Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 44 Rahasia yang Tak Ada Habisnya


__ADS_3

Pernikahan Jovan dan Marissa sudah mendekati hari H.


Jovan telah menyelesaikan novelnya dan hari-harinya mulai disibukkan dengan persiapan program pascasarjananya di jurusan manajemen bisnis.


Berbeda dengan Jovan yang sibuk dengan urusan pendidikan lanjutannya, Marissa lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan dalam rumahnya. Ia menyibukkan dirinya dengan mempelajari perjalanan bisnis Sofyan Corporation.


Semakin ia membacanya, semakin rasa penasaran akan bisnis itu pun muncul. Ia pun membuat catatan-catatan kecil tentang perkembangan bisnis serta pasang surut dari perusahaan yang dibangun oleh ayahnya itu.


Sementara itu, Alex yang baru saja pulang dari kantor, melihat pintu ruang perpustakaan terbuka, ia pun berjalan untuk menutupnya. Tetapi kemudian, ia melihat Marissa sedang asyik membaca di sana, sehingga ia pun mengetuk pintunya.


Setelah mengetuk sebanyak 3 kali, Marissa tidak juga menjawab, ia pun berjalan masuk dan mendekati Marissa.


"Waaa catatannya panjang juga yaa?? seperti mau ujian!!" ucap Alex yang telah berdiri di samping Marissa.


Marissa pun terkejut mendengar suara Alex, karena dirinya yang terlalu serius membaca, sehingga tidak menyadari jika Alex telah berada di sampingnya.


"Eh, Om Alex, kaget aku!! tiba-tiba muncul di samping!!"


"Om ga tiba-tiba muncul, dari tadi Om sudah di depan pintu.Bahkan, tadi sebelum masuk, Om juga sudah ketuk pintu dulu lho, sampai 3 malahan," jelas Alex.


"Eh masa'?? kok aku ga dengar yaa??"


"Itu artinya kamu sedang serius, konsentrasi penuh, sampai-sampai ga dengar ada suara ketukan pintu," jawab Alex yang membuat Marissa tersipu.


Tiba-tiba Marissa teringat akan sesuatu yang baru saja ia baca.


"Om, aku mau tanya," ucap Marissa.


"Tanyakan saja," jawab Alex.


"Kenapa ayah tiba-tiba berinvestasi di PT. Infinity Perkasa?? trus ini, menyalurkan modal bantuan kepada pelaku industri rumah tangga, salah satunya bumbu pecel khas Madiun, 'Aini'??" tanya Marissa.


"Itu semua tidak tiba-tiba, Cha. Untuk menginvestasikan dana, dibutuhkan survei, analisa dan berbagai macam pertimbangan. Jadi yaa kenapa ayahmu menginvestasikan dananya ke bisnis tersebut, berarti bisnisnya menjanjikan, punya masa depan yang cerah," jawab Alex.


"Hmmm, ini kan kantornya pakde Aryo, trus ini bisnis rumahan bude Aini, Om yakin bukan cuma kebetulan??" selidik Marissa.


Alex pun tersenyum mendengar pertanyaan Marissa.


"Ternyata kamu cukup jeli, untuk membaca yang tersirat. Seperti yang Om katakan sebelumnya, bahwa kami tidak pernah benar-benar meninggalkanmu, ini adalah salah satu cara ayahmu untuk membesarkanmu dari jauh," jawab Alex sambil mengeluarkan foto-foto yang tersimpan di laci meja kerjanya.


Ia lalu menunjukkan foto-foto tersebut kepada Marissa.


"Setelah kami mengetahui, kalau kamu diasuh oleh pakde Aryo, maka saat itu juga ayahmu menghubungi pakde Aryo.Tetapi, mungkin karena pakdemu masih menyimpan rasa sakit di hati setelah adiknya dikhianati, jadi pakdemu tidak pernah mau menerima telpon dari ayahmu, bahkan sampai mengganti nomor HPnya. Segala bantuan yang ayahmu coba berikan ditolak mentah-mentah oleh pakdemu. Ayahmu tidak menyalahkannya, ia paham dan sangat mengerti, mengapa pakdemu selalu menolak bantuan dari ayahmu. Untuk itu ia mulai mencari jalan untuk memenuhi kewajibannya sebagai ayah. Ia lalu menginvestasikan dananya ke tempat pakdemu bekerja dan meminta agar pakdemu diberikan kenaikan jabatan. Ayahmu juga mengirimkan dana pribadinya untuk menambahkan penghasilan pakdemu setiap bulannya. Begitu juga dengan usaha budemu. Ayahmu memberikan dana bantuan melalui program peningkatan industri UMKM. Lalu ayahmu juga memerintahkan orang terpercayanya untuk membantu mempromosikan usaha budemu, melalui agen-agen pariwisata, kemudian ayahmu juga membelinya secara berkala untuk dijual kembali di Jakarta," jelas Alex panjang lebar.


"Kamu lihat foto-foto ini, ini ketika kamu memenangkan lomba menggambar di sekolah, kemudian ini adalah ketika kamu lulus SD. Kamu lihatlah foto-foto ini, semuanya tentang kamu. Makanya Om bilang, bahwa ayahmu tidak pernah meninggalkanmu, ia selalu mengawasi pertumbuhanmu dari jauh."


"Sewaktu kamu memenangkan lomba menggambar tingkat SMP, yang berhadiah piala walikota, ayahmu sangat bahagia dan bangga, hingga menangis. Lalu ayahmu mengirimkan hadiah tambahan melalui panitia.. "


"Satu set alat menggambar senilai 500 ribu dan uang tunai sebesar 1 juta, ditambah buku-buku mengenai teknik dasar desain yang dikirimkan sepekan setelah pengumuman lomba??!! yang itu bukan, Om??" potong Marissa.


"Iya, kamu kok bisa menebaknya dengan cepat??"

__ADS_1


"Karena aneh aja, Om. Tiba-tiba dapat kiriman hadiah susulan yang nilainya 'wow' banget!!" jawab Marissa dengan mata berkaca-kaca.


"Oiya, kemudian beasiswa yang kamu dapatkan dari sekolah, itu juga termasuk. Ayahmu memberikan dana bantuan untuk siswa-siswi berprestasi di sekolah-sekolah, termasuk sekolahmu. Ayahmu secara pribadi menyerahkannya kepada kepala sekolah setiap tahunnya," jelas Alex lagi yang membuat Marissa terdiam.


Air matanya pun menetes membasahi pipi. Alex pun memeluk Marissa.


"Cha, just like I said before, ayahmu tidak pernah meninggalkanmu, he was always watching you from a far. He loved you so much, so he wanted you to have a good life," ucap Alex lembut.


"Jadi setiap tahun, ayah ke Surabaya?? nemuin kepala sekolah?? trus ngasih bantuan untuk sekolah juga??" tanya Marissa sambil berurai air mata.


"Iya, Cha. Ia juga menyempatkan untuk melihatmu dari jauh. Beberapa dari foto ini, ayahmu sendiri yang mengambilnya, sedangkan yang lain adalah orang suruhan ayahmu," jawab Alex.


"Cha, ayahmu sangat mencintai dan menyayangimu, tetapi ia terkendala oleh perjanjian. Ada hal lain yang Om belum bisa katakan, tetapi suatu saat nanti, Om akan ceritakan semuanya," lanjut Alex.


"Kenapa ga sekarang, Om??" tanya Marissa.


"Nanti, Cha. Ada sesuatu yang Om harus urus, tetapi setelah semuanya selesai, Om akan ceritakan semuanya," jawab Alex.


"Sekarang, kamu cukup mempersiapkan pernikahanmu saja dan mempelajari sedikit tentang Sofyan Corporation. Pelan-pelan saja, tidak usah terburu-buru. Semua ada waktunya, jadi kamu tenang saja," lanjut Alex.


Tetapi rasa penasaran Marissa akan sosok ayahnya yang sudah banyak terlupakan, membuatnya bertanya kembali.


"Om, gimana sih, kehidupan ayah setelah pergi untuk nikah lagi??" tanya Marissa.


"He's not happy, for sure. Tertekan, yaa stress lah. Mempunyai istri yang usianya lebih tua, sebetulnya tidak pernah menjadi masalah untuk ayahmu, tetapi tekanan dan anggapan remeh dari istrinya itu, membuatnya sangat membenci pernikahannya. Setelah adik kembarmu lahir, ayahmu fikir semua akan berubah. Ayahmu fikir, istrinya akan melunak, tetapi ternyata tidak. Bahkan malah semakin menjadi. Kecemburuan istrinya terhadap ibumu dan kamu, membutakan mata hatinya. Sampai-sampai ia berani melakukan hal yang sangat keji, dengan membayar supir angkot untuk menabrak motor ibumu."


Mata Marissa pun terbelalak, ia tidak mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Air matanya pun mengalir lebih deras, hatinya terasa sangat sakit dan ia pun merasakan sesak di dadanya.


"Kami juga belum lama mengetahui kenyataan itu, kira-kira sekitar 6 tahun yang lalu dan karena sebab itulah, ayahmu mulai sakit," jelas Alex yang membuat tangis Marissa semakin menjadi hingga badannya berguncang.


"Sebenarnya kami ingin melaporkannya, tetapi karena kami tidak memiliki cukup bukti, jadi ayahmu hanya dapat menyesali keadaan dan membiarkannya. Rasa bersalah itulah yang menghancurkannya," ucap Alex sambil terus mengusap punggung Marissa.


Marissa lalu berusaha untuk duduk dengan tegak.


"Om, kasusnya berarti direncanakan?? itu pembunuhan berencana dong, Om??!!" ucap Marissa penuh emosi.


"Istri ayahmu, mengaku bahwa ia hanya menyuruh supir angkot itu untuk melukai ibumu dengan menyerempetkan angkotnya ke motor ibumu. Tetapi yang terjadi adalah, ibumu terjatuh dan kepalanya menghantam batu. Semua itu terjadi karena tali pengait helmnya tidak terpasang benar, maka ketika terjatuh, helmnya pun terlepas dan kepalanya membentur batu," jawab Alex.


"Cha, kemarahan yang kamu rasakan saat ini adalah kemarahan yang sama, yang ayahmu rasakan. Beristighfarlah, istighfar akan menenangkan hatimu. Sekarang ini, perbanyaklah do'a untuk orang tuamu, untuk keselamatanmu, yaa. Maafkan Om, yang baru bisa menceritakannya sekarang," lanjut Alex.


"Setelah ayah meninggal.... "


"Ayahmu menugaskan Om untuk melanjutkan yang ayahmu telah kerjakan. Jadi sewaktu kamu tiba-tiba datang, kamu ingat?? Om segera menemuimu dan memelukmu, tanpa banyak bertanya?? karena Om telah menunggu kedatanganmu. Orang suruhan ayahmu, masih tetap melakukan tugasnya. Ia masih mengawasimu setiap waktu. Kamu ingat ga, setiap kamu pingsan, kemudian kamu terbangun sudah ditangani petugas medis??" tanya Alex.


Marissa pun mengangguk.


"Namanya Silla dan Faisal, mereka berdua yang selalu bergantian mengikuti kemana pun kamu pergi. Sekarang mereka berada di gazebo, di halaman belakang,"


"Oooom??!! serius, Om serius??!!"


"Iya, sebentar Om panggilkan," jawab Alex yang segera menghubungi pengawal Marissa untuk menemuinya saat itu juga.

__ADS_1


Tak lama, masuklah seorang pria berbadan tinggi besar, khas potongan seorang pengawal pribadi. Lalu diikuti oleh seorang wanita berhijab yang juga tak kalah machonya.


"Assalamu'alaikum, Pak!!" salam keduanya.


"Wa'alaikumsalam. Cha, kenalin ini Silla, pemegang sabuk hitam karate yang telah memenangkan banyak kejuaraan. Lalu ini adalah Faisal, suaminya. Pemegang sabuk hitam taekwondo yang prestasinya juga tak kalah hebat dari agen rahasia," ucap Alex mengenalkan.


"Selamat sore, Mbak!!" salam keduanya.


"Maaf, kalau selama ini kami mengikuti mbak Marissa tanpa izin," ucap Silla.


"Aku sebodoh itukah?? sampai-sampai ga sadar kalau selama ini diikuti??" tanya Marissa yang membuat Faisal dan Silla tertawa lirih.


"Mereka sangat profesional, kerjanya sangat rapi, hingga kamu tidak merasakan kehadiran mereka selama ini. Jadi bukan karena kamu bodoh, hanya saja mereka berdua yang terlalu pintar menyamar," jawab Alex sambil tersenyum.


"Aduh Om!! kepalaku ga sanggup mencerna semuanya!!" sahut Marissa sambil memegangi kepalanya.


"Cha, tunggu satu kejutan lagi, tapi itu nanti. Sekarang silahkan kalau ada yang mau kamu tanyakan ke mereka atau mungkin mau marah-marah, silahkan saja. Om ke kamar dulu yaa," ucap Alex sambil tertawa kecil dan meninggalkan Marissa bersama pengawalnya.


Marissa lalu memandangi Faisal dan Silla dengan tatapan penuh selidik.


"Bang Faisal sama Mbak Silla, sudah berapa lama ngikutin aku??" tanya Marissa.


"Sejak Mbak Risa kuliah, sekitar 5 tahunan yang lalu," jawab Faisal.


"Setelah ayah meninggal atau sebelum??" tanya Marissa lagi.


"Sesaat sebelum Pak Mario meninggal, Mbak. Kami berdua diperintahkan oleh Pak Alex untuk melindungi dan mengawasi Anda," jawab Faisal.


"Jadi sudah 5 tahun??" tanya Marissa memastikan.


"Iya, Mbak."


"Berarti Om Alex tahu, sewaktu aku datang ke Jakarta??"


"Iya, Mbak. Tapi Pak Alex pura-pura tidak tahu, agar Anda tidak merasa janggal," jawab Silla.


"Siapa lagi orang yang mengawasi saya??"


"Hanya kami berdua, Mbak," jawab Silla.


"Pak Alex hanya ingin kami mengawasi dan melindungi Anda saja, tanpa mencampuri segala urusan Anda, itu saja tugas yang diberikan untuk kami," Faisal menambahkan.


"Apakah ada yang mengancam keselamatan saya, hingga saya harus memiliki pengawal??" tanya Marissa lagi.


"Anda bernilai lebih dari seluruh aset perusahaan yang dimiliki keluarga Sofyan, untuk itu kami wajib melindungi Anda. Selain itu rasa cinta dan sayang dari Pak Alex untuk Anda membuatnya sering mengkhawatirkan keadaan Anda," jawab Silla.


"Beliau tidak menginginkan kejadian yang menimpa ibu Anda, kembali terulang," Faisal menambahkan.


Marissa pun kembali terdiam, pikirannya berputar-putar mencari jawaban atas kebingungannya.


"Apakah ibu tiri saya, seberbahaya itu?? hingga berani mencelakai ibu saya??" tanya Marissa.

__ADS_1


"Beliau berani melakukan segala cara untuk memuaskan keingannya, untuk itu keselamatan Anda sampai saat ini pun masih menjadi perhatian utama dari Pak Alex," jawab Faisal.


Marissa pun lebih memahami lagi situasi dan posisinya setelah mendengar jawaban dari pengawalnya.


__ADS_2