
Ibu Rania tertawa terpingkal-pingkal saat Radit dan Arini tiba dirumah hampir jam delapan malam. Bagaimana tidak, Radit datang dengan berpakaian serba hijau dengan topi senada yang terus menempel di kepalanya.
Radit menjatuhkan badannya di sofa, duduk bersebelahan dengan Ibu Rania.
"Gimana rasanya?" Tanya Ibu Rania sambil menopang dagu.
"Rasanya apa?" Radit balik bertanya.
"Rasanya penuhi keinginan istri yang lagi ngidam?"
Radit menghela nafasnya kuat-kuat," Malu Bu."
Ibu Rania terkikik geli," Itu sih nggak seberapa Mas... Waktu ibu ngidam dulu malah lebih parah dari Arini."
Radit menegakan badannya, memandang Ibu Rania dengan penasaran.
"Emang dulu Ibu kayak gimana?"
Sebelum menjawab Ibu Rania tertawa, mengingat kejadian yang sudah berpuluh-puluh tahun lamanya.
"Dulu Ibu ngidamnya pengen makan telur ayam kampung yang langsung berojol dari pantat ayamnya."
"Oh ya... terus-terus?" Radit semakin penasaran dibuatnya.
"Seharian Ayah keliling-keliling, dari satu kampung ke kampung lain nyari ayam yang lagi bertelur."
"Dapet?"
"Dapet.... tapi Ayah harus nunggu semaleman sampai ayam itu ngeluarin telurnya. Pas telurnya dibawa kerumah dan digoreng, eh malah Ibu nggak mau makan."
Radit tertawa," Ayah marah nggak Bu?"
"Ayah itu nggak pernah marah, selalu sabar ngadepin sikap Ibu yang kadang kelewat manja. Terus satu lagi, Ayah itu nggak cemburuan, nggak pernah ngunek-ngunek kayak Mas." Sindir Ibu Rania.
"Ih apa sih Bu..." Radit menghindari tatapan Ibu Rania.
Ibu Rania menyampirkan kakinya, serong kearah Radit.
"Mas harus percaya sama Arini... Mas harus inget gimana dulu susah payahnya Mas untuk memperjuangkan cinta Arini hingga akhirnya dia memilih Mas untuk jadi suaminya, itu bukan hal yang mudah buat dia... jangan pernah sia-sia kan apa yang sudah Mas dapat."
"Iya Bu... Mas akan inget itu."
Ibu Rania menarik tangan Radit," Jadi suami yang baik seperti mendiang Ayah."
"Iya Bu, Mas janji."
"Ya sudah sana bersih-bersih dulu, pasti kamu capek kan habis masakin nasi goreng buat Arini."
Radit kembali tertawa bila ingat kejadian yang baru saja ia lalui.
"Memang capek, tapi Mas seneng Bu bisa menuhi keinginan Arini. Bikin nasi goreng dua porsi sekaligus, dua dadar telur, dua buah timun, dua tomat, dua ayam goreng dan dua kerupuk udang dan semua itu habis Arini makan." Radit berbicara dengan antusias.
"Semuanya harus dua?"
"Iya semuanya harus dua, nggak boleh lebih ataupun kurang. Mas seneng liat Arini makan sebanyak itu."
Radit menyandarkan kepalanya dipangkuan Ibu Rania, entah tahun kapan ia melakukan hal yang sama seperti ini, sangat nyaman dan membuat perasaannya menjadi tenang.
Ibu Rania menarik kedua bibirnya, mengelus kepala Radit dengan penuh kelembutan. Anak yang sedari kecil ia jaga dan ia manja, tak terasa sudah menjadi seorang suami dan sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah.
"Mas... besok kita USG ke Rumah Sakit ya, Ibu pengen pastiin semuanya."
"Pastiin apa?" Radit menatap manik Ibu Rania yang menunduk melihatnya penuh kasih sayang.
"Ya pastiin perkembangan bayi dalam kandungan Arini. Mudah-mudahn perkiraan Ibu selama ini benar."
"Perkiraan apa memangnya?"
"Nanti juga Mas tahu."
"Ibu selalu bikin Mas penasaran."
Ibu Rania terkekeh," Ya jangan dibuat penasaran dong."
"Ah Ibu ini... Bu...."
__ADS_1
"Hemm...?"
"Ibu pengennya cucu perempuan atau laki-laki sih?"
Ibu Rania menatap lurus kedepan," Ibu pengennya sih perempuan, karena laki-laki kan udah ada Nuno. Tapi sih mau laki-laki atau perempuan itu sama saja, yang penting sehat dan Arini bisa melahirkan dengan selamat."
"Mas juga sama kayak Ibu mau laki-laki atau perempuan sama saja."
Ibu Rania kembali mengusap kepala Radit," Jaga Arini, jangan sampai dia kecapean atau stress, kandungannya sangat lemah... dan yang terpenting jangan sampai Arini jatuh, karena itu akan fatal akibatnya."
Radit langsung bangun dari pangkuan Ibu Rania," Mas ke kamar dulu ya Bu."
"Ada apa?"
Radit berdiri," Mas suka parno kalau Ibu sudah bicara seperti itu, takut Arini kenapa-napa."
Ibu Rania terkekeh," Ya udah sana."
Dengan langkah lebar Radit berjalan menuju kamar, membuka pintu dengan tergesa dan memutari kesekeliling kamar mencari Arini. Suara air yang bergemericik dan seketika lenyap membuat ia bisa kembali bernafas dengan lega, aman.
Arini keluar dari balik pintu kamar mandi, memandang Radit yang masih terpaku diambang pintu masuk.
"Mas ngapain diem disana?"
"Nggak ngapa-ngapain."
Radit berderap mendekati Arini yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah setelah keramas. Arini terlihat menarik dengan perut yang bulat hanya terhalang handuk putih seperti sekarang.
Radit memeluk Arini dari belakang, mengelus perut yang menonjol semakin keras itu. Arini menempelkan tangannya dipipi Radit, dia amat sangat suka kalau Radit sudah seperti ini, mengelus-elus bayi yang ada dalam perutnya.
"Mas mandi dulu gih, nanti keburu malem."
Radit menekan dagunya di pundak Arini," Aku bantu keringin rambut kamu dulu."
"Nggak usah sayang, mendingan Mas mandi aja, biar seger."
"Ya udah kalau gitu." Mencium pipi Arini yang dingin dan beranjak menuju kamar mandi.
Belum lama Radit menutup pintu kamar mandi, Arini kembali mengetuknya. Radit yang sudah tidak berpakaian melongokan kepalanya dibalik pintu.
"Ada apa?"
"Memang handuk kamu kemana?"
"Ini...," Arini menunjukan handuk yang masih dia pakai,"... aku pake dua-duanya." Jawabnya dengan tersenyum malu.
"Kenapa harus pake dua?" Tanya Radit bingung.
"Ya mau aja, biar lebih anget." Jawab Arini sambil melenggang pergi.
Radit menggeleng-gelengkan kepala, semakin merasa aneh dengan sikap Arini akhir-akhir ini.
*******
Arini menarik pintu, keluar dari kamar. Perutnya yang baru saja diisi dua piring nasi goreng sangat tidak berpengaruh dalam perutnya saat ini, seperti mencicipi makanan pembuka yang hanya numpang mampir dan pergi begitu saja.
"Rin...." Ibu Rania yang baru keluar dari kamar mendapati Arini yang hendak berjalan menuju dapur.
"Eh Ibu...."
"Mau kedapur?"
"Iya Bu... mau bikin susu."
"Emang Mas kemana?"
"Mas Radit lagi mandi."
Ibu Rania menarik tangan Arini dan menuntunnya untuk duduk di meja makan.
"Kamu tunggu disini, biar Ibu yang buatin."
"Nggak usah Bu, biar A...."
"Udah... kamu tunggu disini." Potong Ibu Rania yang langsung pergi ke arah dapur.
__ADS_1
Arini tersenyum, ia begitu beruntung mendapat mertua sebaik Ibu Rania yang selalu memperlakukannya bukan seperti menantu, tapi seperti anaknya sendiri.
Arini bersandar dengan mengelus perutnya, matanya langsung menangkap setumpuk roti di meja makan. Tanpa aling-aling ia menyambar dua roti dengan mengolesi dengan dua jenis selai, rasa coklat dan kacang. Memakannya sangat lahap hanya dengan beberapa kali suapan.
Tak lama Ibu Rania kembali dengan satu gelas susu putih ditangannya.
"Ini susunya..."
"Makasih ya Bu..." Mengambil gelas dan meminumnya sampai habis.
"Mau Ibu bikinin lagi?" Tanya Ibu Rania yang melihat Arini seperti masih kelaparan tidak seperti biasanya jika ia membuatkan susu, Arini harus meminumnya beberapa kali tegukan sampai akhirnya susu itu habis.
Arini hanya tersenyum tidak menjawab, ia malu untuk mengatakan Iya kalau ia masih sangat lapar.
Seakan mengerti, Ibu Rania mengambil gelas yang sudah kosong itu " Sebentar ya..."
"Eh nggak usah Bu..."
"Udah jangan malu... orang hamil itu porsinya harus double kan?" Tutur Ibu Rania sambil tersenyum.
Setelah meminum dua gelas susu dan dua tumpuk roti, akhirnya Arini merasakan perutnya sudah terisi penuh dan bisa tidur nyenyak malam ini.
"Sekarang kamu istirahat ya..." Ucap Ibu Rania.
"Iya... Arini duluan ke kamar ya Bu."
Ibu Rania mengangguk,"Iya sayang."
Sampai didalam kamar, Arini sudah mendapati Radit tidur terlentang dengan satu buku menutupi wajahnya.
"Mas... Mas sudah tidur?" Tanya Arini seraya membuka piyama panjang yang menutupi bagian dalam piyama pendek tanpa lengan yang ia pakai.
Hening, tidak ada jawaban dari Radit.
Arini beringsut naik ke atas tempat tidur, mengambil buku di atas wajah Radit. Arini sedikit tersenyum, ia tahu Radit masih terjaga walau matanya terpejam rapat.
"Yah, udah tidur...," Canda Arini dengan menyimpan buku di meja lampu samping kanannya.
Arini merebahkan badan memunggungi Radit,"Padahal Ibu udah ngebolehin" Lanjutnya dengan suara pelan namun ia yakin Radit bisa mendengarnya.
Seketika Radit bangun dan menarik lengan Arini," Serius sayang?"
"Apanya yang serius, bukannya Mas lagi tidur?" Menjawab dengan mata terpejam.
"Yang barusan kamu katakan."
"Mas ngigau kali, aku nggak ngomong apa-apa kok... udah ah aku ngantuk." Arini balik mengerjai Radit dengan tersenyun dalam hati.
"Kamu lagi ngerjain aku ya...?" Bisik Radit tepat ditelinga Arini diselingi ciuman yang membuat Arini merinding.
"Mas kali yang ngerjain aku." Jawab Arini seraya menarik badannya menghadap Radit yang sedang mengukung tubuhnya saat ini.
Radit terkekeh," Jadi... ayuk dong...." Dengan tangan yang sudah bergerilya menyibak bagian bawah piyama Arini.
"Yuk apa?" Tanya Arini pura-pura tidak mengerti.
"Bercinta sayang....aku nggak mau nunggu lagi." Ucapnya didepan bibir Arini.
Blush... Pipi Arini merona," Besok aja." Ujar Arini dengan menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Sayang...." Radit membuka tangan Arini yang ternyata sedang menutupi senyumnya.
"Aku kangen desahanmu,"
Mereka saling bersitatap, menyuarakan kerinduan untuk kembali bergumul dalam panasnya api percintaan dengan sentuhan-sentuhan yang membuat mereka terbang melayang.
Radit menarik segitiga pengaman Arini, melemparnya jauh, dan menyentuh lembut paha itu agar terbuka lebih lebar, hingga ia bisa menggerakan tangannya dengan bebas dan leluasa.
Penantian yang hampir tiga bulan akhirnya bisa menemukan titik akhir di malam yang dingin ini.
Radit mulai berselancar, menyusuri semua titik-titik kenikmatan yang sudah sangat dia dambakan. Melenguh, mendesah dan menghentak indah penuh gairah.
...........................................................
...........................................................
__ADS_1
...................................Bersambung........