
Mischa aka Marissa
Kevin aka Jovan
Kenzie aka Josie
Kenzo aka Jordan
Kelly aka Jovanka
Keanan aka Jorrian
Ravi aka Rakesh
"Bun, I gotta go!!"
Kevin berlari menuju pintu rumahnya dengan wajah panik dan bercucuran air mata, setelah mendapat kabar Kenzie kecelakaan, menjadi adegan pembuka film Cinta yang Hilang.
Pada 15 menit pertama, menggambarkan kesedihan mendalam yang dialami oleh keluarga Chen atas musibah kehilangan putra ke-dua mereka. Rasa frustasi Kevin saat itu yang berlari hingga kelelahan di malam yang diguyur hujan, berhasil menghipnotis penonton yang terdiam dan ikut menitikkan air matanya.
Lalu pada 30 menit ke-dua, dimulailah adegan kenangan masa kecil Kevin dan Mischa, yang berhasil merubah kesedihan pada awal film menjadi tawa para penontonnya. Berlibur bersama di Danau Toba, pun menjadi adegan yang penuh keseruan, dengan digambarkannya permainan yang mereka lakukan selama disana. Hingga tiba saat kepindahan keluarga Chen ke Singapura dan kecelakaan yang menimpa ibu Mischa yang menjadi awal hilangnya kabar Mischa.
Rasa frustasi Kania akan hilangnya jejak Mischa pun digambarkan dengan baik, sehingga menghipnotis para penonton yang terdiam dan menitikkan air mata karena ikut merasakan kesedihan yang mendalam.
Kemudian air mata kembali hadir, ketika cerita mulai kembali pada peristiwa kecelakaan yang menimpa Kenzie. Kesedihan mendalam disaat melepaskan kepergian salah satu anggota keluarga mereka untuk selamanya, tergambarkan dengan baik oleh para aktor. Seluruh anggota keluarga Chen pun kembali mengenang masa-masa penuh kesedihan itu.
Begitu juga dengan Jovan, rasa sakit kehilangan kakak sekaligus rivalnya itu masih jelas terasa di dalam ingatannya. Jovan pun merasa kembali berada di pemakaman Josie. Ia pun teringat, sudah hampir 6 bulan ia tidak mengunjungi makam Josie.
Marissa merasakan kesedihan dan ketegangan yang dirasakan Jovan. Ia pun menggenggam erat tangan Jovan yang dingin, lalu ia mencium punggung tangannya kemudian menyandarkan kepalanya di lengan Jovan.
Jovan pun kembali tersadar, setelah merasakan kehangatan bibir Marissa yang mengecup punggung tangannya. Ia lalu membelai kepala Marissa dan membisikkan kata, "Thank you, my love," yang membuat Marissa tersenyum dan memeluk lengan Jovan lebih erat.
Kemudian layar menampilkan adegan penulisan naskah film pendek Kevin, yang diawali dengan mengumpulkan buku harian Kenzie dan miliknya, juga dengan membuka foto-foto dan video lama kenangan mereka ber-4.
Proses pembuatan film pendek di Singapura dengan budget terbatas itu pun membuat kagum para penonton.
Adegan pun beralih pada keberhasilan Kevin menyelesaikan film pendeknya dan setelah film pendek Kevin selesai, ia berkesempatan untuk menayangkan perdana di ITS, di saat ia menjadi wakil alumni NTU.
__ADS_1
Adegan dimana Kevin melakukan presentasi film pendeknya di ITS, diawali dengan narasi keinginannya untuk dapat menemukan Mischa di sana, yang berujung tanpa hasil, membuat gemas para penonton yang menyaksikannya.
Cerita berlanjut hingga pada kesuksesan film pendeknya, yang membuatnya bertemu dengan Raja, pria yang berjasa dalam mengembangkan potensi tersembunyi Kevin, yaitu sebagai penulis novel.
Film yang berdurasi 100 menit itu pun berakhir dengan kesuksesan Kevin dalam karyanya, tetapi sayangnya ia masih belum dapat menemukan Mischa, cintanya yang hilang selama belasan tahun.
Pada bagian credit tittle, ditampilkan foto-foto asli kebersamaan keluarga Chen dan Marissa, juga lokasi tempat Josie dimakamkan di Singapura.
Gemuruh suara tepuk tangan memenuhi studio XXI, menandakan kepuasan mereka akan film yang dapat menggambarkan dengan tepat isi cerita dari novelnya.
Jovan pun didaulat untuk memberikan sambutan atas tayangan perdana film Cinta yang Hilang.
Setelah ucapan terima kasih sebagai kalimat pembuka, Jovan pun mulai bercerita sedikit banyak tentang keluarganya.
"Alhamdulillah, akhirnya film ini tayang juga, setelah hampir 4 bulan syuting di 4 lokasi berbeda, yaitu Jakarta, Surabaya, Medan dan Singapura. Jujur saja, film ini melebihi ekspektasi saya. Entah berapa kali saya harus menghapus air mata karena terbawa emosi."
"Hari ini juga merupakan hari yang sangat berbahagia untuk saya sekeluarga, karena dapat mengenang salah satu anggota keluarga kami yang telah tiada, Bang Josie, I love you, Bang! We love you so much and really-really missed you," kalimat Jovan pun terhenti, karena menahan tangis dalam mengenang Josie.
Jovan pun membelakangi penonton dan mengangkat kepalanya agar air matanya berhenti mengalir. Jordan bangkit dari kursinya dan menghampiri Jovan untuk memberikan support. Kedua bersaudara ini pun berpelukan erat dengan disaksikan oleh seluruh penonton dan awal media yang meliput.
Setelah Jovan berhasil mengendalikan emosinya, ia pun kembali berbicara.
"Stay here, Bang," pinta Jovan kepada Jordan agar tetap berada di sampingnya.
"So, ini my only brother left, Bang Jordan, the wise guy as always. Bang Jordan is my biggest support and he was the person who pushed me to write the story. He gave me a lot of advices and much more that I couldn't say how much that means to me. Bang Jordan is a pilot captain of Singapore National Aircraft, yang menyempatkan datang di tengah kesibukannya terbang menjelajahi dunia dengan gratis, malah dibayar mahal, pakai banget!! Thank you, Bang."
"Well kalau begitu, sekalian saya perkenalkan my best parrent ever, bapak Jorrian dan ibu Jovanka. Yah, Bun silahkan maju," pinta Jovan yang diiringi dengan tepuk tangan para penonton.
Jorrian dan Jovanka pun berdiri dan berjalan menuju ke depan layar.
"So perkenalkan, ini ayah saya, Bapak Jorrian Chen dan ini ibu saya, Ibu Jovanka Hardy. Jadi tahu kan asal ketampanan saya," seketika itu Jordan dan Jorrian menghujani Jovan dengan pukulan menggunakan gulungan kertas brosur film.
"Ini pujian!! Kok aku diserang ??!!" protes Jovan setengah berteriak dan adegan tersebut berhasil memecahkan suasana kembali.
"Lepas maskernya, Bang!!!" teriak salah satu penonton kepada Jovan.
"Iya, Bang!! Biar keliatan miripnya," sahut yang lainnya.
__ADS_1
"Jelas mirip, tapi tetap saya juaranya kalau masalah gantengnya, karena adonannya sudah teruji 2 kali," canda Jovan yang kembali membuat Jordan memukulinya dengan gulungan kertas.
"Kalian tahu kan, bagaimana masa kecil mereka setelah melihat adegan ini?" canda Jorrian kepada penonton yang mendapatkan sambutan tepuk tangan dan tawa yang meriah.
"Bang, buka dong maskernya!!" teriak sala satu penonton lagi.
"Maaf yaa, cukup setengah wajah saja," tolak Jovan kembali yang membuat penonton kecewa.
"But, kalau kalian beli novel ke-dua saya, yang baru hari ini realese, kalian bisa lihat foto saya di halaman paling belakang," lanjut Jovan yang sekaligus mempromosikan novel ke-duanya.
"Untuk yang hadir pada premiere film hari ini, akan mendapatkan gratis novel ke-dua saya, 'Menemukan Cinta yang Hilang', yang bertanda tangan eksklusif dari saya, disini langsung," tambah Jovan.
Para penonton pun menyambutnya dengan gembira. Keinginan tahuan mereka akan pertemuan Kevin dan Mischa hingga menikah pun menjadi daya tarik penjualan novel.
"Bang, Mischanya dimana? kok nggak kelihatan?" tanya salah satu penonton.
"Ada disini juga, tuh lagi asyik makan pop corn, tapi maaf yaa, wajahnya tidak untuk khalayak ramai, hanya untuk saya saja," jawab Jovan.
Jawaban Jovan pun membuat penggemarnya bersautan bersiul.
"Boleh tanya ke Mbak Mischa?" tanya salah satu penonton.
Marissa pun memberikan tanda 'oke' melalui jarinya kepada Jovan.
"Silahkan," jawab Jovan sambil berjalan menghampiri kursi Marissa dengan membawa microphone.
"Mbak, kita semua kan penasaran dengan sosok mbak yang berhasil mengikat hati Bang Jovan selama bertahun-tahun, kenapa Mbak nggak ikutan nulis novel, yaa semacam jawaban dari novelnya Bang Jovan. Versi Mbak Mischanya gimana?" tanya penonton.
Marissa pun memicingkan matanya lalu melihat ke arah Jovan untuk meminta persetujuannya.
Jovan pun memberikan gesture agar Marissa menjawabnya sendiri sesuai dengan pendapatnya.
"Hmmm, jujur sih saya tidak terfikir untuk menuliskan jawaban atau cerita versi saya, but kalau dipikir-pikir , hmm why not? siapa tahu versi Mischa lebih menghebohkan dunia persilatan ini kan? so sure, I take the challenge! sorry Bang," jawab Marissa.
"All right, lanjut ke versi jawaban. Pak Rakesh!!" sahut Jovan.
"Sure, nanti kita siapkan kontraknya!" jawab Rakesh.
__ADS_1