
Sementara Jovan dan Marissa sedang mencoba busana pengantinnya, Jorrian, Jovanka dan Alisa berdiskusi tentang acara pernikahannya nanti.
"Untuk resepsinya pakai pakaian Cina??" tanya Alisa.
"Iya, Jovan ingin memadukan budaya Cina dan Betawi pada acara resepsi. Sedangkan pada akadnya, ia memilih internasional atau lebih ke Eropa, sesuai dengan kakeknya yang berasal dari Belanda," jawab Jovanka.
"Apakah dari keluarga Icha keberatan?? nanti kita bisa cari alternatif lainnya," tanya Jovanka.
"Tidak, sama sekali tidak keberatan. Malah menjadi sebuah kejutan bagi kami," jawab Alisa.
"Keluarga kami sebenarnya berasal dari Jawa, tetapi sedari lahir tinggal dan dibesarkan di Jakarta, sehingga lebih mirip orang Betawi, kecuali keluarga besar dari ibunya Icha, yang sebagian besar tinggal di sekitar Jawa Tengah dan Timur. Jadi InsyaAllah tidak ada masalah dengan adat yang digunakan pada acaranya nanti," lanjut Alisa.
Sementara itu dari ruang ganti, Marissa memanggil Jovanka dan Alisa.
"MasyaAllah, Jovan bisa menangis lihat kamu memakai gaun ini, Cha!!" ucap Jovanka dengan mata berbinar ketika melihat Marissa dengan gaun pengantinnya.
"It's perfect, Cha!!" ucap Alisa.
" Sekarang, kamu ganti pakai Cheongsamnya. Bunda mau lihat," pinta Jovanka.
"Iya, Bun," jawab Marissa.
Tak lama kemudian, Marissa memanggil Jovanka dan Alisa kembali.
Jovanka pun kembali terkesima melihat penampilan Marissa.
"It's perfect!! ditambah make-up kerudung dan tiara, penampilan kamu nanti bisa ngalahin...??? ngalahin siapa yaa??"
"Lah Bunda, ngalahin yang bisa dikalahin aja deh!!" jawab Marissa.
"Nah!! ngalahin yang bisa dikalahin. Sekarang kita bahas untuk make-upnya, cepat ganti bajunya yaa!!" pinta Jovanka agar Marissa bersegera untuk berganti pakaiannya.
Sambil menunggu Marissa berganti pakaian, Jovanka kembali berkonsultasi.
"Untuk make-upnya nanti, bagaimana??" tanya Jovanka.
"Tim rias pengantin akan mengadakan make-up test 3 hari sebelum hari H di rumah," jawab Rani.
"Untuk hari ini, hanya pemilihan gaya dan warnanya saja," tambah Rani.
"Saya lebih suka tampilan yang tidak terlalu membuat orang pangling, tapi yaa terserah bagaimana Icha," ucap Jovanka.
Jovan yang telah selesai mencoba busana pengantinnya pun kembali ke ruang tamu.
"Gimana Van??" tanya Jovanka.
Jovan menjawabnya dengan memberikan foto dirinya yang mengenakan busana pengantin, lalu ia pun duduk di samping Jovanka.
"Hmm memang susah jadi orang ganteng, Bun. Pakai baju apa saja, tetap ganteng. Apalagi pakai jas yang tadi, kegantengannya menjadi super maksimal," jawab Jovan.
__ADS_1
Sedetik itu pun, tatapan mata yang menusuk dilayangkan oleh Jovanka dan Jorrian ke arah putra bungsunya itu.
"Bang, anak ini kita tinggalin disini aja, gimana??" canda Jovanka.
"Aaaa Bunda, aku ga mau ditinggal, aku ikut!!" jawab Jovan dengan berpura-pura merengek sambil memeluk Jovanka dari samping.
"Heh, ngapain kamu, meluk-meluk istri ku!!" canda Jorrian.
"Iiih, tapi ini kan, Bundaku," jawab Jovan lagi.
Marissa yang telah selesai berganti pakaian itu pun harus menyaksikan 'drama' Jovan, ia lalu berjalan ke arah Jovanka dan meraih tangannya.
"Bun, tinggalin aja, pergi sama aku yuk!! uangku kan lebih banyak. Yuk, kita nge-mall, kita makan-makan. Kita shopping apa gitu??" ajak Marissa.
"Bang, selesaiin semuanya yaa, aku mau shopping sama Bunda. Yuk, Bun, tante juga yuk!!" tambah Marissa lagi yang membuat Jovan kehilangan kata-katanya, tetapi berhasil membuat suasana menjadi penuh tawa.
"See, only Icha yang bisa bikin Jovan speechless!!" ucap Jovanka girang.
Marissa, Jovanka dan Alisa pun berjalan menuju area parkir kendaraannya.
"Cha, kamu serius ninggalin Jovan sendiri?? kamu ga ikut ngebahas acara pernikahan kamu??" tanya Jovanka.
"Serius, biar Bang Jovan yang mendapatkan kehormatan untuk ngurusin acaranya, kan aku sudah bilang kalau aku maunya terima beres, yang nantinya akan menghasilkan terima kasih," jawab Marissa santai sembari masuk ke dalam mobilnya.
Alisa hanya dapat menaikkan kedua bahunya mendengarkan jawaban keponakannya itu.
"Bun, Tante, buruan masuk, aku laper niii, kita jajan yuk!!" ucap Marissa dari jendela mobilnya
"Pak, sekarang kita ke Mall yang ada semuanya dan terlengkap, ya!!" pinta Marissa.
Supir pribadi Marissa pun mengarahkan kendaraannya menuju Pacific Place yang lokasinya tidak terlalu jauh, kurang dari 7 km saja dari kantor Ever After.
Perjalanan menuju Pacific Place cukup lancar, sehingga tidak sampai 1/2 jam, mereka telah sampai di lokasi.
"Pak, ayo sekalian turun juga, kita makan siang dulu," ajak Marissa.
"Terima kasih, Neng. Tapi saya, makan di tempat supir-supir saja. Ada kantin di dekat sini," jawab Agung.
"Beneran ada, Pak??" tanya Marissa.
"Iya, Neng. Ada kok, nanti saya beli makan siang sendiri saja," jawab Agung.
"Yowes, ini buat makan siang, Pak Agung, yaa," ucap Marissa sambil memberikan 2 lembar uang 50 ribuan.
"Terima kasih, Neng," jawab Agung.
Marissa, Jovanka dan Alisa pun segera memasuki area pusat perbelanjaan eksklusif itu. Sementara Jovan yang ditemani Jorrian masih berkutat dengan urusan pernikahannya.
"Mbak, bisa acaranya dengan sistem banquet??" tanya Jovan.
__ADS_1
"Banquet?? berarti full meja dan kursi??" tanya Rani.
"Iya, cukup tidak ruangannya??" tanya Jovan.
"Kok kamu tiba-tiba ganti konsep??" tanya Jorrian.
"Baru kepikiran, Yah. Kan tidak boleh makan sambil berdiri, kalau kita sediakan kursi dan mejanya, kita sudah menghindari 1 dosa, Yah," jawab Jovan.
"Hmm dengan jumlah undangan yang mencapai 2000, sepertinya tidak mungkin. Tunggu sebentar," ucap Rani sambil memanggil rekannya dan berdiskusi tentang keinginan Jovan pada acara pernikahannya nanti.
Setelah beberapa saat,
"Saya Arnold, saya dari tim desain dan dekorasi. Tadi Rani sudah mengatakan keinginan Anda untuk menggunakan konsep banquet pada resepsi dengan jumlah 2000 undangan."
"Bagaimana kalau kami buat 50-50, makanan akan tetap disajikan secara prasmanan, tetapi kami akan menyediakan 500 kursi dan 10 meja panjang, seperti desain ini, bagaimana??" tunjuk Arnold pada sebuah foto yang menunjukkan sebuah ruangan dengan beberapa meja panjang tersusun rapi di salah satu sisi.
"Hanya dengan meja panjang, kapasitas yang diinginkan dapat digunakan. Kalau dengan meja bundar, hanya memuat tidak lebih dari 10 meja dengan 10 kursi dan itu pun full seluruh ruangan," jelas Arnold.
"Ini arsiteknya malah pergi, gimana yaa??" ucap Jovan yang bingung dengan pilihan yang ada di depannya.
"Video call saja, cobalah," usul Jorrian.
Jovan pun segera menghubungi Marissa.
"Assalamu'alaikum, Bang. Ada apa??" tanya Marissa.
"Kamu mau desain yang mana, yang meja bundar atau panjang seperti ini??" tanya Jovan sambil menunjukkan 2 buah foto seperti yang dimaksud.
"Kalau meja bundar, apakah akan menjadi konfrensi??"
"Chaaaa??!!"
"Ups serius ya?? hmmm I like the straightline, so meja panjang is the best," jawab Marissa.
"Okay, then it will be the long tables, right??"
"Yup. Bang, I want the flower not only white, but pink and purple also," pinta Marissa.
"Okay, your wish is my command," jawab Jovan yang membuat Marissa tersipu.
"Anything else??" tanya Jovan.
"Eh Bang, nanti dekorasinya merah semua kah??" ucap Marissa yang balik bertanya.
"Ga, bunganya kan ga semuanya merah, tetap didominasi merah tapi tadi kamu kan minta bunga putih, pink dan ungu juga," jawab Jovan.
"Oke!!"
"Ada lagi??" tanya Jovan sebelumnya menghentikan sambungannya.
__ADS_1
"Hmmm ga ada, tapi nanti kalau ada aku telpon Abang yaa??"
" Okay!!