
Nuno menghentikan langkahnya diambang pintu ruang ICU. Memandang sang Bunda yang terbujur kaku tak berdaya. Rindu... tidak ada sapaan sayang, tidak ada belaian kasih dan tidak ada kata pujian yang selalu Bundanya katakan, Nuno anak hebat...
"Bunda...." Ucap Nuno Lirih.
Nuno menghapus air mata yang menganak sungai dengan kedua telapak tangannya.
"Kita temui Bunda?" Tanya Bude Wati.
Nuno menengadah melihat Bude Wati yang ada disampingnya," Bude.... kalau Nuno nangis, Bunda bisa denger nggak?"
Bude Wati mengusap sudut matanya, mengangguk," Bisa sayang... makannya Nuno jangan nangis ya, kasian Bunda jadi ikut sedih nantinya." Jawabnya dengan suara tercekat menahan air mata agar tidak ikut keluar.
Radit yang setia menemani Arini tiga hari ini, menolehkan pandangannya mendengar obrolan Nuno dan Bude Wati.
Radit tersenyum, merentangkan tangan meminta Nuno untuk menghampiri dan memeluknya, memberi kekuatan kepadanya, kalau Bunda akan baik-baik saja.
Nuno melangkah cepat, mendekati Radit dan memeluknya erat seolah berkata, Nuno pengen Bunda Yah...
"Bunda pasti sembuh sayang, doain Bunda ya?"
Nuno semakin menyerukan kepala didada Radit, sedikit menganggukan kepalanya. Dengan memejamkan mata, Radit menguatkan hati, berusaha tegar dan kuat didepan Nuno.
"Nuno kangen Bunda?" Tanya Radit dengan suara bergetar.
"Iya."
"Kalau gitu... sekarang Nuno sapa Bunda, siapa tahu setelah mendengar suara Nuno, Bunda bisa langsung bangun."
Nuno menarik badannya dari pelukan Radit, berjalan lebih mendekat kepada Arini.
Perlahan Nuno memegang tangan Arini, air matanya kembali mengembang namun cepat-cepat ia hapus. Kemudian Nuno menyandarkan kepalanya dibantal Arini.
"Bunda... ini Nuno, Bunda bisa denger suara Nuno kan. Ayo bangun Bun... Nuno kangen dipeluk Bunda. Dede bayi juga pasti pengen ketemu Bunda...." Ucap Nuno ditelinga Arini sambil menghapus air matnya yang hampir jatuh.
Kemudian meneruskannya lagi," Nuno janji nggak akan nakal lagi, Nuno akan jadi Kakak yang baik buat Dede Bayi... Nuno akan jagain Dede Bayi dan juga Bunda... tapi Bunda bangun ya, ayo bangun Bun..."
Bude Wati menakup mulut, hatinya terasa tersayat-sayat pisau yang sangat tajam.
Radit mengalungkan tangannya dipundak Bude Wati, hingga Bude Wati semakin sesugukan tak kuasa menahan air matanya.
Radit memapah Bude Wati untuk duduk di sofa, tak jauh dari blankar Arini.
"Minum dulu Bude." Radit memberikan botol air minum.
Bude Wati menerima botol air itu dan meminumnya sedikit.
"Apa ada perkembangan dengan keadaan Arini?" Tanyanya setelah sedikit lebih tenang.
__ADS_1
Radit menunduk, hatinya gamang namun ia harus tetap optimis kalau Arini akan kuat melewati komanya, walau kemungkinan itu sangatlah kecil.
"Tidak ada Bude." Jawabnya Getir.
Bude Wati kembali menitikan air mata, hal terburuk langsung membayang dipelupuk matanya.
"Apa tidak ada cara lain?"
Radit menggeleng. Bude Wati semakin merasakan sesak didadanya. Gurat keputusasaan nampak jelas di wajah Radit, walau ia berusaha menutupinya.
Pintu kamar terbuka, Anggun dan Dito masuk dan menghampiri mereka.
"Radit, aku bawakan makanan kesukaanmu, dari kemarin kamu belum makan." Ucap Anggun dengan menyimpan bungkusan diatas meja.
Anggun dan Dito yang mendapat kabar dari Bude Wati kalau Arini mengalami kecelakaan dan sekarang koma di Rumah Sakit, langsung pulang ke Surabaya dua hari yang lalu.
"Terima kasih Nggun... nanti aku makan."
"Jangan nanti, tapi sekarang Dit."
"Iya kamu harus makan, nanti kamu sakit." Tambah Dito.
Radi tak mengubris perkataan mereka, pandangannya kosong dan hampa. Radit seperti sudah kehilangan semangat untuk menjalani hari-harinya yang semakin berat dengan kondisi Arini yang masih dalam keadaan koma, tidak menunjukan perubahan apapun.
"Hari ini biar Bude yang menjaga Arini, Nak Radit pulang dan istirahat, nanti sakit."
Anggun dan Dito saling melempar pandangan, mereka bisa merasakan apa yang sekarang Radit rasakan, itu sangatlah berat.
"Nggun... gimana kondisi Ibu?"
"Ibu sudah membaik, tadi beliau ingin ikut aku kesini, tapi Suster belum mengizinkan. Kamu tenang aja, sekarang ada Laras dan aku yang menjaganya."
Radit menghela nafasnya lega, salah satu orang yang ia sayangi sudah dalam keadaan baik-baik saja. Namun hatinya kembali menjerit melihat kondisi Arini yang belum menunjukan tanda-tanda kemajuan apapun.
"Ayah.."
Radit tersentak saat Nuno memanggilnya,ia langsung berdiri," Ada apa sayang?"
Bude Wati, Laras dan Dito ikut berjalan mendekati Nuno.
"Ada air yang keluar dari mata Bunda."
Radit melihat air yang menjulur keluar dari ujung mata Arini. Radit mengulas senyum, ada sedikit harapan kembali muncul dihatinya, Arini bisa mendengar perkataan mereka.
"Sayang... kamu mendengar aku, kamu bisa mendengar aku kan... buka matamu, kita semua ada disini ... Nuno, Bude, Anggun, Dito, mereka semua ingin melihatmu bangun." Bisik Radit ditelinga Arini.
Perlahan Radit memegang tangan Arini dan mengecupnya" Sayang ayo bangun... kita semua merindukanmu."
__ADS_1
Namun harapan itu tidak berlangsung lama, tiba-tiba monitor hemodinamik dan saturasi disamping Arini berbunyi, menunjukan gelombang denyut jantung Arini yang tidak stabil dan samakin melemah.
Jantung Radit berdetak cepat," Rin... sayang... sayang... kamu kenapa....cepat panggil Dokter," Teriak Radit dengan menekan dada Arini dengan kedua tangannya.
Dito keluar memanggil Dokter dengan berlari secepat kilat. Laras langsung memangku Nuno yang menangis.
"Bunda kenapa Tante.... Bundaaa..." Nuno teriak histeris.
Laras tidak bisa menjawab apa-apa, ia mengambil Nuno dalam pangkuannya, mengusap punggung Nuno untuk berhenti menangis walau dia sendiripun ikut menangis. Sedangkan Bude Wati, tubuhnya semakin lemas bersadar ditembok.
Radit bergantian melihat Monitor dan Arini, gelombangnya menunjukan garis lurus yang panjang, lalu sedikit bergerigi.
"Kamu tidak boleh tinggalin aku Rin... bangun sayang..." Menekan dada Arini dengan air mata yang terus mengucur.
Tak lama Dito datang dengan membawa Dokter dan dua orang perawat.
"Cepat Dokter selamatkan istri saya..." Seru Aditya kepada Dokter itu.
"Tenang Dokter Radit... saya akan berusaha."
Satu perawat mengecek monitor hemodinamik dan memasang monitor baru. Dan satu perawat lagi meminta agar semua keluarga pasien untuk menunggu diluar demi kenyamanan dan optimalisasi Dokter agar bisa bekerja dengan maksimal tanpa gangguan dari siapapun.
"Cepat Dokter...." Teriak Radit lagi.
Dokter mangambil Defribrilator yang sudah disiapkan Suster tadi. Kemudian menggesekan kedua benda itu, lalu menempelkannya di dada Arini untuk mengirimkan kejutan berupa listrik ke jantungnya.
Tidak ada respon apa-apa... irama jantung Arini semakin melemah.
"Naikan satu...!" Seru Dokter itu.
"Sudah Dokter." Jawab Suster.
"Satu dua...." Dokter menempelkannya di dada Arini, hingga dada Arini terangkat keatas.
"Naikan satu lagi..." Serunya lagi.
Dengan cekatan Suster itu kembali melakukan apa yang Dokter minta.
"Satu dua...." Dokter kembali menempelkan alat itu didada Arini hingga naik lebih tinggi.
Tubuh Radit merosot lemas dilantai, menekuk kedua lutut dan memeluknya, ketakutan yang semakin menjadi," Bangun sayang... bangun... kamu sudah janji tidak akan pernah meninggalkanku." Ucapnya pilu seraya melihat Arini yang masih diam tak bergerak.
..........................................................
..........................................................
.................................Bersambung.........
__ADS_1