
" I wanna buy a house in Jakarta, can you help me to choose the area. Aku ga tahu daerah yang convy untuk ditinggali di Jakarta. Well, yang bebas banjir, easy access, find it for me, will you?? "
" Kok Abang tiba-tiba mau pindah ke Jakarta?? "
" It's not suddenly. I've been thinking a lot lately"
" Why?? bukannya lebih enak di Singapura?? "
" Hmm yeah. But, Jakarta is my hometown, even Bunda is orang Betawi-Belanda. Aku lahir dan dibesarkan di Jakarta and aku tinggal lebih lama di Jakarta ketimbang di Singapura, makanan favoritku, ya makanan Indonesia. So maybe someday, I'll stay there. But the biggest reason is, because you are there. "
Marissa pun kembali terdiam. Ntah berapa kali Jovan telah mengungkapkan perasaanya kepada Marissa, tetapi Marissa seolah-olah membeku setiap kali Jovan menyinggung tentang perasaannya.
" Oiya bukan saya nyuruh kamu untuk cariin saya rumah, terus kamu survei mondar-mandir gitu, no it's not like that. I want you to find me a nice environment for living, you choose the area, if there's already houses then you choose one of it, pokoknya kamu pilih yang kamu suka, itu rumah, apartemen or even tanah kosong. Perlu renovasi or not, you decide. Let Bian help you "
" Di Jakarta?? dimana pun?? "
" Yes, Jakarta dan sekitarnya, mepet Bekasi pun it's okey "
" Oke "
" Now, kamu better balik ke dalam, kerja dulu, nanti dicariin, trus aku nanti yang disalahin karena ganggu kamu kerja "
" Oiya, I have to ga back. See you, Bang!! "
Marissa pun kembali ke dalam ruang rapat dan kembali melakukan pekerjaannya, tetapi pikirannya berada jauh di sana.
" Abang mau pindah ke Jakarta?? is he serious?? "
" Abang berulang kali menyatakan perasaannya, terus kalau aku terima, tiba-tiba Mischa muncul dari belahan kotamadya mana gitu, trus ngelabrak aku, aku dituduh jadi pelakor!!?? huaaa serem, aku ga mau!! aku kan takut!! "
" Ga Ris, kamu jangan goyah, jangan jadi pelakor, biar abang nyatain perasaannya, kamu still calm, jangan terbawa angin "
" He's just a guardian just like what he said before "
Sementara itu, Michael telah berulang kali meminta Marissa untuk menyelesaikan data ruang pun menjadi kesal, karena Marissa seperti tidak berada di depannya.
" Ris!! Risaa!! Riisaaaaa!! CAN YOU HEAR ME??!! "
Marissa pun terkesiap.
" Eh iya kenapa?? eh maaf, tadi minta apa?? "
" Minta kamu untuk fokus, back to our job!! mau pulang sore ini ga?? ayo buruan selesaikan datanya dulu!! "
" Eh iya, Bang. Maaf. "
Marissa pun kembali fokus dalam pekerjaannya begitu juga dengan Jovan yang melanjutkan penulisan novelnya.
Waktu makan siang pun tiba, pihak hotel pun menjamu tamu-tamu mereka dengan makan siang bersama pemilik dan direktur hotel, juga beserta beberapa staff manajemen hotel.
Setelah perkenalan, Marissa merasa tidak enak dengan Jovan yang masih menunggu di lobby, untuk itu ia meminta izin untuk keluar.
" Permisi, saya mau ke lobby sebentar. "
" Ada apa?? Jika ada sesuatu yang dibutuhkan, bisa kami bantu " ucap Raymond selaku pemilik hotel.
__ADS_1
" Tidak apa-apa kok Pak, saya cuma mau menemui seseorang di lobby. "
" Tamu Anda?? ajak sekalian saja, untuk makan siang bersama. "
" Eh ga usah Pak, ga perlu. "
" Tidak masalah, ajak sekalian saja teman Anda untuk makan siang bersama di sini."
Ardan pun memberikan isyarat kepada Marissa untuk mengikuti perintah Raymond.
Lalu Marissa pun menuju lobby, dilihatnya Jovan masih sibuk mengetik.
" Bang. "
Jovan pun menghentikan ketikannya.
" Lagi istirahat?? "
" Iya. Bang, makan siang dulu yuk, sudah ditunggu di dalam. "
" Eh Abang kok ikut makan siang di sana??Abang sendiri aja."
" Disuruh sama Pak Raymond, owner hotel. Katanya ajak sekalian untuk makan siang."
" Serius?? ga enak ah. Abang kan bukan tim desain. "
" Ikut aja Bang, tadi Bang Ardan juga minta aku panggil Abang, yuk buruan, ga enak sudah di tunggu."
" Beneran nih?? "
" Iya, yuk."
" Bang, nanti Abang memperkenalkan diri sendiri aja ya."
" Memangnya ada siapa saja?? "
" Manajemen hotel deh, plus direktur dan ownernya "
" Woo, top manajemen. Okay, noted "
Jovan pun membuka pintu ruang dan mempersilahkan Marissa untuk masuk terlebih dahulu.
" Permisi, saya Jovan Chen."
" Silahkan duduk Pak Jovan. "
" Terima kasih. "
" Ayo, silahkan dinikmati hidangannya. "
Makan siang pun dimulai, suara sendok dan garpu pun terdengar disela-sela percakapan.
Setelah beberapa pembahasan mengenai teknis renovasi, tibalah dengan percakapan santai yang menyangkut masalah pribadi.
" Maaf, Pak Jovan ini.....?? "
__ADS_1
" Oo, I'm Risa's guardian, " jawab Jovan.
" 11-12 sama bodyguard, " celutuk lirih Michael dengan nada kesal tetapi masih cukup terdengar.
" Hmmm babak perseteruan memperebutkan Risa dimulai nih, " gumam Ardan.
" Guardian?? maksudnya?? "
" Saya harus memastikan keselamatan dan keamanan Risa."
" Apakah Mbak Risa ini orang penting, kok saya tidak tahu?? " tanya Raymond.
" Well I tell you a secret, she is important, in my heart " jawab Jovan pura-pura berbisik yang membuat jajaran manajemen hotel tertawa.
" Nice, Bro!! " ucap Ardan sambil menjabat tangan Jovan yang membuat hati Michael panas.
" Pak, permisi boleh saya bertanya?? " tanya Marissa tiba-tiba.
" Iya, silahkan, " jawab Raymond.
" Di hotel ini ada pintu ajaib, tidak?? yang dapat menuju tempat yang diinginkan?? "
" Maksudnya?? "
" Seperti pintu doraemon " jawab Jovan cepat yang mengerti maksud Risa.
" Ga usah jauh-jauh, Ris. Just open your heart for me, that's would be enough " lanjut Jovan kembali dan membuat Ardan bertepuk tangan dan menjabat tangan Jovan sekali lagi.
Marissa yang telah mengantisipasi hal tersebut pun bersikap tidak perduli. Ia tetap menikmati makan siangnya hingga selesai.
" Maaf permisi, saya sudah selesai " ucap Marissa sambil berdiri.
" Silahkan " jawab Raymond.
" Mau kemana?? " tanya Ardan.
" Ke Timbuktu!! " jawab Marissa kesal lalu berjalan keluar ruangan.
" Hmmm getting interesting " gumam Ardan sambil melirik ke arah Jovan dan Michael.
Jovan pun berdiri,
" Well, someone is need to be chased. Excuse me " ucapnya.
" Silahkan, Pak " ucap Raymond mempersilahkan.
Ardan pun memberikan tangannya ke arah Jovan.
" Waiting for the good news " ucapnya.
" So am I " jawab Jovan sambil menjabat tangan Ardan yang kembali membuat seisi ruangan tertawa.
Jovan pun keluar ruangan untuk mengejar Marissa.
Sementara itu, Michael pun berusaha untuk melakukan hal yang sama dengan Jovan, tetapi Ardan dengan sigap menghentikannya.
__ADS_1
" Mau kemana?? kamu stay here, jangan ganggu mereka berdua. You have no chance untuk melawan Jovan, dia terlalu tinggi "
" Dalam arti sebenarnya " lanjutnya dengan suara lirih tetapi tetap terdengar jelas.