
Tok...Tok...Tok...
"Masuk..."
Simbok masuk dengan sedikit merengkuhkan badannya.
"Non...Simbok sudah siapkan makanan dimeja, dari pagi Non belum makan, ini sudah mau jam tiga sore, Simbok khawatir..."
Arini bangun dan menyandarkan punggungnya dikepala ranjang," Nanti saja Mbok, sebentar lagi saya turun."
"Non sakit... wajah Non pucat sekali."
"Saya nggak papa, hanya nggak enak badan aja Mbok."
"Simbok antar ke Dokter ya..?" Dengan nada yang sangat cemas.
"Nggak usah Mbok, nanti juga sembuh sendiri, mungkin ini bawaan bayi aja." Arini duduk dengan kaki bergelantung.
Arini mengikat rambutnya," Oh iya... Pak sopir udah jemput Nuno belum Mbok?"
"Udah berangkat dari tadi Non."
"Ya udah kalau gitu, saya mau mandi dulu."
"Kalau begitu Simbok permisi Non." Yang langsung mendapatkan anggukan dari Arini.
Rasa sakit diperutnya sedikit berkurang, walau masih terasa agak nyeri, tapi ia berusaha untuk menguatkannya.
Ia meraih ponsel di meja, kosong... tidak ada panggilan atau pesan satupun yang masuk. Arini menggeser tombol, menekan beberapa huruf hingga bertuliskan Love U, Arini tersenyum bila melihat tulisan itu.
Saat Radit membelikan ponsel itu untuknya, ia langsung menuliskan nomor ponselnya dengan tulisan Love U, alasannya adalah agar Arini selalu mengingat kalau aku selalu Cinta Kamu, ujarnya saat itu.
Arini melakukan panggilan hingga beberapa kali, tapi selalu dengan nada yang sama, nomor yang anda tuju sedang sibuk. Dengan lemas Arini kembali menyimpan ponselnya di meja.
Ia pun memutuskan untuk segera mandi dan bergegas ke Rumah Sakit, ia ingin menjelaskan dan meluruskan semua kesalahpahaman ini. Walau Radit bilang ada rapat hari ini, tapi mencoba tidak akan ada salahnya, mudah-mudahan saja masih sempat bertemu.
Setelah setengah jam, Arini turun hendak menghampiri Simbok yang sedang ada di dapur.
"Mbok... saya mau ke Rumah Sakit dulu sebentar."
"Non mau diperiksa... biar Simbok temenin."
"Bukan... saya mau temuin Tuan."
"Oh....Tapi kan Non belum makan, apa ndak sebaiknya sebelum pergi, Non makan dulu?"
"Nanti saya makan di Rumah Sakit aja sama Tuan... saya pergi ya Mbok."
"Non kesananya naik apa, kan Pak sopir masih jemput Den Nuno."
Arini yang sudah berbalik kembali menoleh.
"Biar saya naik taxi online saja.... nanti kalau Nuno pulang, saya titip sebentar ya Mbok."
"Iya Non... hati-hati dijalannya."
"Iya."
Setelah hampir setengah jam Arini menaiki taxi online, akhirnya Arini sampai di Rumah Sakit Pelita Medika.
Dengan menjinjing sekotak puding srikaya kesukaan Radit dan dua nasi boks yang ia beli di jalan tadi, Arini mengembangkan senyum dengan harapan Radit bisa segera memaafkannya.
"Arini...."
Arini menoleh," Dokter Erika."
__ADS_1
Erika berjalan menghampiri setelah menekan tombol otomatis pengunci mobilnya.
"Mau kemana... mau ketemu Radit ya... tapi Radit kan masih rapat di Hotel Puri." Tutur Erika.
"Oh gitu ya, saya kira Mas Radit sudah kembali ke Rumah Sakit. Kira-kira pulangnya jam berapa ya?"
"Aku juga nggak tahu pasti sih, tapi yang jelas dia pasti balik lagi ke Rumah Sakit, soalnya ada pertemuan dengan semua staf dan Dokter nanti sore. Kamu nggak coba telepon dia?"
"Ponselnya sibuk terus."
"Oh... ya udah kamu tunggu diruangannya aja, mungkin sebentar lagi dia pulang. Nanti saya coba konfirm ke bagian staf, siapa tahu aja mereka tahu jadwalnya Radit."
"Makasih ya Dokter Erika."
"Aduh jangan panggil Dokter dong, panggil Erika aja, biar lebih deket."
Arini tersenyum," Panggil Mbak aja ya, nggak enak kalau harus panggil nama doang."
"Ya udah gimana kamu aja."
Mereka berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit. Sesekali Erika melirikan matanya kepada Arini, ia ingin mengatakan sesuatu namun ada perasaan malu dan juga canggung. Tapi ini kesempatan bagus untuk ia mengatakannya hari ini juga.
"Rin..."
"Iya Mbak?"
"Emmm... anu.... aku mau minta maaf..." Erika seperti ragu-ragu meneruskan kata-katanya.
"Minta maaf soal apa?"
"Gimana yah, aku bingung harus ngomongnya dari mana."
"Mbak bilang aja, nggak usah sungkan."
"Aku mau minta maaf soal kejadian dulu, tentang perasaan aku sama Radit. Aku sudah jahat sama kamu, aku selalu berharap Radit akan kembali sama aku. Tapi sekarang aku sadar, semua itu salah. Radit sangat mencintai kamu, dan aku hanya masa lalunya saja."
Arini terkesiap, Erika begitu berani berkata jujur dan blak-blakan secara langsung seperti ini, karena jarang sekali ada orang yang mau mengakui kesalahannya.
"Mbak nggak perlu minta maaf, saya sudah melupakan semuanya."
"Benarkah... kamu sama sekali tidak membenciku?"
Arini menggeleng dan tersenyum mengiyakan.
Erika menarik bibirnya lebih lebar, tersenyum lega, lalu ia meraih tangan Arini.
"Kamu memang perempuan yang sangat baik, wajar kalau Radit sangat mencintai kamu."
Arini balas menyentuh tangan Erika," Mbak juga sangat baik, makanya dulu Mas Radit suka sama Mbak kan?"
Erika tersipu malu," Kamu ini.... sekali lagi makasih ya Rin. Aku ingin memulai semuanya dari awal, aku ingin jadi teman baik kamu, sama seperti Radit."
"Tentu saja Mbak, saya pun ingin jadi teman baik Mbak Erika."
Erila tersenyum," Jadi sekarang jangan panggil saya lagi dong, bilang aku aja.... biar kita jadi tambah deket."
"Oke..." Arini memberikan jempolnya.
Erika merangkul tangan Arini," Kalau gitu kamu tunggu aku di ruangan Radit, aku mau keruangan staf dulu."
Arini mengangguk tanda setuju," Makasih sebelumnya ya Mbak."
"Iya sama-sama."
Sampai diruangan Radit, dengan badan yang terasa lemas Arini duduk di sofa, menyimpan semua makanan itu di meja.
__ADS_1
Ia merogoh ponsel untuk kembali menghubungi Radit. Namun lagi-lagi ponsel Radit masih dengan nada yang sama, sibuk.
Selang beberapa menit, Erika datang menemuinya.
"Rin... Radit masih lama pulangnya, katanya jam lima dia baru kembali lagi ke Rumah Sakit."
Arini menghembuskan nafasnya, masih dua jam lagi," Kalau pertemuan dengan staf disini jam berapa Mbak?"
"Katanya nunggu Radit kembali dari Hotel."
"Oh..." Kalaupun dia menunggu, ia pun tidak akan bisa bicara panjang lebar dengan Radit.
Erika ikut duduk disamping Arini," Rin... kamu sakit ya, wajah kamu kok pucet banget."
"Ah nggak kok, cuma lagi nggak enak badan aja."
Arini mengambil makanan dimeja dan mengulurkannya kepada Erika," Mbak aku titip makanan ini buat Mas Radit ya, nggak papa kan?"
Erika menerima makanan itu," Nanti aku berikan ini sama Radit.
Erika memegang tangan Arini," Tangan kamu dingin banget, beneran kamu nggak papa?"
"Ini pengaruh AC aja kali Mbak, disini dingin banget." Kilahnya.
"Kalau gitu aku pulang sekarang ya Mbak, maaf udah ngerepotin." Seraya berdiri dengan tangan berpegangan ke sofa. Perutnya kembali terasa sakit, hingga Arini harus kembali menahan perut dengan tangannya.
"Rin kamu kenapa?" Seraya memegang bahu Arini.
"Perut aku keram, tapi ini udah biasa nanti juga hilang sendiri."
"Kamu yakin.... kita periksa dulu yuk, mumpung masih disini. Aku takut kandungan kamu kenapa-napa."
"Nggak usah Mbak, aku mau pulang aja." Tetap tersenyum, menutupi rasa nyeri yang semakin menjadi.
"Serius... aku antar sampai depan ya?"
"Aku nggak papa kok, aku bisa sendiri.... aku duluan ya Mbak."
"Hati-hati ya Rin."
"Iya Mbak."
Dengan perlahan, Arini berjalan menuju lift dan menyusuri beberapa lorong dengan sebentar-sebentar berhenti agar bisa meredakan nyeri diperutnya.
Hingga pada akhirnya ia sudah sampai dipelataran Rumah Sakit dan tak sanggup untuk berjalan hingga badannya serasa akan oleng.
Namun seseorang menahan badannya, agar tidak ambruk dilantai.
"Eh...eh...eh... Mbak nggak kenapa-napa... ayo duduk disana Mbak."
Arini menahan perutnya yang semakin nyeri. perempuan itu menuntun Arini untuk duduk disebuah kursi kosong.
Dengan cepat perempuan itu mengeluarkan botol air mineral yang dia ambil dari dalam tas gendongnya.
"Minum dulu Mbak, kebetulan aku punya air yang belun dibuka... ini masih utuh baru aku beli dan belum sempat aku minum, jadi Mbak nggak usah jijik... ayo diminum!" Cerocos perempuan itu dengan mengulurkan botol kearah Arini.
Arini melihat botol itu kemudian beralih melihat wajah perempuan yang sudah menolongnya.
Seketika Arini terhenyak, tidak disangka ia bisa bertemu dengan perempuan ini lagi.
...........................................................
...........................................................
....................................Bersambung.......
__ADS_1