
Beberapa kali Gea mencuri pandang kearah David, jalan aspal jauh lebih menarik dibandingkan dengan wanita cantik yang duduk disampingnya sekarang ini. Dia hanya diam, tidak mengeluarkan suara kalau Gea tidak bertanya. Irit bicara...
Pria yang ada dengannya sekarang berbeda dengan pria yang dia temui waktu dulu. Pria yang pandai bicara, pandai mengolah kata, tapi bukan kata cinta melainkan kata negoisasi dalam berbisnis.
"Pak David..."
"Ya...?"
"Pak David suka musik?"
"Tidak terlalu."
" Film?"
"Tidak."
Stak.... pertanyaan yang Gea kira akan menjadi obrolan panjang, berhenti dengan jawaban Tidak dari David.
Gea memutar otak, mencari ide lain agar David berbicara lebih panjang, menjauhi kata tidak.
Tring.... lampu otaknya bersinar terang.
"Pak David suka olahraga, fitnes, golf atau apa gitu?" Berfikir positif kalau David akan mengatakan Iya, secara badannya terlihat sangat atletis, jadi tidak mungkin kalau dia tidak menyukai olahraga.
"Tidak."
Gea megangkat bagian atas bibirnya, anda kurang beruntung... tebakannya meleset.
"Tapi Pak David sepertinya suka berolahraga, badan Pak David kekar banget." Gea tetap keukeuh dengan argumennya.
David hanya sedikit mengulas senyuman, itu pun tak nampak jelas diwajahnya, samar.
"Waktu Pak David banyak tersita dengan urusan pekerjaan ya?"
"Begitulah."
Suasana hening kembali, Gea sudah kehabisan akal memancing David untuk bicara lebih banyak.
Tiba-tiba ia dapat ide briliant.
"Pak David boleh kira mampir dulu ke toko kue didepan sana?"
"Iya Nona."
"Jangan panggil saya Nona, panggil saja Gea. Dan saya panggil Pak David dengan panggilan Abang... gimana.... Pak David nggak keberatan kan... lagian kita sama-sama dari Betawi."
David menoleh dengan menganggukan sedikit kepalanya," Iya boleh."
"Makasih Bang David." Gea tersenyum senang, satu langkah untuk lebih dekat dengan David sudah berjalan dengan mulus.
David memarkirkan mobilnya didepan sebuah toko kue seperti yang Gea mau. Toko kue terbaik dan terlaris di Surabaya, memiliki cabang diberbagai kota lainnya.
"Bang David mau kan temani saya masuk kedalam, saya ingin memesan kue ulang tahun untuk teman kantor.... saya kebagian pesan kue dan teman yang lain kebagian membeli hadiah. Kebetulan yang ulang tahun itu laki-laki, setidaknya Bang David tahu selera laki-laki seperti apa."
"Baiklah, mudah-mudahan pilihan saya bisa membantu."
Gea berjingkrak senang," Terima kasih."
David pun turun dari mobil, berjalan memutari mobilnya untuk membukakan pintu untuk Gea.
Namun Gea sendiri masih disibukan dengan menekan dan menarik seetbelt yang tak kunjung terbuka.
"Ada masalah No... maksud saya Gea?" Ralat David yang belum terbiasa memanggil nama Gea.
"Sepertinya seetbeltnya macet, saya tidak bisa membukanya." Menengadahkan wajah melihat David yang sudah berdiri diluar, dengan tangan membuka handle pintu mobil.
"Biar saya bantu."
David membungkukan badan, masuk kedalam mobil dengan mengulurkan tangan sebelah kiri menjangkau pembuka seetbelt disebelah kanan tubuhnya Gea. Jika dilihat dari arah depan, tampak seperti sedang memeluk dan berciuman.
__ADS_1
Jantung Gea berdetak lima kali lebih cepat. Wajah ini.... Gea mulai terkesima. Hidung mancung khas orang Indonesia asli, rahang yang kuat, bibir tebal kemerahan, menandakan kalau dia bukanlah seorang perokok.
Dan satu lagi.... aroma wangi parfum Versace, Gea hafal betul. Parfun dengan campuran wangi lemon, neroli, bergamont, rose dan geranium, sangat menyegarkan.
Gea memejamkan matanya, berdoa dalam hati, semoga saja seetbelt ini mendadak macet dan David memerlukan waktu beberapa menit untuk bisa membukanya.
Namun Gea terhenyak, seetbelt yang mengukung tubuhnya melonggar. Ternyata doanya tidak terkabul. Tuhan memang selalu benar, doa seperti apa dulu yang seharusnya ia kabulkan. Doa minta jodoh misalnya, mungkin itu lebih masuk akal.
"Terima kasih."
Mereka berjalan beriringan, memasuki toko kue dengan sambutan ramah dari seorang pelayan yang berjaga dipintu masuk.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?" Tanya pelayan itu.
"Saya ingin pesan kue ulang tahun."
"Silahkan Nona ini contoh gambar dan jenis kue yang anda bisa pilih."
"Oh iya...." Mengambil brosur yang diberikan pelayan itu.
"Bang David, kita lihat ini sambil duduk disana yuk."
"Boleh."
David mengekor Gea menuju sofa tunggu khusus pembeli.
Menurut Bang David bagus yang mana?" Gea membuka lembar demi lembar brosur itu.
David menumpukan tangan disiku, berpikir sejenak dengan fokus pada setiap gambar yang ada di brosur.
"Yang ini bagus, simple."
"Ah berarti selera kita sama, suka yang simple.... oke saya akan pesan yang ini saja. Sebentar ya..."
"Iya silahkan."
Baru beberapa langka Gea meninggalkannya, ponsel David berdering. Ia pun meraih ponsel dibalik saku jasnya, Unknow Number.
"David... kamu dimana?"
David menjauhkan ponsel dari telinganya, merasa pendengarannya sedikit terganggu karena mendengar suara cewek plastik di gagang ponsel miliknya.
"Kamu siapa?" pura-pura tidak mengenal suara Erika.
"Jangan pura-pura nggak tahu."
Klik.... David mematikan ponselnya, menatap layar yang kembali gelap dengan berjuta pertanyaan, bagaimana mungkin cewek plastik itu bisa mengetahui nomor ponselnya.
Selang beberapa detik, ponselnya kembali berdering, panggilan yang sepertinya masih sama, Unknow Number.
"Kenapa kamu matikan?"
"Maaf saya tidak suka membuang waktu bicara dengan orang yang tidak saya kenal."
Terdengar cebikan dari sebrang sana.
"Aku Erika."
David senyum penuh kemenangan, ia bukan pria bodoh yang tidak tahu ada alasan tertentu hingga Erika menghubunginya hingga dua kali.
"Kamu dimana?"
"Ke intinya saja, ada apa?"
"Jawab dulu, kamu sedang dimana, tadi aku ke kantormu tapi katanya kamu sudah pulang."
"Kamu lagi mengintrogasi aku?"
"Ish... aku hanya bertanya."
__ADS_1
"Cepat ada apa?"
"Aku ingin ketemu sama kamu sekarang."
"Aku tidak bisa, sibuk."
"David please... sebentar saja ya?"
"Kalau kamu mau bicara, sekarang saja ditelepon."
Beberapa detik Erika tidak mengeluarkan suaranya.
"Aku tutup sekarang?"
"Eh jangan-jangan.... oke aku akan ngomong ditelepon. Aku mau.... besok malam kamu datang kerumah. Papah ngundang kamu buat makan malam, kamu mau ya... sekali ini saja kamu mau pura-pura jadi pacar aku. Setelah itu aku bakalan jujur sama Papah kalau kita nggak ada hubungan apa-apa."
David memijit pelipisnya, bingung harus menjawab apa. Mana bisa dia masuk kedalam drama yang diciptakan cewek plastik ini. Tapi ini Pak Toni, kolega terbaik perusahaannya Aditya.
"Bang David... kamu nggak papa?" Tanya Gea yang tiba-tiba sudah ada disampingnya, tidak mengetahui kalau ia sedang menerima telepon.
David menjauhkan teleponnya," Sudah beres.... sebentar saya terima telepon dulu."
"Oh maaf saya tidak tahu... saya tunggu disana ya?"
David mengangguk dan kembali menempelkan benda pipih itu ditelinganya.
"Kamu lagi dimana, kok ada suara cewek?"
"Bukan urusan kamu."
"Kamu lagi sama cewek?"
"Bukan urusan kamu."
"Terus itu siapa?"
"Aku tutup, aku mau pergi."
"Sama cewek barusan?"
David mengusap wajahnya, inilah yang paling tidak dia suka dari seorang wanita, terlalu sibuk mencampuri urusan orang lain.
"Ya udah terserah kalau nggak mau jawab, mau kamu sama cewek atau sama Jin sekalipun itu nggak penting. Yang terpenting sekarang kamu harus datang buat makan malam besok, oke... please, sekali ini aja."
"Aku tidak bisa janji."
"Tapi...."
David langsung memutus panggilannya, kemudian berjalan mendekati Gea yang sudah berdiri menunggunya dengan menjinjing dua kantong keresek berisi kue.
"Maaf menunggu."
"Nggak papa."
"Pulang sekarang?"
"Yuk."
Mereka kembali menuju parkiran mobil. David membukakan pintu untuk Gea," Terima kasih."
David menjawab dengan seulas senyuman. Kemudian berjalan memutari mobilnya. Namun matanya yang memang jeli seperti melihat ada seseorang yang sedang memperhatikannya.
David menoleh, melihat sebuah mobil yang tidak jauh terparkir dari mobilnya sekarang. Sepertinya dia pernah melihat mobil itu.
Mungkin hanya perasaannya saja. Tanpa membuang waktunya lagi, David cepat masuk kedalam mobil menuju kursi kemudinya. Kembali menembus jalan raya menuju rumah Gea.
..........................................................
..........................................................
__ADS_1
....................................Bersambung.....