Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 100 Pasrah


__ADS_3

Serangkaian pemeriksaan dilakukan oleh dokter-dokter spesialis terhadap Jovan, salah satunya adalah dengan melakukan pemindaian MRI otak kembali, untuk mengetahui permasalahan hilang ingatan yang dialami Jovan.


Sementara itu, Jordan telah menghubungi Marissa untuk memberikan kabar akan sadarnya Jovan.


"Cha, Jovan sudah sadar, kamu cepat ke rumah sakit!"


Dengan hati berbunga-bunga, Marissa pun segera memberitahu ayahnya.


"Yah, sekarang kita ke rumah sakit! Bang Jordan bilang, Bang Jovan sudah sadar!"seru Marissa kepada Mario.


Mario yang sedang menikmati kopinya pun segera beranjak dari kursinya.


"Alhamdulillah, ayo kita berangkat ke rumah sakit, sekarang!"


Kedua anak dan ayah ini pun bersegera menuju rumah sakit dengan hati yang bahagia, setelah penantian sekian pekan, menunggu Jovan untuk sadar dari tidurnya.


Sesampainya di rumah sakit, dr Arshad telah meminta perawat untuk segera menemui Marissa sebelum ia masuk ke dalam kamar tempat Jovan di rawat.


"Maaf Pak, Mbak, tetapi tadi dr. Arshad berpesan agar Pak Mario dan Mbak Risa untuk menemui beliau terlebih dahulu di ruang kerja beliau."


"Ada apa? kenapa harus bertemu di ruang kerja beliau?" tanya Mario.


"Maaf Pak, saya tidak tahu alasannya. Beliau hanya berpesan agar menemui di ruang kerjanya saja," jawab sang perawat yang membuat Marissa menundukkan wajahnya, untuk menunjukkan hatinya yang kecewa, karena telah harapan untuk dapat bertemu dengan Jovan dan melepaskan rindu kepada suaminya, harus tertunda.

__ADS_1


Mario sebagai ayah dapat merasakan kekecewaan yang dirasakan putrinya, untuk itu ia berusaha untuk membesarkan hati Marissa.


"Cha, pasti dr. Arshad mempunyai kabar yang harus disampaikan kepada kita terlebih dahulu, yang tentu saja ini untuk kesembuhan Jovan. Cha, look at me, ini adalah suatu kemajuan, bahwa Jovan sudah sadar dan kita harus bersyukur untuk itu. So, ayo sekarang kita temui dr. Arshad dulu, pasti beliau sudah menunggu kedatangan kita," ucap Mario sambil merangkul putrinya.


Marissa pun menganggukkan kepalanya, lalu mereka berdua pun bergandengan tangan menuju ruang kerja dr. Arshad.


Sesampainya di sana, keluarga Chen yang telah menunggu, segera menghampiri.


"Icha Sayang," panggil Jovanka seraya memeluk menantu mungilnya itu.


"Cha, kita ketemu dr. Arshad dulu, yaa. Beliau ingin menjelaskan kondisi kesehatan Jovan saat ini. Jadi ayo, kita masuk," ajak Jovanka.


Marissa pun menjawabnya tanpa suara, hanya dengan anggukan kepalanya saja. Kemudian mereka ber-lima pun memasuki ruang kerja dr. Arshad.


"Silahkan duduk," ucap dr. Arshad mempersilahkan.


"Setelah kami mengulang pemindaian MRI otak pada mas Jovan kami menemukan luka pada syaraf memori. Hal ini dapat terjadi akibat benturan atau pukulan pada kepala yang diterima oleh mas Jovan."


"Lalu setelah kami melakukan wawancara untuk memeriksa daya kerja otak masJovan, maka dapat disimpulkan bahwa putra bapak dan ibu mengalami suatu keadaan yang dinamakan hilangnya memori jangka pendek, yang berarti pasien tidak dapat mengingat peristiwa yang baru terjadi dan beberapa tahun belakangan. Jika tadi mas Jovan menyebutkan sekarang adalah tahun 2018, yang berarti itu adalah 4 tahun yang lalu, kemungkinan besar memorinya terhenti pada tahun itu," tambah dr. Arshad.


Penjelasan dokter tentu saja membuat keluarga Chen dan Marissa shock.


"Berarti suami saya tidak mengenali saya sebagai istrinya?" tanya Marissa dengan mata berkaca-kaca dan suara yang bergetar.

__ADS_1


"Maaf, tetapi dari pertanyaan yang kami ajukan tentang mbak Risa, mas Jovan menjawab dengan kenangan yang ia miliki sewaktu kecil. Ia menceritakan perpisahan kalian berdua akibat kepindahannya dan saat ini, ia sedang mencari keberadaan Anda," jelas dr. Arshad.


"Oiya, mas Jovan juga banyak menanyakan tentang Josie, sepertinya ia membutuhkan jawabannya, tetapi kami minta agar disampaikan bertahap, karena kami khawatir akan adanya shock yang ditimbulkan," jawab dr. Arshad.


"Jadi sebaiknya apa yang harus kami lakukan, Dok?" tanya Jorrian.


"Berikan rangsangan pada memorinya secara perlahan, melalui cerita, foto ataupun video. Saya rasa hal ini tidak sulit, karena mas Jovan telah memiliki buku mengenai kisah hidupnya, bahkan hingga difilmkan. Jadi bisa dibacakan novelnya, kemudian dengan menonton filmnya. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, bahwa semua informasi harus disampaikan bertahap, jadi kita jadwalkan pemberian informasi, agar sistematis dan tidak ada yang terlewat. Hal ini agar Jovan tidak merasa terbebani dengan keharusan untuk mengingat yang nantinya dapat menimbulkan stres," jelas dr. Arshad.


"Nanti psikiater kami, dr. Najla yang akan memberikan daftarnya lebih lanjut. Dr. Najla adalah psikiater senior di rumah sakit ini, yang telah banyak menangani kasus-kasus hilang ingatan dan sejenisnya. Mungkin nantinya Jovan akan diberikan terapi khusus oleh beliau, yang lebih memahami kasus amnesia," tambah dr. Arshad.


"Lalu, saya harus bagaimana Dok? Apa yang harus saya lakukan untuk membantu pemulihan ingatan suami saya?" tanya Marissa.


"Nanti dr. Najla yang lebih berkapasitas akan menjawabnya," jawab dr. Arshad.


Keheningan pun terjadi, semuanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tak terkecuali Mario, yang tampak sangat kesal karena kali ini dirinya tidak berbuat apa-apa untuk kesembuhan menantunya, dengan harta yang ia miliki.


Jorrian pun dapat membaca bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh Mario. Untuk itu, ia mengajak Mario ke coffeeshop yang berada di lantai dasar rumah sakit, untuk berbicara empat mata dan dari hati ke hati.


"Yo, ternyata belum usai cobaan yang kita hadapi. Menurutmu, apa yang harus kita lakukan saat ini?"


Mario tidak segera menjawab pertanyaan yang diajukan Jorrian. Kepalanya menengadah dan matanya menatap langit-langit yang berhiaskan cahaya lampu, lalu ia membuang nafasnya dengan kasar dan melemaskan bahunya.


"Maaf Bang, tapi kali ini aku tidak punya jawabannya. Kekayaan yang kumiliki, serta teknologi yang kukuasai dan tenaga-tenaga ahli yang bekerja untukku, saat ini tidak berguna untuk kesembuhan Jovan," jawab Mario.

__ADS_1


Jorrian pun menepuk-nepuk punggung besannya itu, seraya berkata, "It's okay, you don't need to apologize."


"Kita serahkan semua kepada Yang Maha Berkehendak," ucap Jorrian.


__ADS_2