Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 73 Cadar


__ADS_3

Sepulang dari rumah Rakesh, Jovan memutuskan untuk membeli cadar untuk Marissa di salah satu butik busana muslim ternama.


Untuk mempersingkat waktu, ia pun meminta bantuan pramuniaga butik untuk mencarikan cadar.


"Silahkan dipilih di bagian sini, Pak," tunjuk pramuniaga pada rak dislplay yang menempatkan berbagai warna dan model cadar.


Jovan pun mendadak bingung dengan banyaknya warna dan model cadar yang ada.


Kebingungannya pun terbaca oleh pramuniaga yang melayaninya.


"Pak, bisa saya bantu pilihkan? Cadar ini untuk siapa?"


"Eh iya, boleh Mbak. Cadarnya untuk istri saya," jawab Jovan.


"Hmmmm, bagaimana kalau model banda seperti ini, ini terkesan lebih elegan, biasanya digunakan untuk acara-acara tertentu. Kalau yang model tali biasa, ini untuk harian, lebih simpel," ucap pramuniaga butik sambil mengambil beberapa model cadar.


Jovan pun melihat-lihat model cadar yang dimaksud.


"Hmmm, saya pilih dua-duanya aja deh. Saya minta semua warna yang ada," pinta Jovan.


Lalu Jovan pun melihat ke sekeliling butik, matanya pun terhenti pada sebuah abaya set berwarna marun lengkap dengan jilbab dan cadarnya yang terlihat eksklusif.


"Mbak, saya minta yang seperti itu ukurannya M," tunjuk Jovan.


"Ini satu setnya 1,5 juta rupiah, Pak," jawab pramuniaga butik sambil membawakannya kepada Jovan.


"I'll take it," jawab Jovan sambil meraba-raba kain gamis tersebut.


"Baik, Pak. Ada lagi yang bisa saya bantu?"


"Saya rasa sudah cukup, terima kasih," jawab Jovan.


"Kalau begitu silahkan langsung melakukan pembayaran di kasir," ucap pramuniaga tersebut.

__ADS_1


Jovan tersenyum puas dengan pakaian dan cadar yang ia beli untuk Marissa, ia pun berharap Marissa menyukainya.


Selesai dari butik, Jovan menuju bakery kesukaan Marissa, untuk membeli aneka cake potong dan roti.


Ia pun tak sabar melihat reaksi Marissa, ketika ia membawakan pakaian dan makanan kesukaan istri mungilnya itu.


Sepanjang perjalanan pulang, senyum menghias wajah Jovan, membuat Adam ikut tersenyum.


Perhatian-perhatian kecil yang Jovan berikan untuk Marissa pun diakui Adam, sebagai hal yang manis.


Sesampainya di komplek apartemen,


"Mas, saya parkirkan mobilnya. Mas Jovan turun aja langsung, buruan kasih kuenya ke Mbak Risa," ucap Adam.


"Oke, Bang. Titip mobilnya yaa, aku masuk duluan, makasih," jawab Jovan yang bergegas masuk dan menuju penthause dengan menggunakan lift khusus.


Sesampainya di kamar, dilihatnya Marissa sedang tertidur lelap.


Ia pun mengganti pakaiannya terlebih dahulu, lalu menghampiri Marissa dengan memberikan kecupan hangat di dahinya.


"Eh maaf, ngganggu ya. Tidur lagi aja, Ashar masih setengah jam lagi, kok," ucap Jovan.


Marissa pun menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Kok lama, Bang?" tanya Marissa sambil merubah posisinya menjadi duduk.


"Iya, maaf. Tadi Abang mampir ke butik, beli ini," jawab Jovan sambil menunjukkan paper bag berisi abaya dan cadar.


"Apa tuh, Bang?" tanya Marissa.


"Buka aja. Oiya, tadi Abang juga mampir beli cake dan roti," tambah Jovan sambil menunjukkan paper bag dari bakery.


Marissa pun mengambilnya dengan cepat lalu melihat isinya. Senyumnya pun merekah sempurna setelah melihat her comfort food di depannya.

__ADS_1


Marissa pun memeluk Jovan dan menghujaninya dengan ciuman, yang membuat Jovan tertawa.


"Udaaaah, ntar Abang 'serang' lho," goda Jovan.


"Peperangan dimulai nanti malam aja, sekarang aku mau makan cakesnya," ucap Marissa yang segera membuka box cake-nya dan mulai menyendoki ke dalam mulutnya.


Ia juga memberikan suapan ke Jovan yang asyik memandangi Marissa.


"Buat Sayang aja," tolak Jovan.


"Barengan, aku akan membulat kalau ngabisin ini sendirian dan sekarang aku membayangkan diriku seperti ikan buntal yang tiba-tiba membulat," jawab Marissa yang kembali dengan keacakannya.


"What is exactly in your brain, Hon?" tanya Jovan yang tidak pernah mengerti cara berfikir Marissa.


"Well, katanya isi otak manusia itu ada 100 milyar sel neuron, trus kalau isi otak perempuan itu crowded and unpredictable," jawab Marissa santai.


"Sangat unpredictable!" tambah Jovan.


"Nah, ini buat barengan nanti sama si kembar," ucap Marissa sambil memisahkan beberapa roti dan cakes, tanpa mempedulikan ucapan Jovan.


Lalu Marissa pun beralih ke paper bag dari butik, dengan mata berbinar ia membuka satu-persatu isinya.


Dengan pandangan penuh tanya, Marissa melihat ke arah Jovan dan seluruh belanjaannya secara bergantian.


"Kenapa Yang, kagum yaa, ternyata suaminya ini bukan cuma ganteng tapi juga pintar milih baju," canda Jovan.


"Waaaaa, sangat mendaebakkan!! ternyata Abang tetap narsis! waaa, lanjuuuuut Bang! tareeeek!"


"Dan Icha mungil manisku pun kambuh," goda Jovan sambil mencubit lembut pipi Marissa dan kemudian Marissa pun melakukan hal yang sama.


"Bang, aku coba bajunya ya," ucap Marissa sambil membawa abaya ke dalam walking closet-nya.


Setelah memakainya, Marissa pun berjalan selayaknya model runway.

__ADS_1


"Perfect!!" puji Jovan.


__ADS_2