Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 78 Orchard Road


__ADS_3

Rombongan pun kembali bergerak menuju Orchard Road sebelum menghadiri pemutaran perdana filmnya sekaligus meet and greet yang diadakan di salah Mall terbesar di Singapura, siang nanti.


Berbeda dengan para artis yang segera menuju tempat berbelanja, Jovan dan Marissa memilih untuk berjalan-jalan dan bersantai di salah satu coffeeshop sambil menikmati minuman kesukaan mereka berdua.


"Dari sini, kita akan ke Bugis Street dan Merlion," ucap Jovan sambil menyeruput Americano-nya.


Mendengar kata Bugis Street, Marissa langsung meletakkan gelas Frappuccinonya. Bayangan akan kecelakaan yang dialami oleh Josie beberapa tahun yang lalu pun menghampiri. Wajahnya pun mendadak tegang dan senyumnya pun menghilang. Jovan yang segera menyadari perubahan ekspresi Marissa pun segera berpindah duduk ke samping istri mungilnya itu dan memeluknya dari samping.


"Kenapa, kok tiba-tiba ekspresinya berubah?" tanya Jovan lembut.


"Maaf Bang, tapi aku kok jadi keingetan Bang Josie. Bugis Street, itukan tempat kecelakaannya Bang Josie, iya kan, Bang?"


"Bugis junction, yaa di Bugis street juga. Iya itu tempatnya, tempat Bang Josie sadar kalau itu Sayang," jawab Jovan sambil mencium pucuk kepala Marissa.


"Look Hon, semuanya sudah ada yang mengatur, Allah membuat skenario terbaik untuk kita semua, jadi kita tidak perlu larut dalam kesedihan ataupun penyesalan. Di saat itu, tugas Bang Josie di dunia sudah selesai, setelah berhasil menemukan orang yang disayanginya, karena mungkin Allah mempunyai rencana yang lebih manis untuk Bang Josie. Mungkin Allah sudah menyediakan bidadari-bidadari terbaiknya untuk Bang Josie. Ingatlah bahwa Allah is best the planner," lanjut Jovan.


"Mungkin tugasnya hanya sampai menemukan, tidak sampai memiliki. Tetapi, Bang Josie meninggalkan kenangan indah untuk Sayang miliki. Kenangan sedari kanak-kanak, berlanjut dengan pertemuan yang tak disengaja dan disadari. Semua inilah yang menjadi jalan rezeki Abang, jalan untuk menemukan Cinta Abang yang hilang," lanjut Jovan lagi.

__ADS_1


Di saat itu, sebenarnya Jovan diselimuti rasa cemburu akan Josie, tetapi ia segera merasionalkan pikiran dan hatinya, karena ia tidak mau menjadi cemburu buta akan seseorang yang telah tiada dan dapat merusak kenangan yang ada.


Kehadiran Jovan di Singapura yang memang telah dinantikan oleh para pecinta novelnya ini pun tak mereka sia-siakan, informasi tentang lokasi-lokasi yang akan Jovan dan rombongannya kunjungi selama 3 hari itu pun mereka kulik.


Termasuk di Orchard Road ini, banyak penggemar-penggemar Jovan yang mengabadikan momen idolanya bersantai dari jauh. Jovan dan Marissa pun menyadari hal tersebut, bahkan semenjak mereka tiba di bandara, tetapi keduanya bersikap santai akan hal tersebut.


Sampai akhirnya beberapa dari mereka mulai mendekati untuk meminta tanda tangan dan foto bersama. Jovan dan Marissa pun tetap menanggapinya dengan ramah dan santai.


Kepergian mereka on public sebagai pasangan suami-istri ini merupakan yang pertama kalinya dan kunjungan ke Singapura ini pun menjadi kunjungan perdana mereka setelah menikah.


Marissa melihat sekelilingnya, lokasi yang hanya sempat ia lewati beberapa tahun yang lalu ketika mengikuti kompetisi dan kini ia kembali. Gedung-gedung pencakar langit modern menghiasi pusat kota. Mata Marissa kemudian mengarah ke lokasi Merlion Park yang tidak terlalu jauh.


Perubahan fisik dari anak menjadi dewasa, jelas membuat mereka tidak saling mengenali satu sama lain.


Menjelang makan siang, rombongan pun kembali bergerak menuju rumah makan yang menyajikan makanan khas peranakan Singapura. Menu utama yang dinantikan adalah Chilli Crab dan Hainan Chicken Rice, ditambah dengan es kacang merah dan teh tarik sebagai pelepas dahaga yang merupakan khas Singapura.


Makan siang disertai dengan senda gurau juga foto-foto, menambah keakraban para aktor dengan Jovan.

__ADS_1


"Bang, dulu biasa jajan dimana?"


"Jajan apa dulu? Kalau cemilan seperti roti canai, prata, yang India-India gitu sih banyak di little India, tapi lebih sering ke Bugis Street, disana banyak makanan khas Melayu dan Indonesia. But, lebih enak dan murah yang di Batam. Lidahnya sudah lidah Indonesia, jadi yaa seenak-enaknya makanan Melayu, tetap lebih enak makanan Indonesia," jawab Jovan.


"Bang, nggak kepikiran untuk jadi WNI? kan sudah tinggal di Jakarta, kerja di sana juga, istri juga orang Indonesia, nggak sekalian aja?" tanya salah satu aktor.


"Hmmm, sebenarnya ada keinginan untuk pindah, tapi masih nanti, mau konsultasi sama pengacara dulu," jawab Jovan lagi.


"Konsultasi ke Pak Robert?" tanya Marissa.


"Iya, ayah menyarankan untuk konsultasi terlebih dahulu ke Pak Robert, tapi nanti setelah promosi ini selesai. Ayah sih sudah sedikit ngasih pandangannya, tapi tetapi minta pendapat Pak Robert yang paham benar untuk urusan hukum ini," jelas Jovan.


"Pak Robert itu siapa, Bang?" tanya salah satu aktor.


"Pak Robert itu pengacara keluarga Sofyan, beliau yang menangani semua masalah hukum dan legalitas perusahaan, termasuk masalah hukum kasus percobaan pembunuhan Pak Mario," jelas Jovan.


"Kisah hidup Mbak Risa sama Bang Jovan ini, memang layak banget dijadikan film, seperti Cinderella kekinian," ucap Bian.

__ADS_1


"Bedanya kalau Cinderella punya saudara dan ibu tiri yang julid, kalau aku, alhamdulillah nggak ada yang julid selain teman sekolah, tapi itu sih wajar," sambung Marissa.


Rakesh dan Tommy, sang sutradara tidak mengikuti perbincangan para aktor dengan Jovan, karena mereka berdua sedang membahas fan meeting bersama pihak penyelenggara yang akan dilaksanakan setelah nonton bareng.


__ADS_2