
Dua tahun berlalu sudah, Jovan dan Marissa telah kembali menempati rumah mereka dan tidak lagi tinggal di apartemen. Hari-hari Marissa kini disibukkan dengan kehadiran putranya yang baru saja belajar berjalan. Jovan memberikan nama panggilan sesuai dengan nama orang yang paling mereka sayangi dan rindukan, yaitu Josie dan putranya pun bernama lengkap Josie Abdurrahman Chen.
"Bang, aku masih penasaran kenapa Abang kekeh ngasih namanya Josie, bukannya jadi keingetan terus, trus apa nggak berasa jadi punya rival lagi?" tanya Marissa yang juga masih belum mengerti dengan alasan Jovan.
Sambil mengelus-elus kepala buah hatinya, Jovan menjawabnya, "Bang Josie nggak pernah menjadi rival abang dan nggak pernah sekalipun abang menganggapnya seperti itu. Bang Josie adalah teman terbaik buat abang, he's a good listener and advisor."
"I missed him so much and I wished a paradise for him," ucap Jovan dengan perasaan mendalam.
"Keingetan? I always remembering him, banyak momen abang bareng bang Josie yang bahkan bunda nggak tahu. We're partner of crime," canda Jovan.
"Abang berhutang banyak ke Bang Josie, makanya Abang mau bayar hutang melalui si menggemaskan satu ini!" ucap Jovan sambil memeluk dan menciumi putra pertamanya itu.
"I love you, Josie," lirih Jovan di telinga putranya.
Keheningan sesaat pun terjadi, hingga telepon seluler Jovan berdering.
"Abang angkat dulu, ya," ucap Jovan sebelum berjalan keluar kamar.
"Abang masih sibuk aja walaupun sekarang akhir pekan," lirih Marissa kecewa sambil menemani Josie kecil bermain.
Sementara itu di luar kamar, Jovan berbicara dengan Bian di telepon.
"Jadinya jam berapa?" tanya Jovan.
"Jam 5 sore nanti," jawab Bian.
"Bi, ingat jangan sampai terlambat dan salah! Kalau sampai missed sedikit saja, bisa gagal rencana yang sudah aku susun dari bulan lalu!"
"Tenang, Bang. Everything sudah in place dan mereka cuma nunggu aba-aba dari sini," jawab Bian.
"Good ! Ingat, nanti jam 8 malam, sesuai rencana, sharp!"
"Siap, laksanakan!" jawab Bian yang kemudian memutuskan panggilannya.
"Semoga semua lancar!" ucap Jovan dalam hatinya.
Ia lalu kembali masuk ke dalam kamar putranya.
"Siapa, Bang?" tanya Marissa.
"Oh.. itu cuma Bian kok, dia laporan aja," jawab Jovan sedikit gugup, karena khawatir Marissa mencium rencananya.
Marissa pun menangkap bahasa tubuh Jovan yang tampak tak tenang dengan pertanyaannya barusan.
"Ada apa, Bang? Apa ada masalah di kantor atau di cafe?"
"Oh nggak, nggak ada masalah kok, cuma laporan biasa aja."
"Kok tumben, laporan di hari libur, ini kan weekend, ngapain laporan sekarang, memangnya nggak bisa nunggu sampai Senin?" tanya Marissa yang mulai menaikkan nada suaranya.
Membaca mood Marissa yang mulai berubah, Jovan pun berusaha menenangkannya.
"Kalau cafe kan ramainya di weekend, bukan di weekdays, lagian kan nggak ganggu jadwal apapun."
"Hmm nggak ganggu yaa, kalau gitu kita pergi yuk Bang, aku bosan di rumah, pingin jalan-jalan," pinta Marissa.
"Mau kemana?" tanya Jovan.
"Santai di pantai, sambil makan satai, minumnya es teh Thai, that's so rhyme!"
"Cool, let's go!"
"Eh langsung? Beneran mau?" tanya Marissa.
"Iya, ayo kita ke pantai!"
__ADS_1
Marissa pun segera memeluk Jovan dengan erat, sambil berbisik, "Makasih, Bang."
"You're welcome, Hon."
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga tengah asyik berjalan menyusuri bibir pantai dengan hembusan angin yang menyejukkan di penghujung akhir tahun.
"Senang rasanya bisa pergi tanpa pengawalan," ucap Marissa sambil melingkarkan tangannya di pinggang Jovan.
Jovan pun sependapat dengan istri mungilnya itu.
"Alhamdulillah, kita sudah merdeka, hmm paling nggak, mereka masih ngikutin kita tanpa terlihat," ucap Jovan yang tiba-tiba melihat dua pria berbadan besar yang mengikuti mereka dari jauh.
"Kangen om Adam, nggak Bang?"
"Kangen lah, tapi Abang kan masih sering WA om Adam. Semenjak kita dibebaskan dari pengawasan, om Adam dijadikan pelatih utama di pusat pelatihan pengawal pribadi Sofyan Corp. Bang Fai juga jadi pelatih di sana. Oiya, kabar mbak Silla gimana?"
"Mbak Silla, lagi nunggu persalinan anak ke-duanya, katanya sih 2-3 pekan lagi," jawab Marissa.
"Nanti mau ngado apa?" tanya Jovan.
"Cash aja, biar mbak Silla bebas menentukan kebutuhannya."
Suasana di pantai pun kian hening, karena awan hitam mulai terlihat menggulung di angkasa. Tak lama, terdengar suara gemuruh di langit.
"It's time to go home, come on," ajak Jovan sambil menggendong putranya dan menggandeng tangan Marissa menuju ke parkiran mobil.
Jovan pun mengendarai kendaraannya dengan kecepatan sedang, sambil terus menggenggam tangan Marissa. Air dari langit perlahan mulai membahasi bumi yang menjadikan suasana syahdu.
Josie kecil pun tertidur lelap di baby car seat, yang diletakkan di kursi belakang. Sesekali Jovan melihatnya melalui kaca spion, begitu juga dengan Marissa.
Sesampainya kembali di rumah, hujan turun semakin deras. Jovan pun mulai resah akan rencana yang telah ia siapkan untuk malam nanti.
"Kenapa, Bang? Ada masalah?" tanya Marissa yang membaca bahasa tubuh Jovan.
"In syaa Allah nggak banjir, kan kemarin sungai-sungai sudah dikeruk," jawab Marissa.
Setelah beberapa saat, hujan akhirnya mereda. Meninggalkan udara yang cukup dingin dan membuat keduanya memilih berdiam di dalam kamar sambil membaca buku.
Menjelang sore, Jovanka datang untuk mengajak Josie menginap di rumahnya, yang hanya berjarak dua rumah dari tempat tinggal Jovan.
"Makasih, Bun."
"Enjoy your sweet night with Icha, she deserves it," bisik Jovanka.
"Ih kok bisik-bisik?" protes Marissa.
"Ini urusan bunda sama anak bungsu tersayang," jawab Jovanka sambil mencium kedua pipi Jovan.
"Sudah yaa, Bunda pulang, eh nggak, Bunda mau pergi sama Josie. Kita main yaa, Jos!"
"Udah tenang, besok Bunda balikin, kalian berdua istirahat aja," lanjut Jovanka sebelum ia kembali ke rumahnya.
Setelah itu, sesuai rencana Jovan, pukul 5 sore pesanan untuk makan malam ia berdua dengan Marissa telah tiba, berikut dengan juru masak dan pelayan yang akan menyajikannya, ditambah dengan dekorasi bunga minimalis yang disukai oleh Marissa.
Jovan menyembunyikannya semua melalui pintu samping yang langsung menuju dapurnya, di saat Marissa sedang membersihkan dirinya di kamar mandi.
Lalu Bian datang dengan membawa setelan jas putih untuk Jovan dan gaun untuk Marissa dengan warna senada beserta aksesoris pelengkapnya.
"Thanks, Bi. I owe you," ucap Jovan berterimakasih.
"Anytime Bang. Enjoy your night and hopefully there'll new baby coming soon," jawab Bian dengan mengedipkan satu matanya.
"Get out of here!" canda Jovan sambil mendorong Bian ke pintu keluar.
Bian pun tertawa melihat reaksi Jovan dengan wajahnya yang memerah.
__ADS_1
Kemudian, Jovan segera menuju kamarnya di lantai atas sambil membawa dua pasang pakaian yang barusan ia terima. Lalu, ia menyimpannya di dalam walking closet di samping kamar mandi.
Selepas isya, teras belakang telah selesai di sulap menjadi area makan yang romantis dengan aneka bunga berwarna putih dan ungu.
"Yang, pakai ini," ucap Jovan sambil memberikan gaun yang berwarna putih gading.
Marissa pun menatap Jovan dengan tatapan tidak mengerti.
"Abang akan pakai yang ini, jadi kita senada," tunjuk Jovan pada jas putihnya.
"Just wear it, oiya nanti hairdresser and make-up artist akan ndadanin Sayang," lanjut Jovan.
"Wait, wait a minute Mister?! What's going on?"
"Nothing, Abang hanya ingin waktu berdua aja. Tenang, hanya kita berdua aja kok. Yaa, paling nanti ada yang waiter..."
"Waiter apaan?" tanya Marissa yang semakin tidak mengerti.
"Waiter untuk makan malam kita,"
"Katanya cuma berdua, kok ada waiter-nya? Muslimah?"
"Iya Sayang, waiter-nya muslimah, nggak mungkin abang manggil waiter yang laki, sedangkan Sayang nggak berhijab. Just for us, for me, yaa. Please?"
"Okay, tapi no more suprises, kan Abang tahu aku nggak suka kejutan," protes Marissa yang membuat Jovan sedikit gugup.
Marissa pun menuruti permintaan Jovan dan beberapa saat kemudian, keduanya telah mengenakan busana bagaikan pangeran dan putri dari Kerajaan Eropa.
Jovan pun menggandeng tangan Marissa untuk menuruni anak tangga menuju teras belakang. Di saat Jovan membuka pintunya, tiba-tiba cahaya lampu menyala dengan indahnya, bagaikan taburan bintang di langit.
Jovan pun tersenyum puas akan hasilnya dan ia melihat ke arah Marissa yang terdiam menatap sekeliling seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Jovan lalu menggandeng tangan Marissa kembali dan mendudukkannya di kursi makan.
"Maafkan Abang yang kala itu tidak melamar Sayang dengan seharusnya," ucap Jovan sambil berlutut di depan Marissa dan menyematkan sebuah cincin di jari manisnya. Cincin bermata blue safir yang dihiasi pink diamond disekelilingnya, itu pun tersemat dengan indah di jari manis Marissa.
Dada Marissa pun bergemuruh dan membangkitkan rasa cintanya kepada Jovan. Semua kenangan bersama dan perpisahan, mulai muncul kembali, membuatnya menitikkan air mata.
"Why are you crying, my love?" lirih Jovan sambil mengusap air mata di pipi Marissa.
"I'm crying because I'm happy. Bang, mengingat semua peristiwa yang terjadi selama 25 tahun di dalam kehidupan aku, dengan 2 kematian orang-orang yang kusayangi, pertemuan kembali dengan orang-orang yang kusayang dan cintai, dengan segala problematika yang terjadi, aku sangat bersyukur Allah memberikan abang di dalam hidupku. Dengan semua kemewahan dan kemudahan yang kudapat saat ini, aku rela menukarkannya hanya untuk dapat selalu bersama Abang. I don't want you to leave me alone again, I want you always stay by my side, every morning, every night. Just promise me, you'll always here with me. The moment you lost your memory, was breaking my heart in to pieces. I don't want that ..."
"I won't forget you and you won't forget me. I promise, in syaa Allah," lirih Jovan.
Keduanya pun berpelukan dengan erat, kemudian Jovan mengecup kening Marissa.
"Now, Abang lapar, kita makan yuk," ajak Jovan yang membuyarkan momen romantis dengan tiba-tiba.
Tetapi kali ini Marissa hanya tertawa kecil.
"Suapin," ucap Marissa manja.
"All right my love," jawab Jovan yang kemudian menarik kursinya ke samping Marissa.
Mereka pun menikmati makan malam dengan ditemani cahaya bintang di langit dengan sesekali terdengar suara tawa kebahagiaan dari keduanya.
Diakhir makan malam, Jovan masih menyimpan sebuah kejutan untuk Marissa.
"Yang, look up!" seru Jovan sambil memeluk Marissa dari belakang.
Sedetik itu pun kembang api berwarna-warni memenuhinya langit Timur Jakarta dengan indahnya.
"Wait for the last blast," bisik Jovan di telinga Marissa.
Sesaat kemudian, kembang api pun merubah formasinya menjadi sebuah kalimat yang ditujukan untuk Marissa.
"I'm happy with Cinta yang hilang."
__ADS_1