
"Cha, bagaimana, kamu sudah siap??" tanya Mario sesaat setelah makan malam.
"In syaa Allah, Yah," jawab Marissa dengan suara yang sedikit bergetar karena gemuruh di dalam dadanya muncul kembali.
"Istighfar and take a deep breath, Cha," ucap Mario sambil menggenggam erat tangan Marissa, untuk mengurangi ketegangan putrinya, walaupun ia sendiri juga merasakan ketegangan yang sama.
Tak lama kemudian, Alisa menghampiri keduanya.
"Cha, bisa ikut tante sebentar ??"
"Mas, pinjam Icha sebentar, yaa??"
"Silahkan, saya mau langsung ke ruang akad, biar deg-degannya lebih terasa," canda Mario untuk mengurangi ketegangannya.
Sementara itu, Alisa mengajak Marissa untuk mempercantik dirinya.
"Calon pengantin itu harus glowing, dadakan boleh, tapi glowing is a must!!" ucap Alisa sambil memilihkan gaun dan riasan untuk Marissa.
Setelah menemukan gaun yang tepat, Alisa pun meminta Marissa untuk segera bersalin.
Alisa pun menyiapkan perlengkapan make-up untuk mendandani Marissa, lalu mulai mendandaninya setelah Marissa selesai berpakaian.
"Cha, bukan kamu saja yang tegang, Tante juga sama tegangnya. Paling tidak, kamu bisa narik nafas disini, sebelum nanti mulai tegang lagi," ucap Alisa sambil mengaplikasikan make-up pada wajah Marissa.
Marissa pun memandangi wajah tantenya itu, sambil berkata, "Tan, tangannya dingin."
"Tante juga tegang!! Tante bawa kamu ke kamar bukan cuma karena kamu harus dandan, tapi karena Tante juga butuh udara. Dibawah rasanya sudah sesak banget," ucap Alisa yang tak kalah gugup dengan Marissa.
"Tan, makasih," ucap Marissa sambil memeluknya.
"Eeee, ini lagi didandani kok malah meluk??" protes Alisa tetapi ia pun membalas pelukan Marissa.
"Teletubbiesnya dilanjutkan nanti, yaa," ucap Alisa sambil tersenyum dan melepaskan pelukannya.
"Tante jadi melo, nih. Ibumu pasti akan sangat berbahagia, jika ia dapat menyaksikan momen ini," lanjut Alisa sambil menahan air matanya.
"Ibu sudah diwakilkan oleh Tante dan Bunda. Buat Marissa itu sudah cukup," ucap Marissa penuh haru.
"Terima kasih, Cha."
"Tante harus ngebut, nih. Fokus-fokus!!" ucap Alisa yang mempercepat gerakannya.
Sementara itu, Jovan tampak tegang di ruang keluarga sambil berlatih mengucapkan kalimat ijab qabulnya.
"Van, just relax and bismillah," ucap Jorrian sambil menepuk-nepuk pundak putra bungsunya itu.
"Oiya Yah, yang jadi penghulunya siapa??" tanya Jovan.
__ADS_1
"Tadi Om Alex bilang, Pak Robert akan jadi penghulunya, mereka sekarang sedang membuat surat nikah siri untuk kalian tanda tangani nanti," jawab Jorrian.
"Van, mulai malam ini kamu akan bertanggungjawab atas Putri Mahkota Sofyan Corporation, sebuah tanggung jawab yang tidak mudah. Orang-orang diluar sana akan selalu memperhatikan gerak-gerik kalian berdua, karena kalian akan menjadi wajah dari Sofyan Corporation. Ayah yakin kamu mampu, kalian berdua mampu untuk itu," lanjut Jorrian.
"In syaa Allah, Yah," jawab Jovan.
"Oiya Yah, Bang Jordan minta videonya," lanjut Jovan lagi.
"In syaa Allah Ayah tidak akan melewatkan momen ini tanpa dokumentasi, kamu fokus pada ijab qabulnya saja. Oiya, dicatat dulu untuk Mario biar cepat," pinta Mario.
"Sebentar, Yah," jawab Jovan yang segera menuliskannya pada selembar kertas.
"Ini, Yah."
Alex pun menghampiri keduanya.
"Sudah hampir jam 11. Sebaiknya segera dimulai saja," ucap Alex.
Alex pun mengajak Jorrian dan Jovan menuju area akad nikah yang dilaksanakan di ruang kerjanya.
Tim pengacara tampak telah siap dengan lembaran surat siri yang akan ditandatangani setelah akad nikah dilangsungkan.
"Baiklah, kita mulai saja ijab qabul antara Saudara Jovan Ahmad Chen dengan Bapak Mario Sofyan ayah dari Marissa Shafeeya," ucap Robert menandai dimulainya acara.
"Semua sudah siap?? Silahkan Pak Mario," lanjut Robert.
Mario pun menjabat tangan Jovan, lalu dengan suara bergetar tetapi tetap lantang, ia pun mengucapkan kalimat yang menandai penyerahan putrinya kepada Jovan.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Marissa Shafeeya binti Mario Sofyan dengan mas kawin yang tersebut dibayar TUNAI."
Selesai sudah ijab qabul antara Mario dan Jovan, yang menandai pemindahan tanggung jawab yang akan diemban oleh Jovan akan Marissa, seumur hidupnya.
Gemuruh di dalam dadanya belum berakhir. Tak lama, Alisa dan Jovanka memasuki ruang akad sambil menggandeng tangan Marissa yang memakai gaun sifon tumpuk berwarna salem.
Jovan dan Marissa pun tak dapat membendung air mata mereka lagi. Jovan segera menghampiri Marissa dan memeluknya erat dalam tangis haru, bahagia dan juga kekhawatiran yang berkumpul menjadi satu.
Tak terkecuali, seluruhnya pun ikut merasakan keharuan yang mereka rasakan saat ini.
Jovan pun melepaskan pelukannya dan menyeka air mata Marissa, kemudian ia pun mengecup keningnya.
"I have you and you have me now. Both of us have Allah the great keeper, trust Allah to protect all of us, forever, " bisik Jovan ditelinga Marissa.
Kemudian acara pun dilanjutkan dengan penandatanganan surat nikah siri.
Kamera dari beberapa handphone pun tidak melewatkan momen tersebut.
Setelah itu, acara pun dilanjutkan dengan memberikan penghormatan kepada kedua orang tua dan diikuti dengan pemberian ucapan selamat.
__ADS_1
Baik dari keluarga Sofyan maupun Chen tidak melewatkan momen kebahagiaan tersebut tanpa berfoto bersama. Berbagai pose dan gaya pun ditampilkan sehingga mengundang gelak tawa dari kedua belah pihak.
Tepat pukul 00.00, acara pun berakhir. Jovan masih menggenggam erat tangan Marissa yang terlihat sudah mengantuk.
"Van, bawa Icha ke kamarnya, biar dia istirahat," ucap Jovanka.
"Dari tadi aku juga maunya begitu, tapi aku kan ga tahu yang mana kamarnya??"
"Be smart husband, Van!!" jawab Jovanka gemas.
"Bang, ayok," ucap Marissa lirih.
"Yah, aku naik yaa, aku ....,"
"Iya, kamu segera istirahat aja," jawab Jorrian.
Jovan pun segera menuju ke kamar Marissa di lantai atas.
Sesampainya di dalam kamar, Marissa yang sudah tidak kuat menahan kantuk pun segera menjatuhkan dirinya di atas kasur dan mulai terlelap.
"Laaa, eh kok?? Cha, ga ganti baju dulu?? itu jilbabnya tetap dipakai aja??"
Marissa yang masih mendengar pertanyaan dari Jovan pun memaksakan dirinya untuk membuka matanya, lalu ia melepaskan jilbabnya dan terlelap kembali.
Jovan hanya dapat tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat Marissa.
Jovan pun memandangi sekeliling kamar Marissa, rapi dan wangi itulah kesan yang ia dapatkan.
Ia kemudian mengirim pesan kepada Bian.
"Tolong bawakan baju saya ke rumah Marissa sebelum jam 7 pagi."
Tak lupa, ia juga mengirimkan video akad nikahnya dengan Marissa.
Ia lalu melepaskan kemeja dan celana panjangnya, menyisakan t-shirt dan celana pendek.
Jovan pun berbaring di samping Marissa yang tampak lelap.
Ia pun memperhatikan wajah Marissa dengan detail.
"Bulu matanya lentik juga, alisnya tebal dan rapi. Hidungnya mancung juga."
"Eh apa ini??" ucapnya ketika melihat sebuah titik coklat di bawah hidung Marissa.
"Oh tahi lalat, kirain apaan."
"Hmm karet rambutnya juga belum dilepas, perlu di lepas ga sih??"
__ADS_1
"Lepas aja lah, biar rambutnya bisa nafas," gumam Jovan.
Setelah melepaskan ikatan rambut Marissa, Jovan mematikan lampu kamarnya dan kembali berbaring di samping Marissa.