Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Perang Dingin (BonChapt)


__ADS_3

David berjalan masuk dengan Erika yang berjalan membututinya. Dengan langkah lebar, ia meninggalkan Erika yang jauh tertinggal dibelankangnya.


"David... jangan kenceng-kenceng." Gerutu Erika.


David menoleh tanpa sedikitpun mengurangi kecepatan langkahnya.


"Daviiiidddd....," Teriak Erika,".... aduh."


Erika mengusap kening saat tubuhnya menubruk punggung David yang tiba-tiba berhenti mendadak.


"Kamu itu kenapa sih, yang bener dong kalau jalan."


David membalikan badannya," Ini bukan panggung catwalk yang harus berjalan dengan tertata."


Nafas Erika naik turun, mengepalkan tangannya geram.


"Kenapa... kamu mau marah?"


Erika mendekatkan wajahnya kedepan David,"Pikir sendiri." Lanjut berjalan dengan menyenggolkan pundaknya ke lengan David.


David bertolak pinggang, cewek aneh. Ia kembali melenggangkan kaki menyusul Erika yang sudah berjalan jauh meninggalkannya.


"Bang David..."


Seruan seseorang membuatnya kembali berbalik.


"Gea..."


Gea setengah berlari menyusul David," Bang David mau menemui Arini kan, bagaimana keadaannya sekarang?"


"Bagaimana kamu bisa tahu Nona Arini ada disini?"


Gea menghembuskan nafasnya dengan perlahan, sedikit terengah karena berlari mengejarnya tadi.


"Tadi aku menelepon rumahnya, kata Simbok Arini mengalami pendarahan dan dibawa kesini, jadi aku nyusul kesini, pengen liat keadaannya, aku khawatir banget."


"Aku juga belum tahu keadaannya."


"Kalau gitu kita bareng, soalnya aku tidak tahu ruangannya."


"Iya..."


"Awww...."Gea seperti kesakitan, melipat tangan menyentuh belakang tengkuknya.


"Kenapa?"


"Sepertinya tengkukku tertusuk sesuatu... rasanya seperti ditusuk jarum. Bisa tolong dilihat Bang?"


"Sini aku lihat."


Gea berbalik membelakangi David, menyibakan rambut yang menghalangi tengkuknya.


David yang untuk pertama kalinya melihat tengkuk seorang wanita dalam jarak yang sangat dekat, membuat tangannya sedikit bergetar.


David menyentuh kerah baju Gea, ternyata benar ada peniti kecil berwarna kuning emas tergantung disana. Perlahan David melepaskannya.


"Ini... ternyata peniti... lain kali hati-hati." Memberikannya kepada Gea.


Gea tertawa kecil dengan mengambil peniti itu dan memasukannya kedalam saku.


"Kebiasaan kalah buang merek baju suka langsung dicabut, jadi penitinya suka ketinggalan.... makasih ya Bang."


"Iya sama-sama."


Erika yang mendapati David tidak ada menyusulnya, membuatnya kembali menoleh.


Dari jauh ia melihat David sedang memegangi tengkuk seorang wanita.

__ADS_1


Wajah Erika memberenggut... wajah wanita yang pernah dia lihat sebelumnya, tapi dimana..??? Ah iya.... wanita yang di toko kue itu.


Seribu tanya mulai berkeliaran dipikirannya, ngapain wanita itu ada disini, jangan-jangan David yang menghubunginya.


Ia menghentakan kaki, dasar buaya laut... Asiiiin.


****


Aditya yang hendak masuk akan berpamitan pulang, mengurungkan niat saat pintu yang sudah dia buka separuh memperlihatkan kemesraan Radit dan Arini yang tengah berciuman.


Deg....


Aditya membalikan badannya. Kenapa masih terasa nyeri. Dulu hanya dia yang bisa meraup bibir itu. Dulu hanya dia yang bisa merasakan bibir itu. Dulu hanya dia yang bisa memiliki bibir itu.


Aditya menghembuskan nafasnya. Ikhlas yang hanya satu kata saja, ternyata membutuhkan jutaan kalimat untuk dapat mengapainya.


"Aditya..."


Suara panggilan Erika membuatnya tersentak . Telinganya seakan tuli, sampai tidak mendengar langkah kaki Erika hingga sampai disampingnya saat ini.


"Dokter Erika."


"Bagaimana dengan Arini?"


"Arini sudah siuman, sekarang Radit sedang menemaninya."


"Kandungannya?"


"Masih bisa diselamatkan, tapi harus menunggu beberapa hari untuk bisa melihat perkembangannya."


"Syukurlah... mudah-mudahan semuanya baik-baik saja." Erika duduk dikursi kosong.


"Dokter Erika datang dengan siapa.... sendiri?"


"Jangan panggil Dokter, Erika aja.... formal banget kedengernya."


Erika menoleh, wajahnya kembali berubah kesal.


"Bareng cowok asin."


"Cowok asin siapa?"


Belum Erika menjawab, David dan Gea muncul dari balik tembok, berjalan beriringan.


Aditya menarik mata melihatnya kedatangan mereka berdua. Tersenyum dalam hati, baru mengerti siapa cowok asin yang Erika maksud barusan.


"Dit..." Sapa Gea.


"Hai Ge...," Aditya kembali berdiri,"... kamu juga tahu Arini ada disini?"


"Iya... tadi aku dapat kabar dari pembantunya Arini. Sekarang bagaimana keadaanya?"


"Sekarang sudah siuman, Radit sedang menemaninya didalam."


Erika yang masih duduk, mendengar semua percakapan mereka. Sekarang ia paham, kalau ternyata wanita yang bernama Gea ini adalah temannya Arini dan juga Aditya.


Erika memperhatikan semua yang ada di Gea. Mulai dari wajah, riasan, tas, hingga baju dan sepatu yang Gea kenakan.


Cuma segini doang ceweknya, plus minus lah...cantikan juga aku, kalah diumur doang


"Kamu sudah melihatnya kedalam?" Tanya Gea lagi.


"Belum... aku takut ganggu mereka." Jawab Aditya.


Gea tersenyum sembari menyibakan rambutnya yang terurai kedepan.


Manis juga senyumnya... Uppss ralat... biasa aja tuh, manisan juga aku, Gumam Erika dalam hati.

__ADS_1


"Emang mereka lagi ngapain didalam, pake takut ganggu segala. Masuk yuk... aku pengen liat kondisi Arini... masuk yuk Bang?" Menoleh kearah David.


Apa...? Bang.... idiiiiih... Bang bakso setanggungan, teriak Erika dalam hati.


"Iya..." Jawab David.


Tiba-tiba ponsel Erika berbunyi... Tulisan Papah muncul dilayar ponselnya. Ia pun menggeser tanda panggilan diterima.


"Halo Pah...."


"Sayang kamu dimana, kita kan mau makan malam dengan Pak David. Kalau dia keburu datang bagaimana?"


Haduh... ia melupakan itu.


"Erika lagi sama David kok Pah."


Seketika mereka bertiga melihat Erika, apalagi dengan David yang mendengar namanya disebut. Dan tak ayal, Gea yang tidak mengenal Erika pun ikut memperhatikannya.


Kesempatan emas, ini akan menjadi cara jitu untuk mengetahui siapa wanita yang ada disamping David saat ini, pacar, temen deket atau korban PHPnya saja.


"Jadi kalian mau datang sama-sama?"


"Sepertinya begitu Pah... tapi mungkin kita akan sedikit terlambat, istrinya Radit pendarahan dan sedang dirawat, jadi kita jengukin dulu."


"Sekarang bagaimana keadaannya?"


"Udah ditangani Dokter, jadi sudah aman. Papah makan malam aja duluan, nanti aku dan David menyusul kesana... maaf ya Pah." Berbicara dengan penuh penekanan.


"Ya sudah, jangan kemalaman ya pulangnya."


"Iya Pah."


Erika menyimpan kembali ponselnya," Papah nungguin kita, kamu nggak lupa kan ada janji makan malam dirumah aku?" Ucapnya dengan melihat David dan kemudian beralih menatap Gea dengan tatapan penuh kemenangan.


Gea melihat David, hatinya luluh lantah mendengar apa yang wanita itu katakan.


Gea balas menatap Erika, siapa perempuan ini... pacarnya Bang David, itu tidak mungkin, mereka tidak seperti berpacaran.


Erika berdiri," Maaf saya mau lewat." Ucapnya pada Gea dengan masih bersitatap.


"Sepertinya saya yang harus lebih dulu masuk." Balas Gea tak mau kalah.


Erika mengepalkan tangan saat Gea masuk mendahuluinya, Erika mneghentakan kaki, mau tak mau dia pun ikut menyusul masuk kedalam kamar rawat inap Arini.


Aditya yang menyadari perang dingin diantara keduanya, hanya menggelengkan kepala, tersenyum. Ingin segera melihat kelanjutannya seperti apa.


Dan yang lebih membuatnya penasaran adalah, siapa yang akan berhasil memenangkan David, yang memiliki hati seperti kerasnya gunung es, karena skor keduanya seri dihati David.


David yang melihat Aditya senyum-senyum sendiri, menimbulkan tanda tanya besar dikepalanya.


"Pak Aditya kenapa?"


"Kamu sudah siap menonton drama yang akan terjadi didalam sana?"


"Maksudnya drama apa Pak?"


"Drama persaingan sengit meluluhkan gunung es."


David semakin tidak mengerti, apa mungkin drama kedua wanita tadi, ah entahlah.


Aditya menyeringai," Siapkan hatimu." Menepuk bahu David dan berlalu pergi menyusul sang wanita pemain drama.


Kini tinggal David sendiri yang berdiri mematung, Aaaarrrgh... semua wanita sama saja, bisanya cuma bikin sakit kepala.


..........................................................


..........................................................

__ADS_1


.....................................Bersambung.....


__ADS_2