Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Kritis (BonChapt)


__ADS_3

Radit menopang kepala dengan kedua tangannya, deraian air mata tak kunjung surut dari kedua kelopak matanya yang sudah berubah merah dan membengkak. Lantunan doa dan ayat-ayat suci Al-quran terus berseru didalam hati terdalamnya.


Bergerak gelisah, berdiri, berjalan, duduk dan terus bergantian seperti itu. Tak peduli dengan penampilan ia sekarang yang dipenuhi merah darah di seluruh kemeja dan jas putih yang ia kenakan.


Bunyi sepatu bergerutuk disepanjang koridor Rumah Sakit yang sangat sepi. Semakin jelas dan semakin mendekat.


"Radit..."


"Aditya..." Radit segera menghapus air matanya.


Aditya duduk disebelah Radit, mengusap pundak untuk memberikan kekuatan kepadanya walau hatinya pun ikut didera rasa ketakutan yang teramat sangat.


"Aku yakin Arini akan baik-baik saja."


Air mata Radit malah semakin berderai, ia tak mampu untuk berkata-kata.


"Satpam di rumah mu sudah menceritakan kronologis kecelakaannya, kebetulan ia melihatnya dengan jelas. Aku dan David akan mencari siapa penabrak Arini, kalau kamu mengizinkan aku ingin melihat kamera CCTV dirumahmu."


Radit mengangguk," Iya silahkan."


"Dan aku pun ingin meminta izinmu untuk melaporkan kejadian ini ke kantor Polisi, karena menurut satpam, dua hari belakangan ini mobil itu pernah terparkir tak jauh dari rumahmu. Saya merasa kalau ini ada faktor kesengajaan."


Radit tercenung, melihat Aditya dengan rasa tidak percaya.


"Apa kamu yakin... tapi siapa orang itu, selama ini Arini ataupun aku tidak pernah memiliki musuh?" Tanya Radit dengan suara bergetar.


"Aku akan pastikan itu setelah kita melihat rekaman CCTVnya. David sedang menuju kerumahmu, karena setelah mengantarkan Nuno tadi, aku langsung menyusulmu kesini."


Aditya mengingatkan Radit tentang Nuno, bagaimana keadaanya setelah tahu kecelakaan yang menimpa Bundanya. Ia sendiri saja sangat syok, yang tiba-tiba mendapat telepon dari Simbok, mengabarkan Arini mengalami kecelakaan saat membeli sesuatu di depan Rumah.


Air matanya seketika luruh, badan bergetar dan lemas, ponsel yang dipegangnya pun tak mampu untuk dia pegang, jatuh dan hancur diatas lantai. Dengan langkah membabi buta ia berteriak dan membentak sopir ambulance agar bergerak cepat menuju rumahnya detik itu juga, tak peduli dengan puluhan pasang mata yang melihatnya penuh tanda tanya.


Hatinya hancur berkeping-keping saat melihat Arini diturunkan dari ambulance dengan badan berlumuran darah, tak sadarkan diri.


Ibu, ia tak berhenti menangis sejak menemani Arini didalam ambulance yang akhirnya jatuh pingsan dan dibawa ke ruangan IGD untuk mendapatkan perawatan.


"Radit kamu tidak apa-apa?"


Radit tersentak dari lamunan panjangnya,"Apa Nuno tahu?" Balas bertanya.


Aditya mengangguk," Dia tidak berhenti menangis, tapi untungnya ada Bude Wati dan Laras yang bisa menenangkannya. Aku menelepon mereka agar bisa menjaga Nuno sementara waktu."


"Terima kasih atas bantuanmu, Aditya."

__ADS_1


"Kamu dan Arini adalah keluargaku, aku akan selalu ada bersama kalian."


"Terima kasih." Radit merangkul Aditya dengan air mata yang kembali menitik.


Tiga jam telah berlalu, lampu operasi yang merah menyala seketika padam, menandakan operasi sudah rampung dilakukan.


Dengan jantung bergenderang keras, Radit dan Aditya berdiri, menunggu pintu operasi itu terbuka lebar.


Dokter Reva dan tiga Dokter lainnya keluar dari ruang operasi. Wajah mereka nampak letih setelah berjibaku selama empat jam diatas meja operasi, ditambah beban psikis dari Radit yang menuntut mereka melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Arini dan dua bayi kembarnya.


Andai saja ia diberi kekuatan lebih banyak, mungkin dia sendiri yang akan melakukan tindakan operasi itu, tapi ia tidak akan sanggup dan tak akan bisa melakukan itu kepada istrinya sendiri.


"Dokter bagaimana dengan operasinya?" Pertanyaan Radit seperti memaksa mereka untuk mengatakan kalau operasinya berjalan lancar.


Ada gurat kesedihan yang diperlihatkan Dokter Reva," Dokter Radit.... kami sudah melakukan yang terbaik, kedua bayi Dokter bisa diselamatkan, namun saya tidak bisa menjamin apa mereka bisa bertahan dengan usia yang masih sangat muda. Tapi dengan peralatan yang Rumah Sakit kita miliki, saya akan berusaha semampu saya. Dan untuk Ibu Arini..." Dokter Reva menjeda kata-katanya, seperti khawatir dengan respon yang akan Radit berikan.


"Bagaimana dengan Arini?" Tanyanya dengan suara tercekat ditenggorokan.


Dokter Rva melihat Dokter bedah yang ada disampingnya, seolah mengatakan kalau dialah yang harus memberikan kabar itu.


"Ibu Arini kondisinya sangat kritis, beliau mengalami pendarahan di otak karena benturan keras dikepalanya." Tutur Dokter bedah itu sambil menunduk.


Seketika tubuh Radit merosot, rembesan air mata kembali berjatuhan.


"Tim kami sudah berusaha agar pendarahannya bisa diminimalisir, untuk hasilnya kita serahkan kepada yang maha kuasa."


Radit semakin sesugukan, ia tahu kemungkinan apa yang akan terjadi bila pendarahan itu masih tetap berlanjut.


Aditya membantu Radit untuk berdiri dan duduk dikursi.


"Radit.... Arini akan kuat kalau kamu bisa memberikannya kekuatan. Aku percaya Arini bisa melalui semuanya. Dia akan bertahan untuk mu dan anak-anak kalian."


Radit menghela nafasnya dalam, menghapus pipinya yang basah dengan air mata.


"Aku ingin menemuinya sekarang."


Radit menerobos masuk kedalam ruangan operasi disusul Aditya. Mungkin untuk kalangan keluarga pasien biasa hal ini sangat tidak diperbolehkan keculi atas izin Dokter ataupun perawat.


Didalam sana, Arini baru selesai dipindahkan ke atas blankar untuk dibawa keruangan ICU. Radit merapatkan mulutnya kuat-kuat, menahan isak tangis yang semakin mendorongnya untuk terbuka lebar.


Rambut indah yang selalu tergerai panjang kini sudah tidak ada, tercukur habis berganti dengan kain kasa putih yang membungkus penuh kepalanya menutupi luka jahitan.


Hidung mancung dan bibir tipisnya yang merah sudah tak terlihat, terhalang onggokan penutup oksigen membantunya untuk bernafas.

__ADS_1


Sekarang ia hanya bisa melihat mata indah yang tertutup rapat, yang sudah tidak bisa lagi memberikan tatapan manja dan penuh cinta kepadanya.


Perlahan Radit menyentuh tangan Arini yang sangat dingin dengan selang infus yang setia mengalirkan cairan bening melalui urat di tangannya.


"Sayang... ini aku." Ucap Radit lirih dan penuh iba.


"Bangunlah... bayi kembar kita menunggumu, aku, Nuno dan mereka membutuhkanmu." Ucapnya lagi dengan isakan tangis yang kembali menguar.


Aditya yang melihatnya merasa pilu, memilih keluar dan mengeluarkan air mata yang mendesaknya keluar untuk berselancar.


Aditya duduk dengan dada naik turun, menenangkan air mata yang membludak mengalir deras.


Namun tak berselang lama, seorang perawat perempuan menghampirinya.


"Dengan Pak Aditya?"


Aditya tersentak, berdiri dan langsung menghapus air matanya.


"Dokter Radit meminta anda untuk masuk."


"Iya Suster."


Aditya kembali masuk ke ruang operasi berbarengan dengan keluarnya Arini menuju ruang ICU.


Radit berdiri memandangi dua inkubator dihadapannya. Menoleh, mendapati Aditya berjalan masuk mendekatinya.


"Aditya... maukah kamu mengadzani satu putri ku?" Ucapnya dengan suara parau.


Aditya terpaku, permintaan yang tidak pernah terduga. Ia berjalan mendekati salah satu inkubator itu.


"Aku akan senang mengadzani putri cantikmu ini." Seraya melihat bayi dengan ukuran badan yang sangat kecil dan rapuh.


"Terima kasih."


Tanpa menyentuh kedua bayi itu sedikitpun, mereka berdua mengadzani dengan bersideku, bersejajar dengan telinga bayi yang terhalang kaca inkubator.


Lafadz Allah berkumandang, diiringi deraian air mata yang mengucur dikedua pipi mereka.


...........................................................


...........................................................


.....................................Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2