
24 jam sudah Jovan menghilang. Resort yang mereka tempati pun mendadak ramai dengan anggota kepolisian, wartawan dan pasukan keamanan pribadi yang dimiliki oleh Mario.
Semua titik pencarian telah ditelusuri tetapi belum juga ditemukan titik terang akan keberadaan Jovan. Dugaan penculikan pun diungkapkan Mario kepada pihak kepolisian.
"Apa mungkin ini merupakan kasus penculikan?" tanya Mario kepada penyidik.
"Sampai saat ini, kami hanya dapat memberikan pernyataan hilang, karena jika ini kasus penculikan, sampai saat ini belum ada permintaan tebusan atau apapun yang berhubungan dengan penculikan," ucap wakil penyidik dari kepolisian.
Setelah melakukan koordinasi dengan seluruh jajaran yang terkait dengan hilangnya Jovan, juru bicara Kapolda Batam akhirnya memberikan keterangan pers.
"Kemarin siang kami mendapatkan laporan atas hilangnya saudara Jovan Chen yang sedang berlibur di Harry's Resort. Ia dinyatakan hilang setelah 1 jam mengendarai motor jet ski dan tidak kembali. Baik dari satuan penjaga pantai maupun satuan pengawal keamanan dari Sofyan Corporation telah melakukan pencarian di sekitar lokasi terakhir dimana saudara Jovan Chen terlihat, yaitu di area 63."
"Sampai saat ini, pencarian belum membuahkan hasil, baik saudara Jovan Chen maupun motor jet ski yang dikendarai saat itu, belum juga dapat kami temukan," jelas pihak kepolisian.
"Apakah ada kecurigaan terjadi kecelakaan atau mungkin penculikan?" tanya salah seorang wartawan.
"Sampai saat ini, semua kemungkinan-kemungkinan itu telah kami tampung untuk pencarian lebih lanjut," jawab pihak kepolisian.
Jumpa pers tersebut ditayangkan secara langsung di channel youtube kepolisian Batam dan juga disaksikan oleh para penculik.
"Baik, kita mainkan sekarang!" ucap Boris sambil memakai penutup wajahnya dan segera menghubungi pihak kepolisian.
Telepon genggam hotline kepolisian pun berdering.
"Sambungkan kami ke televisi, segera!!" ucap Boris sambil menodongkan senjatanya ke kepala Jovan.
Betapa terkejutnya petugas kepolisian dan tanpa menunggu lebih lama, mereka menyambungkan panggilan tersebut ke layar televisi yang berada di ruang jumpa pers.
"Bapak-bapak polisi sekalian, terima kasih telah membuat kami terkenal dengan jumpa pers ini. Tetapi, kami bukan penculik seperti yang dikhawatirkan. Kami hanya meminjam Abang ganteng ini sebentar saja. Nah, tetapi akan kami kembalikan jika kalian memberikan kami uang tunai sebesar 10 milyar rupiah. Batas waktunya sampai malam ini pukul 7. Kami akan kirim teknis pertukarannya. Ingat yaa, jam 7 malam ini! Jika tidak, dor!!"
Seketika itu terdengar suara letusan senjata api ke udara, lalu sambungan telepon pun terputus. Seketika itu juga, suasana di ruang konferensi pers berlangsung menjadi riuh.
Anak buah Jaffar yang telah terlatih itu berusaha melacak lokasi tempat Jovan disekap sesaat setelah Boris menghubungi pihak polisi, tetapi karena singkatnya waktu dan terputusnya hubungan telepon, maka mereka gagal menemukan lokasinya.
"Haiiissh!! sedikit lagi aku dapat!!" teriaknya kesal.
__ADS_1
Tetapi bukanlah Mario, jika ia tidak dapat mengatasi masalah sebesar ini.
"Sambungkan ke Clifford," ucap Mario kepada asistennya.
"Baik, Pak," jawab Raka yang segera menghubungi seorang pria Amerika yang dimaksud.
"Clif, saya punya tugas untukmu, it's about life and death of my son in law," ucap Mario tanpa basa-basi.
"Just tell me what to do!" jawab Clifford.
Mario segera menceritakan dengan singkat situasi yang ia hadapi saat ini.
"Did you record the conversation?" tanya Clifford.
"Yes, saya akan kirimkan sinyal terakhir yang kami dapatkan dari percakapan tadi," jawab Mario.
"Just send me all the things you've got and wait for the magic happen," ucap Clifford.
"Thanks, but how much," tanya Mario.
"I'll send you $10 grands in advance," ucap Mario.
Mario pun memerintahkan Raka untuk mengirimkan data rekaman percakapan dan sinyal terakhir yang didapatkan.
Mario juga segera menghubungi Alex di Jakarta, "Lex, aku hubungi Clifford untuk membantu menemukan lokasi Jovan.."
"Apa?! Mas menghubungi Clifford? Apakah seberbahaya itu situasi yang kita hadapi?" tanya Alex.
"Aku tidak mau kecolongan seperti saat Riska meninggal, jadi aku harus gunakan keahliannya. Tolong kamu segera transfer $10.000,-. Ingat, dia tidak pernah mau menunggu," jawab Mario.
"Kali ini berapa total yang harus aku siapkan? Berapa yang dia minta?" tanya Alex.
"DP $10.000,-.Total setelah selesai sekitar $ 25.000,-," jawab Mario.
"Tumben, kok dia nggak minta lebih?" tanya Alex.
__ADS_1
"Dia juga punya kode etik, kalau masalah bisnis pasti ia akan meminta bayaran lebih besar, tetapi ini masalah nyawa manusia dan keluarga, dia nggak mau mengambil keuntungan dari itu," jelas Mario.
"Oke, aku segera transfer," jawab Alex.
Sementara itu, di ruang konfrensi pers, para wartawan berebut mengajukan pertanyaan kepada polisi akan hal yang baru saja terjadi. Tentu saja, pihak kepolisian sama sekali tidak mengetahui akan komplotan Boris sebelumnya.
Untuk itu polisi tidak dapat memberikan keterangan apapun terkait dengan penculikan Jovan.
"Seperti yang Anda ketahui, kami juga mendapat informasi yang sama dengan kalian semua. Untuk itu kami akan melakukan penyidikan lebih lanjut. Selamat siang," ucap jubir kepolisian.
Para perwira kepolisian pun mulai melakukan koordinasi dengan semua pihak, termasuk para pengawal dari Sofyan Corporation.
Mario kemudian teringat akan Marissa, ia segera menghampiri putri tunggalnya yang duduk terkulai lemas, antara sadar dan tidak di samping Silla.
"Sil, bagaimana Icha?" tanya Mario perlahan sambil berlutut di depan Marissa dan menggenggam tangan putrinya itu.
"Mbak Risa sepertinya masih shock, Pak," jawab Silla.
"Biar Risa sama saya, kamu istirahat dulu," ucap Mario.
"Mbak, saya permisi," pamit Silla.
Mario lalu segera duduk di samping Marissa, menggantikan posisi Silla. Lalu, Mario meletakkan kepala putrinya di dadanya, sambil mengelus-elus kepalanya.
"Cha, you can cry, you may cry. Don't hold back your tears, your anger, just let it.... "
Belum selesai Mario berucap, Marissa akhirnya menumpahkan semua rasa yang ada. Ia menangis sejadi-jadinya dipelukan sang ayah.
"It's okay, it's okay, sweetie, just throw everything inside. Take your time," bisik Mario.
Silla yang menyaksikan pemandangan pilu itu pun tidak dapat menahan air matanya lagi. Sesaat itu, Silla merasakan keheningan di dalam ruangan yang penuh dengan kepanikan. Ia melihat semuanya berjalan dalam gerakan yang lambat.
Rekan-rekan pengawal semua sibuk berkoordinasi dengan polisi, termasuk Faisal dan Adam yang sedari tadi tidak lepas dari monitor, berharap akan sebuah keajaiban.
"Your prank is so lame, Bang," lirih Marissa yang kemudian jatuh pingsan tak sadarkan diri dipelukan sang ayah tercinta.
__ADS_1
"Cha, cha!! Ichaaaa!!" teriak Mario.