Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 48 Strategi


__ADS_3

Alisa menarik tangan suaminya untuk mengikutinya menuju ruang kerja Alex dengan penuh rasa emosi.


Rasa dikhianati dan tidak dipercaya sebagai seorang istri pun menjadi pertanyaan dalam hatinya.


"Selama 5 tahun, Mas telah menyembunyikan Mas Mario tanpa sepengetahuanku?? bahkan sampai Mas Mario tinggal di dalam rumah ini, aku juga tidak diberi tahu?? Mas anggap aku apa ??!!"


"Bahkan hampir setahun Mas Mario tinggal di rumah ini, dalam atap yang sama dan aku tidak tahu??!!! Apa aku seperti orang bodoh??!!" ucap Alisa penuh emosi.


Alex pun berusaha menenangkan luapan emosi istrinya dengan mengajaknya duduk di sofa terlebih dahulu.


"Yang, duduk dulu, tenang. It's not like what you're thinking," ucap Alex.


"Ini semua berdasarkan peraturan yang berlaku yang mencantumkan bahwa tidak boleh ada yang mengetahui akan keberadaan Mas Mario, selain aku, Raka, tim pengacara dan pihak kepolisian."


"Look, bukannya I don't trust you, but it's the rule. Asal Sayang tahu, sangat sulit untuk Mas menyembunyikan ini semua selama bertahun-tahun. Mas juga sangat ingin berbagi cerita akan masalah ini, tetapi Mas terikat akan peraturan dan ini semua menyangkut keselamatan Mas Mario."


"Sekarang sudah saatnya kebenaran diungkapkan, polisi telah menyusun rencana untuk menjebak kaki tangan Winda, tapi Mas tidak bisa mengatakannya saat ini, Sayang tunggu saja."


"Yang, sebentar lagi Mas Mario dan Marissa akan terlepas dari ancaman yang menghantui sejak lama. Polisi telah menyiapkan semua rencananya dengan matang dan kita yang akan membantu mengeksekusinya nanti," ucap Alex.


"Sekarang, kita kembali dulu. Kita dengarkan pembicaraannya lebih lanjut, yaa. Trust me, honey. Mas tidak akan membahayakan keluarga kita. Kita sama-sama berdo'a untuk kelancaran proses penangkapan Winda dan kaki tangannya, yaa??" lanjut Alex.


Penjelasan Alex belum cukup untuk meredakan emosi Alisa, tetapi ia memilih untuk menuruti kata-kata suaminya dan kembali berkumpul bersama di ruang keluarga.


Saat itu, pihak dari kepolisian sedang menerangkan strategi mereka untuk menjebak kaki tangan Winda.


"Kami telah mengirimkan berita akan rencana pernikahan Saudari Marissa kepada informan kami di lapangan. Dalam berita tersebut, kami telah mencantumkan kehadiran Bapak Mario Sofyan sebagai ayah kandung saudari Marissa yang akan menikahkan putrinya secara langsung."


"Saat ini, kami telah mendapatkan kabar akan keterkejutan ibu Winda, yang tentu saja beliau tidak akan tinggal diam. Terlebih setelah mengetahui perkembangan bisnis dari Sofyan Corporation beberapa tahun belakangan yang semakin besar, sepertinya ia sudah mulai mengambil langkah untuk menghancurkannya. Harap tenang terlebih dahulu, karena hal ini telah kami antisipasi sebelumnya sehingga in syaa Allah tidak akan terjadi hal-hal diluar rencana kami. Kami bersama tim pengacara dan ahli keuangan siap melindung seluruh aset Sofyan Corporation."


"Pada rencana akad nikah yang telah terjadwal,


Anda semua tidak perlu khawatir, kami akan memastikan keamanan dalam keseluruhan acara, untuk itu tim kami akan bekerja berlapis bersama tim keamanan hotel yang bersangkutan," jelas Aiptu. Adi yang bertugas sebagai ketua tim penyidik.


"Bagaimana jika pelaksanaan akad nikah dipercepat demi kelancaran acaranya. Kita tidak tahu kapan ia akan menyerang, lebih baik kita langsungkan akad nikah malam ini juga. Saya rasa, Jovan pun akan setuju," usul Jorrian tiba-tiba yang cukup mengejutkan semua pihak.


"Sebagai ayahnya, saya mengetahui benar apa yang putra saya rasakan saat ini. Rasa khawatir dan ingin melindungi Icha dengan sepenuh hati, akan membuatnya tidak tidur nyenyak malam ini," lanjut Jorrian.


"Van, kamu sudah siap dengan maharnya, kan??" tanya Jorrian.


Jantung Jovan pun berdegup dengan kencang, ia pun tak dapat mengeluarkan suaranya untuk menjawab pertanyaan ayahnya. Walaupun di dalam hatinya, ia membenarkan kata-kata Jorrian.


Sementara itu, Marissa yang baru saja selesai dengan air matanya, hanya terdiam tanpa tahu harus berkata apa. Ia pun berusaha mengatur irama jantungnya yang berdegup kencang.


Setelah berfikir beberapa saat, akhirnya Jovan menyetujui usulan ayahnya, untuk melaksanakan akad nikah pada malam itu juga.


"Siap, Yah. In syaaAllah, saya siap melaksanakan akad nikah malam ini juga," ucap Jovan dengan penuh keyakinan sambil mengeluarkan kotak perhiasan berisi cincin bermata berlian sebagai mahar.

__ADS_1


Mario dan Alex pun saling berpandangan, lalu sama-sama menganggukkan kepala mereka. Mario pun kembali berbicara kepada Marissa.


"Cha, they're ready. It's for your safety, we better do as they said. Are you ready??"


"Tapi Yah, malam ini??" jawab Marissa yang masih kebingungan.


"Iya, Cha," jawab Mario.


"Wait, sekarang sudah hampir jam 10 dan kita semua belum makan malam. Bagaimana jika kita lanjutkan setelah makan malam??" usul Mario yang menyadarkan Alex selaku tuan rumah, ketika rencana makan malam pun berubah menjadi rapat penyusunan strategi.


"Astaghfirullah, sampai lupa!! Maaf, jadi membuat Anda semua terlambat makan malam. So, mari silahkan menuju ke ruang makan," ajak Alex.


Alex pun mengajak tamu-tamunya untuk menuju ke ruang makan, dimana telah disediakan berbagai hidangan mewah yang menggugah selera layaknya menu buffet hotel berbintang.


"Ayo, silahkan," Alex kembali menawarkan.


Seluruh tamu yang hadir, baik dari keluarga Jovan dan kepolisian pun mulai mengantri untuk mengambil makan malam mereka.


Sementara itu, Marissa tampak tak berselera, kegugupannya telah menghilangkan rasa laparnya.


Alisa dan Jovanka pun berusaha membujuk Marissa untuk makan.


"Cha, walaupun sedikit, kamu tetap harus makan, jangan sampai kamu sakit," bujuk Jovanka.


"Iya, Cha. Sini Tante suapin aja, mau??" tanya Alisa.


"Ayolah, Cha. Kamu harus makan, ini sudah malam, maagh kamu bisa kambuh," bujuk Jovanka lagi.


Marissa tetap tidak menjawab.


Jovan yang memperhatikan segera mengambil makan malam untuk Marissa.


"Cha, makan dulu. Abang sudah ambilin," ucap Jovan sambil memberikan sepiring nasi beserta lauknya.


Marissa pun menerimanya dengan berat hati.


Setelah itu, Marissa tampak hanya memainkan sendoknya saja, hal ini membuat Jovan menghampirinya kembali sambil melakukan video call ke Jordan.


"Assalamu'alaikum, Cha," sapa Jordan.


"Wa'alaikumsalam, Bang," jawab Marissa.


"Kenapa sedih, katanya mau akad malam ini??" tanya Jordan.


"Bang, sekarang Abang ada dimana??"


"Barusan landing di Hong Kong, sebentar lagi mau ke hotel. Kenapa, Cha?? senyum dong, sebentar lagi 'kan kamu akan jadi istrinya Jovan, kamu mikirin apa, sih??" tanya Jordan.

__ADS_1


"Abang kapan ke Jakarta??" tanya Marissa, tanpa menjawab pertanyaan Jordan sebelumnya.


"Lusa, sehari sebelum resepsi kalian," jawab Jordan.


"Maaf yaa, Abang ga bisa hadir malam ini, but Abang selalu mendo'akan yang terbaik untuk kalian berdua," tambah Jordan.


"Syukron, Bang."


"Mau oleh-oleh apa dari sini??" tanya Jordan.


"Disneyland, Donal, Mickey, Aladdin, jadi kepingin naik magic carpetnya," jawab Marissa sekedarnya yang membuat Jordan tertawa.


"Cha, sebentar lagi kamu akan menaiki magic ridenya Jovan, ga butuh Aladdin," ucap Jordan.


"I think I know why ," gumam Jordan.


"Cha, setelah akad nanti, Jovan akan menopang semua beban yang ada dipundakmu. Ayah dan Jovan saat melihat kamu seperti ini, membuat mereka memutuskan untuk mempercepatnya, agar dapat melihat senyummu, mendengar tawa dan candamu kembali," ucap Jordan.


"We always love you, Cha, but Jovan loves you more. If you're sad, he's sad too. He's trying his best to take all the pain you have inside and bring back the smile on your face. He loves you, from the moon and back," lanjut Jordan.


"Ke bulan trus balik lagi, hmmm ngalahin astronot ya, Bang??" jawab Marissa dengan ekspedisi datar yang membuat Jordan tertawa.


"I think you're okay, since you're still know how to make a joke. Cha, just believe in Allah. It is His way to protect you," ucap Jordan.


"Buat malam ini, Bunda bahagia luar biasa, dengan menyaksikan pernikahan kalian berdua, yang sudah Bunda impikan selama bertahun-tahun," lanjut Jordan kembali.


"Cha, I will always be your big brother, but Jovan is gonna be your husband in just few hours. Ga nyambung sih, but look maksud Abang, kita akan menjadi satu keluarga besar yang ayah dan bunda impikan sejak lama. Hari it's just a day, well yaaa maksudnya.... hmmm."


"Sekarang Abang yang ngelawak, padahal aku sudah serius," potong Marissa.


"Sabar Neng, tadi sampai mana?? Van, diam aja sih??"


"Aku nyimak, Bang," jawab Jovan santai.


"Yaa intinya, buruan akad gih, Abang tunggu laporan pandangan kameranya!!"


"Iya, Bang. In syaa Allah, lagi disiapin. Anyway, penghulunya siapa yaa??" tanya Jovan.


"Lah?? aah sudah, Abang nunggu kiriman live reportnya aja nanti. Buruan jangan kemalaman, masa' akad nikah tengah malam??"


"Sabar, Bang. Yowes, aku off yaa. Biar Icha habisin makan malamnya dulu, gemes pingin nyuapin juga, nih!!"


"Enak aja, ga mau!!" protes Marissa.


" Yaa makanya, buruan makannya!!"


"Yowes, Abang selonjoran yaa, sambil nunggu live reportnya. Assalamu'alaikum," ucap Jordan mengakhiri video callnya.

__ADS_1


__ADS_2