
Pukul 19.30, Jovan dan Marissa telah siap untuk memasuki ruangan resepsi dengan menaiki sepeda, sebagai bagian mengenang masa sekolah mereka.
Jovan dengan asyiknya berputar-putar di lobby ruang resepsi mereka. Sementara itu, tamu undangan telah menantikan dimulainya acara.
"Bang, aku takut," ucap Marissa yang membuat Jovan menghentikan kayuhannya.
Ia pun menghampiri Marissa dan mengelus-elus pipinya.
"Takut apa? Kan polisi sudah berjaga, keamanan hotel juga sudah, Silla dan Faisal juga selalu siap di dekat Sayang, so don't you worry, everything is gonna be fine," ucap Jovan lembut sambil memeluk Marissa.
"Tetapi feelingku ga enak, Bang," jawab Marissa yang merasa gugup dengan jantungnya yang berdebar kencang.
"Yang, kita istighfar bareng, yuk" ajak Jovan untuk menenangkan Marissa.
Marissa pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Astaghfirullah hal adzim wa atubu ilaik," ucap keduanya bersama-sama dan berulang.
Tak lama,
"Mas Jovan, Mbak Rissa, it's time," ucap Faisal yang menandakan saatnya Jovan dan Rissa untuk memasuki ruangan resepsi.
"Yang, yuk. Bismillah," ucap Jovan sambil beradu kening dengan Marissa.
Jovan pun kembali menaiki sepedanya dan Marissa pun membonceng di belakangnya.
"Kita sambut the New Bride and Groom, Marissa Shafeeya dan Jovan Chen!!"
Applaus yang meriah pun mengiringi dua sejoli yang memasuki ruangan dengan menaiki sepeda.
Siulan dan tepukan tangan mengiringi kayuhan Jovan menuju panggung pelaminan yang tetap dengan kawalan Faisal, Sila dan Adam.
__ADS_1
Jovan pun menghentikan kayuhannya untuk menaiki panggung pelaminan. Ia berjalan sambil menggandeng tangan Marissa dengan wajah yang tak lepas dari senyum bahagianya.
Seremonial acara pun dimulai satu persatu, pihak keamanan mulai merapatkan barisannya, setelah melihat banyaknya jumlah tamu undangan yang datang.
Hingga tiba saat pemberian ucapan selamat kepada pengantin, yang membuat Adam, Faisal dan Sila segera berjaga di samping panggung guna mengawasi setiap tamu yang mendekat.
Ribuan tamu undangan pun bergantian memberikan ucapan, pihak WO pun memecahkan antrian dengan mengarahkan sebagian tamu untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.
Meja dan kursi makan yang disediakan pun hampir penuh terisi.
Sementara itu, video tayangan akad nikah Jovan dan Marissa pun diputar pada layar besar di samping panggung.
Selain video akad nikah, ditampilkan juga foto-foto dan video masa kecil mereka yang menghipnotis para tamu undangan.
Rasa kagum akan hubungan Jovan dan Marissa yang bertahan selama lebih dari 20 tahun, membuat mereka tak melewatkan tayangan video tersebut.
Setelah beberapa saat, tiba-tiba Jovan menarik tangan Marissa kemudian ia menghampiri Mario dan memeluk keduanya, lalu terdengar suara letusan senjata yang membuat kepanikan para tamu undangan dan mereka pun berhamburan keluar dari lokasi pernikahan Jovan dan Marissa.
Polisi menyamar dan para pengawal pun segera meringkus pria yang memegang pistol tersenyum sinis dan tertawa bagaikan orang tak waras.
Marissa pun berteriak histeris ketakutan, air matanya pun mengalir deras melihat Jovan yang baru saja menjadi suaminya tergolek tak berdaya di depannya.
Kedua orang tua Jovan pun tak kalah panik, mereka segera memeriksa keadaan putranya dan menantunya.
Mario, ayah Marissa berteriak meminta bantuan ambulan. Sambil menghampiri putrinya dan kemudian memeluknya erat.
Tubuh Marissa bergoncang hebat karena tangisnya.
Jovan merasa semua berjalan dengan lambat, semua tampak dalam gerakan yang sangat lambat, ia pun tersenyum kemudian ia pun menutup matanya.
Tiba-tiba lampu pun dipadamkan, keheningan pun terjadi.
__ADS_1
Semua bagaikan terbius, diam tak bergerak pada posisinya masing-masing.
Waktu berjalan serasa lambat, tanpa ada suara dan gerakan, hingga beberapa menit kemudian terdengar suara.
"CUT!!!!"
Sesaat itu pun lampu kembali dinyalakan dan semua kembali pada posisinya masing-masing.
Jovan pun tersenyum sambil mengedipkan satu matanya ke arah Marissa, lalu ia berdiri tegap seperti tidak terjadi apa-apa.
"Nice acting, Bro!!!" teriak Jordan dari depan panggung yang diikuti dengan tepuk tangan meriah dari semua tamu.
................................................................................
Beberapa hari sebelumnya, kepolisian mengadakan rapat bersama di ruang rapat hotel. Rapat tersebut dihadiri oleh perwakilan dari WO, manajemen hotel, keluarga Sofyan, Chen dan Jafar.
"Sehubungan dengan adanya ancaman keselamatan atas Pak Mario, untuk itu kami telah menyusun rencana untuk mengelabui Winda. Rencana ini membutuhkan kerja sama semua pihak termasuk tamu undangan pernikahan," ucap Aiptu Adi.
"Kami telah berhasil memegang kaki tangan Winda, yang rencananya ia akan menyerang di saat resepsi berlangsung. Anda semua tidak perlu khawatir, kami telah berhasil mengelabui Winda dengan melepaskan kembali kaki tangannya dan bekerja untuk kita. Panggil Bayu, suruh dia masuk!" pinta Aiptu Adi kepada anak buahnya.
Tak lama, Bayu yang sedari awal telah menunggu di luar pun memasuki ruang rapat.
"Jadi ini adalah Bayu, pengawal pribadi tersangka. Ia diperintahkan untuk membunuh Pak Mario disaat resepsi pernikahan putri Bapak," jelas Aiptu Adi yang membuat suasana menjadi riuh.
"Tenang, saya minta tenang."
Setelah keadaan tenang, Aiptu Adi pun kembali berbicara.
"Kita akan membuat sebuah scene seperti dalam film. Bayu akan menembak Pak Mario di tengah-tengah acara resepsi, tetapi Mas Jovan akan bergerak bagaikan pahlawan dengan memeluk Pak Mario dan Mbak Marissa, kemudian ia akan menjadikan tubuhnya sebagai tameng dari peluru yang ditembakkan oleh Bayu. Tentunya peluru kosong dan kita akan membuat efek tembakannya seperti nyata, dengan darah buatan yang ditempelkan pada jas Mas Jovan. Lalu, Bayu akan segera kami bekuk dan lampu ruangan akan kami padamkan selama sekitar 5 menit. Di saat itu, saya minta semua tenang dan diam, jangan ada yang bergerak, hingga ada aba-aba dari kami," jelas Aiptu Adi panjang lebar.
"Semua scene akan direkam dan akan sampai ke Winda, sehingga ia akan menyangka eksekusi gagal dan mulai mencari jalan lainnya. Tetapi tentu saja hal tersebut tidak kami diamkan begitu saja, di malam itu, kami akan segera menangkap tersangka, karena sampai saat ini, petugas kami masih berjaga disekitar kediaman tersangka," lanjut Aiptu Adi.
__ADS_1
Setelah rapat tersebut, pihak WO pun memberikan pengumuman kepada seluruh tamu undangan melalui pesan singkat, bahwa pada saat resepsi nanti akan diadakan suatu adegan penembakan yang melibatkan Jovan sebagai korban. Adegan ini merupakan bagian dari acara untuk membuat suasana berbeda dari acara pernikahan biasa.
Pada hari H, semua tamu yang datang mendapatkan kertas yang berisikan adegan yang akan dilakukan nanti, tentu saja semua tamu sangat bersemangat untuk menjadi bagian dari acara yang lain dari biasanya.