Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 56 First Night


__ADS_3

Mengingat peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa Josie, membuat Jovan termenung.


Setelah makan malam usai, Jovan pun memilih untuk menyendiri di kamarnya, sehingga membuat Marissa merasa bersalah karena tanpa sengaja ia telah membuka luka lama di hati Jovan.


Jorrian dan Jovanka pun mengajak Marissa untuk berbicara di ruang keluarga.


"Cha, Jovan masih di kamar??" tanya Jovanka.


"Iya, Bun. Abang ngunci pintunya, aku jadi feel guilty, karena sudah membuka luka lamanya Abang," jawab Marissa penuh penyesalan.


Jovanka pun merangkul Marissa dan mengelus-elus punggungnya.


"Ga, Cha. Kamu bukan membuka luka lama, tetapi hanya mencari tahu kejadian yang sebenarnya dan kamu tidak salah. Bunda juga akan melakukan hal yang sama kalau Bunda menjadi kamu. Untuk saat ini, biarkan Jovan menyendiri agar pikirannya jernih. Biarkan ia menyelesaikan apapun yang sedang ia pikirkan," ucap Jovanka.


"Iya, Cha. Terkadang kami para pria, membutuhkan waktu untuk kami sendiri, bukan karena kami tidak membutuhkan kalian, wanita pendamping kami, tetapi kami hanya membutuhkan waktu diam sesaat, agar pikiran kami lebih jernih. Tenang saja, Jovan tidak akan menyalahkanmu karena telah mengungkit peristiwa kematian Josie. Kematian Josie itu adalah sesuatu yang telah digariskan Allah dan itu adalah yang terbaik. Ayah dan Bunda tidak tahu apa yang akan terjadi jika Jovan dan Josie bersaing untuk memperebutkanmu, pasti semuanya akan tersakiti. Jadi, ini adalah rencana Allah dan Allah is the best planner," tambah Jorrian.


Marissa pun mengikuti nasihat orang tua Jovan, dengan membiarkan Jovan menyendiri di dalam kamar sehingga ia memiliki waktu untuk melakukan hobinya, yaitu menggambar.


Marissa mengambil perlengkapan menggambarnya yang ia simpan di ruang kerja di samping ruang keluarga.


Meja kerjanya pun dipenuhi dengan perlengkapan menggambar dan majalah yang dijadikannya referensi untuk ide menggambarnya.


Garis demi garis ia tuangkan ke atas kertas sketsa hingga membentuk sebuah bangunan.


Keahliannya dalam menggambar bentuk-bentuk arsitektur pun terlihat jelas dalam sketsa yang dibuatnya.


Garis-garis yang membentuk gedung-gedung pencakar langit di pusat bisnis Jakarta, ia tuangkan dengan detil.


Suasana kepadatan jalan raya di sekitarnya pun jelas ia gambarkan, membuat gambarnya tampak nyata.


Setelah selesai membuat sketsa, ia pun melanjutkan dengan menebalkannya dengan menggunakan drawing pen, sebelum ia mulai mewarnainya.


Marissa tampak sangat asyik dengan hobinya itu, hingga tidak menyadari jika Jovan telah berada di belakang memperhatikannya.


Ia pun melanjutkan dengan memberikan warna pada gambarnya menggunakan cat air, spidol marker, kapur dan pensil warna, yang ia gunakan untuk memberikan tampilan nyata pada gambarnya.


Jovan memperhatikannya dengan penuh kekaguman, yang membuat senyumnya merekah.


Satu jam sudah Marissa asyik dengan hobinya dan sudah 15 menit, Jovan asyik memandangi proses menggambar yang dilakukan Marissa.


Marissa kemudian mengendurkan otot-otot leher dan punggungnya yang terasa kaku, setelah satu jam menggambar, di saat itulah ia akhirnya menyadari kehadiran Jovan.


"Eh Abang, bikin kaget aja!!" ucap Marissa sambil memegang dadanya.


"Eh maaf, bikin kaget, but your drawing is so good. Pantesan langganan menang lomba," puji Jovan.


"Ma'aciiiiih," jawab Marissa sambil tersenyum.


Marissa lalu mengarahkan kursinya ke arah Jovan dan memeluk pinggang Jovan.


"Bang, maaf. Gara-gara aku, Abang jadi sedih lagi," ucap Marissa.

__ADS_1


Jovan pun berdiri dengan kedua lututnya dan mengalungkan kedua tangan Marissa ke lehernya.


"Ga, Yang. Abang bukan sedih karena Sayang, tapi tadi Abang buka-buka rekaman CCTV sewaktu tertabraknya Bang Josie, untuk memastikan cerita Bang Faisal," ucap Jovan.


"Trus??" tanya Marissa.


"Yaa, seperti Bang Faisal tadi cerita, dia berada tidak jauh di belakang Bang Josie, dia mungkin hanya terlambat sepersekian detik, karena dia pun nyaris tertabrak oleh kendaraan lainnya. Tangannya hampir meraih Bang Josie, tetapi ia kalah cepat, because Bang Josie was a runner, so he could run very fast. But anyway, setelah itu Bang Faisal terlihat panik lalu sibuk menelpon seseorang. Abang bisa merasakan apa yang dirasakannya pada saat itu. Ia telah dilatih untuk menjadi pengawal, untuk menyelamatkan seseorang, tetapi ia tidak mengikuti nalurinya, sehingga berimbas pada kematian seseorang. Pasti sangat berat beban yang dirasakan oleh Bang Faisal saat itu," jawab Jovan.


"Tetapi sekali lagi, ini sudah menjadi ketentuan Allah, sudah tercatat di Lauhul Mahfuzd. Jadi yaa harus kita terima, tanpa ada kata tapi, andaikan dan apabila," tambah Jovan.


"Speaking of Bang Josie, dulu Abang selalu cemburu dengan Bang Josie," ucap Jovan yang segera dipotong oleh Marissa.


"Kok cemburu, kenapa??" tanya Marissa.


Jovan pun menarik nafasnya dan membuangnya dengan perlahan.


"You never mad at him, you always smiled to him, you always niced to him, manja dan centil, well Sayang pasti ingat, 'kan ??" tanya Jovan yang dijawab dengan anggukan oleh Marissa.


"Makanya Abang akan memilih mundur kalau ada Bang Josie, walaupun sebenarnya Abang selalu merhatiin, Sayang," lanjut Jovan.


Marissa pun mengernyitkan dahinya dan memandang lurus ke arah mata Jovan, seolah bertanya 'kenapa'.


"Abang selalu merasa kalah dari Bang Josie dalam semua hal. Kepandaian, kesabaran, Icha, ayah dan ibu," ucap Jovan yang semakin membuat Marissa bertanya-tanya akan alasannya.


"Kok gitu, Bang?? Kenapa?? Bukannya Abang juga pinter, kan Abang bisa bantuin aku ngerjain PR, trus dari Abang bertiga, kalau menurut aku yaa, Abang paling ganteng, you are soooo my type," ucap Marissa yang membuat Jovan tersipu, hingga pipi dan telinganya memerah.


"Cieeee Abang malu niiii yeee," goda Marissa yang segera dihentikan Jovan dengan serangan pada bibir Marissa.


Jovan pun mengangkat badan Marissa. Marissa pun mengaitkan kakinya ke pinggang Jovan dengan posisi bibir yang masih beradu. Jovan lalu menggendongnya hingga ke dalam kamarnya dan mendudukkan Marissa di tepi ranjangnya.


Marissa lalu melepaskan bibirnya dan dengan nafas menderu, ia pun berbicara, "Bang, wudhu dulu, nanti ga berkah."


"Oiya, wudhu. Abang duluan, yaa," ucap Jovan juga dengan nafas menderu.


Jovan pun dengan gerakan kilat, segera memasuki kamar mandi.


Jovan menyikat giginya kemudian berwudhu, tak lupa menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Ia lalu bercermin dan menyisir rambutnya, lalu ia pun tersipu. Wajahnya kembali merona, jantungnya berdebar kencang, ia pun menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi rasa gugupnya.


Jovan bukanlah Jovan jika tidak mempunyai rasa percaya diri yang berlebih, ketika melihat pantulan wajahnya di cermin.


"How can someone resist this kind of look," ucapnya penuh percaya diri dan senyum yang merekah.


Sementara itu, Marissa menjadi salah tingkah, jantungnya berdebar keras, ia pun menutupi seluruh badannya dengan selimut.


'Aku kok jadi takut?? Maluuuu!!' gumamnya dalam hati.


Marissa lalu mendengar suara pintu dibuka dan langkah kaki Jovan yang menuju lemari lalu ke tempat tidurnya.


Jovan lalu duduk di pinggiran kasur di samping Marissa.


"Ngapain sembunyi?? Katanya mau wudhu??" tanya Jovan sambil membuka selimut Marissa.

__ADS_1


Pipi Marissa semakin merona, tatkala mencium aroma parfum dan melihat tubuh atletis Jovan yang berdada bidang dan perut yang rata.


Ia pun melompat dari kasurnya dan segera berlari menuju kamar mandi, yang membuat Jovan tertawa geli sambil menggelengkan kepalanya.


Jovan pun teringat akan sebuah pemberian dari sang ibunda. Ia lalu kembali menuju lemari pakaiannya dan mengambil lingerie dan sebotol parfum.


Jovan lalu mengetuk pintu kamar mandi.


"Cha, Sayang. Tolong buka pintunya sebentar, Abang mau kasih baju hadiah dari Bunda, untuk Sayang," ucap lembut Jovan dari depan pintu kamar mandi.


Marissa yang baru selesai menyikat giginya segera membuka pintu kamar mandi.


"Baju apa, Bang??" tanya Marissa.


"Lihat aja sendiri, buruan jangan lama-lama. Oiya, jangan lupa dipakai parfumnya," ucap Jovan sambil mengedipkan satu matanya yang membuat Marissa kembali tersipu dan menutup wajahnya.


Marissa pun segera kembali menutup pintunya dan membuka lipatan pakaian yang diberikan Jovan.


Rasa malu dan kesal pun bercampur menjadi satu, setelah ia melihat pakaian yang dimaksud adalah lingerie berbahan satin silk berwarna dongker dengan aplikasi renda transparan pada bagian dada.


"Ih Bundaaaaa!!! Kok ngasih beginian ke Bang Jovan???!!!" gumam Marissa sambil menutup wajahnya dengan tangannya dan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.


Setelah memandang pantulan dirinya di cermin, akhirnya Marissa mengganti pakaiannya dengan lingerie pemberian Jovan, tak lupa ia juga menyemprotkan parfum ke lehernya.


Marissa kembali memandangi pantulan dirinya di cermin, kulit putihnya yang bersih dan mulus terlihat sangat kontras dengan lingerienya. Ia pun menutupi bagian dadanya yang terlihat transparan karena hanya dilapisi dengan renda.


"Bundaaa!!! Kok beli yang beginian siiiii!! Aaaah Bundaaaaa!!" gumam Marissa yang sangat tidak percaya diri dengan penampilannya saat itu.


Jovan yang tengah menunggu pun bertanya-tanya, mengapa Marissa belum keluar juga?? Ia pun kembali mengetuk pintu kamar mandi.


"Cha, Icha Sayang, kok lama??" tanya Jovan lembut yang membuat Marissa semakin salah tingkah yang membuat bibirnya kelu sehingga tidak dapat menjawab pertanyaan Jovan.


Jovan pun kembali mengetuk pintu kamar mandi, karena tidak mendengar jawaban dari Marissa.


"Cha, Icha Sayang?? Kamu ga papa, kan??" tanya Jovan lagi dengan nada khawatir.


Akhirnya dengan mengumpulkan keberanian yang ia miliki, Marissa membuka pintunya dengan jantung yang berdebar kencang.


Jovan pun terdiam, memandang lekukan tubuh Marissa yang berdiri tepat di depannya dengan aroma parfum yang menggoda.


Reaksi Marissa pun tak jauh berbeda, jantungnya berdegup kencang, pipinya pun merona ketika matanya berada tepat di depan dada Jovan yang bidang.


"Abang, olahraganya apa sih, kok badannya bisa begini??" tanya Marissa secara spontan yang ia sendiri terkejut dengan pertanyaannya.


Senyum Jovan pun merekah lebar, hingga matanya menyipit. Tanpa menjawab pertanyaan Marissa, ia mengangkat tubuh Marissa yang terlihat mungil di dekatnya lalu membawanya ke tempat tidur.


Ia pun membisikkan do'a di telinga Marissa,


"Bismillah. Allahumma jannib naassyyaithaana wa janni bissyaithoona wa razaqtana."


Setelah itu wajah mereka pun beradu, Jovan pun kembali mencium bibir Marissa dan malam panjang itu pun dimulai.

__ADS_1


__ADS_2