
Jum'at siang setelah ibadah sholat Jum'at, Jovan dan seluruh anggota keluarganya berangkat menuju Bandara Internasional Changi.
Tepat pukul 16.00 waktu setempat, pesawat mereka mulai bergerak menuju Jakarta. Sesampainya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, mereka telah di tunggu oleh Bian di pintu kedatangan.
" Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumsalam. "
" Bi, kenalin ini ayah, bunda, bang Jordan, kak Jessi dan anaknya Joselyn. "
"Welcome to Jakarta," salam Bian.
"Mereka sudah sering ke Jakarta, bunda kan Betawi," jelas Jovan.
"Oiya, tapi ini Betawi rasa Eropa yaa," ucap Bian.
"Jadi tahu kan, asal kegantengan ku ini??" canda Jovan.
"Kapan selesainya kalau begini, ayo jalan keburu macet!!" protes Jovanka.
"Oiya Bun, ayo Bi !!" ucap Jovan.
Beberapa saat kemudian di dalam mobil,
"Kita langsung ke Westin aja untuk makan malam, tadi aku sudah reservasi untuk jam 19.00," ucap Jovan.
" Ini kan baru jam 5, masih 2 jam lagi," protes Jordan.
" Nunggu di hotel aja Bang, Jakarta on friday is the most challenging traffic from all of those days, paling cepat sampai Westin sekitar setengah jam, iya ga Bi?? " ucap Jovan.
"Sekitar itu, kalau lancar. Ini jam pulang kantor, yaaa macet itu sudah biasa," jawab Bian.
Betul saja, jalanan menuju pusat kota tampak padat di kedua arah.
Mobil mereka pun mulai jalan perlahan setelah memasuki tol dalam kota.
Setelah hampir 1 jam, akhirnya mereka sampai di Hotel Westin.
"Bi, kamu jemput Risa yaa, cukup bilang sudah ditunggu untuk makan malam," ucap Jovan.
"'Siap Bos!! Bang, perasaan gue manajer deh, kenapa rasa asisten melulu ya??" protes Bian.
"Laaa aku writer tapi rasa artis, kan?? terima nasib aja, Bi. Nanti kamu sekalian ikut makan juga ya. "
" Sip !! "
Sementara itu, Marissa masih terlihat sibuk di kantor. Hari Jum'at adalah hari yang panjang untuk Marissa. Pekerjaan pekan itu harus segera ia selesaikan, jika ia ingin beristirahat di hari Sabtu.
"Ris, layout penthouse yang sudah ditandatangani tolong kirim ke saya," pinta Ardan.
"Senin pagi, semua layout yang telah disetujui sudah harus dikirim ke manajemen Kawanua," ucapnya lagi.
Marissa bersama dengan rekan kerjanya yang lain pun masih nampak sibuk di depan komputernya masing-masing.
Jam telah menunjukkan pukul 19.30, Marissa belum juga terlihat bersiap untuk pulang. Hingga ia menerima pesan WA dari Bian.
"Mbak, saya tunggu di lobby lantai dasar, kita makan malam bareng."
"Tunggu Bi, aku masih ada kerjaan, belum tahu selesai jam berapa. "
" Yaaa Mbak, kita sudah ditunggu nih!! "
"Ditunggu siapa?? "
"Nanti Mbak juga tahu kalau sudah ketemu, kita sudah ditunggu untuk makan malam di hotel The Westin," jawab Bian.
" Ish, kok mendadak sih. Tunggu yaa!!"
Marissa pun secepatnya menyelesaikan pekerjaannya.
"Ris, kamu pulang duluan aja. Biar Michael kerjakan sisanya, kan tinggal sedikit," ucap Ardan yang baru saja menerima pesan WA dari Jovan.
'Bro, I need your help. Saya baru sampai dari Singapore with my fams. Can you make Risa pulang lebih cepat, saya mau ajak Risa dinner with my fams.'
"Mike, Risa must go home now....," ucap Ardan yang segera dipotong oleh Michael sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.
"Okay, no prob."
"Eh, aku pulang duluan nih??" tanya Marissa.
"Iya, sudah di tunggu Bian kan??" jawab Ardan.
"Kok tahu?? eh apa...??" tanya Marissa yang kebingungan karena bagaimana Ardan mengetahui jika Bian telah menunggunya di lobby.
"Just hurry, kasian Bian nunggu di bawah," ucap Ardan yang meminta Marissa untuk segera meninggalkan kantor.
__ADS_1
"Thank you, Bang!" ucap Marissa penuh semangat dan segera merapikan mejanya.
Lalu, Marissa pun bergegas menuju lobby di lantai 1 dengan menaiki lift yang kosong.
"Bi !"panggil Marissa sambil melambaikan tangannya.
"Yuk Mbak, kita langsung jalan sekarang," ajak Bian.
Marissa pun mengikuti Bian menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan gedung.
"Kita mau makan sama siapa??" tanya Marissa.
"Nanti sampai lokasi, Mbak juga tahu," jawab Bian.
"Ih ga seru amat, pakai main rahasia!!" protes Marissa.
"Biar surprise, Mbak," jawab Bian.
Bian pun melajukan kendaraannya melewati jalan alternatif menuju Hotel Westin.
"Tumben, kok pakai mobil besar?" tanya Marissa.
"Iya Mbak, tadi sekalian jemput tamu ada 6 orang, mereka ini yang ngajak Mbak Risa makan malam," jawab Bian.
"Ber-enam? kok banyak amat, aku mung dewean lhoo!" protes Marissa.
"Saya temenin Mbak, tenang aja," jawab Bian.
"Bener lho yaa, kamu temenin aku sampai selesai," ucap Marissa.
"Wah kalau nemenin sampai selesai sih belum tentu, Mbak. Lihat sikon yaa, tapi saya pasti nungguin sampai selesai," jawab Bian.
"Bian! kamu bikin aku deg-degan!" seru Marissa.
"Tenang aja, Mbak. Mereka cuma mau kenalan kok, mereka orang baik semua," ucap Bian untuk menenangkan Marissa.
Sementara itu, Jovan beserta keluarganya telah berada di Rooftop Hotel Westin menunggu kedatangan Marissa.
"What a view!! I never seen Jakarta from this high " ucap Jordan.
"Iye, biasanya Abang lihatnya jauh lebih tinggi, awan doang!" celutuk Jovan.
Jorrian dan Jovanka hanya menggelengkan kepalanya melihat putra bungsu mereka.
"Kamu itu, sebentar serius, look so mature, eeee sebentar kemudian balik ke anak-anak lagi. Van... Van, kapan kamu akan dewasa sesungguhnya?" tegur Jovanka.
Sementara itu, Marissa nampak gugup selama diperjalanan menuju Hotel Westin.
"Bi, aku kok deg-degan yaa?" tanya Marissa yang gugup akan pertemuan ini.
"Santai aja Mbak. Mbak Risa sudah kenal sama salah satunya," jawab Bian.
"Memangnya ada salah duanya?" canda Marissa.
"Kan mereka ber-enam, Mbak," jawab Bian lagi.
"Apakah ini pertemuan rasa sidang?!" tanya Marissa.
Pertanyaan Marissa pun membuat Bian tertawa.
"Santai aja, Mbak. Pasti nanti Mbak Risa langsung happy kalau sudah ketemu," jawab Bian.
"Bi, jangan jauh-jauh yaa. Aku kan belum pernah ke Westin juga, hotel mihil kan?" tanya Marissa.
"Banget, Mbak," jawab Bian.
"Mereka nginap di situ??" tanya Marissa lagi.
"Ga, cuma dinner aja kok," jawab Bian.
Tak lama kemudian, mereka telah sampai di parkiran Hotel Westin.
"Ayo, Mbak," ajak Bian.
Bian pun menemani Marissa menuju restoran di lantai 68 hotel tersebut.
"Bian, ini ngeri banget!!! orang yang punya akrofobia bisa pingsan!!" ucap Marissa ketika menaiki lift kaca dengan pemandangan kota Jakarta.
"Apa tuh Mbak, akrofobia??" tanya Bian.
"Fobia ketinggian," jawab Marissa.
"Tapi MasyaAllah viewnya, Jakarta looks different from up here," lanjut Marissa.
"Iya ya Mbak, saya juga belum pernah melihat kota Jakarta secantik ini dari atas," ucap Bian yang sependapat dengan Marissa.
__ADS_1
Sampailah Marissa dan Bian di lantai 68, di sebuah restoran mewah yang sudah cukup ramai.
"Ayo, Mbak !" ajak Bian.
Jantung Marissa berdegup kencang, ia pun merasa lebih gugup dari sebelumnya, lalu dilihatnya pria yang tak asing baginya yang melambaikan tangan kearahnya.
"Bang Jovan?" tanya Marissa yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Silahkan Mbak, aku sampai sini aja," ucap Bian.
"Lho Bi, kamu ga ikutan makan?" tanya Marissa.
"Nggak Mbak, ini acara keluarga. Aku makan di tempat lain aja. Mbak buruan kesana, sudah ditungguin lho," desak Bian agar Marissa segera menemui Jovan dan keluarganya.
"Eh iya, makasih ya Bi."
Marissa pun berjalan perlahan menuju Jovan. Jovan pun melakukan hal yang sama.
"'Assalamu'alaikum," sapa Jovan.
"Wa'alaikumsalam. Bang, siapa disana?" tanya Marissa.
"Ooo itu, keluarga Abang dari Singapura, mereka mau liburan sekalian lihat rumah Abang," jawab Jovan.
" Oh. "
Jovan melihat keraguan Marissa.
"Ris, santai aja. Mereka ga gigit kok," canda Jovan.
"Iih Abang, apaan sih. Dah yuk Bang."
"Yuk, Abang kenalin."
Marissa pun berjalan mengikuti Jovan. Lalu Marissa pun memberikan salam.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Kenalin ini Risa. Ris, ini ayah, ibu trus ini, Abang pertama, Bang Jordan sama istrinya Jessi dan anaknya Josilyn," ucap Jovan.
"Mari, silahkan duduk," ucap Jovanka.
Sesaat sebelum Jovan memperkenalkan Marissa, Jovanka dan Jorrian saling berpandangan kemudian Jovanka menggenggam tangan Jorrian dengan erat. Lalu, Jovanka berbicara tanpa suara kepada Jorrian.
"Riska? she looks like Riska !" bisik Jovanka.
"Yes, she is definitely looks like Riska," ucap Jorrian yang juga berpendapat sama.
Setelah Marissa dan Jovan duduk, tanpa basa-basi Jovanka segera melayangkan pertanyaan kepada Marissa.
"Maaf, boleh Bunda tahu, nama lengkap kamu siapa yaa?"
"Marissa Shafiyya."
Jantung Jovanka pun berdegup kencang, tangannya pun mulai gemetar.
"Ibumu bernama Riska?" tanya Jovanka.
"Iya, kok Bunda tahu?'
Jovanka pun beranjak dari kursinya untuk memeluk Marissa yang kebingungan, begitu juga dengan Jordan dan Jovan yang masih belum mengerti ada apa sebenarnya.
"Ya Allah, Chaaaa kamu sudah dewasa. Sini Bunda lihat wajahmu," ucap Jovanka sambil menitikkan air mata haru, setelah penantiannya bertahun-tahun untuk bertemu Marissa.
"'Kamu mirip Riska, ibumu," lanjut Jovanka.
Jovanka memeluk erat Marissa dan mencium kedua pipinya, sedangkan Marissa masih tampak kebingungan, karena ia merasa mengenal akrab Jovanka, tetapi ia tidak mengingatnya.
Air mata bahagia mengalir di pipi Jovanka.
"Cha, kamu nggak ingat Bunda? ini Bunda, yang dulu tinggal di depan rumah kamu. Ini ayah, itu Bang Jordan yang sering mendengarkan curhatan kamu dan Bang Jovan, yang selalu menemani kamu di sekolah, kamu selalu dibonceng Jovan untuk ke sekolah, kamu ingat Sayang?" ucap Jovanka sambil menangis.
Air mata Marissa pun mengalir, perlahan ingatannya akan keluarga Chen pun mulai kembali.
"Bunda? ini Bundanya Icha? iyaa ini Bundanya Icha kaan?" tanya Icha sambil menggenggam tangan Jovanka.
"Iya Sayang, ini Bundanya Icha, ini Bundanya Icha!!" jawab Jovanka.
Keduanya pun berpelukan sambil menangis.
Jordan pun menepuk-nepuk bahu Jovan yang masih membeku, air matanya pun ikut mengalir.
Pikirannya pun mencoba untuk memahami situasi yang tidak ia sangka. Bertahun-tahun sudah ia mencari, hingga putus asa dan mulai mencintai sosok Risa yang tak lain adalah Marissa atau Icha.
__ADS_1
"You found her, Van. You found her,"ucap Jordan.