Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Sampai Akhir (BonChapt)


__ADS_3

Nakesha dan Naresha, dua putri kembar yang sangat lucu dan menggemaskan. Pipinya yang mulai mengembung cabi, perut yang membuncit, kaki dan tangan yang selalu bergerak lincah menendang dan mengemut ibu jari tangan, menjadi kebiasaan baru mereka.


Satu persatu Arini menyusui mereka dengan sabar, kata lelah itu pasti, apalagi mengurus dua bayi sekaligus, butuh ekstra tenaga untuk bisa menjaga dan merawat mereka secara bergantian.


Yang membuat Arini kewalahan adalah saat mereka menangis berbarengan, bingung harus memangku mereka yang mana dulu. Tadinya ia bersikukuh untuk mengurus mereka sendiri walau Radit mengusulkan untuk mengambil dua babysitter untuk membantunya. Dan pada akhirnya, usul itupun Arini terima karena ternyata mengurus dua bayi kembar sangat menguras tenaga.


"Sayang..." Radit datang memasuki kamar.


Arini yang sedang menyusui menoleh," Kok pulangnya malem Mas?"


"Iya sayang maaf, tadi ada pertemuan dulu." Seraya mencium kening Arini, kemudian melihat bayi mungil yang juga sedang melihat kearahnya.


"Halo Nakesha... mimi yah?" Sambil mengelus-ngelus pipi gembilnya.


"Ini Naresha Mas..."


Radit duduk disamping Arini dan melingkarkan tangan dipinggangnya.


"Nggak ada bedanya sayang, semuanya sama."


"Nggak semuanya Mas.... nih...," Arini menunjuk bagian samping wajah Naresha,"... Resha ada tahi lalat kecil dibawah telinganya, sama kayak Mas."


"Oh....sama kayak Ayah ya sayang.." Mengajak Naresha berbicara dan hendak menciumnya.


Arini menghalangi pipi Naresha," Jangan cium-cium Resha dulu, Mas kotor belum mandi."


Radit berdecak," Ya udah sun Bundanya aja kalau begitu." Mencium pipi Arini dengan gemas dan berlalu pergi masuk kamar mandi.


Arini tersenyum," Dasar."


Lima belas kemudian Radit keluar dari dalam kamar mandi, wajahnya sudah kembali segar dengan balutan handuk yang membelit sebatas pinggang. Air yang menetes dari rambutnya yang basah, mengalir menyentuh leher dan turun menjelajahi dada bidangnya.


Arini buru-buru menurunkan pandangan, mengenyahkan pikiran yang mulai merajalela kemana-mana. Memilih menyibukan diri dengan mengusap-ngusap sang putri yang sebentar lagi akan tertidur.


Arini tersentak yang tiba-tiba mendapat ciuman ditengkuknya. Ternyata Radit duduk bersila dengan menarik tubuh Arini agar bersandar didadanya.


"Resha kok lama banget sih miminya sayang?" Radit mengajak kembali bicara putrinya.


"Ini bukan Resha Mas, ini Kesha."


"Loh bukannya tadi Resha?"


"Resha udah tidur, sekarang giliran Kesha yang bangun."


"Kok aku nggak bisa-bisa bedain mereka?"


Arini tertawa," Nanti juga Mas bisa bedain kalau mereka udah gede."


"Iya deh.... cepet gede ya." Radit mencubit pipi Nakesha.


"Sayang...."


"Heemm..."


"Kenapa kamu nggak biarin aja babysitter yang mengurus mereka kalau malem?"


"Mas... siang mereka lebih banyak bersama babysitter, dan khusus malem aku pengen mereka lebih banyak bersama aku."

__ADS_1


"Buat akunya kapan?"


"Ih jangan manja.... masa sama anak sendiri ngiri."


Radit terkikik, lalu mencium pipi Arini," Kita jarang berduaan sekarang, aku kangen."


Wajah Arini merona, membuat Radit semakin gemas melihatnya. Tak ingin mengulur waktu lagi, Radit berdiri dan memangku Nakesha dari pangkuan Arini.


"Loh Kesha mau dibawa kemana?"


"Sssstt... jangan berisik, biar Kesha bisa tidur cantik sama adiknya Resha."


Nakesha menggeliat hendak terbangun, namun Radit buru-buru mengayunnya agar segera tertidur kembali. Dan tidak butuh waktu lama Radit berhasil membuat Nakesha tidur nyenyak.


Dengan perlahan Radit menyimpan Nakesha di box bayi, dibiarkan tidur berdua bersama Naresha walau mereka sudah memiliki box masing-masing.


Arini tersenyum melihat Radit yang telaten menidurkan Nakesha, sama sekali tidak terlihat kaku, bahkan Nakesha yang sering menangis dibanding Naresha selalu kembali tenang kalau Radit memangkunya.


Radit naik ke atas tempat tidur, duduk bersandar dikepala ranjang, kemudian menarik Arini agar duduk bersama dalam dekapannya.


"Sayang besok sore aku akan berangkat seminar empat hari di Bali." Ucapnya dengan berat hati harus meninggalkan Arini selama itu.


Arini menggeser duduknya hingga menyamping," Lama banget Mas." Jawabnya dengan wajah muram.


"Iya, seminar ini nggak bisa diwakilkan, jadi aku sendiri yang harus pergi."


"Oh...."


"Kamu hati-hati ya selama aku pergi, aku pasti akan sangat merindukan kalian."


"Iya Mas... Mas juga hati-hati selama berada disana, aku juga pasti akan sangat merindukanmu." Arini menyimpan kepalanya didada Radit.


"Emang Mas mau dibekalin apa, nanti aku buatin." Sambil memilin-milin kerah piama Radit.


"Aku nggak mau makanan."


Arini menghentikan kegiatannya, mengangkat wajah dan bersandar dikaki Radit yang menekuk.


"Terus mau dibekalin apa dong?"


Radit menarik bahu Arini agar mendekat kepadanya," Aku mau dibekalin suara desahanmu." Bisik Radit ditelinga Arini dan menciuminya.


"Mas udah...." Ucap Arini pelan, menghentikan aksi Radit yang mulai menciumi lehernya padahal dia pun sangat menikmatinya. Namun mengingat ia belum melakukan KB, itu membuatnya sedikit ketakutan.


"Kenapa heem... kamu tidak merindukan aku?" Jawab Radit dengan suara serak menahan nafsu yang selama ini sudah dia tahan karena menunggu Arini sembuh pasca operasi.


"Aku belum KB."


Radit menghentikan ciumannya, melihat kedua mata Arini dengan ibu jari tangan yang terus mengusap-ngusap bibirnya.


"Memangnya kenapa?"


"Kok kenapa, kalau nanti aku hamil lagi gimana?"


"Ya nggak papa, itu tandanya si kembar bakalan punya adik." Candanya.


"Ih Mas... mereka masih kecil, masa udah mau nongol lagi." Arini merajuk.

__ADS_1


Radit tak kuasa menahan untuk tidak mengigit bibir tipis Arini yang begitu menggodanya, dengan bringas ia mengulum bibir itu, menggigitnya sebentar lalu melepasnya.


"Aku akan mengeluarkannya diluar." Ucapnya tepat di depan bibir Arini.


"Yakin nggak bakalan kebablasan?"


"Yakin sayang."


Tangan Radit mulai bergerak membuka kancing baju Arini satu persatu, menyibak dan melepaskan kaitan Bra yang menghalanginya.


Radit menidurkan Arini, dan baru saja ia menyusupkan mulutnya kedalam dua gundukan besar yang padat karena tersimpan banyak air susu. Suara tangisan salah satu bayi kembar mereka kembali terdengar, dan otomatis bayi yang satunya lagi pun ikut terbangun karena merasa terganggu dengan suara bising dari saudaranya.


"Mas Kesha dan Resha bangun." Arini mendorong dada Radit untuk menjauh.


Radit menjatuhkan badannya, membiarkan Arini pergi dengan kembali memungut baju yang sudah jatuh dibawah lantai dan memakainya.


Radit mengelus juniornya yang sudah menegang sedari tadi, sabar....sabar....


Radit ikut bangun dan membantu Arini untuk memangku salah satu dari mereka.


Setengah jam sudah berlalu, akhirnya si kembar kembali tertidur pulas.


Radit memandang kedua bayi kembarnya,"Kesha... Resha.... sekarang giliran Ayah ya, kalian jangan bangun sebelum Ayah beres, oke..."


Arini mencubit pinggang Radit," Mas ih apaan sih ngomong begituan sama mereka." Ucapnya sambil berlalu pergi.


Radit langsung menyusul Arini dan memangkunya hingga Arini memekik kaget.


Perlahan Radit menjatuhkan Arini diatas tempat tidur, menindih dan mengukungnya.


"Kamu sudah siap sayang?"


"Siap?"


"Siap mengarungi lautan cinta bersamaku."


Arini tersenyum, perlahan mengangguk. Radit pun balas tersenyum bahagia.


Kedua mata mereka saling mengunci, menyelami getaran cinta yang sudah terpatri dihati mereka.


"Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu."


Kabut derita akhirnya menghilang


Pelangi indah kembali terbentang


Aku bagaikan kafilah


KamuTempat tujuanku untuk melangkah


Warnai lah hidupku dengan warna cintamu


Hatiku dan hatimu


Selamanya sampai akhir....

__ADS_1


Radit❤Arini


............Ending..............Ending..........


__ADS_2