
Arini menunggu Radit diruang kerjanya, masih ada sepuluh menit lagi menuju waktunya istirahat. Arini memutari meja Radit, hingga sebuah buku agenda kerja mencuri perhatiannya.
Dengan perlahan Arini duduk dikursi putar milik Radit, meraih buku itu dari tempatnya.
Tidak ada yang istimewa, hanya catatan-catatan kecil dan jadwal kegiatan hingga satu minggu kedepan. Namun sesuatu terjatuh dari bagian tengah buku agenda itu, tertelungkup di lantai.
Arini menundukan kepala, tangannya menjuntai menyentuh lantai meraih sesuatu yang dia yakini adalah sebuah foto.
Arini langsung tersenyum saat tahu kalau itu adalah foto dirinya. Tapi yang tidak dia mengerti, kenapa Radit bisa mempunyai foto dia, apalagi dengan posisi seperti ini. Memakai celana jeans, kaos putih, rambut terikat kucir kuda, sedang tersenyum dengan ponsel dibagian telinga, seperti sedang menerima telepon.
Sepertinya foto yang sengaja diambil tanpa sepengetahuannya. Walau diingat-ingat itu kapan, diapun tidak bisa mengingatnya. Latar dimana foto itu pun tidak bisa dia lihat, karena sengaja di blur.
Arini berjinjit kaget, saat tiba-tina pintu terbuka. Ternyata Radit.
"Mas...."
"Sayang.... maaf ya nunggu lama.... sedang apa?" Seraya berjalan mendekati Arini.
"Ini.... maaf aku tadi buka-buka buku agenda kamu, nggap papa kan?" Tanya Arini sedikit tidak enak karena merasa sudah menganggu privasinya Radit.
Radit memutar kursi yang diduduki Arini, hingga ia menghadap kearahnya," Kenapa minta maaf.... apa yang jadi milikku itu juga kan milik kamu."
Arini tersenyum," Mas.... ini foto aku waktu kapan, aku kok nggak tahu?" Tanya Arini dengan memperlihatkan foto dirinya kepada Radit.
Seketika Radit tersenyum, dan mengambil foto itu," Dapat dari mana?"
"Dari sini." Mengangkat buku agenda yang tadi sudah Arini simpan.
Radit berjongkok didepan Arini," Foto ini aku ambil waktu pertama kali kita jalan-jalan ke taman kota, bareng sama Nuno juga.... kamu masih ingat?"
Sejenak Arini berpikir," Oh yang waktu itu."
Radit memeluk pinggang Arini dan menyimpan kepalanya diperut Arini.
"Kamu tahu, waktu itu pertama kalinya aku lihat kamu bisa tersenyum bahagia dan saat itu juga aku mencuri gambar kamu dengan kamera ponsel aku."
"Oh ya...?"
Radit menengadahkan wajahnya," Aku suka liat senyuman di foto itu, walau senyuman itu bukan untuk aku."
Seketika Arini terdiam, karena memang saat itu dia tengah menerima telepon dari Aditya.
"Kamu tahu nggak apa yang waktu itu aku rasakan?"
"Apa?" Tanya Arini dengan suara pelan.
"Aku akan kehilangan cintaku...," Jawabnya dengan tersenyum miris,"... tapi satu yang baru aku sadari sekarang...." Radit menjeda kata-katanya, seakan ingin membuat Arini penasaran.
Dan benar saja Radit berhasil membuat Arini penasaran untuk tidak kembali bertanya.
" Sadari apa.... kok nggak diterusin?"
Radit tersenyum dan mencium dagu Arini,"Doa kamu terkabul."
Arini mengerutkan keningnya," Doaku.... apa itu?"
"Semoga Mas Radit berhasil mendapatkan hati wanita pujaan Mas, dan hidup bahagia...," Jawab Radit mengulang kata-kata Arini waktu itu,".... dan sekarang aku benar-benar mendapatkannya."
Arini menunduk," Maaf waktu itu aku nggak tahu kalau wanita yang Mas maksud itu ternyata aku."
Radit menarik tengkuk Arini untuk lebih menunduk. Dan didepan bibir Arini ia berucap,"Aku sangat mencintaimu."
__ADS_1
Radit memagut bibir Arini dengan lembut, mata Arini pun terpejam seraya melingkarkan tangannya di leher Radit. Mereka terbuai, menikmati setiap isapan dan ******* yang mereka lakukan.
Braaakk....
Radit dan Arini melepaskan ciumannya, menengok ke arah suara itu berasal.
Erika berdiri diambang pintu yang terbuka setengahnya. Tangannya seketika terasa lemas hingga menjatuhkan buku yang dia pegang karena melihat Arini dan Radit yang sedang berciuman.
"Maaf.... aku menganggu kalian." Dengan dada yang bergemuruh, Erika mengambil kembali bukunya.
Radit dan Arini saling bertatapan, kemudian Arini segera menghapus noda lipstik di bibir Radit.
"Nggak papa.... ayo masuk." Ucap Radit seraya berdiri dan berjalan mendekati pintu hendak membukanya lebih lebar.
"Masuk Dokter Erika." Ucap Arini menimpali.
"Ah nggak usah, aku nggak akan lama kok. Aku hanya ingin memberikan buku yang aku pinjam." Seraya memberikan buku yang berukuran tebal itu kepada Radit.
"Memang kamu sudah selesai membacanya?" Tanya Radit dengan menerima buku itu.
"Aku tidak membaca keseluruhan, hanya point yang penting-pentingnya saja."
"Oh...."
Arini berjalan mendekat," Dokter Erika sudah makan siang.... kebetulan saya bawa makanan banyak, kita makan siang bareng yuk?"
"Ah nggak usah, kebetulan aku sudah makan siang. Mungkin lain kali saja Arini. Kalau gitu, aku permisi dulu ya." Jawab Erika dengan sedikit terbata dan salah tingkah.
"Oh ya sudah kalau begitu."
"Yuk Dit...." Ucapnya kepada Radit.
Setelah Erika berjalan cukup jauh, Arini menjatuhkan kepalanya didada Radit.
"Duh malu...."
Radit langsung memeluk Arini," Tapi aku nggak malu."
"Ish Mas ini." Seraya mencubit pinggang Radit, hingga ia mengaduh.
Kemudian Arini duduk di sofa, membuka wadah yang berisi makanan yang sengaja dia masak khusus untuk Radit.
"Eemmm.... wanginya enak." Ucap Radit dengan ikut duduk disamping Arini.
"Perut Mas gimana... udah nggak mual lagi kan?"
"Nggak..." Sambil mencomot buah Nanas yang seketika kembali terjatuh karena Arini menepuk tangannya.
"Makan nasi dulu." Seraya menjauhkan nanas itu dari tangan Radit.
Radit menghela nafasnya dengan berat, dia sangat ingin memakan nanas itu. Tadi ia sengaja mengirimkan pesan kepada Arini untuk membawa nanas yang waktu itu mereka beli saat pulang dari pesta pertunangannya Dokter Ema.
"Satu aja sayang." Ucap Radit sedikit merajuk.
"Ih nggak." Arini menutup kembali nanas dalam wadah itu dan menyembunyikannya.
Radit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau udah makan nasi, baru aku kasih nanasnya." Ucap Arini dengan memberikan piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauknya.
Radit menerima piring itu, seperti biasa memberikan suapan pertamanya untuk Arini dan kemudian untuk dirinya.
__ADS_1
Dengan tidak bersemangat Radit mengunyah makanannya dengan pelan.
"Nggak enak ya makanannya?" Tanya Arini.
"Enak."
"Trus kenapa makannya kayak yang males gitu?"
"Ah biasa aja, perasaan kamu aja kali."
"Yakin?"
"Yakin."
Dalam hati, Radit pun tidak mengerti, kenapa makanan yang Arini bawa terasa hambar dimulutnya. Padahal biasanya dia begitu menyukai apa saja yang Arini buatkan untuknya.
"Mas...."
"Heem...."
"Udah diperiksa belum.... Dokter bilang apa?"
Radit menjauhkan piring yang masih tersisa setengahnya," Katanya aku nggak apa-apa."
"Jadi masuk angin biasa maksudnya?"
"Mungkin."
"Loh kok mungkin?"
"Ya mungkin, soalnya perut aku juga katanya baik-baik aja, nggak kena lambung atau apapun itu."
"Beneran?"
"Nggak percaya?"
"Nggak."
Radit langsung mencubit pipi Arini dengan gemas sambil diiringi dengan tawa renyahnya.
"Mana nanasnya?"
"Itu nasinya masih banyak." Menunjuk piring dengan matanya.
"Kalau kebanyakan takut muntah lagi."
"Katanya udah nggak kenapa-napa.... buktinya masih pengen muntah."
"Aku juga nggak tahu kenapa sayang... besok juga pasti baikan, kamu tenang aja. Lagian aku udah minum obat juga." Seraya mengacung-acungkan tangannya agar Arini segera memberikan nanas yang sengaja disimpan samping tempat duduknya.
Arini mengambil wadah berisi nanas itu." Awas ya kalau ampe sakit perut gara-gara kebanyakan makan nanas."
"Iya istriku cantik."
Radit langsung membuka dan melahap nanas itu dengan nikmatnya, membuat Arini menggeleng-gelengkan kepala membuat giginya terasa ngilu melihat Radit memakan nanas sebanyak itu.
..........................................................
..........................................................
................................Bersambung..........
__ADS_1