ardan pun mengumpulkan para desainer.


"Ris, saya diminta untuk menyegerakan proses pengunduran diri kamu. So, untuk proyek Kawanua saya minta siapa yang bersedia menggantikan Risa?" tanya Ardan.


"Risa beneran harus resign, Dan??" tanya Michael.


"Iya, Pak Alex serius banget, minta Risa keluar," jawab Ardan.


"Ris, ada apa sih?" tanya Ardan.


"Hmmm long story deh. Kalau mau tahu ceritanya, baca novelnya Bang Jovan nanti. Katanya dimasukin di sana," jawab Marissa.


"Lho?? kok sampai ke Jovan??" tanya Ardan kembali.


"Nah, makanya panjang banget. Intinya aku adalah keponakannya yang hilang lebih dari 12 tahun. Aku aja ga kenal dan tahu tentang om Alex, sampai hari Sabtu kemarin. And Bang Jovan, dia yang mengumpulkan kepingan-kepingan puzzle cerita ini menjadi satu. Sementara ini, hanya itu yang bisa aku share," jawab Marissa yang juga tidak tahu harus menjelaskan dari mana.


"Rahasia banget," protes Novi.


"Masalahnya panjang banget, long story bagaikan kereta api yang terus dan terus dan teruuuus lagi. Eh itu choki-choki deng," canda Marissa untuk mencairkan suasana.


"Haadeeee sudah didengerin serius, dia ngelawak!!" protes Fitri.


"Jujur aku juga masih bingung, sampai pagi ini aja aku masih bingung kenapa Om Alex bisa jadi komisaris utama kantor ini, aku aja ga mudeng," jelas Marissa.


"Intinya, Sabtu kemarin aku ke kantor om Alex di Lebak Bulus, karena aku mau nyari ayahku. Tetapi ternyata ayah sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Aku ga tahu kalau kantornya itu adalah perusahaan yang ayah dan om Alex bangun dari nol. Aku cuma mengira, ayahku kerja disana. Makanya aku masih bingung, ternyata ayahku pemilik perusahaan yang cukup besar. Makanya otakku butuh waktu untuk mencerna kebetulan yang luar biasa ini," lanjut Marissa.


"Cinderella story, kah?" tanya Novi.


"Maybe," jawab Marissa singkat.


"Well, just like she said, tunggu novelnya Jovan release aja. Waaa harus minta duluan nih!! Ris, kamu kan kenal Jovan, pesenin langsung novelnya buat sekantor yaa!!" ucap Ardan.


"Siaaaap Bos!! tinggal nunggu kapan tuh novel selesai, Bang Jovan masih lanjut nulis lagi tuh," jawab Marissa.


"Kasih semangat dong Ris, biar lancar jaya!!" ucap Ardan lagi.


"Sudah Pak, nih WA nya," tunjuk Marissa pada WAnya kepada Jovan pagi ini.


"Fighting, Bang! Buruan selesain aku penasaran mau baca!!"


"Aneeeeeeh, ngapain kamu mau baca??? kan ini cerita tentang kamu!!! Eh kamu di kantor kan?? kerja gih!! ntar dimarahin Ardan lho, Abang ga mau tanggung jawab."


"Iya ,Bang!!"


Selesai membaca WA antara Marissa dan Jovan, Ardan pun menggelengkan kepalanya.


"Kalian berdua ini sebetulnya gimana sih?? di novelnya, kita berharap hubungan kalian berdua itu romantis, sweet, tapi kok malah bercandaan begini??" tanya Ardan.

__ADS_1


"Karena kami berdua memang begitu," jawab Marissa santai.


__ADS_2