
Setelah hampir 3 bulan berada di Indonesia Jovan memutuskan untuk kembali ke Singapura.
" Kirain, kamu bakalan sampai setahun di Jakarta. Ternyata baru 3 bulan, sudah pulang ke rumah. " ucap Jovanka.
" I need home, I need your hug, Bun. "
" Ouuuch, anak bungsu Bunda ternyata masih minta dipeluk. Sini, Sayang, Bunda peluk. "
Jovan pun memeluk ibunda tercintanya. Kemudian ia mengajak Jovanka duduk di sofa, ia pun meletakkan kepalanya dipangkuan Jovanka.
Sambil mengelus-elus pipi dan rambut Jovan, Jovanka dapat merasakan kegundahan hati putra bungsunya itu.
" Kamu kenapa Van?? ga biasanya manja ke Bunda. Ada apa dengan Jakarta??"
" Ga tahu Bun. Aku bingung. "
" Bingung kenapa?? "
" Aku merasa seperti mendua."
" Maksudnya?? eh Bunda ga tahu kalau kamu punya pacar?? siapa pacar kamu?? kamu tahu kan Bunda ga pernah setuju dengan... "
" Iya Bun, aku tahu. Pacaran itu dosa. Tenang Bun, aku ga pacaran. Kan tadi aku bilang, aku merasa, so it just feels like bukan beneran. "
" Ok, Bunda bingung, maksud kamu itu apa?? "
" Bunda kan tahu, aku ke Jakarta untuk mencari Icha. Aku nulis novel, buat filmnya semua itu untuk mencari Icha. Tapi selama disana, aku bertemu dengan seseorang yang mungkin seumuran dengan Icha. I won't tell you her name "
" Baru mau nanya, yowes lanjut. "
" Jadi, aku pertama kali ketemu sewaktu di Bandara Juanda. Dia duduk di sebelahku, aku ga berani lihat wajahnya, tapi aku bisa merasakan dia cantik. "
" Singkatnya, aku ternyata satu penerbangan sama dia, bahkan satu row. Setelah turun, I felt like I had to helped her. So I helped her to took her baggage then I brought her to her place. And that's it. But then few days later, I met her again. So, I asked her number, yaa karena dia bilang kalau dia sendirian di Jakarta. Ga tahu kenapa, tapi rasa hati ini, kok ingin melindungi, menyayangi padahal aku juga ga tahu dia siapa. Intinya she's buat aku distract. Setiap pembahasan tentang Icha, kenapa dia yang selalu terbayang. Sempat ada pertanyaan jikalau Icha sudah ditemukan, tetapi dia ga ingat apa pun, well intinya out of my expectation. Then what will I do?? do you know what, Bun, yang aku pikirkan malah perempuan itu. Kenapa pikiranku melayang, membayangkan melamarnya dan menikahinya?? I just met her!! I just can't controll my heart. That's why I decided to come back home. "
Jovanka tersenyum mendengarkan putra bungsunya mencurahkan isi hatinya.
" You're in love, Van. Look, grab apa yang ada di depanmu jangan sibuk mencari yang tidak ada, sedangkan yang di hadapanmu lebih membutuhkan. Do what your heart say. Ask Allah, minta petunjukNya. Your feelings never wrong. "
Jovan hanya diam mendengarkan nasihat ibundanya. Mencermati setiap kata yang keluar darinya.
" Makasih, Bun. "
Jovan pun mencoba mencari dimanakah hatinya berada.
Sementara itu di Jakarta, Marissa kembali ke rutinitasnya seperti biasa.
" Ris, jam 10 nanti, kamu ikut saya. Ada proyek renovasi kantor BOTM. Ini proyek besar senilai hampir 10 milliar rupiah. Ini proyek tender dan kita salah satu yang diundang untuk mengikuti tender. Sasha yang akan menjadi head designer untuk proyek ini " ucap Ardan.
" Siap !! "
Menjadi arsitek junior membuat Marissa lebih banyak membantu para seniornya di kantor. Ia harus menunggu 2 tahun sebelum diangkat menjadi arsitek senior dan mendapatkan proyeknya sendiri.
Walaupun begitu, kesibukannya tak pernah surut. Pulang setelah maghrib terkadang isya, sering dilakoninya.
Setelah hampir dua bulan bekerja, badan Marissa akhirnya tak sanggup untuk terus bekerja karena kelelahan.
" Zah, aku izin ga masuk yaa. Aku ga enak badan. "
" Eh, suaramu serek banget !! sudah periksa ke dokter?? "
" Belum, rencananya pagi ini aku baru mau periksa. "
" Ok, take your time. Don't worry, nanti aku bilang ke Ardan. "
" Thank you, Zah. "
Marissa pun beristirahat sepanjang hari di dalam kamar kostnya.
" Fix, aku demam, " ucapnya setelah melihat angka 39° C di termometer.
Dengan kepala yang terasa berat dan pegal di seluruh badannya, Marissa memaksakan diri untuk mengambil obat.
" Diminum sesudah makan... hmmm makan apa?? "
Marissa pun melihat ke sekeliling ruangan untuk mencari makanan yang tersisa.
" Alhamdulillah masih ada roti satu potong, " gumamnya.
Setelah meminum obatnya, Marissa tertidur kembali.
__ADS_1
Di tempat yang lain, Bian kembali bekerja seperti biasa, walaupun tanpa Jovan.
Ia melihat ke arah jam di dinding.
" Sudah jam 10, hmmm Mbak Risa masih di kantor nih, makan siang bareng mau ga yaa?? "
Bian pun menghubungi Marissa.
" Assalamu'alaikum, ada apa Bian "
" Wa'alaikumsalam, eh Mbak, kenapa suaranya?? Mbak Risa sakit?? "
" Iya Bi, aku demam jadi ga masuk kerja. "
" Sudah ke dokter?? "
" Belum, ga perlu, aku cuma butuh istirahat aja kok. "
" Hmmm sudah makan, Mbak?? "
" Sudah, baru roti aja. Ini baru mau pesan. "
" Eeee ga usah, aku pesenin. Kalau Bang Jovan tahu Mbak sakit, trus aku ga kirim makanan, tamatlah riwayatku ini!! Tunggu aku pesenin yang seger-seger ya, Mbak."
Bian pun segera memesan makanan untuk Marissa dan mengirimkan madu serta beberapa suplemen nutrisi kesehatan.
" Mbak, sudah aku pesenin yaa. Sebentar lagi sampai. Sudah aku bayar semua. Cepat sembuh ya, Mbak. "
" Makasih, Bi. "
" Mbak, aku bukan Bibi-Bibi!! jangan panggil aku Bi dong !! "
Marissa pun tertawa.
" Laa namanya Bian, yaa dipanggil Bi atau An?? An, ga enak nggantung. "
" Terserah Mbak deh kalau gitu, " ucap Bian berpura-pura kesal yang kembali membuat Marissa tertawa.
" Wait, nama lengkapnya siapa?? "
" Xabian Arman. "
" Iiih keren namanya. Hmm kalau aku panggil Xabi, mirip sama shaby. Namanya keren tapi ga bisa dipenggal!! "
" Aaahh, ngobrol sama kamu, badanku sudah ga sepegel tadi, makasih ya, Bi, sudah nelpon "
" Sama-sama, Mbak. Oiya, kalau butuh apa-apa telpon aku aja ya, Mbak. Daripada nanti aku dipenggal sama Bang Jovan. "
Marissa pun kembali tertawa mendengar ucapan Bian.
" Eh, speaking of Abang, Abang kemana sih kok ga keliatan, menghilang gitu ?? "
" Pulang kampung, Mbak. Ga tahu nih, sudah sebulan lebih. Mungkin lagi konsentrasi sama novel keduanya. "
" Ooo, semoga dia bisa segera bertemu dengan belahan hatinya, biar bisa cepat selesai nulis novelnya trus happy lagi. "
" Aaamiiinn, yowes Mbak, met istirahat yaa. "
" Iya, makasih ya Bian, eh jangan bilang Abang kalau aku sakit yaa, pokoknya jangan bilang. Biar Abang bisa konsentrasi nulisnya."
" Siap Mbak, aku ga akan bilang."
Tak lama kemudian, makanan pesanan Bian untuk Marissa pun tiba.
Marissa pun memotretnya dan mengirim ucapan terimakasih kepada Bian.
Bian lalu memforward WA Marissa kepada Jovan.
" Kiriman makan siang untuk Mbak Risa "
Jovan yang tengah mengetik novelnya di taman pun tersenyum.
" Aaah, sudah sebulan lebih aku ga ketemu Risa, ga WA juga. Apa kabarnya dia?? "
" Wait?? ini kan hari kerja!! kok Bian kirim makan siang untuk Risa??!! "
Jovan pun segera menghubungi Marissa dengan panggilan video.
Risa yang baru menyelesaikan makan siangnya pun segera mengambil jilbab melihat panggilan video dari Jovan.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum, Bang."
" Wa'alaikumsalam, kok suaranya serak?? kamu sakit?? kamu sekarang di kostan?? "
Marissa pun mengarahkan kameranya ke arah sebaliknya, karena ia tidak ingin ekspresi kesalnya terlihat oleh Jovan.
" Eeeh kenapa kamu pindahin kameranya!! kamu buat wajah apa?? !! balikin!! "
Marissa pun mengembalikan arah kameranya dan memberikan senyuman kecutnya.
" Eeee, senyum ga ikhlas!! ulangi!! "
Marissa pun memberikan senyumannya, tetapi hatinya kesal karena Jovan mengetahui dirinya sedang sakit.
" Kenapa sakit ga bilang-bilang ??!! Kan Abang sudah pernah ingatkan, ada apa pun ngomong, jangan diam aja!! "
" Yaaa terus emangnya Abang kalau ada apa-apa ngomong ke aku??!! Abang pergi aja ga bilang-bilang, tiba-tiba aja ngilang. Mending sepekan, eeee ini hampir 2 bulan, eeee tiba-tiba video call marah-marah. Bukannya tanya kabarnya dulu, orang sakit malah dimarahin!! "
" Eh iya maaf, maafin Abang. Ris, kamu kenapa?? sakit apa?? "
" Kok Abang tahu aku sakit?? ish Bian memang ga bisa dipercaya!! "
" Eeeh Bian ga salah, dia ga bilang kamu sakit. Dia cuma bilang kalau baru ngirimin kamu makan siang dari foto yang kamu kirim ke Bian itu. "
" Aaaiish Icha you're stupid!! pakai kirimin foto, ngapain sih!! " ucap Marissa dalam hati.
" Sudah, kamu sudah ketahuan. Jujur, dari kapan sakitnya?? "
" Baru hari ini kok, Bang."
" Demam?? mukamu merah gitu ?? "
" Tadi sih 39°C sebelum minum obat, sekarang sudah turun di 38°C. Bian sudah kirim obat, suplemen sama vitamin."
" Sehari makan berapa kali?? "
" Ish Abang ini!! polisi penyidik kasus apa sih??" ucap Marissa dalam hati.
" Baru sekali, tadi sarapan."
" Makan siangnya?? kapan mau dimakan?? "
" Ingin ku menjawab tahun depan, apalah daya Abang pasti bakalan semakin marah, " ucap Marissa lirih.
Jovan yang sebelumnya memasang wajah serius, akhirnya tertawa.
" Lagi sakit, tapi masih sempat ngelawak. "
" Biar cepet sembuh, Bang. "
" Eh, gimana?? misteri sudah terpecahkan belum?? " tanya Marissa.
" Misteri apa?? "
" Misteri keberadaan Mischa?? "
" Oh itu, belum. "
" Abang semangat dong!! jangan menyerah Bang!! fighting!! "
" Kamu lagi sakit, malah ngasih semangat ke Abang. "
" Karena kata orang, you have to fight for your love. Abang juga dong!! harus!! for your happiness. "
" Kalau ternyata sekarang hati Abang ga ke Mischa lagi, menurut kamu gimana?? "
" Hah??!! Bang?!!! Abang sehat??!! Barusan Abang ngomong apa??!! Abang sudah punya yang lain??!! Abang serius??!! Bang!! kok gitu!!Mischa gimana Bang??!! "
" Ris, kok kamu jadi emosi. Calm down. It's not like what you're thinking !!! "
" Trus?? Bang, give me an explanation!! "
" Ya Allah, Ris!! jangan galak-galak dong, kamu kan lagi sakit "
" Sekarang sakitku dobel !! karena Abang sudah punya penggantinya Mischa "
" Bukan gitu Ris. Look, Mischa itu tidak ada disini, dia ntah dimana, mungkin dia tidak mau aku temukan. But, there's someone yang nyata, you are real and you can make my heart fluttering. I always want to be next to you. "
" Apa??!! Abang?? kok aku?? Ga, Abang ga boleh gitu. Abang jangan jadi laki-laki jahat seperti yang diluaran sana!! "
__ADS_1
" Sudah ah Bang, aku capek. Aku mau tidur. "
Marissa pun memutuskan sambungannya tanpa menunggu Jovan menjawabnya terlebih dahulu.