
Langkah berayun lebih dalam menapaki rumah yang hampir satu bulan ini tak ia sambangi. Rindu, sedih, senang bercampur menjadi satu. Ia bisa kembali dengan keadaan sehat, membawa dua penghuni baru yang akan meramaikan keluarga kecil mereka.
Dalam dekapan hangatnya, tuan putri yang masih kecil ini tertidur dengan nyaman. Dan satu tuan putri yang lainnya, menatap sang Ayah yang sedari tadi terus menciuminya.
Hari ini adalah hari Aqiqah untuk si kembar, sekaligus syukuran atas kesehatan yang sudah diberikan Tuhan kepada Arini dan juga kedua bayinya.
"Kalian sudah datang... sini biar Ibu gendong...," Ibu Rania memilih putri kecil dari pangkuan Radit karena ia yang masih terjaga,"... aduh cucu Oma yang cantik, kok nggak tidur sayang." Seraya mencium hidung mungilnya.
"Persiapannya sudah selesai Bu?" Tanya Radit.
"Hampir sembilan puluh lima persen.... tinggal persiapan yang sedikit-sedikit saja."
"Ibu jangan kecapean ya, nanti sakit." Ucap Arini.
"Sama sekali nggak capek, lagian kan ada Anggun dan Dito juga yang bantuin. Malahan kayaknya mereka deh yang kecapean... tuh" Tunjuk Ibu Rania yang mengarahkan wajahnya kepada Anggun dan Dito.
Radit dan Arini memperhatikan Anggun dan Dito yang kesana kemari membawa perlengkapan yang masih disiapkan. Mereka memang selalu bisa diandalkan, pantas saja WO yang mereka bangun bersama bisa cepat berkembang, karena mereka merupakan tipe pekerja keras.
"Ayo sana kalian istirahat dulu, biar nanti sore bisa fresh. Biar cucu Oma yang satu ini bisa main-main dulu sama Oma... ya sayang." Melihat bayi dalam pangkuannya sambil menciumnya kembali dengan gemas.
"Iya Bu... kalau gitu kita ke kamar dulu."
Sampai dikamar Arini menidurkan putri kecilnya didalam box bayi.
Radit melempar tubuhnya di ranjang, akhirnya ia bisa berbaring nyaman di tempat tidurnya lagi.
"Sayang sini...." Radit menyampirkan badan sambil menepuk-nepuk bantal yang ia pakai untuk menumpukan tangannya.
Arini yang masih memandangi putri kecilnya yang tertidur lelap, menoleh dan berjalan mendekat.
"Kok malah duduk disana, sini tiduran sama aku."
Arini memundurkan badannya, dan tidur disamping Radit.
"Aku kangen tidur sambil meluk kamu kayak gini." Ucapnya manja dengan tangan melingkar, memeluk Arini dengan erat.
Arini tersenyum, perlahan membalikan badannya melihat Radit.
"Mas udah dapet nama untuk mereka?"
"Udah."
"Kok belum bilang kalau udah dapet." Seraya mencubit pipi Radit.
"Jangan dicubit dong, tapi di elus."
Arini tertawa," Ih manja."
Radit mendekatkan hidungnya ke pipi Arini, mengendus-ngendus bau harum yang selalu dia rindukan.
"Mas ih siapa, cepetan kasih tahu." Arini menjauhkan wajahnya.
Radit berhasil mencuri satu kecupan dari bibir Arini yang terasa manis di mulutnya.
"Mas ih cepetan, aku pengen tahu."
Radit mengelus pipi Arini, menatap kedua bola mata yang dihiasi bulu mata lentiknya," Nama mereka Nakesha dan Naresha, aku ambil dari bahasa Sanskerta."
Mata Arini berbinar," Oh ya... artinya apa?"
"Nakesha itu Dewi Surga, kalau Naresha itu Dewi kemanusiaan."
Senyum Arini semakin melebar," Nggak pake nama panjang?"
"Pake dong... nama panjangnya aku ambil dari nama kita berdua."
Arini semakin penasaran," Apa?"
__ADS_1
Radit menyentuh dagu Arini," Radit Arini... Raditari."
Arini semakin senang," Nakesha Raditari dan Naresha Raditari... nama yang cantik, makasih sayang." Ucap Arini.
Mereka saling berpelukan, hingga akhirnya suara tangisan dari Box bayi terdengar sangat nyaring.
Dengan cepat Arini turun dari ranjang, menghampiri putri kecilnya.
"Halo Nakesha... aus ya mau mimi." Arini mengangkat bayi dalam Box kemudian membawanya untuk duduk di tepi ranjang.
Arini membuka kancing dressnya dan mengeluarkan buah dada untuk dia susukan kepada Nakesha.
Radit bangun, ikut duduk dengan mengukung tubuh Arini dari belakang, menyimpan dagu dipundaknya memperhatikan sang buah hati yang sepertinya memang sangat kehausan.
"Sayang...."
"Hemm..."
"Tadi Aditya telepon, hari ini vonis hukuman buat orang yang sudah nabrak kamu."
Arini melihat kesamping," Memang siapa sih Mas orangnya?" Penasaran karena Radit belum juga memberitahunya dengan alasan kondisi Arini yang masih belum stabil.
"James..."
Kening Arini berkerut," James?"
"James temen aku, selingkuhannya Valery, mantan istri Aditya."
Arini terkejut bukan main, tidak habis pikir kenapa mereka bisa mempunyai rencana untuk mencelakainya.
"Valery menyangka kalau kamu dan Aditya sudah menikah, dan bayi dalam kandunganmu, itu anak Aditya. Lalu Valery memonta James untuk menabrakmu dengan imbalan akan dipertemukan dengan anak mereka yang disembunyikan oleh Valery, dan bodohnya James mau melakukan itu. Begitu informasi yang aku dapat dari Aditya."
"Kenapa ada orang yang sejahat itu ya Mas."
"Biarkan hukum yang membalas perbuatan mereka. Mereka sudah hampir membuat aku kehilangan kalian semua." Seraya mencium pundak Arini.
Acara yang ditunggu-tunggu pun sudah tiba, semua tamu undangan sudah hadir memenuhi tempat duduk yang sudah disediakan, mulai dari tetangga, kerabat dan para sabahat.
Acara dimulai dengan siraman rohani yang disampaikan oleh Bapak Ustadz yang tinggal disekitar rumah mereka, dilanjutkan doa dan kemudian pemotongan rambut si kembar, Nakesha dan Naresha.
"Selamat ya Rin, Mas Radit.... semoga Narkesha dan Naresha jadi anak yang solehah." Ucap Gea.
"Amiinn... makasih ya udah mau nyempetin datang." Tutur Radit.
"Itu mah harus dong, masa selametan ponakan nggak datang sih."
"Jadi kapan dong kamu nyusul?" Goda Arini.
"Nunggu dilamar dulu."
"Sama siapa?"
"Emmm... sama siapa ya?"
Tak lama Aditya dan David berjalan kearah mereka. Walaupun telat, mereka mengusahakan untuk hadir merayakan suka cita Radit dan Arini.
"Sama Abang David ya?" Bisik Arini ditelinga Gea.
Gea tersenyum malu," Maunya sih gitu." Seraya menutup mulutnya.
Gea memandang David yang seperti biasa selalu bersikap dingin kepada semua orang yang berjenis kelamin perempuan.
"Rin... Radit, selamat ya... maaf aku terlambat, aku tidak bawa hadiah yang bagus untuk mereka, hanya membawa ini saja sesuai janjiku kepada Arini waktu itu."
David menyerahkan kotak persegi panjang yang sama dengan hadiah yang dia berikan pada saat pernikahan Arini dan Radit waktu dulu.
"Makasih ya Dit, mereka pasti senang dapat hadiah sebagus ini dari Omnya." Ucap Arini.
__ADS_1
"Sama-sama."
"Kalau kamu mau, kamu bisa memasangkannya untuk Naresha." Ujar Radit yang memang sedang memangku Naresha.
"Jadi namanya Naresha?"
"Iya Pah... yang sama Ayah itu ade Naresha dan yang sama Bunda Ade Nakesha." Jawab Nuno yang tiba-tiba datang menghampiri Aditya dengan memegang ice cream ditangannya.
"Nama yang cantik... Nuno harus jagain adenya ya?"
"Pasti dong." Seraya masuk dalam dekapan Aditya.
Gea membantu Arini membuka kotak ya g diberikan Aditya dan satu kotak lagi yang sudah lebih dulu diberikannya. Satu set perhiasan berukuran kecil, berupa kalung, gelang, anting dan cincin. Ditambah lagi mahkota yang terbuat dari berlian, mirip mahkota untuk putri di negeri dongeng.
"Kamu mau pakaikan untuk mereka?" Tanya Arini.
"Tentu..." Dengan senang hati Aditya memakaikannya satu persatu.
"Putri kalian sangat cantik... perpaduan kalian berdua." Ujar Aditya.
"Tapi sepertinya lebih banyak mirip Arini daripada aku." Jawab Radit yang memperhatikan wajah Naresha.
"Banyak mirip Mas deh kayaknya." Timpal Arini.
"Masa sih?"
"Udah-udah... yang jelas itu, mirip kalian berdua. Orang kalian berdua yang buat kok." Sela Anggun yang datang dengan Dito dan juga Erika untuk ikut bergabung bersama mereka.
Mereka semua tergelak, berkumpul dan bercengkrama yang sesekali diselingi canda dan tawa yang dilontarkan Anggun dan Dito.
Gea duduk mendekati David yang sedari tadi diam mendengarkan.
"Bang David nanti malam ada acara nggak?"
David menoleh, baru saja mau menjawab, Erika langsung menyerobot duduk ditengah-tengah mereka.
"Ada... David mau makan malam dirumahku, karena kemarin nggak jadi terus."
Gea menatap tajam Erika, ingin sekali mencakar wajahnya saat ini juga.
"Kenapa.... ada masalah?"
"Aku tanya sama Bang David bukan kamu." Jawab Gea sengit.
"Aku hanya bantu jawab."
"Belum tentu juga Bang David mau datang kerumahmu."
"Dia pasti mau, karena dia sudah janji kepada Papahku."
"Bohong."
"Itu bener."
"Bohong."
"Itu bener."
David yang mulai pusing dengan tingkah mereka, memilih beranjak pergi menjauh. Erika dan Gea yang melihat David pergi langsung kelimpungan.
"Daviiiiid...." Teriak Erika.
"Bang Daviiiiid...." Teriak Gea.
..........................................................
..........................................................
__ADS_1
....................................Bersambung......