Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 86 Mimpi Buruk


__ADS_3

Berlibur dan menikmati bulan madu di resort, benar-benar dimanfaatkan Jovan dan Marissa untuk saling memanjakan satu sama lain.


Mereka pun asyik memanfaatkan private jacuzzi yang terletak di belakang kamar mereka dengan berendam bersama.


Jovan asyik berendam sambil menutup matanya dan bersandar pada pinggirannya, sedangkan Marissa asyik menikmati wajah suaminya dengan mengalungkan lengannya di leher Jovan.


"Blu bub blu bub," ucap Marissa.


"Ble beb ble beb," balas Jovan.


"Ada yang lebih aneh bin nggak nyambung lagi nggak, Bang?" tanya Marissa.


"Ada," jawab Jovan.


"Apa tuuu?" tanya Marissa lagi.


"Kita," jawab Jovan singkat.


"Bukan, tapi authornya. Ampun deh kita berdua dianggurinnya lama banget!" seru Marissa.


"Oh, palingan dia sibuk ngehalu yang lain. Santai aja, ntar juga balik. Nih lagi balik, makanya kita dilanjutin," jawab Jovan santai.


"Makanya kita harus baik-baik berdua, jangan error melanda," lanjut Jovan.


"Lah, yang bikin error juga Nyonyah author, kalau dia nggak error kita juga nggak bakalan error, Bang," sahut Marissa.


"Oiya, bener. Thor, jangan keterlaluan errornya, trus jangan kelamaan updatenya, tuh yang baca pada kabur! Jangan terlalu santuy lah, Thor!"


Sang author pun akhirnya menjawab, "Sebagai pasangan halu errorku, kalian iku wis manut wae, aku arep nggawe koe error opo ora yo sekarepku wae tho. Aku kan author, sakjane ceritane arep ta' enthekno yowes tho. Wis menengo, aku iki ge' mikir sek, ceritane arep digowo nengendi."


"Roaming Thor, kita kan bukan orang Jawa. Eh tapi aku ngerti dikit, aku kasih lagu buat Thor, biar tambah semangat, dengerin ya Thor," balas Jovan.


"Mau dibawa kemana cerita ini? Jika kau terus menunda-nunda, tidak tahu akan ujungnya."


"Mau dibawa kemana aku dan Icha? Main muluk, nggak ada seriusnya, bocah terus kapan gedenya? Aku kan mau look cool."

__ADS_1


"Waaaah Abang!! Cakep bener!!" puji Marissa sambil memberikan ciuman di kedua pipi Jovan.


"Heh, aku yang nulis, aku dong yang cakep," protes author.


"Thor balik sana, jangan jadi orang ketiga dimari. Lagian bukan mahramnya, malu aku tuh lagi berendam berdua kok tetiba ditemenin author," protes balik Jovan.


"Lah tadi manggil, sekarang diusir, aku kan Thor!! Mana hammer nya!!"


"Kan, kan, authornya kambuh, pantesan kita error, dah gih balik, lanjutin cerita kita berdua. Happy ending ya Thor! Ampe kita punya anak, gitu. Ya ya ya!" pinta Marissa.


"Beklah, aku akan kembali menghalu dalam diam," jawab author yang tiba-tiba menghilang, kembali ke dunianya.


"Author yang aneh," sahut Marissa.


"Biarin dia aneh, kalau dia nggak aneh, dia nggak bisa nulis cerita kita yang penuh keanehan ini," jawab Jovan.


"Hoi ya, ya, bener juga."


"Eh Bang, aku udahan yaa. Mengkeriput kalau kelamaan, ntar kulitnya kayak kanebo kering," sahut Marissa sambil bergerak keluar kolam.


Dalam tidurnya, Jovan bermimpi tersesat di dalam hutan lalu berpindah dan terombang-ambing di lautan yang membuatnya mendadak kesulitan bernafas.


Marissa yang baru selesai dari mandinya, segera memanggil Jovan, tetapi Jovan tidak menjawab panggilannya.


"Bang, Bang Jo, aku sudah selesai," panggil Marissa sambil masih mengeringkan rambutnya yang basah.


"Bang, Abang Jovan Chen ganteng cakep?" panggil Marissa lagi tetapi tetap tidak ada jawaban dari Jovan.


Marissa pun berjalan menuju jacuzzi, lalu dilihatnya Jovan tertidur tetapi seperti kehabisan nafas. Marissa pun segera berlari menghampiri Jovan dan membangunkannya.


"Bang, Bang Jovan!! Bangun Bang! Abang mimpi, abang mimpi apa?" ucap Marissa sambil menggoyangkan badan Jovan yang membuatnya terbangun dari mimpi buruknya.


Jovan pun segera memeluk Marissa erat, deru nafas dan detak jantungnya yang cepat membuat Marissa khawatir.


"Bang, Abang kenapa?" ucap Marissa sambil mengelus-elus punggung Jovan.

__ADS_1


Jovan masih tetap memeluk erat Marissa dengan mulutnya yang sibuk beristighfar tanpa suara. Denyut jantung Jovan yang berdegup sangat kencang dan keras, membuat Marissa memeluk semakin erat dan tetap mengelus-elus punggung Jovan.


Setelah beberapa saat, Jovan pun melepaskan pelukannya setelah ia dapat mengendalikan emosinya.


"Abang kenapa? Kok pucat begini?" ucap Marissa sambil memegang wajah Jovan dengan kedua tangannya.


"Nggak papa, Abang nggak papa. Abang mandi dulu ya," ucap Jovan yang beranjak menuju kamar mandi.


Setelah mengunci pintunya, Jovan pun memandangi dirinya di depan cermin. Keringat dari kepalanya pun menetes mengalir hingga membasahi wajahnya.


"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah. A'udzubikallimatti min syarri maa khalaq. A'udzubikallimatti min syarri maa khalaq. A'udzubikallimatti min syarri maa khalaq," lirih Jovan.


Jovan kemudian melanjutkannya dengan berwudhu dan membersihkan badannya.


Setelah selesai, perasaan Jovan masih belum sepenuhnya tenang, seperti masih ada yang mengganjal, tetapi ia tepis semua itu karena ia tidak ingin membuat Marissa bersedih, terlebih saat ini adalah momen bulan madu mereka.


"Yang, jalan sore di pantai yuk, sekalian lihat sunset," ajak Jovan.


"Ayoook," jawab Marissa penuh semangat.


Keduanya pun berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri pantai yang masih ramai dengan para turis. Adam tetap mengawasi keduanya dari jauh, sementara Silla dan Faisal ikut menikmati liburannya sambil bekerja.


"Bang, kasihan Bang Adam kemana-mana sendirian. Cariin partner lah," pinta Marissa.


Jovan pun melambaikan tangannya ke arah Adam dan memintanya untuk mendekat.


"Kenapa, Mas?"


"Om, katanya Icha, om tuh kasian sendirian, sedangkan kak Silla sama Bang Fai selalu berdua. Om nggak cemburu? atau Om Adam mau dicariin pasangan?" tanya Jovan.


Adam yang telah menduga, jika ia dipanggil untuk urusan yang tidak penting itupun hanya melengos dan pergi meninggalkan Jovan.


"Lhoo eh Bang, Bang! kok nggak dijawab?"


"Yang, nggak dijawab sama om Adam, apa dia ngambek?"

__ADS_1


"Mungkin Om Adam lelah hayati menghadapi Abang yang semakin aneh!'


__ADS_2