Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Undangan Makan Malam (Bonchapt)


__ADS_3

Erika berjalan dengan gontai, semangat empat lima untuk mengajak makan siang Radit seketika pupus setelah melihat Radit dan Arini yang sedang berciuman mesra dan sarat dengan hasrat yang bergelora, begitu memabukan.


Jiwa jomblonya seakan tercabik-cabik melihat drama percintaan pasangan pengantin baru yang begitu membara. Mantra yang selalu dia lafalkan setiap waktu.... kutunggu dudamu... seakan terbang terbawa angin dan wuuusshh... menghilang.


Jahat memang.... berharap agar Radit tiba-tiba bertengkar hebat dengan Arini, kemudian mereka bercerai dan Radit bisa kembali kedalam pelukannya, haaah.... itu sangatlah jauh dari kenyataan, mereka terlihat saling mencintai, sulit untuk dipisahkan.


Erika menggeleng-gelengkan kepalanya, kalau pikirannya terus terpusat kepada Radit, itu sama artinya dia akan bersedia menjadi perawan tua. Aaarrrggh.... Erika memejamkan matanya.


Move on Erika....move on....


Duuuugghh....


Erika membuka matanya, ternyata punggung seseorang sudah dia tubruk. Orang itu terbatuk-batuk karena tersedak dengan minumannya yang dia pegang.


"Maaf Mas.... saya tidak sengaja." Ucap Erika dengan nada penuh penyesalan.


Orang itu mengibas-ngibaskan jasnya yang terkena cipratan air minum, kemudian membalikan badan menengok siapa orang yang tiba-tiba menubruknya, padahal dia merasa tidak menghalangi jalan siapapun.


"Ka....kamu...." Ucap Erika tergagap.


"Aku maafkan." Ucap David dengan nada datar.


"Kata maaf tadi aku cabut." Dengus Erika menyesali kata maaf yang meluncur bebas dari mulutnya untuk David.


David menautkan alisnya," Bisa diulang lagi?"


Erika menggeram," Kata Ma...Af.... aku Ca...But...." Jawab Erika dengan kencang.


Seketika David tersenyum sinis," Ada ya cewek palstik kayak kamu... nggak Ta...Hu... Ma...Lu...." Ucap David tak kalah kencangnya dengan Erika.


Erika mengepalkan tangannya," Terserah..."


Erika yang hendak pergi, seketika lengannya ditarik kembali oleh David.


"Kamu harus tanggung jawab dengan jas aku yang basah."


Erika menepis tangan David," Nggak usah pegang-pegang, haram tangan aku bersentuhan dengan tangan kamu."


Kemudian Erika melipat kedua tangannya diperut," Jadi kamu berharap aku mau bersihin jas kamu...," Tersenyum kecut,".... jangan MIMPI disiang bolong ya Tuan..." Ucap Erika dengan penuh penekanan.


David menghela nafasnya kasar, baru saja dia mau membuka mulutnya, Erika langsung kembali bicara.


"Skor kita satu sama, sekarang giliran jas kamu yang basah setelah apa yang kamu perbuat dengan gaun mahal aku malam itu."


Kening David berkerut, mencerna perkataan wanita plastik didepannya ini.


"Jangan pura-pura lupa." Desis Erika.


"Eheemm... maaf apa saya menganggu?" Tiba-tiba datang Aditya menghalau perdebatan anak manusia yang sama keras kepalanya ini.


Aditya yang sejak tadi memperhatikan aura permusuhan dari keduanya hanya bisa tersenyum. Ia berpikir mungkin sudah saatnya dia membantu David agar bisa dekat dengan seorang wanita, tidak sibuk terus dengan pekerjaan kantor dan termasuk pekerjaan yang selalu membantu kehidupan pribadinya.


"Siapa anda?" Tanya Erika.


"Saya...."


"Pak Aditya sebaiknya kita kembali temani Pak Wiria." Sanggah David.


Erika langsung menatap tajam David karena sudah berani memotong pembicaraannya.


Aditya sedikit tersenyum," Apa ini Nona itu David?"

__ADS_1


David diam, tidak mengerti kemana arah pembicaraan Aditya.


"Perkenalkan nama saya Aditya, teman sekaligus atasan David di kantor." Seraya mengulurkan tangannya.


Dengan ragu-ragu Erika menerima uluran tangan Aditya.


"Saya Erika."


"Nama yang cantik, secantik orangnya. Bukan begitu David?"


David terperangah, mendapat lemparan pertanyaan seperti itu.


"Terima kasih pujiannya." Ucap Erika malu-malu.


"Sepertinya anda Dokter di Rumah Sakit ini?"


"Iya betul."


"Ah kebetulan sekali ya, David bisa bertemu lagi dengan Dokter disini." Ucap Aditya dengan ramah.


Dan Erika hanya menjawab dengan sebuah senyuman.


"David pernah bercerita kepada saya, kalau dia pernah menubruk seorang wanita cantik di sebuah pesta, hingga gaunnya menjadi rusak karena terkena warna dari minuman."


David mengepalkan tangannya, menghujat Aditya dalam hati, sedikitpun dia tidak pernah menceritakan apapun kepadanya, apalagi menyebut wanita plastik ini cantik... Huh...


"David ingin meminta maaf dan mengganti gaun Dokter yang rusak." Lanjut Aditya.


"Pak Aditya tapi...." Sela David.


Aditya langsung melirikan matanya, mengisyaratkan agar David untuk diam. Kemudian dia melanjutkan kata-katanya lagi," Maksud David barusan, tapi dia malu karena sudah berbuat kasar kepada Dokter, bukan begitu David?"


Seketika Erika mengalihkan pandangannya kepada David, tapi yang dia lihat bukannya wajah penyesalan melainkan wajah datar dan dingin dari David.


Dengan terpaksa David menjawab," Iya."


"Kalau Dokter berkenan, nanti malam saya dan David ingin mengundamg Dokter untuk makan malam di Restoran Mahatma.... bagaimana?"


"Makan malam?"


"Iya.... bagaimana.... sebagai ucapan maaf atas kesalahan David kepada Dokter."


Mata Erika dan David saling berbenturan, namun buru-buru mereka kembali membuang pandangannya.


"Saya yakin Dokter Erika mau meluangkan waktu untuk makan malam bersama kami."


"Emmm... tapi...."


Aditya langsung memotong kata-kata Erika," Oke.... kalau begitu saya permisi sekarang, saya dan David akan menunggu anda jam tujuh malam nanti. Mari Dokter...."


"Ah iya silahkan."


Aditya dan David pun meninggalkan Erika yang masih berdiri ditempatnya, seperti orang yang masih linglung baru terbangun dari mimpi. Erika memejamkan matanya. Baru pertama kali ini ia mendapat undangan makan malam dari seorang pria. Bahkan dulu waktu berhubungan demgan Radit sekalipun dia tidak pernah mendapatkanya.


Shiiittt.... Erika mengumpat dalam hati, kenapa nama Radit lagi yang muncul di dalam pikirannya.


******


"Pak.... kenapa anda mengundang makan malam wanita itu?" Tanya David dengan mensejajarkan langkahnya dengan Aditya.


"Wanita itu punya nama David.... Dokter Erika."

__ADS_1


David berdecak dalam hati, kalau saja dia tidak ingat kalau Aditya itu atasannya, sudah dia caci maki dia dari tadi.


Seolah mendengar isi hati David, Aditya menghentikan langkahnya, menghadapkan tubuhnya kearah Daviv," Kamu mau marah kepada saya?"


"Hahaha...," David tertawa garing,"... Mana mungkin saya berani marah kepada anda."


Aditya menahan senyumnya, dia tahu kalau David tengan kesal kepadanya.


"Mata kamu masih normal kan.... tidak ada gangguan apapun?"


"Maksud Pak Adit bertanya itu?"


"Dokter Erika itu cantik, dia juga pastinya pintar hingga bisa menjadi Dokter seperti sekarang. Kamu tidak tertarik kepadanya?"


David memalingkan wajahnya, pertanyaan yang menurutnya sangat tabu bila harus diperbincangkan dengan atasannya.


"Jawab David...." Gertak Aditya.


"Saya tidak suka dengan wanita kasar seperti itu Pak." Jawab David dengan cepat.


Aditya langsung tertawa," Apa wanita juga akan suka dengan pria kasar seperti kamu?"


David terdiam, perkataan Aditya begitu menohok dirinya.


"Kamu tidak lihat tadi.... Dokter Erika juga bisa bersikap lembut kalau kita bisa memperlakukannya dengan baik. Dokter Erika itu tidak kasar, hanya dia terlalu pintar menghadapi pria seperti kamu."


"Maksud Pak Aditya?"


"Mulailah dari awal, perbaiki semuanya. Seseorang yang meminta maaf lebih dulu, tidak akan membuat kedudukannya menjadi lebih rendah."


Aditya menepuk bahu David," Kamu itu pintar dalam bisnis, kalau kamu tidak tahu bagaimana caranya, anggap saja wanita itu sebagai ladang bisnis yang ingin kamu capai."


David mencerna semua kata-kata yang Aditya lontarkan, wanita disamakan dengan bisnis....sangat runyam.


"Kamu bisa pikirkan itu nanti. Kalau kamu tidak menyukainya, setidaknya kalian bisa menjadi teman bukannya menjadi musuh."


"Baik Pak."


"Bagus kalau kamu paham.... jadi bersiap-siaplah nanti malam, perlakukan Dokter Erika dengan lembut jangan kasar seperti tadi."


"Tapi bukannya makan malam itu bersama Pak Aditya juga?"


"Saya tidak janji." Jawabnya sambil berlalu pergi.


Apa.... David memijit pelipisnya, bagaimana mungkin Pak Aditya setega itu membiarkannya makan malam dengan wanita plastik seperti dia...??? Ah tidaakkk...


Aditya kembali menoleh karena David tidak juga mengikuti langkahnya," Sepertinya kamu sudah tidak sabar.... kalau begitu saya ganti saja dengan makan sore?"


"Jangan Pak..." Teriak David.


David langsung mengejar Aditya yang semakin berjalan jauh meninggalkannya.


..........................................................


..........................................................


....................................Bersambung.....


Hai....hai....πŸ™ŒπŸ™ŒπŸ™Œ


Maaf Author sedikit terlambat... 😳😳

__ADS_1


Biasa sibuk potong bebek.... sorong ke sana sorong ke sini.... paham dong kesibukan mahmud dizaman corona iniπŸ˜‚πŸ˜‚...!!!


Semoga kalian tidak bosan menunggu😍😍


__ADS_2