
Malam semakin larut, Aditya baru saja tiba dirumahnya. Ia tak segera turun, memilih menyandarkan kepala di jok dengan mata terpejam. Ia masih mencium bau harum Arini yang masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah.
Ikhlas sudah ada, tapi melupakan ia belum bisa. Dengan gelapnya mata, Aditya menarik garis bibirnya keatas. Mengingat kembali kenangan saat masih bersama Arini di zaman kuliah dulu.
Ia tidur dengan merentangkan tangan diatas rerumputan hijau di sebuah taman, dan Arini memilih tidur dengan menumpukan kepala diperutnya sebagai bantalan. Memandang langit sore yang berwarna biru, tampak indah saat itu.
"Dit...kalau Tuhan tidak menakdirkan kita buat bersama, gimana?"
"Aku akan marah sama Tuhan." Seraya memainkan rambut Arini.
"Kalau Tuhan tidak mendengar kemarahan kamu?"
"Aku akan naik ke langit dan berteriak kencang, kalau aku tetap mau kamu."
Arini tertawa renyah dan menolehkan wajah kearahnya.
"Kalau Tuhan sudah berikan aku jodoh yang lain?"
"Aku akan curi kamu dari pria itu."
"Kalau aku nggak mau dicuri?"
"Maka aku akan mati."
Kemudian Aditya bangun, duduk dengan meraup kepala Arini yang ia pindahkan ke bagian pahanya.
"Aku sangat mencintai kamu, dan tidak akan ada yang bisa menghalanginya, walau itu Tuhan sekalipun."
Ia menurunkan wajahnya, menjangkau bibir Arini yang sedang tersenyum manis kepadanya.
Seketika Aditya tersentak dari tidur singkatnya. Sebuah mobil masuk ke gerbang rumah dengan bunyi klaksonnya yang sangat nyaring. Sadar dari mimpi yang membawanya ke masa lalu, terasa sangat nyata.
Aditya mengusap wajah dengan tersenyum getir, ia baru menyadari satu hal, pertanyaan Arini saat itu seperti pertanda dari Tuhan, kalau dia memang bukanlah untuk dirinya.
Dan satu hal lagi, perkara hidup dan mati seseorang bukanlah hal yang bisa dicita-citakan, namun sudah ada garisan tangan yang sang Maha Pencipta tentukan.
Sekarang masih ada tanggung jawab besar menantinya, menjaga Papah dan juga anaknya Nuno.
Semangat Aditya, kamu bisa melaluinya
Saat dia hendak turun, matanya menangkap sesuatu yang tergeletak dibagian jok mobil. Ia mengambilnya, sepertinya milik Arini yang terjatuh saat tadi dia mengantarnya pulang.
Aditya membuka amplop yang berukuran sedang bertuliskan Rumah Sakit Pelita Medika.
Selembar kertas dengan dua foto hasil USG. Dibacanya kertas itu, atas nama Nyonya Radit Pratama dengan hasil diagnosa positif.
Aditya tersenyum, menghela nafasnya dalam. Kehamilan Arini yang sekarang, pasti akan membuatnya bahagia, tidak akan merasa kekurangan, baik materi maupun kasih sayang.
Kebahagian akan selalu bersamamu Rin, bisik Aditya dengan kembali memasukan surat itu kedalam amplop.
Aditya turun dari mobil dengan sambutan yang diberikan David yang sudah menunggunya diluar.
"Kamu baru pulang juga?"
"Iya Pak, tadi saya langsung ke kantor."
"Gimana dengan Gea?" Sembari melangkahkan kakinya menuju kursi santai didepan rumah.
David mengikuti langkah Aditya dan ikut duduk dengan satu kursi yang masih kosong.
__ADS_1
"Saya sudah mengantarnya sampai rumah."
"Bukan itu maksud saya."
"Maksud Pak Aditya?"
"Ternyata kamu kurang peka ya kalau soal wanita.... itu dari Gea kan?" Menunjuk plastik berisi kue yang David simpan dibawah lantai.
"Iya itu dari Gea. Tadi kamu mampir dulu ke toko kue dan Gea memberikan ini sebagai ucapan terima kasih karena sudah mau mengantarnya pulang."
"Kamu masih belum mengerti?"
David mengeryit tak paham, kemana arah pembicaraan Aditya.
"Gea sepertinya suka sama kamu. Gea itu teman baik Arini, saya tahu bagaimana Gea dulu, sikapnya memang sedikit berani kalau sudah berhadapan dengan laki-laki, tapi dia wanita yang baik sama seperti Arini."
Aditya menyandarkan punnggungnya," Jadi kamu pilih yang mana, Dokter Erika atau Gea?"
David terhenyak, dua wanita yang baru saja datang dalam kehidupannya dan harus dia pilih, itu sungguh mustahil.
"Kamu masih bingung?"
"Saya belum ada niat untuk mencari pasangan Pak."
"Kenapa... mereka tidak masuk dalam kriteria kamu?"
"Saya tidak punya kriteria soal wanita, hanya saja saya belum memikirkan tentang pasangan untuk saat ini."
"Kamu punya trauma soal wanita?"
"Tidak Pak"
David diam, itu pertanyaan sulit yang tidak bisa dia jawab.
Aditya terkekeh melihat David yang seperti kebingungan menjawab pertanyaannya.
"Kamu ingin melajang seperti saya?"
David tersenyum," Mungkin, sepertinya kita ditakdirkan untuk melajang."
Keduanya langsung tertawa bersamaan. Setelah tawa keduanya merada, Aditya kembali melayangkan pertanyaannya.
"Kamu suka wanita seperti apa sih David?"
"Saya juga tidak tahu Pak, sampai saat ini saja saya belum pernah dekat dengan seorang wanita."
"Kamu belum pernah mencoba sekalipun?"
"Pernah, tapi dulu saat SMA.... itu pun hanya teman dekat, bukan pacar."
Aditya mulai tertarik dengan cerita David. Setelah sekian lama David menjadi asistennya, baru kali ini ia merasa dekat dengan David karena ia mau bercerita tentang kehidupan pribadinya yang selama ini selalu dia simpan rapat.
"Tapi kamu menyukainya kan?
"Sangat suka."
"Kalau suka kenapa kamu tidak berpacaran dengannya?"
David menghela nafasnya yang terasa berat, segunduk penyesalan terlihat dari sorot matanya.
__ADS_1
"Saya terlambat Pak, dia sudah pergi."
"Kenapa kamu tidak cari dia?" Tanya Aditya yang semakin penasaran.
David tersenyum miris," Saya tidak mungkin bisa mencarinya, karena dia pergi kepada Tuhan."
"Maksud kamu dia meninggal?"
David mengangguk," Dia meninggal di hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas, tadinya saya ingin mengatakan perasaan saya hari itu karena saya juga yakin diapun memiliki perasaan yang sama dengan saya. Namun terlambat, karena sebuah kecelakaan dia harus pergi saat kita akan janji bertemu saat itu."
"Kamu sangat mencintainya?"
David melihat Aditya," Sangat."
Aditya tersenyum," Cinta yang hilang.... kisah kita hampir sama, tidak bisa bersama dengan orang yang sangat kita cintai."
"Tapi bukan berarti kehidupan berakhir sampai disini Pak, kehidupan kita masih panjang dan hanya waktu yang akan menjawabnya, dengan segala pertanyaan kita, kenapa dan mengapa."
"Kamu betul David..." Sela Pak Wiria yang keluar dari dalam rumah dengan menggunakan kursi rodanya.
"Kehidupan kalian masih sangat panjang. Setiap orang memiliki jodohnya masing-masing. Seperti Papah yang dulu mencintai Ibunya Arini, yang hanya bertepuk sebelah tangan. Namun akhirnya Tuhan mempertemukan Papah dengan Mamah kamu, hingga akhirnya kami menikah dan memilikimu." Seraya menepuk bahu Aditya.
Aditya dan David saling melempar pandangan, rahasia yang baru mereka ketahui.
"Kalian pasti terkejut... karena itulah Papah tidak menyetujui kamu dengan Arini waktu itu. Status sosial hanyalah alasan saja, yang benar itu karena dendam Papah kepada Ibunya, hingga Papah bersumpah anaknya akan merasakan sakit hati seperti apa yang Papah rasakan dulu karena penolakannya."
"Jadi Papah mengenal Ibunya Arini?"
"Iya.... bahkan sangat mengenalnya. Dia wanita baik, sederhana, cantik, persis seperti Arini. Namun sayang, Papah tidak bisa mendapatkan cintanya. Dia lebih memilih ayahnya Arini dibanding Papah..."
Pak Wiria menggenggam tangan Aditya,"...Maaf Papah baru bisa mengatakan ini kepadamu." dengan mata yang berkaca-kaca.
Aditya merangkulkan tangannya dibahu Pak Wiria," Biarlah masa lalu akan jadi kenangan untuk kita, Pah."
"Sekali lagi Papah minta maaf."
"Papah jangan terus minta maaf, ini sudah jadi kehendak Tuhan, Pah."
"Betul Pak... sekarang yang terpenting adalah kesehatan Bapak." Tambah David.
Pak Wiria tersenyum, lalu meraih tangan David," Ya benar.... Papah harus sehat, Papah ingin melihat kalian yang masih lajang ini menikah dan hidup bahagia... kira-kira siapa yang akan lebih dulu?"
"Sepertinya David yang lebih dulu Pah, karena sudah ada dua wanita yang menunggunya."
"Tidak Pak Adit... saya tidak akan menikah sebelum Pak Adit menikah lebih dulu."
"Membiarkan dua wanita menunggumu?"
"Mereka bukan siapa-siapa saya Pak." Cebik David.
Pak Wiria melihat Aditya dan David bergantian, kemudian menarik kedua tangan mereka kedadanya.
"Mudah-mudahan kalian akan mendapat jodoh bersamaan, biar Papah bisa menikahkan kalian bersamaan juga, adil kan?" Timpak Pak Wiria.
Aditya dan David melempar pandangan, kemudian tertawa berbarengan. Mereka pun tidak tahu nasib cinta akan membawa mereka kemana pada akhirnya.
............................................................
............................................................
__ADS_1
....................................Bersambung.......