
Marissa akhirnya menemukan sebuah rumah yang sesuai dengan apa yang ia inginkan. Rumah 2 lantai, bergaya minimalis dengan nuansa putih menjadi pilihannya di sebuah perumahan mewah di ujung timur jakarta.
Setelah Bian menyelesaikan masalah pembayaran, Marissa mulai melakukan beberapa perubahan pada desainnya.
" Ris, nanti kamu sekalian belanja isi rumahnya, kamu lengkapi aja "
" Bang, aku buatin kitchen set, built-in storage sekalian, boleh?? "
" Just like I said, kamu atur semua yang kamu mau, just like your dream house "
" Hiks hiks hiks my dream house but you're the one who's gonna live there "
Jovan pun tertawa.
" Ris, you can too. Kan sementara ini aku masih full di Singapore, belum tahu juga pindahnya kapan. Sementara ini, kalau kamu mau tinggal disitu juga boleh "
" No thank you, Bang. Itu rumah di hook, 2 lantai, 4 kamar, side yardnya luas juga. Aku sendirian??? big no no. Takut lah sendirian tinggal disitu, lagian jauh dari kantor "
" Weekend kan bisa nginap disitu, mungkin mau gathering sama teman-teman kantor. Nah iya, buat acara kantor kan bisa dipakai "
" Yaaa itu sih lihat nanti aja Bang. Eh !! ini akan menjadi aneh, ketika ownernya malah belum ngelihat rumahnya langsung trus aku sudah berasa ownernya aja. Ga laaaah "
" Terserah kamu aja "
" Abang kapan kesini?? "
" In syaa Allah nanti Abang kabarin kalau ke Jakarta "
2 pekan kemudian,
" Alhamdulillah!!! it's finished!!! " ucap Jovan dari dalam kamarnya, setelah 2 pekan kepulangannya dari Jakarta.
Akhirnya Jovan berhasil menyelesaikan novel keduanya, setelah hampir 4 bulan ia menulis dengan menyusun semua kepingan-kepingan memori, kemudian perasaan yang berubah dipertengahannya membuat dirinya pun tidak dapat menebak akhir dari ceritanya.
" Bunda boleh baca duluan ga?? " tanya Jovanka yang sedang santai di ruang keluarga.
Jovan pun berseluncur menggunakan kursi kerjanya menuju pintu kamarnya.
" Bunda mau baca?? "
" Iya, boleh ga?? "
" Aku print dulu yaa, " jawab Jovan sambil kembali berseluncur ke arah meja komputernya.
" Berapa halaman?? "
" 265."
" Ga kurang banyak itu halamannya, Van?? "
" Hmmm ini aja masih menyisakan misteri dimanakah Icha. "
" Jadi ceritanya tentang apa dong?? "
" Awalnya yaaa pencarian Bang Josie trus usaha aku sampai ke Jakarta dan akhirnya aku ketemu Risa. Awal perkenalan, sampai akhirnya aku jatuh cinta. "
" Aaaaahhh.... Bun, pekan depan kita ke Jakarta yaa, aku sudah beli rumah di sana. Trus, lamarin Risa buat aku ya, Bun "
" Kamu beli rumah di Jakarta?? "
" Iya, Bun. Ini foto-fotonya "
Jovan pun memperlihatkan foto-foto rumahnya yang dikirim oleh Marissa kepada ibunya.
" Ini rumah mewah!! berapa milliar?? "
" Jangan marah ya Bun, it's about 3,1 milliar rupiah sudah termasuk furniture, lemari, tempat tidur dan semuanya "
" Jovaaaaaaan Ahmad Cheeeeeen!!!! "
" Honey!!! your youngest son just bought a 3 billions rupiah mansion in Jakarta!!! "
" 3 billions !!! are you kidding me!!! "
__ADS_1
" How much money do you make from books and movie?? how much you have in your account right now!!! "
Jorrian yang sedang bersantai di kamarnya pun akhirnya keluar mendengar Jovanka berteriak marah kepada Jovan.
" Ada apa?? Why are you so angry?? "
" Look, your beloved youngest son, just bought 3 billions rupiah mansion in East Jakarta!!! 3 billions rupiah!! "
" What? 3 billions? wait how much in our dollar? "
"About 300 ribu, Yah."
"Kamu punya uang berapa?bisa-bisanya kamu beli rumah seharga lebih dari 300 ribu dollar?" tanya Jorrian.
"Dari penjualan novel yang pertama I made about 500 juta rupiah. Belum termasuk interview beberapa majalah dan televisi. "
" Kamu dibayar untuk interview?? "
" Untuk TV iya, majalah ada yang iya ada yang ga. "
" Untuk filmnya, they paid 3 billion rupiah. Nanti setelah tayang, dapat lagi sekitar 10% dari keuntungan filmnya "
" Untuk buku ini yang kedua ini, aku sudah terima 50 juta rupiah "
" Oiya dari short film itu, I made around 75 thousands dollar "
" Jadi jumlah uang di rekening kamu berapa?? " tanya Jorrian.
" 425 ribu dollar "
" Bang, anak kita ini kaya kok kita ga tahu yaa?? kemana-mana masih pakai skuter, naik pesawat masih yang ekonomi. Kamar masih begituuuu aja bentuknya selama bertahun-tahun "
" Pantesan Jordan minta diajak liburan, padahal gaji dia sebagai pilot juga ga kecil," ucap Jovanka.
"Gaji Jordan jelas nggak kecil, apalagi dia sudah pilot senior, kan? he is a captain apalagi dia S2 juga. Jadi berapa gajinya perbulannya?" tanya Jorrian.
"Gaji abang 19 ribu, Yah," jawab Jovan.
"Anak-anak kita kaya, tapi kok kita nggak tahu yaa, Bang?" tanya Jovanka.
"InsyaAllah Yah," jawab Jovan.
"Oiya, CV-nya mana?" tanya Jovanka.
"Nanti langsung pada saat bertemu aja di rumah," jawab Jovan.
"Nanti aku minta dia datang ke rumah. Bunda kenalan dulu. Walinya dia di Surabaya, jadi nanti kita ke Surabaya," lanjut Jovan.
"Kamu sudah yakin akan pilihan kamu? yakin nggak akan mencari Icha lagi??" tanya Jovanka.
"In syaa Allah, Bun," jawab Jovan.
"Ya sudah. Kamu sudah bilang ke Jordan?" tanya Jovanka.
"Belum. Malam ini aku mau ke apartemennya bang Jordan," jawab Jovan.
"Ngobrollah sama Jordan. Oiya, kapan ke Jakarta??" tanya Jovanka lagi.
"Weekend ini, Jum'at sore," jawab Jovan.
"Bunda tunggu tiketnya saja," ucap Jovanka.
"Siap, Bunda sayang," jawab Jovan.
Pada malam harinya, Jovan pergi menaiki skuter maticnya untuk mengunjungi Jordan di apartemen, tak lupa ia membeli prata dengan aneka ragam isi dan kaya toast untuk keluarga kecil Jordan.
"Tengok uncle Jovan bawa apa niii," ucap Jovan sambil memeluk keponakan mungilnya.
"Abang mana, Kak?" tanya Jovan kepada Jessi, istri Jordan.
"Tuh," tunjuk Jessi ke arah pintu.
"Assalamu'alaikum," salam Jordan.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam."
"Lah baru pulang, Bang?" tanya Jovan.
"Iya, tadi ada rapat sebentar. Bawa apa?" tanya Jordan tanpa basa-basi.
"Haadeee kebiasaan! 'tuh ada prata sama kaya toast," sungut Jovan.
"Alhamdulillah, makasih. Aku mandi dulu yee," ucap Jordan.
Beberapa saat kemudian, Jovan dan keluarga kecil Jordan tengah duduk bersama untuk menikmati makan malam.
"Bang, novelnya sudah selesai. Sudah aku kirim ke email Abang," ucap Jovan.
"Alhamdulillah, nanti aku baca. Trus, kapan kamu mau ke Jakarta?" tanya Jordan.
"Weekend ini, Jum'at sore," jawab Jovan.
"Wait, sudah booking tiket?" tanya Jordan.
"Belum," jawab Jovan.
"Abang bookingin aja, nanti biar dapat diskon," ucap Jordan.
"Siapa saja berangkat?" tanya Jordan.
"Ayah sama ibu ikut," jawab Jovan.
"Hmm Jum'at itu...4 hari lagi. Aku cuti deh, I want to see her too," ucap Jordan.
"Jes, kita liburan semalam di Jakarta, Sabtu siang kita balik, karena abang sudah ada jadwal terbang ke Jepang," ucap Jordan.
"Finally, eh apa bahasa Indonesianya?" tanya Jessi.
"Liburan tipis-tipis," jawab Jovan.
"Tipis tapi ke luar negeri? itu nggak tipis, Van," protes Jordan.
"Kamu nginap dimana?" lanjut Jordan.
"Langsung di rumah. Aku sih sudah minta dia atur sesuai selera dia. Nih foto-fotonya," tunjuk Jovan pada foto-foto rumahnya di Jakarta.
"She's kind of excited, when I said semua desainnya sesuai dengan seleranya, though dia bingung but she's happy," tambah Jovan.
"Waaah, how much? ini rumah pasti mahal,kan?" tanya Jordan.
"3 M, Bang," jawab Jovan.
"Waaaaaah, wait berapa dollar?" tanya Jordan lagi.
"Sekitar 300 ribu," jawab Jovan.
"Kamu kaya, just from writting ?!"
"Yaaa begitu deh, dah yaa nggak usah dibahas. Tadi sudah dibahas sama ayah-ibu, capek ngejelasinnya," protes Jovan.
"Okay. Anyways, can't wait to see her reaction when you propose ," ucap Jordan.
"Semoga diterima ya, Bang," ucap Jovan penuh harapan.
"If she's smart, she will," jawab Jordan.
Keesokan paginya Jovan meminta Bian untuk mengurus kedatangannya dengan menyiapkan rumahnya.
"Saya sudah kirim jadwal kedatangan saya yaa. Tolong kamu siapkan rumahnya, saya mau langsung nginap disana. Tolong siapkan 3 kamar," pesan Jovan kepada Bian.
"Jum'at jam 6 sore saya sampai Soetta, saya datang ber-6," lanjut Jovan.
"Oke Bang, nanti makan malam langsung di rumah atau mau mampir makan dulu ?" tanya Bian.
"Makan malam dulu, lalu kita ke rumah," jawab Jovan.
"Bang, jangan lupa, Ahad pagi ditunggu Pak Rakesh di rumahnya, untuk persiapan konferensi pers filmnya," ucap Bian.
__ADS_1
"Iya nanti saya hubungi Pak Rakesh. Jadwal saya padat nih nanti. Oiya tolong isiin kulkasnya yaa," pinta Jovan.
"Tenang, kulkas dan dapur akan ku isi semua," jawab Bian.