
Pemutaran perdana film "Cinta yang Hilang" meraih tanggapan positif dari masyarakat luas. Cerita yang menghadirkan berbagai emosi tersebut, menjadikannya trending topic di dunia maya dan mendongkrak penjualan novel kedua Jovan, yang diberi judul, "Menemukan Cinta yang Hilang", hingga menembus rekor penjualan novel sebelumnya. Bahkan dari banyak penggemar novel dan film tersebut mulai mengangkat nama Jovan dan Marissa sebagai pemeran sekuel Cinta yang Hilang.
Momen keberhasilan Jovan, tidak disia-siakan oleh kedua adik iparnya. Marendra dan Mariska yang ikut menjadi bidikan kamera di saat pemutaran perdananya, yang mendadak menjadi terkenal di sekolah mereka.
Kesempatan ini pun tidak mereka sia-siakan begitu saja, mereka pun berencana untuk meraih keuntungan dengan menjual flyers promosi film dan foto-foto Jovan yang telah ditandatangani oleh Jovan. Tetapi mereka tahu jika meminta tanda tangan Jovan secara terang-terangan pasti tidak akan membuahkan hasil, sehingga mereka meminta Adam untuk mengambilkan flyers dan foto-foto tersebut yang telah ditandatangani oleh Jovan untuk mereka.
"Om, ambilin yaa, tolong, pleaseee...," pinta Marendra dengan mimik wajah memelas.
"Hmmm, what do I get kalau... "
"You can pick one of my gundam collection," jawab Marendra dengan cepat.
"Okay, deal. My son will love it so much, thankyou," ucap Adam.
Hari itu juga, Adam datang menemui Jovan yang sedang sibuk menandatangani flyers dan foto-foto dari acara premier film.
"Mas, boleh.... "
"Boleh, ambil aja, buat si kembar kan? Pasti ada kesempatan dalam kesempitan, hmmm jangan-jangan mereka mau jual," potong Jovan yang sudah mengetahui maksud Adam.
Adam pun hanya menaikkan bahunya.
"Saya ambil ya, Mas. Eh berapa lembar nih?" tanya Adam.
"Terserah, aaahhhh pegel, satu tumpuk ini ada 100 lembar, ini baru seperempatnya," jawab Jovan sambil meregangkan otot-otot tangannya.
"Hmmm saya ambil 100 lembar yaa," pinta Adam.
"Silahkan Om. Eh Om, gantian tandatanganin dong, masih 2 tumpuk lagi nih!!"
"Itu namanya malsuin tandatangan!! Dosa, Bang!" protes Marissa yang tiba-tiba muncul dari ruang keluarga.
"Bercanda, Yang. Lagian tandatangan Abang yang unik dan keren ini kan sulit untuk dipalsuin," sanggah Jovan.
"Aduh ketika narsis menerjang kembali. Om Adam, kita tinggalin Abang aja deh, kita ngapain gitu, ngerujak enak tuh Om," canda Marissa.
"Mauuuu, yang pedes yaa, minta buahnya bengkoang, jambu sama mangga, eh sekalian tolong minumnya apaaa gitu?" pinta Jovan.
"Lah emang aku ngajakin Abang? Kan aku ngajak Om Adam? GR banget siiii," canda Marissa lagi sambil berjalan santai menjauhi Jovan.
"Mas, saya ngerujak bareng Mbak Risa yaa, permisi," canda Adam sambil berjalan mengikuti Marissa yang membuat Jovan memberikan pandangan menusuk ke arahnya.
"Ish!! demen amat ngisengin suami sendiri!! Eh tapi, mendingan ngisengin suami sendiri daripada suami orang lain. Kali ini kumaafkan," ucap Jovan lirih.
__ADS_1
Keesokan harinya di waktu istirahat sekolah, sesuai rencana Marendra dan Mariska, mereka berdua menjual flyers dan foto Jovan yang telah ditandatangani kepada teman-teman sekolahnya.
"Silahkan bagi yang mau foto dan flyers film Cinta yang hilang, eksklusif langsung ditandatangani oleh penulis novelnya sendiri, Bang Jovan Chen!" ucap Marendra sambil memperlihatkan flyers dan foto-foto Jovan bersama para aktor dan aktris pemeran filmnya.
Tak membutuhkan waktu lama, flyers dan foto-fotonya pun habis terjual.
"Eh, kamu kok bisa ikutan foto bareng Bang Jovan?" tanya salah satu teman sekolahnya.
"Gue adik iparnya, kakak gue itu istrinya Bang Jovan," jawab Marendra.
"Ngibul Lo!! Nggak mungkin istrinya Bang Jovan punya adik model Lo begini!! Ngayal banget!!"
"Lah, nggak percaya?! Terserah, lihat aja di foto ini, ini kan foto keluarga Bang Jovan sama Mbak Icha, ngapain gue bisa disitu kalau bukan keluarganya?" jawab Marendra yang membuat lawan bicaranya terdiam.
"Eeeeh tapi kok, waaa curang!!!" protes teman-temannya ketika menyadari apa yang baru saja Marendra lakukan. Tetapi Marendra telah berlari menghilang dari hadapan mereka.
Sementara itu, Marissa tengah menyibukkan diri di dapur dengan membuat brownies panggang kesukaan Jovan menggunakan resep ibunya. Aroma coklat pun segera memenuhi ruangan dapur terbukanya, yang tercium hingga kamar, sehingga membuat Jovan segera mencari asal aroma yang sangat ia rindukan.
"Brownies yaa, mauuu," pinta Jovan dengan manja.
"Sabar, masih dipanggang, nanti kalau sudah matang, aku ambilin khusus buat Abang," jawab Marissa.
"Makasiiii," ucap Jovan sambil mencium pipi Marissa.
"Oiya Bang, si kembar mintain tanda tangan yaa?" tanya Marissa.
"Hmmm, feeling-ku nggak enak deh, pasti mereka ngelakuin sesuatu yang minta di jewer," jawab Marissa yang curiga akan adiknya.
"Jangan su'udzon, Yang. Siapa tahu mereka cuma mau bagi-bagi, nambah teman dengan sesuatu yang lagi viral, siapa lagi kalau bukan Abang Jovan yang ganteng ini," canda Jovan.
"Ooo, hmmmm, tapi kayaknya...., aku penasaran di sekolahnya ada apa," ucap Marissa yang tidak memperdulikan kenarsisan Jovan barusan, sehingga membuat Jovan kesal.
"Ih dicuekin, biasanya marah. Eeee sekarang ngeluyur aja!! Emang ada apa sih sama si kembar?" gumam Jovan yang berjalan mengikuti Marissa.
Marissa pun menghubungi pengawal si kembar yang berjaga di sekolah. Setelah mendapat jawabannya, ia pun segera menyampaikannya kepada Jovan.
"Bang, mereka jual foto dan flyers film ke temen-temennya."
"What?? What did you say?" tanya Jovan yang tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar dari Marissa.
" Mereka jual flyersnya!!" jawab Marissa.
"For how much?" tanya Jovan lagi.
__ADS_1
"20ribu," jawab Marissa.
"Aaargghh!! Bisa-bisanya mereka jual??!! Nggak bisa seperti ini, aku harus tanggung jawab, tapi gimana?"
"Traktir satu sekolah buble drink, kita sewa boothnya, bawa ke sekolah, free drinks for all. Sekalian buat ajang promosi bukunya kan," jawab Marissa.
"Ah, my wife memang 3B !! Yowes, Abang urusin mereka dulu," ucap Jovan yang segera menghubungi Bian dan memanggil Adam untuk menemaninya ke sekolah si kembar.
Bian pun seperti biasa, harus bekerja ekstra cepat, guna memenuhi permintaan Jovan.
2 jam kemudian di depan sekolah, 3 booth buble drink telah siap melayani siswa-siswi yang tak lama lagi akan pulang sekolah.
Setelah meminta izin kepada pihak sekolah, Jovan pun memberikan pengumuman langsung sesaat sebelum bel pulang sekolah.
"Assalamu'alaikum, saya Jovan Chen, kakak ipar dari Marendra dan Mariska, memohon maaf sebesar-besarnya atas perilaku adik saya. Untuk itu saya akan traktir kalian semua minuman kekinian yang sudah siap melayani pesanan kalian semua, enjoy!!"
Beberapa menit kemudian, seluruh siswa-siswi SMA Internasional itu pun berhamburan menuju booth minuman yang dimaksud.
Jovan pun berdiri menunggu si kembar di depan mobilnya dengan tangan dilipat. Tak lama kemudian, Marendra dan Mariska pun terlihat di antara kerumunan antrian.
Dengan smirk andalannya, Jovan menghampiri keduanya.
"Hmmm, jajan gratis yaa. Abang tunggu di mobil, segera!!"
Marendra dan Mariska pun segera mengikuti Jovan dan membatalkan keinginan mereka untuk mengantri minuman. Mereka berdua berjalan dengan menundukkan kepalanya dan saling dorong dan menyalahkan atas ide yang membuat mereka mendapatkan hukuman dari Jovan. Walaupun mereka tidak tahu, hukuman apa yang akan mereka dapatkan.
Sesampainya di dalam mobil, Jovan hanya diam, tidak berkata apa pun, yang membuat perasaan si kembar semakin tidak enak. Hingga tiba di apartemen, Jovan menyuruh Marendra dan Mariska mengikutinya ke ruang kerja.
"Hmmm, dapat berapa tadi?" tanya Jovan.
Dengan wajah tertunduk, keduanya pun menjawab, "2 juta, Bang."
"Mana uangnya !!" pinta Jovan.
"Bang, jangan !!" tolak keduanya.
"Mana uangnya? atau Abang laporin ke ayah!" ancam Jovan.
Dengan berat hati, keduanya pun menyerahkan uang yang mereka dapatkan dari berjualan foto dan tanda tangan Jovan.
"Asal kamu tahu, untuk memperbaiki nama Abang, tadi Abang ngeluarin biaya 5 juta!! Itu nggak gratis, kalian harus kerja untuk menggantikan 5 juta tadi. Abang terima 2 jutanya, artinya masih kurang 3 juta lagi," lanjut Jovan.
"Tapi Bang, gimana caranya? Kami kerja apa?" tanya Mariska.
__ADS_1
"Jualan brownies," jawab Marissa yang sedari tadi hanya diam.
"2 juta yang tadi, aku ambil 500 ribu untuk modal. Kalian harus bisa menjual brownies yang aku buat, sampai nanti terkumpul keuntungan bersih sebesar 7 juta rupiah. Kalian mulai jualan akhir pekan ini, di car free day," lanjut Marissa.