
Sore mulai menjelang, Ibu Rania baru keluar dari ruangan Arini setelah melakukan beberapa tahapan pemeriksaan demi mempertahankan tumbuh kembang sang janin yang masih bersemayam diperut Arini.
Ketukan sepatunya menggema memenuhi koridor Rumah Sakit yang terasa sepi. Namun ada derap langkah kaki lain yang seperti sedang berlari mengejar.
"Tanteee..."
Ibu Rania yang sudah hampir memijit tombol lift untuk turun, melongokan kepala.
"Tante Rania tunggu."
Mata yang sudah buram karena faktor usia, mengharuskan Ibu Rania menyipitkan mata bila melihat objek dari jarak jauh. Plus kacamata yang tidak ia pakai, membuatnya kesulitan untuk bisa mengenalinya.
Seorang perempuan yang muncul dari arah tangga darurat, berlari dengan terengah.
Sampai didepannya, perempuan itu membungkuk, memegang kedua lutut untuk meredakan nafasnya yang sudah tidak beraturan saking lelahnya menaiki tangga ditambah harus berlari mengejar Ibu Rania.
"Tante..."
"Adila... kamu Adila kan?" Tebak Ibu Rania.
Adila kembali berdiri tegak, menarik nafas beberapa kali seraya mengangguk cepat," Iya Tante ini Adila."
"Ya ampun...hampir aja Tante nggak ngenalin kamu. Sudah jadi gadis ya sekarang, tambah cantik." Memeluk Adila, mencium pipi kiri dan kanannya.
"Ah Tante bisa aja." Tersipu malu.
"Kenapa Dila bisa datang dari sana?"Menunjuk tangga darurat.
"Tadi liftnya penuh terus, ya udah lewat sana aja jadinya."
Ibu Rania tersenyum," Kamu ini ndak berubah, masih sama seperti dulu, nggak sabaran."
Adila balas tersenyum malu, itu salah satu sifat yang tidak enyah juga dalam kepribadiannya.
Adila menepuk keningnya, saking asyiknya mengobrol, Adila sampai melupakan tujuan awalnya datang kelantai sembilan ini.
"Kenapa Dil?" Tanya Ibu Rania.
"Dila lupa Tan... Dila kesini kan pengen tahu kabarnya Kak Radit, tadi di apotek Dila denger katanya Kak Radit tertabrak motor jadi Dila pengen lihat keadaannya."
"Oh jadi bukan karena pengen ketemu Tante nih ceritanya?"
"Ih nggak gitu juga kali Tan... kebetulan aja Dila lihat Tante ada disini, Dila kira Tante ada di Yogya."
Ibu Rania mengangguk paham," Mas nggak papa, cuma lecet dan terkilir aja. Sekarang lagi diurut sama tukang pijat."
Adila bernafas lega, karena kabar selentingan dibawah tadi, Radit mengalami cedera parah, bahkan sampai patah tulang.
Dasar Suster ghibah.... cebik Adila dalam hati.
"Sekarang Kak Radit ada dimana Tan... Dila pengen jenguk."
Ibu Rania menunjukan jarinya, yang kebetulan kamar Arini lurus dari hadapannya sekarang," Itu disana."
Adila menoleh, melihat kamar dengan nomor 205," Ya udah Tan, Dila kesana dulu ya... dah Tante..."
Adila langsung berlari tanpa menunggu penjelasan dari Ibu Rania terlebih dahulu.
"Eh Dil....," Ibu Rania tidak meneruskan kata-katanya, padahal dia ingin menjelaskan kalau disana juga ada istrinya Radit yang sedang sakit.
Ibu Rania menggelengkan kepalanya, "Adila...Adila..."
__ADS_1
******
Tanpa permisi Adila langsung membuka pintu dan menerobos masuk. Namun langkahnya langsung terhenti tatkala bukannya Radit yang terbaring diranjang sana, melainkan perempuan yang sekarang sedang balik menatapnya.
Adila menutup wajah, balik badan untuk kembali keluar.
"Adila..."
Adila tertegun, menurunkan tangan saat mendengar namanya disebut. Apa mungkin orang itu mengenalnya?
Adila balik menoleh, memperhatikan siapa sebenarnya wanita yang tahu namanya itu.
"Adila kan...?"
Adila berjalan mendekat dengan langkah ragu, sepertinya dia pun mulai mengenalinya setelah semakin dekat menghampirinya.
"Mbak cantik..." Seru Adila dengan berhambur mendekati Arini.
"Senengnya bisa ketemu Mbak lagi... gue eh maksudnya aku salah masuk kamar... aku kira tadi siapa, tapi untung ini kamarnya Mbak cantik jadi nggak terlalu malu...," Ujarnya sambil cengegesan,".... tapi bentar-bentar, kok Mbak disini, Mbak kenapa.... pasti karena sakit yang kemarin kan... Mbak pendarahan ya... tapi kandungan Mbak nggak papa kan?" Cerocos Adila.
Arini tersenyum, sama seperti pertemuan di awal dengannya kemarin, selalu memberikan pertanyaan yang berderet.
Adila menggeret kursi dan mendudukinya," Kebanyakan ya Mbak... kebiasaan ini mulut kalau ngomong nggak bisa ngerem, bawaannya blong mulu."
Arini tertawa kecil, setiap bertemu dengan Adila gurauannya selalu membuatnya tertawa.
"Mbak cantik baik-baik aja kan?"
"Baik... cuma jangan banyak bergerak dulu."
Adila manggut-manggut, kemudian menyusuri ruangan yang baru dia sadari tampak berbeda dari ruangan rawat lainnya. Kemudian ia mengangguk dan tersenyum setelah mendapati seorang Bapak tua sedang duduk di sebuah sofa.
Arini tersenyum lagi, Adila yang ceplas ceplos berbicara apa adanya membuat Arini seperti mendapatkan hiburan tersendiri.
"Bukan... tapi ini..."
Belum Arini menyelesaikan ucapannya, Radit keluar dari kamar mandi. Sontak Adila pun menoleh kearah pintu kamar mandi yang terbuka.
"Kak Radit."
"Adila."
Dengan berjalan pincang Radit mendekati Adila.
"Adila kok bisa ada disini?" Tanya Radit terheran-heran.
"Kak Radit kok ada disini juga... udah nggak jadi Dokter bedah lagi ya sekarang?" Adila malah balik bertanya.
Radit mengeryit dengan pertanyaan Adila, sedangkan Arini menutup mulut dengan tangan, menahan senyum agar tidak terlihat oleh Adila.
"Kak Radit pindah jadi Dokter kandungan ya sekarang?" Tanyanya lagi.
"Kakak masih tetap Dokter bedah kok." Seraya duduk ditepi ranjang dengan menarik tangan Arini dalam gengamannya.
Mata Adila ikut tertarik melihat pergerakan tangan Radit. Sekarang ia mulai menebak, dan mudah-mudahan saja tidak sampai meleset, pikirnya.
Adila memutari tempat tidur," Atau jangan-jangan Mbak cantik ini istrinya Kak Radit?" Menunjukan kedua telunjuk kearah mereka berdua.
Arini dan Radit saling bertukar pandang dan balas tersenyum.
Adila menepuk jidatnya," Ya ampun.... ternyata dunia ini memang sempit... pantesan Kak Radit buru-buru nikah, kalau ternyata dapet cewek secantik Mbak Arini."
__ADS_1
"Itu tahu..." Jawab Radit sambil mengusap-usap tangan Arini.
Adila menurunkan pantatnya, duduk ditepi ranjang Arini.
"Takut keburu disamber orang tuh Mbak."
Radit tergelak mendengar tuduhan yang Adila lontarkan.
"Sebentar... bagaimana awalnya kalian bisa saling kenal?" Tanya Radit menatap mereka bergantian.
"Adila membantu aku waktu kesakitan saat mengantar makanan buat Mas waktu itu."
Adila mempertemukan jari telunjuk dan jempolnya hingga berbentuk lingkaran, membenarkan perkataan Arini.
Radit melihat Arini," Maaf ya sayang, aku baru tahu kalau kejadiannya sampai seperti itu " Sambil mengelus kening Arini.
"Ehem... ehem... ada aku loh Kak. Jangan mesra-mesraan, aku cemburu nih." Seloroh Adila.
Radit dan Arini tertawa mendengar celotehan Adila.
"Jadi Dila mau jenguk siapa sampai salah masuk kamar?" Tanya Arini.
"Mau jenguk Kak Radit.... kebetulan tadi ketemu sama Tante Rania didepan, trus nunjukin kamar ini... ya aku langsung kemari, eh...eh ternyata." Adila menaik turunkan alisnya.
"Ya udah kalian lanjutin lagi ngobrolnya, Mas mau nerusin dipijit." Radit beranjak dari duduk dan menghampiri tukang urut yang sudah menunggunya dari tadi.
Arini dan Adila kembali melanjutkan obrolannya, sesekali Arini tergelak saat mendengar cerita Adila yang terus merepet seperti petasan, tidak ada hentinya.
Ceklek... pintu kamar Arini terbuka lebar.
Arini dan Adila langsung menoleh, melihat siapa yang masuk kekamarnya.
"Bundaaaa..."
"Sayaaang...."
Nuno berlari dan naik keatas ranjang, mendekap Arini. Aditya yang baru saja menutup pintu tidak bergeming ditempatnya setelah melihat sosok wanita yang sekarang bersama Arini, wajah yang tidak asing dan pernah dia jumpai.
Dan Adila, syok dengan keadaan yang tiba-tiba saja membuat mulutnya kaku seketika.
Adila langsung berdiri, membuang wajahnya. Arini yang menyadari itu, melihat jelas kegugupan di wajah Adila.
"Mau kemana Dil?"
"Aku... aku pulang dulu ya Mbak, aku lupa harus bawa obat di apotek, aku permisi ya Mbak." Ucap Adila dengan sangat buru-buru.
"Iya... hati-hati Dil." Jawab Arini yang menyadari kalau situasi ini membuat Adila segera ingin menghindar.
Mudah-mudahn dia lupa sama gue... please...please... Mohon Adila dalam hati.
Detak jantung terpecah-pecah porak poranda saat bola mata itu terus menatapnya. Adila mulai berjalan dan Aditya pun mulai melangkahkan kakinya masuk lebih dalam.
Berpapasan ditengah, Adila menurunkan wajah lebih rendah, menyembunyikannya dibawah sana, dan segera keluar, hilang dibalik pintu.
Aditya kembali menoleh, melihat pintu yang sudah kembali tertutup rapat. Diam sejenak... Apa mungkin dia itu... tapi kenapa sangat berbeda???
............................................................
............................................................
..................................... Bersambung......
__ADS_1