
Arini menceritakan kekhawatirannya kepada Ibu Rania akan kesehatan Radit yang semakin menurun akhir-akhir ini. Namun Ibu Rania malah tertawa senang. Profesinya sebagai Dokter kandungan waktu itu, bisa langsung menarik kesimpulan bahwa ia yakini kalau Radit mengalami Cauvade Syndrome yaitu fenomena kesehatan pria yang mengalami gejala-gejala yang dirasakan ibu hamil.
"Tapi Arini bulan ini sudah dapet menstruasi Bu." Ucap Arini pada Ibu Rania melalui pesawat telepon.
"Tapi darah haid kamu nggak selancar menstruasi biasanya kan?"
"Iya sih Bu... cuma bercak darah cokelat aja, itupun dua hari.... trus selang sehari, ada lagi."
Terdengar Ibu Rania tertawa kecil.
"Sekarang kamu beli tesfek... coba cek. Ibu yakin sekarang kamu sedang hamil."
"Ibu yakin?"
"Yakin seratus persen, apalagi denger Mas yang muntah-muntah terus, itu tandanya Mas kena syndrome."
"Jadi Mas Radit nggak sakit apa-apa?
"Nggak.... Mas baik-baik aja, kamu nggak usah khawatir."
"Ya udah kalau gitu, Arini beli tesfek dulu."
"Jangan lupa beri tahu Ibu hasilnya ya Rin."
"Iya Bu..."
Arini mengakhiri sambungan teleponnya. Dan langsung bersiap menuju apotek dengan diantar sopir pribadinya.
"Mbak saya mau beli tesfek." Ucap Arini kepada pelayan apotek.
"Mau merek apa Mbak?"
Sejenak Arini diam," Yang paling bagus dan akurat aja Mbak."
"Tunggu sebentar ya Mbak."
Pelayan itu meninggalkan Arini untuk membawa tesfek yang sesuai dengan apa yang Arini inginkan.
"Arini...." Sapa seseorang dari arah samping.
Arini pun menoleh," Gea.... ini Gea kan?"
"Iya ini aku Gea."
Arini dan Gea langsung berpelukan, sahabat lama sewaktu kuliah dulu.
"Kamu kemana aja Rin, aku kangen banget sama kamu."
"Aku juga kangen banget sama kamu."
"Jangan-jangan kamu tinggal disini?"
"Iya aku tinggal disini sekarang." Ucap Arini dengan masih berpegangan tangan dengan Gea.
"Mbak.... ini tesfeknya." Sela pelayan tadi.
"Sebenyar ya Ge...," Arini mengambil tesfek itu dengan membayar sejumlah uang, dan kemudian mendekati Gea lagi.
"Rin kita ngobrol sebentar disana yuk?" Ajak Gea.
"Boleh."
Mereka pun duduk dikursi yang tersedia didalam apotek itu.
"Tesfek buat siapa?" Tanya Gea.
__ADS_1
"Buat aku."
"Kamu udah nikah?"
Arini langsung tersenyum," Sudah.... baru aja masuk tiga bulan."
"Sama Aditya... atau...?" Tanya Gea ragu-ragu.
"Bukan...," Potong Arini,".... aku nikah sama yang lain."
Gea langsung bernafas lega, itu artinya Arini akan baik-baik saja karena tidak akan mendapat gangguan lagi dari Ayahnya Aditya.
"Kandungan kamu waktu itu gimana.... apa kamu melahirkan bayi itu?"
"Iya.... sekarang dia sudah besar Ge.... udah mau lima tahun."
Mata Gea langsung berkaca-kaca, tidak bisa membayangkan bagaimana Arini bisa melahirkan anak tanpa seorang suami.
"Apa kamu bahagia?" Tanya Gea dengan menitikan air mata.
"Ge... kenapa kamu nangis...," Seraya menghapus air mata Gea,".... sekarang aku bahagia, suami ku bisa menerima semua masa laluku, termasuk menyanyangi anakku seperti anaknya sendiri."
Tangisan Gea langsung bercampur haru," Aku seneng dengernya, akhirnya aku tahu kalau kamu sudah bahagia sekarang."
Arini tersenyum," Makasih Ge.... kapan-kapan aku kenalin kamu sama suami aku."
"Iya aku mau, aku tunggu loh.... aku harus ngucapin selamet kepada dia karena sudah berhasil mendapatkan hati seorang Arini."
"Ah kamu bisa aja.... oh iya apa sekarang kamu juga tinggal di Surabaya?"
"Iya... aku diterima perusahaan Jepang yang ada di Surabaya, jadi aku mutusin buat pindah kesini."
"Berarti kita bisa sering ketemu kalau gitu?"
Mereka langsung tertawa senang, mengingat kembali masa-masa saat masih kuliah dulu.
Namun obrolan itu tidak berlangsung lama, Gea yang harus kembali ke kantor memaksa mereka untuk kembali berpisah setelah sama-sama bertukar nomor kontak masing-masing, untuk merencanakan pertemuan mereka selanjutnya.
Sampai dirumah....
Arini bergegas masuk ke kamar mandi, membuang air kecil dan menyimpannya dalam sebuah wadah kecil, lalu mencelupkan tesfek kedalamnya.
Arini berjalan mondar-mandir, menunggu hasil benda kecil memanjang itu hingga enam puluh detik lamanya.
Detak jantung yang berdegup kencang, Arini menutup sebelah matanya. Mengambil tesfek itu keudara dan ternyata.... seketika mata Arini terbuka lebar, garis dua....
Arini menakup tesfek itu, mengucap syukur tiada henti atas karunia Tuhan dengan memberikan kepercayaannya lagi untuk menjadi Ibu dari buah cintanya dengan Radit.
Hari yang terasa indah untuknya, bertemu dengan sahabatnya dan sekaligus mendapatkan malaikat kecil yang sekarang hidup dalam perutnya.
Tepat jam empat sore, mobil Radit memasuki halaman rumah, Arini segera bersembunyi dibalik tirai untuk memberikan kejutan kepada Radit.
Pintu kamar terbuka, Radit celingukan mencari Arini yang biasanya selalu menyambut kedatangannya bila sudah tiba dirumah.
"Sayang...." Radit menyimpan tasnya di sofa.
"Kamu didalam?" Tanyanya sambil mengetuk pintu kamar mandi dan masih tidak ada jawaban.
Namun matanya langsung tersita saat melihat satu piring besar buah nanas di atas meja rias.
Radit tersenyum, ia pun berjalan menuju meja rias itu. Baru saja ia akan menusuk potongan nanas itu dengan garpu, ia melihat sebuah tulisan disana.
Hei suami... mundurlah lima langkah!!!
Radit mengeryitkan keningnya. Ia yakin ini adalah tulisan tangan Arini. Ia pun mengikuti petunjuk itu. Mundur lima langkah, dan ia sampai disamping tempat tidur.
__ADS_1
Ada secarik kertas lagi disana, Radit pun membacanya.
Temukan seseorang disana... maju sepuluh langkah!!!
Radit tersenyum, ia pun mengikuti arahan kertas itu lagi, hingga akhirnya dia sampai disebuah lemari. Dan ada sebuah amplop kecil yang diselipkan digagang lemari itu.
Raditpun mengambil dan membukanya, sebuah foto bayi perempuan yang sangat lucu dan sesuatu yang menempel dibagian belakangnya. Radit membaliknya.
Tesfek... garis dua
Seketika itu juga Radit tidak bisa menahan senyuman bahagianya. Dia yakin kalau ini adalah tesfek milik Arini.
"Sayang kamu dimana.... aku yakin kamu ada disini kan?"
Arini keluar dari persembunyiannya, berjalan mengendap dan langsung memeluk Radit dari arah belakang.
"Aku disini..." Ucap Arini dengan tertawa.
Radit membalikan tubuhnya," Sayang kamu hamil?"
Arini mengangguk," Iya Mas."
Radit langsung memangku Arini dengan melingkarkan tangannya dipinggang Arini, mengangkat dan memutar-mutarkan tubuhnya.
"Mas turunin... kepalaku pusing."
" Aku seneng banget... makasih sayang." Seraya menakup pipi Arini dan mencium keningnya.
Raditpun memapah Arini untuk duduk di tepi tempat tidur.
"Jadi selama ini aku...?"
"Iya sayang.... aku yang hamil, Mas yang ngidamnya." Sambil menunjuk buah nanas diatas meja sambil tertawa geli.
Radit tertawa," Mau muntah-muntah sampai kamu lahiran pun aku bakalan mau... bahkan aku seneng bisa menggantikan itu demi kamu dan anak kita " Sambil mengelus perut Arini yang masih rata.
"Kamu tahu, awalnya aku sempet berpikir kalau aku terkena Cauvade Syndrom, tapi inget kamu udah dapet menstruasi bulan sekarang aku langsung kubur dalam-dalam pikiran itu.... ah dan ternyata perkiraan aku benar."
"Aku juga nggak percaya kalau aku hamil, soalnya aku tidak merasakan apa-apa, tidak seperti saat aku sedang mengandung Nuno."
Radit mengelus perut Arini,"Mungkin anak kita nggak mau bikin bundanya kesusahan... jadi lebih memilih Ayahnya deh."
"Itu karena dia tahu, Ayahnya suka bikin Bundanya kesusahan, bergadang terus tiap malem." Tutur Arini.
Radit terkikik, membenarkan perkataan Arini. Lalu ia berjongkok didepan Arini.
"Aku akan menjaga kamu dan anak kita.... jaga baik-baik Bunda ya sayang." Seraya mencium perut Arini.
"Ih dia jawab loh...." Seru Radit dengan menempelkan telinganya diperut Arini.
"Ih ngarang."
"Beneran... katanya pengen dijengukin Ayah."
Seketika Arini tertawa," Modus ih.... lagian ini masih siang."
"Oh masih siang...," Radit kembali mengelus perut Arini,"... kata Bunda nanti malem aja sayang."
"Mas iiih...."
...........................................................
...........................................................
......................................Bersambung.....
__ADS_1