
Keadaan Arini berangsur membaik, ia bisa duduk dan berjalan walau hanya sebatas didalam ruangan dengan selang infus yang masih harus dibawanya kemana-mana. Radit mulai beraktifitas seperti biasa, namun masih ia batasi karena tak ingin meninggalkan Arini terlalu lama. Hanya memeriksa pasien di ruang poli sampai siang hari dan setelah itu total mengosongkan waktunya hanya untuk Arini.
Dengan jendela Rumah Sakit yang dibiarkan terbuka, Arini meraup udara pagi sebanyak-banyaknya. Segar mengalir melalui hidung hingga masuk ke otak di dalam kepalanya.
Mengingat kepala, Arini mengusapnya. Rambut panjangnya sudah tidak ada, rambut yang selama ini selalu Radit belai sayang, rambut yang selalu Radit cium menikmati bau harumnya, rambut yang selalu dia ikat kucir kuda karena Radit sangat menyukainya.
Arini mengambil cermin di laci meja, mengarahkan cermin itu ke atas kepala. Hanya ada rambut cepak mirip TNI. Selintas ia berpikir, akankah Radit masih mencintainya dengan kondisi seperti ini??? Arini membuang nafas yang menyesakan dada, apa dia perlu menanyakan hal seperti itu, apa tidak cukup dengan perhatian yang Radit berikan selama ini kepadanya???
Radit tidak berubah sedikitpun, sama sekali tetap sama. Tapi kenapa rasa takut selalu ada, takut dia akan berpaling dari hatinya, takut suatu hari dia akan mencari wanita lain yang lebih segala-galanya dari dia.
Arini kembali melihat kepalanya, apa mungkin bisa tumbuh seperti dulu, sedangkan luka jahitan pasca operasi terlihat panjang dibagian belakang hingga atas kepalanya, itu sangatlah tidak mungkin.
"Rin sedang apa?"
Arini menoleh dan langsung menyembunyikan cermin dengan kedua tangannya.
"Ibu...."
Ibu Rania berjalan mendekat. Kondisinya sudah kembali sehat setelah Arini dipindahkan ke ruang perawatan sewaktu itu.
Ibu Rania duduk diatas blankar menghadap Arini yang sedang duduk dikursi.
"Kamu pegang apa?"
Arini menunduk, ternyata Ibu Rania melihatnya. Mau tak mau ia pun memperlihatkan cermin kecil yang berlindung dikedua telapak tangannya," Cermin Bu."
Ibu Rania melihat cermin itu lalu beralih melihat Arini. Ia bisa mengerti apa yang dirasakan Arini saat ini, maka dari itu ia menemuinya sekarang.
Ibu Rania berdiri dan menuntun Arini untuk duduk di sofa bersamanya.
"Ibu bawa ini buat kamu." Memberikan paperbag yang tadi dia simpan di meja.
"Ini apa Bu?"
"Bukalah... mudah-mudahan kamu suka."
Arini membuka dengan sebelah tangan kanan, karena tangan kiri masih sulit untuk digerakan karena masih terpasang selang infus.
"Turban?"
"Iya itu turban, jadi sementara kamu bisa pakai itu kalau mau pergi kemana-mana."
Mata Arini berkaca-kaca mendapatkan perhatian dari Ibu mertuanya ini," Makasih ya Bu."
"Iya sayang... sini Ibu bantu, kamu pasti cantik pakai ini... kamu mau coba yang mana dulu?"
Arini menyeka sudut matanya yang berair, melihat lima turban dengan motif, bahan dan warna yang berbeda-beda namun semuanya sangat cantik dan modis.
"Yang ini Bu." Arini memberikan turban bohemian style yang memiliki aksen menyilang dibagian depan. cocok digunakan untuk casual maupun formal.
Dengan hati-hati Ibu Rania memasangkan turban itu agar tidak terkena luka jahitan dikepala Arini.
__ADS_1
Ibu Rania tersenyum," Kamu memang cantik,"memegang dagu Arini,".... Mas pasti tambah cinta sama kamu." Godanya.
Arini balas tersenyum malu. Ia ingin sekali melihat tanggapan Radit saat melihat dia memakai turban seperti ini. Apa dia akan suka, biasa saja atau malah tidak sama sekali.
"Kok ngelamun.... ada yang sedang kamu pikirkan?"
"Tidak kok Bu, Arini baik-baik saja." Kilahnya.
"Ya sudah kalau begitu, Ibu mau lihat si kembar dulu. Seminggu lagi mereka sudah bisa dikeluarkan dari inkubator, mereka sudah gemukan sekarang. Ibu nggak sabar pengen cepet-cepet menggendongnya." Celoteh Ibu Rania yang begitu bersemangat.
Arini ikut tersenyum senang, ia pun sangat merindukannya. Selama ini ia hanya bisa melihat mereka dari balik kaca.
Sepeninggal Ibu Rania, Arini kembali naik keatas tempat tidurnya. Mengambil lagi cermin, ingin melihat penampilannya setelah memakai turban seperti ini.
Arini melirik ke kiri dan ke kanan, tersenyum sendiri. Apa ini saatnya untuk dia bisa menutup aurat, berhijab sesuai dengan syariah agama yang dianutnya???
Pintu yang terbuka, membuat ia mengalihkan pandangan lurus kedepan, melihat pintu.
Radit terdiam, memegang gagang pintu yang sepertinya sulit terlepas dari tangannya.
"Mas kok diem disana?" Tanya Arini.
Radit tersenyum malu, menggaruk tengkuk mentertawakan tingkah konyolnya yang terpesona melihat Arini dengan penampilan barunya. Dengan jas putih yang tersampir disebelah tangannya, Radit masuk setelah menutup pintu itu kembali.
Arini yang malu karena tatapan Radit yang terus tertuju padanya, menunduk dengan tangan hendak melepas turban dari kepalanya.
"Jangan dilepas.... kamu cantik pake ini." Cegah Radit dengan memegang pergelangan tangan Arini diatas kepalanya.
Radit menyimpan tangan Arini dalam pangkuannya, kemudian melepas turban dikepala Arini.
"Kamu tahu... mau pakai ini atau tidak, kamu tetap cantik." Jawabnya dengan tersenyum.
Arini menunduk," Mas bohong." Jawab Arini dengan mata berkaca-kaca.
"Kok bohong sih, kapan aku pernah bohong?"
"Mana ada yang cantik rambutnya seperti ini."
Radit menarik dagu Arini untuk melihatnya,"Arini yang sekarang, tetap Arini ku yang dulu, tidak ada yang berubah."
"Tapi bukannya rambut adalah mahkotanya wanita?" Ucap Arini lirih.
Radit mengelus pipi Arini, mencium pipinya sekilas.
"Tapi untukku, senyumanmu adalah mahkota dihatiku." Mengelus bibir Arini agar segera tersenyum kepadanya.
Arini menelisik mata Radit lebih dalam, meyakinkan hati kalau apa yang dikatakan Radit bukan hanya sekedar untuk menyenangkan hatinya saja.
Namun yang ia lihat adalah Mata teduh miliknya, mata yang selalu menentramkan hati dan perasaanya, hingga ia pun tidak bisa untuk tidak tersenyum.
Radit menatap manik Arini," Tersenyum terus lah seperti ini, karena aku sangat menyukainya."
__ADS_1
"Terima kasih sudah memberikan cinta yang tulus untukku." Menakup pipi Radit dengan telapak tangannya.
"Kamu masih ingat kata-kataku... cinta itu tidak butuh yang namanya terima kasih."
Arini mengangguk terharu," Aku sangat mencintaimu... Mas Radit."
"Aku pun sangat mencintaimu... Arini."
Mereka berdua sama-sama melempar senyuman, menyatukan kening hingga hidung mancung mereka saling menyentuh dengan aliran nafas yang berhembus hangat menerpa kulit mereka.
"Boleh aku menciummu?" Tanya Radit.
"Kenapa bertanya?"
"Aku takut kamu tidak mau."
"Kenapa tidak mau?"
"Karena aku takut meminta yang lebih dari sekadar ciuman."
"Mas ih jangan becanda deh." Arini memukul Radit yang langsung terkekeh.
"Ini serius sayang." Menangkap kedua pergelangan tangan Arini.
"Ini Rumah Sakit bukan rumah."
"Tapi dulu pas pertama, kita lakuinnya di Rumah Sakit kan?"
Wajah Arini merona, Radit mengingatkannya kembali pada kenangan satu tahun yang lalu, kenangan di awal pernikahan mereka.
Radit mengelus pipi Arini yang merah," Kamu tahu, kemarin aku takut tidak bisa melihat wajah merona ini, takut tidak bisa mendengar suara manjamu ini."
"Tapi sekarang Mas tidak perlu takut lagi, aku akan selalu ada, tidak akan pernah meninggalkan mu walau hanya sebentar saja."
"Janji?"
"Janji."
Radit mendekatkan wajahnya, menjangkau bibir Arini yang juga siap menerima raupan darinya. Dengan gerakan lembut, mereka menyalurkan kerinduan yang selama ini harus tertahan. Saling mengulum, menyecap dan saling membelit.
Radit menekan tengkuk Arini agar tidak segera melepaskannya. Dia masih sangat haus dengan kelembutan bibir yang selama ini selalu membuat gairahnya terbangkitkan.
"Rin...." Anggun masuk tanpa permisi.
Radit dan Arini terkejut, hingga pagutan mereka terlepas begitu saja.
"Uups sory...," Anggun balik badan,".... anggap aja aku nggak lihat kalian." Serunya sambil menutup pintu itu kembali.
Radit dan Arini tertawa, malu sekaligus lucu melihat tingkah Anggun yang memilih pergi tak ingin menganggu kebersamaan mereka.
Radit menghapus bibir Arini yang basah," Aku masih merindukannya." Ucapnya sambil memagut bibir Arini kembali.
__ADS_1