Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 18 Meet and Greet


__ADS_3

Sebulan berlalu, hari-hari Marissa mulai disibukkan dengan proyek-proyek di kantor. Hampir setiap hari, ia sampai di kostan lewat pukul 7, di hari Sabtu pun ia terkadang harus mengunjungi lokasi proyek, praktis dirinya hanya mempunyai 1 hari libur, yaitu Ahad untuk bersantai dan mengistirahatkan badan juga pikirannya.


Sedangkan Jovan, ia telah dijadwalkan untuk acara meet and greet serta penandatanganan novelnya di Grand Indonesia.


" Bang, mau berangkat jam berapa nih?? " tanya Bian yang telah siap sejak pukul 9 di apartemen Jovan.


" Nantilah, mall kan baru buka jam 10, acaranya kan mulai jam 11. Yaaa jam 10 aja berangkatnya, paling setengah jam sudah sampai "


" An, nanti kamu standby di dekat saya terus yaa "


" Siap Bang, itu sih sudah pasti. Eh, mbak Marissa kira-kira datang ga ya, Bang?? "


" Aaah, saya ga tahu " jawab Jovan sambil merenggangkan badannya.


" Dia sibuklah, kasian. Saya tahu kerjaan arsitek itu banyak dan pasti melelahkan. Kalau ada waktu libur, pasti dipakai untuk istirahat, biarin aja. Eh, kamu nanti kirimin dia makan siang aja, pesankan barbeque set sama apalah yang berkuah "


" Sekarang?? "


" Tahun depan!! ya nanti menjelang makan siang, sekitar jam 11an, sekarang memangnya sudah ada rumah makan yang buka, selain warteg?? "


" Santai aja Bang, kan cuma nanya. "


" Saya juga cuma jawab. Sudah, ah. Sekarang, kita sarapan dulu "


Setelah keduanya selesai sarapan, mereka pun segera menuju Grand Indonesia.


Sesampainya disana, panitia acara telah menunggu kedatangan Jovan di pintu masuk basement.


" Mas Jovan, saya Ardi panitia meet and greet. Anda sudah ditunggu di main atrium. "


" Sudah ramaikah ??" tanya Jovan.


" Sudah Mas, dari jam 9 sudah ada yang mengantri. "


" Dari jam 9 ??? 2 jam sebelumnya sudah ramai?? kok bisa???" tanya Jovan setengah tidak percaya.


" Iya Mas, mereka berebut untuk berada di posisi paling depan, jadi yaa bela-belain datang lebih awal. "


Suara keramaian atrium yang dipadati oleh pengunjung yang ingin menghadiri acara meet and greet dan penandatanganan novel pun terdengar hingga seluruh lantai mall.


Jovan dan Bian pun dibuat tak percaya dengan keramaian ini.


" Aduh Bang, saya ngeri nih kalau Abang muncul, mereka pada histeris trus desak-desakan, " ucap Bian khawatir.


" Semoga ga sampai segitunyaa. Hmmm apa aku pakai masker aja yaa ?? "


" Ga ngaruh Bang, lebih histeris mereka nantinya. Sudahlah Bang, resiko punya wajah ganteng."


Ketika telah sampai di belakang panggung acara, Jovan kembali disambut oleh panitia acaranya.


" Silahkan menunggu di sini, Mas "

__ADS_1


Acara meet and greet pun di mulai tak berapa lama kemudian, dengan MC kenamaan ibukota membuka acara.


" Pasti kalian semua sudah ga sabar lagi untuk bertemu dengan .... siapaaaa???!!! "


" JOVAN CHEN!!! "


" Sekali lagi!! siapa??? "


" JOVAN CHEN!!! "


" Baiklah kita panggil bersama... JOVAN CHEEEENN!!! "


Jovan pun menaiki panggung dan memberikan lambaian tangannya ke arah pengunjung membuat tepuk tangan dan sorakan menggema.


" Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, " Jovan memberikan salam.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab kompak pengunjung.


" Jawaban salamnya kompak dan semangat sekali yaaa!! " ucap MC.


" Apa kabar? hmm enaknya manggilnya langsung nama atau gimana?? " tanya MC.


" Langsung nama boleh, ga juga silahkan, senyamannya aja "


" Bang aja kali yaa. Duduk dulu, Bang. Kalau berdiri terus, berasa upacara " canda MC.


" Apa kabarnya nih, Bang?? "


" Alhamdulillah sehat, seperti yang terlihat "


" Iya, ini yang terakhir "


Ekspresi pengunjung pun menunjukkan kekecewaan.


" Sepertinya pada kecewa tuh Bang!! eh kenapa gitu, kenapa ini yang terakhir?? "


" Yaa, saya kira sudah cukup mengunjungi 5 provinsi untuk promosi novel ini. Saya masih ada rencana dan pekerjaan lain yang harus diselesaikan juga, jadi yaa sementara ini, cukup ini yang menjadi terakhir. "


" Apa ada rencana untuk membuat sekuel novelnya?? "


" In syaa Allah ada, sedang dalam tahap mencari inspirasi. "


" Maksudnya mencari tokoh utama wanitanya, kah?? "


" Hmmm mungkin. Jujur saja, saya masih belum menemukan dimana Mischa berada. Dia hilang bagaikan ditelan bumi. Kalaupun ada sekuelnya, saya berharap di cerita itu, Mischa telah saya temukan "


" Ini yang menjadi perdebatan dikalangan para pembaca, yaitu apakah yang Bang Jovan akan lakukan ketika bertemu dengan Mischa?? "


Jovan tidak langsung menjawabnya, ia berfikir sejenak.


" Jika suatu saat nanti, akhirnya saya menemukan Mischa, jujur saja, saya juga tidak tahu akan berbicara apa ataupun berbuat apa. Sudah masuk tahun ke-13, hampir 14 tahun saya kehilangan kontak dengannya dan belum juga ada titik terang dimana Mischa berada. Saya masih fokus untuk menemukan keberadaannya, setelahnya kita lihat nanti. Apakah dia mengingat saya dan keluarga saya yang sangat merindukannya atau tidak?? Jika dia tidak mengingatnya, saya menunggu reaksi dari Mischa, intinya probabilitas itu sangat banyak, jadi saya tidak mau berandai-andai "

__ADS_1


" Hmm Bang, Mischa yang sekarang penampilannya sudah pasti berubah, sekarang usia Mischa berapa Bang?? "


" Sekitar 23 tahun. "


" Berarti sudah lulus kuliah yaa?? "


" Kemungkinannya begitu. "


" Kira-kira, Mischa berprofesi apa nih, Bang?? "


" Waaa, saya ga terpikirkan akan profesi Mischa, she could be anything. She's smart, dedicated to what she does, that's all I remember. "


" Mungkin pernah, dulu Icha mengatakan cita-citanya ke Bang Jovan?? "


Jovan pun mencoba mengingat, apakah Icha pernah mengatakan cita-citanya.


" I just can't recall, " jawab Jovan yang tidak dapat mengingat momen Icha mengatakan cita-citanya.


" Oiya Bang, jika kalau ternyata Mischa yang sekarang tidak seperti apa yang Bang Jovan bayangkan?? bagaimana?? atau begini, Bang Jovan pasti mempunyai ekspektasi akan kehidupan Mischa saat ini, karakternya, penampilannya. Jika boleh tahu, seperti apa yang Bang Jovan bayangkan?? "


Jovan pun terdiam sesaat memikirkan jawaban atas pertanyaan yang tidak pernah ia fikirkan sebelumnya.


" Jujur saja, saya tidak mempunyai ekspektasi apa pun terhadap bagaimana penampilannya sekarang. Saya takut untuk berharap "


Keheningan pun terjadi sesaat.


" Saya takut jika saya mempunyai bayangan akan Mischa yang sekarang kemudian ketika suatu saat saya menemukannya dan ternyata jauh dari ekspektasi saya, akan menorehkan kekecewaan di hati. Saya tidak mau."


" Saya ingin suatu saat ketika bertemu dengan Mischa, perasaan sayang saya tidak akan berubah, kepedulian saya juga tidak berubah. "


" Bagaimana kalau ia tidak mengingat Anda?? "


Dengan menarik nafasnya, kemudian ia mengeluarkannya dengan kasar, Jovan menunjukkan rasa berat di hatinya.


" Saya sudah mempersiapkan hal itu, saya yakin dia tidak mengingat saya dan keluarga saya. Bayangkan, di usia 10 tahun ia mendadak kehilangan ibu untuk selamanya, hanya selang beberapa bulan setelah ditinggal pindah keluarga yang begitu mencintainya. Rasa sakit dan kehilangan kemudian harus beradaptasi dengan keluarga yang baru yang tidak terlalu dikenalnya dengan baik dan juga ke lingkungan yang juga baru. Peristiwa traumatik seperti itu dapat menghilangkan beberapa memori dalam hidup, jadi yaa untuk saya, dapat menemukan Mischa dalam keadaan sehat dan baik-baik saja, saya sudah bersyukur. "


" Saya tidak akan memaksanya untuk mengingat saya, biarkan dia mengingat saya ketika ia mampu mengingatnya. Tanpa paksaan atau pun keharusan. "


" Saya ingin prosesnya mengalir senormal mungkin. Biarkan feelnya muncul seiringnya waktu. "


" Bang, maaf yaa kalau perkiraan saya salah, tetapi sepertinya Abang mencintai Mischa?? "


Jovan pun tertawa.


" Anda tidak salah, semua orang pun mengatakan hal yang sama. Rasa sayang itu akhirnya berubah menjadi cinta, ketika saya mulai serius mencarinya setelah lulus kuliah, perlahan perasaan itu berubah. Tapi yaa saya juga tidak tahu bagaimana nantinya kalau saya bertemu Mischa."


" Dulu, di awal-awal saya mencari, saya sempat berekspektasi jika Mischa setinggi apa, berkulit apa, berpenampilan bagaimana, tetapi seiringnya waktu, ekspektasi itu hilang dengan sendirinya. Fokusnya adalah menemukan Mischa, dimana pun dia berada saat ini. "


" Jikalau ada seseorang yang mengaku, bahwa ia adalah Mischa yang Abang cari. Apa yang Bang Jovan akan lakukan?? percaya begitu saja kah atau tidak?? "


" Tidak mungkin saya akan percaya begitu saja. Allah telah memberikan kita hati yang dapat melihat mana yang benar atau tidak, jadi rasa di hati yang akan menjawabnya. Tentu saja harus didukung dengan bukti konkret kalau dia adalah Mischa. "

__ADS_1


" But and again, I don't have any expectation what so ever. "


" I'm gonna find her, soon or later. Tidak masalah berapa pun waktu yang dibutuhkan. "


__ADS_2