
"Jadi beliau menawarkan dana bantuan, tanpa bunga dan dikembalikan dengan bagi hasil selama 7 tahun saja. Tetapi persyaratannya yang sangat tidak masuk diakal, yaitu harus bersedia menikah dengan putrinya yang telah berusia jauh di atas mas Mario, yaitu 39 tahun atau sekitar 8 tahun lebih tua."
"Mas Mario menolak syarat tersebut dan mencoba mencari jalan lain. Berbagai cara tetapi hasilnya pun nihil. Akhirnya Mas Mario menerima permintaan tersebut karena paling tidak kehidupan kalian akan ia jamin setiap bulannya."
"Tetapi setelah menikah, mas Mario mendapatkan ancaman kembali, jika masih berhubungan dengan istri dan anaknya, maka keselamatan istri atau anaknya menjadi ancaman, karena ada yang memergoki kalau mas Mario masih sering mengawasi rumah kalian dan mentransfer sejumlah uang untuk kalian berdua."
"Akhirnya Mas Mario mengalah untuk keselamatan kalian, sewaktu mbak Riska kecelakaan, kami terlambat mengetahui. Kamu sudah dibawa pergi dan tetangga tidak ada yang mau membantu kami karena mereka marah dengan ayahmu yang meninggalkan kalian berdua begitu saja."
"Mas Mario sangat marah, pernikahannya penuh dengan perkelahian setiap harinya, mas Mario menyalahkan istrinya karena ia beranggapan secara tidak langsung istrinya menyebabkan kematian Riska."
"Kemarahannya membuat dirinya sakit-sakitan, darah tinggi, jantung akhirnya diabetes. Hingga akhirnya 5 tahun yang lalu, ketiga penyakitnya menyerangnya bersamaan dan ia meninggal di rumah sakit setelah mendapatkan perawatan intensif selama hampir 1 bulan."
"Intinya saat ini kamu mewariskan harta ayahmu yang masih Om simpan di rekening atas namamu, yang ayahmu buat setelah ibumu meninggal."
Air mata Marissa mengalir tanpa suara dan badannya sedikit berguncang menahan tangis.
Alex pun memeluk keponakannya dan membelai kepalanya.
"Maafin Om, maafin yang gagal menjaga kamu, yang gagal mencari mu. Tapi karena sekarang kamu sudah disini, kamu pulang ikut Om. Cha, kamu mewarisi 3,5 milliar rupiah dari ayahmu. Semua keuntungan perusahaan untuk dirinya, 100 % dialihkan ke rekening mu setiap tahunnya. Setelah ayahmu meninggal, semua saham yang ayahmu miliki dialihkan untukmu. Om sudah bayar pajak dan zakatnya, jadi kamu bisa menggunakannya untuk apa pun yang kamu mau. "
"Jadi selama ini ayah ga ninggalin Icha?? om juga??"
"Kami tidak pernah meninggalkanmu, Cha. Karena kesalahpahaman ini menyebabkan tertutupnya informasi, semua tetangga membenci kami hingga menutup rapat-rapat informasi tentang keberadaan kamu."
"Termasuk Aryo yang sangat marah, hingga menolak semua telepon dari kami, hingga terakhir tidak bisa dihubungi sama sekali."
"Om tidak menyalahkan siapa-siapa, ini sudah takdir yang Allah berikan untuk kita semua. Jadi sekarang Om minta, kamu ikut Om pulang ke rumah yaa. Rumah om tidak jauh dari sini."
"Tapi Om, aku kerja di Kuningan, jauh kalau
dari sini."
"Kamu resign."
__ADS_1
"Aku masih ada proyek dan kontrak kerja, nanti kena penalti."
"Om akan urus semua, tidak masalah, kamu di rumah, saatnya kamu istirahat. Kamu pasti lelah dengan perjuangan mu seorang diri, it's time untuk kamu menarik nafas sejenak, istirahat, yaa."
Marissa pun mengangguk.
Jorrian dan Jovanka hanya terdiam, sulit untuk mereka mempercayai cerita Alex yang begitu tragis.
"Apakah Mario punya anak dari pernikahannya yang kedua?? " tanya Jorrian.
" Ada 2 anak, kembar laki-laki dan perempuan. Namanya Marendra dan Mariska, ia menggabungkan nama Riska dan Marissa untuk putrinya. Mereka baru berusia 15 tahun dan saat ini tinggal di Australia. Akses komunikasi diputus oleh keluarganya, jadi hanya sebatas ini yang saya ketahui."
"Ada anak perempuannya juga, nanti pada saat akan menikah pasti mereka akan mencari Anda, karena Anda adalah walinya," ucap Jorrian.
"Iya, saya menunggu saja. Walaupun saya tidak mengenal mereka, karena memang keluarga istrinya tidak menginginkan keterlibatan dari keluarga mas Mario dalam keluarga mereka. Yaa karena awalnya adalah urusan meminjam uang, mereka berfikir kami akan mengemis kepada mereka. Itu yang Mas Mario katakan, itulah kenapa ia sangat sakit hati. Tetapi semuanya ia tahan hingga ia bawa rasa sakit itu hingga ajalnya, untuk melindungi kamu Cha. Ayahmu takut keselamatan kamu akan terancam jika ia berusaha menemuimu."
"Sering ketika berada di kantor, ayahmu termenung, mengandai-andaikan kehidupannya yang berbeda, masih bersama ibumu dan kamu. Terkadang ia menangis menyesali keputusan yang ia buat untuk menyelamatkan perusahaan dan menutupi hutangnya, tetapi keluarga yang ia cintai adalah gantinya."
"Tetapi penyesalan tidak akan menyelesaikan masalah, untuk itu ayahmu bekerja giat membangun perusahaan ini, yang nantinya adalah kamu yang akan menikmati hasilnya."
"Tapi Om... "
"Tidak ada penolakan, kamu mau belanja apa?? mau makan apa?? berapa pun ga masalah."
"Hmmm tadi bunda juga ngajakin yang sama."
"Bu Jovanka, boleh saya yang mengajak Marissa hari ini atau bagaimana jika kita pergi bersama-sama??"
"Oiya, sekalian kita ke dealer mobil, kita beli mobil untuk kamu," tambah Alex.
"Om, aku ga bisa nyetir."
"Nanti pakai supir, kalau kamu mau belajar nyetir, nanti Om yang ajarin. Om tidak akan melewati momen bersama kamu lagi."
__ADS_1
Marissa pun menyetujui, walaupun dirinya masih belum dapat mencerna semua yang Alex katakan. Tetapi ia dapat merasakan kehangatan yang selama ini ia rindukan, pelukan dan perhatian dari ayah yang sangat ia nantikan. Walaupun ayahnya telah tiada, tetapi ada pamannya yang akan menggantikan kerinduannya.
"Well, kita pergi sekarang?? Kita ke dealer dulu yaa, setelah itu baru ke tempat yang lain."
"Terserah Om saja."
Jorrian yang meragukan kebenaran cerita Alex tak lantas diam saja, ia merekam semua pembicaraan Alex. Ia akan menjadikannya bukti jika Alex membohongi Marissa.
Alex pun mengajak Marissa ke sebuah dealer mobil Toyota yang tak jauh dari kantornya, diikuti oleh Bian dan orang tua Jovan.
Sesampainya disana, Alex memilihkan mobil kecil tipe hatchback untuk Marissa.
"Kamu pilih warnanya yang kamu suka," pinta Alex.
"Merah."
"Oke, merah."
Setelah mengurus administrasi pembelian, ia pun membayar mobil untuk Marissa secara tunai.
"Mobil akan siap dalam waktu 6 hari kerja untuk kelengkapan surat-suratnya, sedangkan untuk BPKB sekitar 2-3 bulan."
"Baik, nanti jika mobil sudah siap, tolong antarkan ke alamat ini."
"Baik, Pak."
"Oke Cha, mobilnya sudah. Tadi Om ambil tipe yang paling tinggi, karena dari segi keamanannya yang paling mumpuni."
Jorrian dan Jovanka berpandangan.
"Ternyata Icha sama kayanya dari Jovan??" tanya Jovanka.
"Bisa jadi Icha lebih kaya dari Jovan, dia kan yang memegang saham perusahaan ayahnya, keuntungan tiap tahun berapa ratus juta?? atau bahkan milliar??" jawab Jorrian.
__ADS_1
"Kita memang cuma remahan rengginang ya, Bang."