
Deretan mobil berjalan merayap seperti seekor kura-kura yang menopang cangkangnya yang sangat berat, keras dan tebal.
Arini duduk gelisah, hampir jam empat sore, Radit pasti sudah sampai lebih dulu dirumah sebelum dirinya.
"Dit, nggak ada jalan pintas lain selain jalan ini?"
"Aku nggak tahu Rin, aku belum kenal betul Kota Surabaya."
Arini berdecak, ia melupakan itu. Aditya baru-baru ini tinggal di Surabaya, sedangkan ia sendiri yang sudah hampir lima tahun tinggal di kota ini belum kenal betul semua jalanan yang ada di Surabaya, apalagi daerah yang beberapa bulan ini ia tinggali.
"Kamu takut Radit berpikir macem-macem ya kalau aku yang mengantarmu pulang?" Tebak Aditya yang melihat wajah Arini yang kelihatan tidak tenang.
Arini menoleh, tanpa menjawab pun Aditya sudah tahu apa jawabannya, pikirnya dalam hati.
"Nanti aku akan jelaskan semuanya ke Radit, kamu tenang aja."
"Nggak usah Dit, Mas Radit nggak akan marah, biar nanti aku sendiri yang menjelaskannya. Lagian aku nggak enak aja keduluan pulang sama Mas Radit, karena biasanya Mas Radit sudah ada di rumah kalau jam segini."
Aditya mengangguk paham," Kalau misal Radit salah paham, kamu bilang aja sama aku ya, biar nanti aku bantu jelasin."
"Iya ...makasih sebelumnya."
Dengan kecepatan tinggi dan sedikit saja ada jalan yang kosong, Aditya langsung menyalip kendaraan yang ada didepannya.
"Dit, jangan ngebut dong, aku takut. Kamu tuh kebiasan ya dari dulu nggak pernah berubah."
Aditya menoleh, mengembangkan senyumnya, kata-kata yang hampir sama. Ternyata Arini masih sangat mengingatnya. Ia pasti akan menjalankan mobilnya dengan sangat kencang, kalau Arini sudah terlambat masuk kerja karena ada jadwal tambahan kuliah pada waktu itu.
Arini yang melihat ekspresi wajah Aditya, langsung menyadari semua kata-kata yang spontan keluar dari mulutnya.
"Emm... maksud aku hati-hati." Ucap Arini dengan melempar pandangannya kesamping kaca.
Aditya tersenyum, dan kembali fokus dengan jalanan didepannya. Mengendarai dengan lebih hati-hati.
Jam empat lebih lima belas menit, mobil Aditya sampai didepan rumah Arini.
"Makasih ya Dit sudah mau nganter aku pulang... kamu mau masuk dulu?"
"Nggak usah terima kasih, lain kali saja."
"Kalau begitu aku masuk ya." Arini melepaskan seetbelt. Baru saja ia akan membuka pintu mobil, Aditya kembali memanggilnya.
"Rin..."
Arini kembali menoleh.
"Boleh nggak kalau nanti libur sekolah, Nuno aku ajak kerumah, Papah sangat ingin bertemu dengannya."
Arini tersenyum," Tentu saja, kamu kan papahnya, kamu bisa ajak Nuno kapanpun kamu mau."
Aditya balas tersenyum," Terima kasih."
Arini membuka pintu mobil kembali, dan hendak turun.
"Rin...."
Kedua kalinya Arini menoleh.
__ADS_1
"Jaga kandungan mu, semoga bayimu perempuan... sama seperti keinginan kamu dulu yang selalu ingin bayi perempuan."
Arini tersenyum miris. Dulu sewaktu bersama Aditya mereka selalu bercanda mengenai masa depan mereka.
Arini menginginkan anak perempuan yang lucu, yang bisa dia kepang dua rambutnya, bisa dia beri mahkota dan untaian bunga diatas kepalanya bak princess di negeri dongeng. Sedangkan Aditya menginginkan anak laki-laki yang tampan, gagah dan juga kuat seperti super hero.
Dan kenangan itu ternyata masih tetap ada, masih melekat walau sebagaimanapun kuat mereka melupakannya, kenangan itu masih tetap sama tidak bisa dirubah ataupun merubah.
"Amin.... makasih Dit.... kamu hati-hati dijalannya."
"Iya."
Arini masuk setelah mobil Aditya meninggalkan rumahnya. Pintu gerbang yang tidak dikunci, membuat Arini leluasa untuk masuk tanpa harus dibukakan oleh satpam yang berjaga disana.
"Non....baru pulang?"
"Eh iya Pak."
Arini melihat mobil Radit sudah terparkir dihalaman rumah.
"Tuan sudah lama pulangnya Pak?"
"Tadi jam setengah empatan Non."
"Oh...makasih Pak, saya masuk dulu."
"Silahkan Non."
Arini langsung masuk dan berderap menaiki tangga menuju kamarnya.
Dibukanya pintu perlahan, ternyata Radit sedang duduk dengan memainkan ponsel.
Radit menoleh dan tersenyum sekilas, kemudian fokus kembali mengotak-ngatik ponselnya lagi.
Arini duduk disamping Radit," Mas, maaf aku pulang terlambat, tadi jalannya macet. Terus aku nggak bisa hubungin kamu, baterai ponselku lowbatt."
Radit melihat Arini, melingkarkan tangannya dipinggang Arini, sedikit mengusapnya," Nggak papa, sekarang kamu mandi gih biar segeran."
"Mas tadi aku dianterin pulang sama Aditya." Ucap Arini dengan hati-hati.
Arini mengira Radit akan terkejut atau marah kepadanya karena tidak meminta izin terlebih dahulu kepadanya. Radit hanya berekspresi datar, mengacuhkan perkataanya.
Radit memegang tangan Arini," Kamu mandi, aku ada urusan sebentar, sebelum makan malam aku sudah pulang." Seraya berdiri kemudian mengambil kunci mobil diatas nakas.
"Ada urusan apa Mas?" Tanya Arini ikut berdiri hendak menghampiri Radit yang sedang mengambil jaketnya.
"Cuma ketemu temen, ada yang mau diobrolin." Sambil mengusap puncak kepala Arini dan keluar menutup pintu kamar.
"Hati-hati Mas." Jawab Arini sedikit kencang karena Radit pergi begitu saja.
Arini kembali duduk, menyandarkan badan yang akhir-akhir ini sering terasa cepat lelah. Namun seketika ia kembali duduk tegak, setelah sesuatu tidak ada dari penglihatannya.
Arini membuka tasnya, namun tidak ada disana. Arini berdecak, pasti hasil USGnya tertinggal di mobilnya Aditya. Apa mungkin dia harus menghubunginya??? Ah tidak....
****
Sudah lewat dari jam makan malam, Radit belum kembali seperti apa yang dikatanya tadi.
__ADS_1
"Bun.... Ayah mana?"
"Ayah lagi ada urusan, mungkin sebentar lagi pulang. Nuno sudah selesai makannya?"
Nuno menyimpan gelas air minum," Sudah."
"Kalau sudah sekarang Nuno kekamar, belajar ya?"
"Iya Bun."
Arini berjalan ke pintu keluar, tanda-tanda Radit akan pulang pun belum ada. Arini sangat cemas, menghubungi telepon genggamnya itu percuma, karena Radit meninggalkannya di kamar.
Arini menunggu di sofa tamu, sudah jam sembilan. dia tidak tahu harus menghubungi siapa, dia tidak tahu nomor teman-temannya Radit kecuali Dito dan Anggun yang mana mereka ada di Jakarta sekarang ini.
Kamu kemana sih Mas....
******
Mobil Radit memasuki gerbang rumah, setelah mematikan mesin mobil, ia melihat jam ditangannya, jam sebelas malam. Ia memang sengaja pulang lebih malam, agar Arini bisa lebih dulu tidur, saat dia pulang nanti.
Ia ingin menghilangkan rasa cemburu yang ada dihatinya saat tak sengaja melihat Arini masuk kedalam mobil Aditya saat di cafe.
Ingin rasanya dia marah dan berteriak kencang saat Arini pulang tadi sore, tapi ia tidak bisa. Dia bukan tipe pria yang memiliki amarah yang meledak-ledak, terlebih sekarang Arini sedang mengandung anaknya. Jadi jalan satu-satunya adalah dengan cara menghindar.
Pintu rumah sedikit terbuka, Radit membukanya lebih lebar. Ia melihat seseorang sedang tertidur di sofa tamu dan kebetulan Simbok juga datang dengan membawa selimut ditangannya.
"Tuan baru pulang?" Tanya Simbok pelan saat melihat Radit berjalan mendekatinya.
Radit melihat Arini tertidur di sofa dengan mengenggam ponsel ditangannya.
"Itu selimut buat Arini, Mbok?"
"Iya Tuan, Simbok nggak tega membangunkannya. Dari tadi Nona menunggu Tuan pulang di kursi."
Radit berjalan mendekati Arini, tidurnya sangat nyenyak hingga kedatangannya pun tidak sedikit mengusik alam bawah sadarnya.
"Biar saya pindahkan saja, selimutnya Simbok bawa lagi saja."
"Iya Tuan."
Simbok yang sudah mau pergi kembali berbalik," Tuan mau makan malam sekarang, biar Simbok angetin lagi makanannya."
"Nggak usah Mbok... apa tadi Arini sudah makan?"
"Belum Tuan... tadi yang makan hanya Den Nuno saja. Nona bilang mau menunggu Tuan pulang dulu."
Radit menghembuskan nafasnya, rasa bersalah mengusik hatinya, membiarkan Arini dan bayinya tidur dengan perut yang masih kosong.
"Ya sudah, Simbok boleh istirahat."
"Iya Tuan."
Radit duduk bersideku, memandangi wajah Arini dengan mata terpejam dan nafas teratur. Radit mengelus pipi Arini dengan punggung tangannya.
Maafkan aku... aku butuh waktu untuk menerima semua kenangan kamu bersamanya. Aku sangat mencintaimu, sayang....
..........................................................
__ADS_1
..........................................................
....................................Bersambung......