
Dengan hati berbunga-bunga, Jovan pergi menuju gedung apartemen mertuanya. Hatinya sudah tak sabar lagi untuk bertemu dengan istri sekaligus kekasih pujaan hatinya.
"Om Adam, buruan dong nyetirnya!"
"Mas, kalau mobilnya ada mode terbang, saya langsung pakai Mas. Jalanan padat begini, kok disuruh cepet-cepet ?"
Jovan pun mengambil hpnya, lalu menekan fitur flight mode.
"Udah nih, Om," ucap Jovan sambil menunjukkan hpnya yang sudah dalam flight mode.
"Alhamdulillah, mas Jovan sudah kembali normal senormal-normalnya!"
"Udah yuk, buruan Om!"
Adam pun segera melajukan kendaraannya menuju apartemen Mario. Tetapi belum setengah jalan, ia kembali harus mengurangi kecepatannya, karena kepadatan lalu lintas yang dilaluinya, sehingga laju kendaraannya tersendat.
Rasa hati yang tidak karuan, membuat Jovan menghubungi Faisal, "Bang, Icha ada di apartemen?"
"Ada Mas, mbak Risa lagi latihan."
"Latihan? Latihan apa?"
"Mas Jovan lihat sendiri aja nanti."
"Eh nggak dijawab! Icha latihan apa?!"
"Mas Jovan lihat langsung aja nanti. Eh Mas, maaf, saya ditelfon Pak Mario," jawab Faisal yang kemudian menutup sambungan teleponnya.
"Eeeh sopan! Kok bisa-bisanya ditutup?!" geram Jovan.
"Om, buruan dong!"
"Mas, kalau saya punya ilmu untuk menghilangkan semua kendaraan di depan, saya langsung pakai Mas! Tapi kan, saya nggak bisa. Sabar aja Mas, in syaa Allah nggak sampai satu jam juga nyampe," jawab Adam.
"Ish, normalnya 25 menit juga sampe!" protes Jovan.
Jovan pun harus pasrah dengan kepadatan lalu lintas di sore hari, dimana ia harus bersaing dengan kendaraan-kendaraan lainnya yang memenuhi lalu lintas ibu kota.
Sementara itu, Faisal memberi tahu kepada Silla akan kedatangan Jovan sesaat lagi.
"Sekarang kan macet, palingan 45 menit sampai satu jam baru sampai."
"Aku perlu bilang ke Risa, nggak?"
__ADS_1
"Nggak usah, biar kejutan, tapi kita harus siap dengan segala kemungkinan reaksi Risa yang nggak pernah bisa ditebak," jawab Faisal.
"Abang terkadang juga lebay. Memangnya Risa mau ngapain, apa mungkin dia ngeluarin jurus tahan banting ke Jovan? Paling juga nanti begitu ketemu, langsung lari meluk," sahut Silla santai.
Sementara itu, Marissa masih terus berlatih menendang dan memukul samsak yang berayun-ayun di depannya.
"Mbak, istirahat dulu," ucap Silla sambil memberikan botol minum untuk Marissa.
Dengan peluh yang membasahi wajah dan seluruh tubuhnya, Marissa menuruti ucapan Silla.
Marissa kemudian menenggak hampir setengah isi botol tersebut.
"Alhamdulillah, rasanya seger banget ! Makasih mbak Silla."
"Sama-sama. Istirahat dulu, Mbak. Kita duduk di sini," ajak Silla yang kemudian duduk bersila di atas matras.
Marissa pun mengikuti ajakan Silla dengan duduk di sampingnya.
"Mbak, kalau mbak Risa ketemu mas Jovan, apa yang pertama kali mbak lakukan?"
"Hmm, apa yaa? Aku juga bingung mau ngapain. Takut abang masih bingung, nanti salah lagi. Kalau nanti tiba-tiba, aku dikira mak Lampir kan berabe," canda Marissa.
"Mbak Risa masih aja bercandanya aneh," sahut Silla sambil menggelengkan kepalanya.
Sementara itu, setelah memutuskan telepon dari Jovan, Faisal segera menerima sambungan dari Mario yang masih berada di kantornya.
"Maaf Pak, barusan mas Jovan telepon, katanya sedang dalam perjalanan kesini," jawab Faisal.
"Alhamdulillah, sepertinya dia sudah kembali. Saya akan segera pulang, tolong kamu pesankan makan malam untuk kita semua. Ingat, semuanya ya. Kamu hitung dulu jumlahnya berapa orang, jangan sampai kurang," jawab Mario yang dilanjutkan dengan perintah yang membuat Faisal senang.
"Hmm jarang-jarang aku disuruh pesan makanan. Aku akan pesan yang terspesial!"
Kemudian, Faisal menghubungi chef favorit Mario yang bekerja di salah satu hotel ternama di Jakarta, untuk menyiapkan hidangan makan malam terbaik dan mengirimkannya sebelum pukul 19.00.
Hampir 30 menit berlalu, akhirnya Jovan tiba di apartemen, tanpa menunggu lagi ia berlari menuju lift khusus yang dimiliki Mario untuk menuju ke penthouse, sementara Adam sedang memarkirkan kendaraannya di lantai basemen.
Di area lift tesebut, Jaffar menempatkan anak buahnya untuk berjaga dan mengawal anggota keluarga atau tamu yang datang berkunjung.
Jovan pun menaiki lift dengan dikawal oleh penjaga tersebut.
Sesampainya di penthouse, Jovan segera mencari keberadaan Marissa di kamarnya, tetapi sayangnya ia tidak menemukannya.
Ia pun berlari menuruni anak tangga menuju dapur, tetapi ia kembali tidak menemukannya.
__ADS_1
Faisal yang telah melihat kedatangan Jovan, dengan sengaja tidak memberitahu dan membiarkan Jovan mencari Marissa, hingga ia bertanya.
"Bang, Icha dimana? Jangan bilang lagi pergi!"
"Ada kok. Mbak Risa lagi latihan di teras," jawab Faisal sambil menunjukkan Marissa yang masih juga belum selesai berlatih.
"Latihan? Latihan apa?" gumam Jovan bingung sambil berjalan ke arah teras.
Dilihatnyalah Marissa, istri mungilnya sedang melawan samsak. Jovan pun, menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sambil berucap lirih, "Icha, Sayang? Kok berubah jadi karate kid?"
Jovan terus memandangi Marissa yang masih belum menyadari kehadiran dirinya.
Silla berjalan perlahan meninggalkan Marissa, untuk memberikan privasi kepada Jovan.
Jovan masih belum melepaskan pandangannya dari kekasih hatinya itu. Ia berjalan hingga melewati pintu, kemudian ia menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup dengan kencang, bahkan sangat kencang hingga terlihat getarannya dari balik kemejanya.
Disaat Jovan menghentikan langkahnya, disaat itupun Marissa menyadari kedatangan Jovan. Keduanya saling bertatapan, tanpa ada kata yang terucap.
Kemudian, Jovan melangkah perlahan selangkah demi selangkah mendekati Marissa. Sedangkan Marissa masih membeku di tempat, air matanya menetes membasahi kedua pipi.
Langkah Jovan pun terhenti tepat di depan Marissa. Ia pun membungkukkan badannya agar dapat melihat dengan jelas wajah wanita yang ia cintai dan rindukan.
Lalu, kedua telapak tangannya ia letakkan di pipi Marissa dan ibu jarinya menghapus air mata yang menetes.
Kemudian Jovan meraih kedua tangan Marissa dan melepaskan kain pelapis yang digunakan untuk melindungi tangan Marissa dari benturan akibat pukulan yang ia layangkan ke arah samsak.
"Hi, i miss you, Hon," lirih Jovan dengan suara yang tertahan.
"Is it hurt?" tanya Jovan sambil membelai jari jemari Marissa.
Tanpa suara, Marissa menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.
Lalu Jovan menciumi jari-jemari Marissa sebelum akhirnya ia memeluk erat istri yang sangat dirindukannya.
Keduanya pun tak henti menetes air matanya dan saling berpelukan seakan tidak ingin berpisah kembali.
"I miss you much," lirih Jovan di telinga Marissa.
Sebuah kalimat sederhana tetapi sangat dalam maknanya, membuat Marissa mengencangkan pelukannya ke badan Jovan.
Di saat itu, Mario pun tiba dengan tergesa mencari keberadaan putri dan menantunya. Tetapi belum sempat ia memanggilnya, Faisal segera menghampiri lalu meletakkan telunjuk di depan bibirnya.
Mario pun mengerti akan maksud anak buahnya itu. Lalu, ia berjalan perlahan mengikuti langkah Faisal.
__ADS_1
Langkahnya pun terhenti di depan dinding kaca yang memisahkan antara teras dan ruang tengah. Dilihatnya putri sulungnya bersama dengan menantunya yang saling berpandangan sambil berpelukan.
Mario pun bernafas lega melihat pemandangan yang ia nantikan dalam beberapa pekan terakhir.