Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 63 Jumpa Pers


__ADS_3

Sesuai dengan informasi dari Bian, tepat pukul 13.00, Jovan dan Marissa kembali ke area akad nikah mereka tadi, ditemani oleh Bian dan Jordan, serta pengawal pribadi mereka.


Reporter dari berbagai media telah berkumpul kembali menantikan jumpa pers yang akan diadakan oleh Jovan.


Bian selaku moderator pun mulai membuka acara.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wa syukurillah, pagi ini, tepat pada pukul 10.00 pagi, telah diselenggarakan akad nikah antara Jovan Ahmad Chen dengan Marissa Shafeeya. Setelah keduanya melaksanakan nikah siri di kediaman Marissa 4 hari yang lalu."


"Silahkan, sebutkan nama dan asal media sebelum bertanya dan 1 media cukup 2 pertanyaan," lanjut Bian membuka sesi wawancara.


"Silahkan kepada media yang mendapat urutan pertama," ucap Bian.


"Saya Ardi, dari Rumm-ors. Selamat saya ucapkan untuk Mas Jovan dan Mbak Marissa. Pertanyaan saya adalah apakah Mbak Marissa ini si Cinta yang Hilang?"


"Terima kasih atas ucapannya dan benar, Marissa adalah cinta yang hilang," jawab Jovan penuh senyum.


"Berarti tujuan Anda menulis buku, telah membuahkan hasil yang sesuai dengan harapan?" tanya Ardi lagi.


"Alhamdulillah, semua ini tidak akan terjadi tanpa izin Allah. Jadi, saya akan meluruskan masalah ini, bahwa novel saya adalah media untuk menemukan Marissa. Tetapi, bukan karena novel saya, kami dapat bertemu kembali, karena pada kenyataannya kami telah bertemu dan saling mengenal beberapa bulan sebelum akhirnya saya menyadari bahwa Marissa adalah wanita yang saya cari selama ini," jawab Jovan.


"Silahkan kepada urutan 2," ucap Bian.


"Saya Cahya, dari Kaypo.com, apakah pada saat kalian berdua menyadari jika inilah orang yang dirindukan selama ini, kalian segera mengungkapkan perasaan kalian?"


Marissa dengan sigap segera menjawabnya, "Langsung dilamar, besoknya langsung ke WO."


"That's how a man do the right thing!!" ucap Jordan sambil menyalami sambil menepuk-nepuk bahu Jovan.

__ADS_1


Para media pun kembali tertawa menyaksikan kedua kakak beradik ini.


"Lalu bagaimana dengan video akad yang diputar tadi, mengapa akad 4 hari sebelum hari ini atau mengapa dipercepat?" tanya Cahya kembali.


Kali ini Jovan segera menjawabnya dengan ekspresi serius sambil menggenggam tangan Marissa.


"Kami sebetulnya tidak merencanakan sebelumnya, tetapi dikarenakan sesuatu hal, yang tidak dapat saya ungkapkan sekarang masalahnya, maka orang tua saya mengambil keputusan untuk menggelar akad pada malam itu. Itu semua untuk ketenangan dan keselamatan Marissa, tentu saja termasuk saya agar bisa segera memberikan ketenangan untuknya."


"Dapat kalian semua lihat dan perhatikan, disekitar kami selalu di jaga oleh pria-pria berpakaian hitam dan bertubuh besar. Mereka ada pengawal pribadi kami dan keluarga yang Pak Mario pekerjakan untuk melindungi kami," jelas Jovan.


Jawaban Jovan seketika membuat awak media saling berpandangan dan bertanya-tanya akan maksud dari pernyataannya.


"Apakah ada ancaman untuk Anda??" tanya Cahya.


"Bukan untuk saya semata tetapi dikhawatirkan saja, pengamanan ini lebih diutamakan pada keselamatan Marissa dan ayahnya," jawab Jovan.


Keriuhan sesaat pun terjadi kembali, hingga Jovan berbicara, "intinya, lebih baik menjaga daripada mengobati. Sedia payung sebelum hujan."


"Silakan pertanyaan selanjutnya."


"Saya Jicho, dari Story.com, jadi bagaimana akhirnya Anda menyadari jika Mbak Marissa ini adalah wanita yang membuat Anda menulis novel?"


"Setelah saya pertemukan Marissa dengan kedua orang tua saya. Ibu dan ayah saya, segera mengenali Marissa karena ia mirip dengan ibunya. Kalian pasti berfikir, kenapa saya tidak mengenalinya?"


"Yaa, mungkin ini memang cara Allah, mungkin memang seperti inilah jalan yang harus kami tempuh untuk membuat ceritanya lebih berbumbu lagi," canda Jovan yang memecahkan suasana.


"Jadi begitu Anda menyadarinya, Anda segera melamarnya?" tanya Jicho lagi.

__ADS_1


Pertanyaan Jicho pun membuat Jovan dan Marissa tertawa, begitu juga dengan Jordan.


"Maaf, untuk pertanyaan ini lebih baik saya yang menjawabnya," ucap Jordan.


Kamera pun mengarah ke Jordan.


"Saya Jordan, kakak dari Jovan. Jadi, ini adalah salah satu kelemahan dan kebodohan Jovan yang paling membuat saya terhibur," lanjut Jordan sambil tertawa.


Jovan dan Marissa pun memandang Jordan dengan tatapan penuh tanya.


"Well, mungkin Jovan adalah yang tertampan, tetapi untuk urusan otak saya yang tercerdas," canda Jordan yang kembali mengundang tawa, tetapi tidak dengan Jovan yang memberikan lirikan tajam ke arah abangnya.


"You have to admitt it, Van. I'm the Captain, right?" canda Jordan lagi.


"Kenapa aku merasa seakan-akan di roasting, yaa?" ucap Jovan.


"Yaa, kamu siap-siap aja, but no. Hmmm so, kenapa Jovan tidak mengenali Marissa? Yaa karena mereka berpisah ketika Marissa masih kanak-kanak, baru berusia 10 tahun. 13 tahun kemudian, bertemu kembali pasti sudah mengalami perubahan bentuk fisik yang cukup signifikan, saya juga tidak akan segera mengenali Marissa, jika tidak melihat foto-foto masa kecil kami dan karena Marissa mirip dengan ibunya rahimahullah sehingga orang tua kami dengan mudah mengenalinya segera. Sementara Jovan, ingatan akan wajah yang selama 13 tahun terpisah pasti juga menghilang. Jadi yaa wajar jika mereka tidak saling mengenal ketika awal bertemu kembali," jelas Jordan.


"Saat kami pindah dari Jakarta ke Singapura, Jovan masih SMP usianya baru 13 tahun, sedangkan saya hampir 19 tahun, jadi ingatan untuk masa-masa kami tinggal di Jakarta lebih terekam dengan baik dalam ingatan saya. Dapat dikatakan, saya adalah orang yang merekatkan mereka kembali, karena mereka berdua ini.....," Jordan pun menghentikan kalimatnya dan memandang heran ke arah Jovan dan Marissa sambil menggelengkan kepalanya, yang membuat Jovan dan Marissa tertawa.


"Mereka berdua sering membuat kami speechless. Seperti yang kalian lihat tadi saat sesi pemotretan atau ucapan selamat, saya cuma kasihan sama bodyguard kalian, mimpi apa mereka sampai dapat tugas untuk mengawal kalian berdua," lanjut Jordan.


Bian pun ikut mengungkapkan isi hatinya.


"Laaa, gimana saya, Bang? Waktu Bang Jovan masih PDKT ke mbak Rissa, kan saya kacungnya. Pesanin makanan, bawain tas belanjanya, ngecek kabarnya, serius!! Itu kerjaan saya semua," protes Bian yang membuat Jovan semakin panas, sedangkan awak media mendapatkan hiburan gratis dari 3 pria tampan dihadapan mereka.


"Yaaa maafkan adik saya, Jovan sedari kecil memang yang paling iseng dan korban keisengan abadinya yaa Marissa, but I think sekarang sudah berbalik, Jovan sering mati kutu dengan serangan balik Marissa. Nice job, Sis!!" ucap Jordan sambil memberikan jempol ke arah Marissa.

__ADS_1


"Anytime, Big Bro!!" jawab Marissa dengan gaya yang sama.


"Dan aku pun menyesal, telah menunjuk kalian untuk berbicara mewakili diriku ini," ucap Jovan dengan nada lemas dan wajah tertunduk, tetapi hal itu membuat suara gemuruh tawa memenuhi ruang.


__ADS_2