Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 94 Diagnosis dan Rahasia Mario


__ADS_3

24 jam sudah berlalu, tetapi Jovan masih juga tak sadarkan diri di dalam ruang perawatan RS Awaludin Saud. Hal ini tentu saja membuat seluruh anggota keluarganya cemas.


Marissa duduk di samping tempat tidur sambil memegangi tangan Jovan dengan tatapannya yang kosong.


Jordan yang baru tiba dari Singapura itu pun segera menjenguk adiknya di rumah sakit.


"Gimana keadaan Jovan, Yah?" tanya Jordan.


"Entahlah, sejak dipindahkan dari UGD, dia belum sadar juga. Entah apa yang terjadi disaat penyekapan itu, sehingga membuat Jovan menjadi seperti ini," jawab Jorrian.


Tak lama kemudian, dokter jaga ruangan datang menemui Jorrian.


"Pak, siang nanti putra Bapak dijadwalkan untuk menjalani CT-Scan otak, guna melihat penyebab mengapa sampai saat ini, putra Bapak belum juga siuman."


"Lakukan apa saja untuk kesembuhan putra saya, berapa pun biayanya tidak masalah," ucap Jorrian.


Maka, di siang itu juga, dilakukan CT-Scan otak pada Jovan, yang kemudian hasil diagnosisnya menunjukkan adanya cedera kepala akibat adanya benturan keras.


"Jadi bagaimana penanganannya, Dok?" tanya Jorrian.


"Untuk sementara, kita hanya bisa menunggu kapan dia akan siuman. Tetapi ada sedikit kekhawatiran kami ketika melihat hasil CT-Scan tadi," jawab dokter.


"Apa itu, Dok?"


"Terdapat trauma di kepala yang cukup keras, bisa akibat terjatuh ataupun pukulan benda tumpul. Dapat dikatakan putra Bapak mengalami gegar otak ringan," jelas dokter.


"Efeknya apa, Dok?" tanya Jorrian.


"Pasien dapat mengalami hilang ingatan, sakit kepala berat atau sakit kepala persisten," jawab dokter.


"Persisten? Maksudnya sakit kepala terus-menerus?" tanya Jorrian.


"Iya, pasien bisa mengalami sakit kepala persisten hingga 3 bulan, mungkin lebih," jawab dokter.

__ADS_1


"Tidak ada obat untuk mengurangi sakit kepalanya?" tanya Jorrian.


"Ada Pak, tetapi obat ini termasuk dari golongan obat-obatan yang memiliki dosis cukup tinggi. Tetapi kita lihat terlebih dahulu, apa efek yang ditimbulkan dari gegar otak ini, setelah itu kami akan memutuskan jenis pengobatan yang terbaik," jelas dokter.


"Kami akan limpahkan kasus ini ke dokter syaraf, untuk mendapatkan penanganan yang tepat," tambah dokter.


Mario pun menawarkan bantuannya kepada Jorrian.


"Bang, gimana kalau kita bawa Jovan ke RS di Jakarta atau Singapura yang memiliki fasilitas yang lebih canggih dan dokter-dokter yang lebih ahli."


"Di Jakarta saja, rumah Jovan sekarang ada di Jakarta. Tapi aku rasa kita harus menunggu diagnosis dokter selanjutnya. Kita tunggu saja," jawab Jorrian.


"Hmmm oiya, Mario, kamu harus jelaskan siapa Raka, dia pasti bukan cuma asisten biasa, kan?" tanya Jorrian.


"Rahasia apalagi yang kamu sembunyikan?" tanyanya lagi.


"Jangan disini, Bang," jawab Mario sambil berjalan menuju coffeeshop.


"Aku mengenal Raka semenjak ia baru lulus kuliah, ia adalah lulusan terbaik di Brilliant University di Amerika. Ia juga mendapatkan biasiswa penuh untuk pendidikannya itu. Sebelum itu, ia adalah atlet taekwondo propinsi Sumatera Barat."


"Sekitar 10 tahun yang lalu, aku melakukan perjalanan bisnis ke Amerika, untuk mengikuti seminar pebisnis muda dunia. Saat aku sedang berjalan menuju gedung tempat diadakannya seminar itu, ada yang mencuri laptopku. Kebetulan, saat itu Raka berada tidak jauh, ia segera membantuku menangkap pencuri laptopku yang berisi semua data perusahaan."


"Dari sanalah aku mengenalnya dan aku menawarkan pekerjaan untuknya, sebagai asistenku. Sejak saat itu, Raka adalah bayang-bayangku. Dia dapat membuat keputusan yang tepat dan cepat tanpa harus berkonsultasi terlebih dahulu," jelas Mario.


"Bagaimana dengan Clifford, siapa dia?"


"Oh Cliff, dia seorang purnawirawan AD AS. Saat masih bertugas dia ditempatkan di wilayah rawan perang. Setelah ia pensiun, ia membuka pusat pelatihan pengawal pribadi. Aku mengenalnya tanpa sengaja, ketika aku dan Raka sedang berjalan menuju gedung tempat seminar, aku bertabrakan dengan Cliff, karena ia terburu-buru ia hanya memberikan aku kartu namanya, setelah itu ia pergi. Aku pun menghubunginya setelah seminar dan dari sanalah kami mulai berteman. Lalu Cliff menawarkan untuk membuka cabang pusat pelatihannya di Jakarta dengan aku sebagai direkturnya, anak-anak ini semua hasil pelatihannya."


"Jika aku menghubungi Cliff, artinya sesuatu yang sangat berbahaya dan genting. Maka dari itu, Raka segera menyiapkan tim nomor 1 yang kami miliki," jelas Mario yang tentu saja membuat Jorrian tercengang.


"Bang, maaf saya tidak menceritakan semuanya dari awal, karena menurut saya hal ini tidak penting untuk diceritakan," lanjut Mario.


"Rahasiamu ini terlalu berat untuk kupahami. Tetapi sudahlah, kamu telah menyelamatkan Jovan, saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk itu," ucap Jorrian seraya memeluk Mario.

__ADS_1


"Nggak Bang, bukan aku yang menyelamatkan Jovan, tapi Allah lah yang mengarahkan aku untuk kesana, semua ini adalah jalan dari Allah," jawab Mario.


"Sekarang, kita harus segera membawa Jovan untuk mendapatkan perawatan lebih lengkap. Abang pilihlah rumah sakit mana yang sesuai, saya akan menyiapkan semuanya," ucap Mario.


"Semuanya?"


"Pesawat untuk membawa Jovan dan semua biaya yang dikeluarkan nantinya, it's on me," jelas Mario.


"Pesawat? Jangan bilang kalau kamu juga punya pesawat?!"


"Nggak Bang, aku tidak sekaya itu, hingga mampu membeli pesawat yang hanya digunakan sesekali saja. Aku akan sewa pesawat untuk membawa Jovan ke Jakarta," jawab Mario sambil tertawa kecil.


"Kirain kamu sekaya Bill Gates. Hmmm, kita bawa Jovan ke rumah sakit pusat otak di Jakarta," ucap Jorrian.


"Baik, saya akan siapkan semuanya. Abang tunggu saja disini," ucap Mario yang segera berlalu untuk mengurus segala sesuatu perihal kepindahan Jovan.


Sementara itu di hari sebelumnya, setelah berhasil menangkap para penculik, Raka memastikan para penculik itu tidak akan mudah untuk dibebaskan, dengan membuat laporan penculikan dan penganiayaan.


Lalu ia kembali ke rumah sakit dan berjaga penuh di sana, bergantian dengan para pengawal yang lain.


"Raka, kita pindahkan Jovan ke Jakarta, tolong kamu siapkan akomodasinya," ucap Mario.


"Baik, Pak," jawab Raka yang segera memerintah anak buahnya untuk mempersiapkan pemindahan perawatan Jovan ke Jakarta.


2 jam berlalu, Jovan sudah berada di dalam pesawat yang telah disewa menuju Jakarta, bersama dengan seluruh anggota keluarganya. Marissa menatap sayu wajah Jovan dan menggenggam tangan Jovan selama perjalanan menuju Jakarta.


Hanya keheningan selama penerbangan dari Batam menuju Jakarta.


Sesampainya di bandara, mobil ambulans dari rumah sakit pusat otak telah menunggu, Jovan pun segera dimasukkan ke dalam ambulans untuk menuju rumah sakit.


Mobil yang menjemput Mario pun telah tiba, mereka pun berjalan beriringan dengan ambulans.


Marissa masih terus menemani Jovan, mulutnya tidak lepas dari dzikir. Sesekali ia tersenyum, seolah-olah sedang berbicara kepada kekasih hatinya, sambil menyeka air matanya yang masih terus mengalir.

__ADS_1


__ADS_2