
Keesokan paginya, Jovan dan Marissa kembali berkumpul bersama keluarga besar mereka untuk sarapan pagi di restoran hotel.
Kehadiran Chen bersaudara kembali mengundang perhatian. Mereka bahkan tak segan mengambil foto wajah Jovan dan Jordan secara candid, yang tentu saja membuat Marissa merasa cemburu.
"Emang bener, Abang berdua harus pakai cadar!!" ucap Marissa yang cemburu sambil memanyunkan bibirnya.
Sontak semua pun tertawa mendengar ucapan Marissa, termasuk Jordan yang sangat merindukan celetukan khas Marissa.
Sementara yang lain tertawa karena ucapan Marissa, Jovan hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu bibirnya kanannya pun terangkat, menandakan muncul ide untuk membalas Marissa.
Jovanka yang telah hafal dengan perilaku putra bungsunya itu pun mendelikkan matanya dan menggelengkan kepalanya ke arah Jovan, seolah berkata, "Jangan lakukan apapun yang kamu pikirkan saat ini!!"
Tetapi Jovan adalah Jovan, yang menjawab kembali gestur ibunya dengan gelengan kepala dan senyuman sinis, yang membuat Jovanka dan Jovan beradu pandang dengan intens, bagaikan aliran listrik yang beradu.
Jordan yang menyadari gestur sang bunda dan adiknya ini, hanya memicingkan matanya dan melirik ke arah keduanya, sambil berharap Jovan tidak melakukan tindakan yang membuat sang bunda kesal.
Lalu dengan santainya dan senyuman yang manis, Jovan mulai melakukannya.
"Ketika aura ketampananku tak tertahankan, hingga istriku meminta diri ini menggunakan cadar, sungguh!! Idemu ini membuatku berfikir, apakah dirimu sehat??" ucap Jovan sambil menempelkan telapak tangannya di dahi Marissa.
"Sehat lah, Bang! Kalau ga sehat, semalam ga bisa 2 ronde," jawab Marissa cuek dan santai, sambil asyik menikmati sarapan paginya.
Jovan pun lantas menutup mulut Marissa dengan tangannya, lalu mendekatkan bibirnya di telinga Marissa.
"Gigit nih!! Quiet, will you!"
"My name is not Will," jawab Marissa santai.
Sementara itu, keluarga mereka berdua pun kembali menikmati adegan drama dari pasangan pengantin baru yang unik ini dengan penuh tawa.
"Waaah, bagi rahasianya dong, Van!!" goda Jordan yang membuat wajah Jovan bersemu merah karena malu.
Marissa pun kembali beraksi untuk menyelamatkan suaminya yang salah tingkah.
"Rahasianya terletak pada kecantikanku yang terparipurna," ucap Marissa santai yang membuat semua meletakkan sendok dan garpunya kemudian memberikan tatapan malas ke arah Marissa.
"Sepertinya dia sudah kambuh lagi, ga papa, itu artinya dia sehat, sekarang kita selesaikan sarapan, setelah itu terserah, Icha mau diapain, aku pasrah aja," ucap Jovan di tengah keheningan sesaat tadi.
Jordan pun berdiri memberikan applaus kepada adiknya.
Jovan pun ikut berdiri, kemudian mereka saling bersalaman dengan senyum yang merekah sempurna.
Tawa pun kembali mengisi acara makan pagi mereka, kecuali Marissa yang kembali dengan bibir manyun andalannya.
Melihat bibir manyun Marissa, Jovan pun kembali melancarkan serangannya.
"Manyun terus aja, setelah ini bibirnya ga akan selamat," bisik Jovan ditelinga Marissa yang segera mendapatkan balasan pukulan bertubi-tubi di lengannya.
Jovan pun hanya tertawa geli dengan reaksi balasan Marissa, yang tentu saja telah ia prediksi sebelumnya.
__ADS_1
"Sudah, sudah. Ini kok jadi iseng berkelanjutan?? Ayo, segera selesaikan sarapannya, ingat lho, nanti jam 10 acara akad dimulai," ucap Jovanka untuk mengakhiri drama putranya.
Sementara itu, petugas keamanan hotel dan petugas kepolisian merapatkan barisan mereka, koordinasi antar kedua jajaran ini pun dilakukan secara intensif.
Tak terkecuali dengan para pengawal pribadi, yang selalu berjaga di sekitar keluarga Sofyan dan Chen. Mata dan telinga mereka tak lepas dari mengawasi seluruh kegiatan disekitar keluarga Sofyan dan Chen.
Sila yang memahami kekhawatiran Marissa pun menghampiri sesaat setelah sarapan pagi kedua keluarga ini selesai.
"Mbak, bisa saya bicara sebentar."
Marissa pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Mbak Icha, jangan khawatir, kita semua akan memberikan pengamanan terbaik untuk keluarga Mbak Icha dan Mas Jovan. Petugas keamanan hotel dan polisi sudah menyisir lokasi ini secara intens dan berkala," ucap Sila.
"Mbak, percayakan semua ke Allah, kita serahkan semuanya kepada Allah Sang Penguasa kehidupan ini, biar Allah yang menjaga kita semua. Kita sebagai manusia hanya dapat berusaha dan berusaha, serta do'a dengan hati yang ikhlas," lanjut Sila yang membuat Marissa memeluknya erat.
"Makasih Mbak, you know me so well," ucap Marissa penuh rasa syukur, karena memiliki Silla yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.
"Sekarang, Mbak Risa cukup siapkan diri untuk menjadi pengantin yang tercantik, terhits yang terparipurna," canda Silla yang membuat Marissa tertawa sambil melepaskan pelukannya.
"So pasteeeee, Mbak!!" seru Marissa.
Marissa dan Jovan pun kembali ke kamar guna bersiap untuk acara pentingnya hari itu.
Sesaat setelah mereka di dalam kamar, make-up artis mulai mendadani keduanya.
Jovan dan Marissa pun mengganti pakaian dengan busana akad nikah mereka yang berwarna putih tulang.
"Kan waktu make-up test, aku sudah bilang, ga mau yang tebalnya 5 centi, aku ga mau ngebohongin orang, mukaku yaa begini jangan dirubah, Mbak."
Santi, sang make-up artis pun menghela nafasnya, lalu berucap, "Mbak, percaya sama saya. Wajah mbak Risa ga akan berubah, orang akan tahu kok, kalau pengantinnya benar-benar mbak Risa yang biasa mereka lihat."
"Janji yaa," ucap Marissa sambil memberikan kelingkingnya.
"Janji," jawab Santi sambil menautkan kelingking mereka.
Santi pun mulai mengaplikasikan foundation setelah selesai membersihkan wajah Marissa.
Jovan pun tetap asyik memandangi proses make-up Marissa dengan senyum yang lepas dari wajahnya.
Ia pun sesekali mengambil foto Marissa secara candid.
Setelah selesai bermake-up, Marissa mulai memakai jilbabnya yang diikuti dengan pemasangan kerudung panjangnya yang menjuntai hingga betis dan yang terakhir adalah pemasangan tiara mungil di atas kepalanya yang membuatnya tampil elegan, bagaikan seorang putri kerjaan.
Jovan memandangi penampilan Marissa dengan mata berbinar dan senyum yang merekah.
Marissa pun terdiam tatkala memandang pantulan dirinya di cermin, lalu, "Waaaaaa, penampakanku!!!"
"Bang, apakah dirimu dapat mengenali wajahku ini?" tanya Marissa yang membuat Jovan dan Santi tertawa.
__ADS_1
"Bisa, Sayang. Bisa banget, you still pretty in different atmosfer," jawab Jovan.
Marissa pun membalikkan badannya ke arah Jovan.
"Different atmosfer? apakah itu stratosfer, troposfer atau fer lainnya?" canda Marissa.
"Hmmm fer... mentasi, maybe?" balas Jovan.
"Lah dikira aku ini ragi?!! Tapeee deee??!! Tuh tape, difermentasi," jawab Marissa dengan gaya bercanda khasnya lagi yang membuat Jovan semakin gemas dengan istrinya ini.
Lalu bel pintu kamarnya berbunyi, Jovan pun berjalan untuk membuka pintunya.
"Mas Jovan, ini ada fotografer dari Kirei Fotografi..," ucap Adam yang segera dipotong oleh Jovan.
"Oh Mas Said dan Mas Sakha, yaa?" potong Jovan.
"Iya, Mas," jawab Said.
"Maaf, kami mau mengambil foto Mas Jovan dan Mbak Risa di kamar ini, seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya," lanjut Said.
"Oiya, silahkan, silahkan masuk," ucap Jovan mempersilahkan.
Tak lama, pemotretan di dalam kamar pun dilakukan dengan berbagai macam pose.
Marissa yang masih malu-malu untuk berpose mesra bersama Jovan pun melayangkan protesnya.
"Ga mau, aku ga suka mesra-mesraan di depan Mas-Mas ini! Pokoknya ga mau, biasa aja posenya."
"Nanti jadinya ga bagus lho, Mbak. Banyak kok, yang awalnya kaku, tapi nanti setelah beberapa shot, bisa langsung cair," jelas Said.
"Biarin, pokoknya aku ga mau. Lagian ngapain ngambil foto di kamar, sih?"
Jovan pun membisikkan sesuatu ke telinga Said.
"Mas, ambilnya candid aja. Jadi look natural, oke?"
Said pun mengangguk tanda setuju.
Santi yang telah mengerti cara kerja fotografer pernikahan pun membantu dengan mengarahkan gaya tanpa Marissa sadari.
Ia meminta Marissa untuk duduk lalu ia memberikan sentuhan akhir pada bibir Marissa, dengan mengoleskan lip gloss dan lip tint. Ia juga berpura-pura mengaplikasikan blush on pada wajah Marissa.
Lalu ia meminta Jovan untuk berdiri di belakang Marissa yang sedang bercermin.
Jovan menginginkan foto pernikahannya tidak terlalu serius seperti kebanyakan, untuk itu ia pun kembali mencandai Marissa dengan berpura-pura mencubit pipinya.
Marissa yang tak mau kalah, berdiri di atas kursi riasnya, lalu ia meminta Jovan untuk berdiri di sampingnya.
Kemudian, tanpa aba-aba, Marissa mengalungkan tangannya ke leher Jovan dan menarik ke arahnya, yang tentu saja membuat Jovan terkejut dan ekspresi terkejut Jovan berhasil diabadikan Said dalam kameranya.
__ADS_1
Beberapa pose yang tidak mesra sama sekali itu pun menjadi foto-foto yang penuh keceriaan karena tingkah keduanya yang tidak luput dari keisengan mereka berdua.