
David mematikan mesin mobil setelah security menunjukan tempat parkir yang masih kosong kepadanya. Deretan mobil mewah sudah terparkir rapih, tampak penuh memenuhi tempat parkir yang luas itu.
David membaca tulisan besar diatas bangunan mewah didepannya sekarang Mahatma Restaurant
Bebarapa kali ia menarik nafas, mengerutukan jari-jari tangannya, menstabilkan badan yang tiba-tiba terasa panas dingin.
Aaahhh.... David memukul setir, lebih baik dia persentasi didepan ribuan kolega bisnisnya daripada harus makan malam bersama seorang wanita.
Oke.... sekarang dia sudah siap untuk turun, masuk kedalam Restoran, mencari tempat duduk yang sudah dibooking oleh Bos besarnya ADITYA, geramnya dalam hati. Kemudian duduk, minum, makan, pulang dan semuanya selasai.
David menjelajahi semua ruangan, sebuah Restoran yang elegan, sangat cocok untuk bersantai dan juga berkencan. Desain ruangannya sangat romantis, apalagi ditambah alunan musik dari gesekan sebuah biola.
"Selamat malam Tuan.... apa sudah mereservasi tempat sebelumnya?"
"Sudah... atas nama Aditya."
"Oh iya, mari saya antarkan.... kebetulan Nona sudah menunggu anda disana."
Seketika jantung David berdetak dengan cepat, Nona.... pasti wanita plastik itu.
"Apa dia sudah datang dari tadi?"
"Tidak Tuan, mungkin lima menit yang lalu."
"Kursinya yang mana?" Tanya David sambil mengikuti pelayan laki-laki itu.
"Itu Tuan sebelah sana, yang Nona berbaju Navy itu."
Apa.... David melihat jasnya, warna yang sama dengan yang di pakainya sekarang.
"Silahkan Tuan, ini mejanya."
Seketika Erika menoleh, pandangan mereka beradu.
"Semoga Tuan dan Nona menikmati makan malamnya," Ucap pelayan itu memutus pandangan mereka.
"Iya."
"Sebentar lagi kami akan membawakan menu spesial seperti yang sudah Tuan pesan. Menu ini sangat cocok untuk Tuan dan Nona yang tampak serasi dengan pakaian dengan warna yang senada seperti sekarang."
Dan Erika langsung tersadar dengan gaun yang dia pakai malam ini, warna navy, kemudian ia melihat warna jas yang David pakai.
Ya Tuhan, kenapa bisa sama sih...
David mengangguk dengan kaku... menu spesial, Pak Aditya memang keterlaluan, umpatnya dalam hati.
"Kalau begitu saya permisi, semoga makan malam anda menyenangkan."
"Iya terima kasih." Jawab Erika dan David bersamaan.
Spontan David dan Erika bertukar pandang, kemudian langsung membuang pandangan mereka.
David menggeret kursi, duduk dengan posisi berada diseberangnya Erika, keduanya sama-sama membisu.
Erika merupakan tipe orang yang tidak bisa terlalu lama diam, akhirnya dia yang mengalah untuk membuka percakapannya dengan David.
"Aditya mana?"
"Sibuk."
"Sibuk apa?"
"Nggak tahu."
"Dia kan atasan plus temen kamu, masa kamu nggak tahu sih?"
"Nggak."
Arika menggerutu kesal," Dasar cowok datar."
David langsung menatap tajam Erika saat dia mendengar gerutuannya.
"Sory.... keceplosan." Ucap Erika dengan sinisnya.
__ADS_1
Mereka pun menyantap hidangan yang baru saja pelayan Restoran hidangkan, menu mewah ala Eropa.
Dengan garpu dan pisau ditangannya, dengan mata tertunduk Erika sedikit menaikan pandangannya, mencuri pandang kearah David yang sedang memakan hidangan yang sama dengannya.
Serasa makan bareng kulkas, dingin banget
David yang merasa Erika sedang memperhatikannya, langsung melihat kepadanya. Dan Erika buru-buru menundukan pandangannya, pura-pura kembali sibuk memotong makanannya.
Namun tiba-tiba seorang pelayan tersandung, hingga minuman yang dia bawa terciprat mengenai wajah dan baju Erika.
"Aaah...."
"Maafkan saya Nona.... saya tidak sengaja, biar saya bantu bersihkan."
"Nggak usah, lagian ini sedikit. Saya bisa bersihkan sendiri."
"Sekali lagi maafkan saya Nona."
"Iya nggak papa."
David memperhatikan Erika, tidak menyangka Erika bisa bersikap baik juga kepada orang lain. Dia pikir Erika akan marah-marah sama seperti kepadanya waktu dulu.
David memberikan tissu kepada Erika," Nih pake."
Erika menaikan wajahnya, lalu menarik beberapa helai tissu untuk mengelap baju dan wajahnya.
"Bagian leher." Ucap David tiba-tiba.
"Yang mana?"
"Sebelah kiri."
"Yang ini?" Erika mengarahkan tissunya.
"Bagian bawah."
"Ini?"
"Ini?"
David berdecak kesal, kemudian mengambil tissu, lalu berdiri dan sedikit mendongkakan badannya untuk menjangkau Erika.
Dengan perlahan David mengelap bagian leher Erika, jarak wajah yang hanya sekitar tiga puluh senti saja, membuat mereka saling menoleh, saling bersitatap hingga beberapa detik lamanya. Sepertinya David mulai terkesima dengan kecantikan Erika dari jarak yang sangat dekat.
Cantik juga
Namun David segera tersadar, segera menarik tangannya dari leher Erika.
"Makasih." Ucap Erika dengan pelan.
"Aku membantu hanya karena rasa kemanusiaan, nggak lebih." Tutur David seraya meraih gelas minumannnya.
Whaatt... rugi rasanya dia sudsh mengucapkan terima kasih kepada cowok es seperti dia.
"Erika..."
Erika menoleh saat namanya dipanggil seseorang, dan suara itu amat sangat dia kenal.
Erika membelalakan matanya, terlambat.... dia tidak bisa bersembunyi sekarang.
"Pa...pah..."
Laki-laki yang Erika sebut Papah itu berjalan mendekati meja mereka.
"Ternyata kamu dinner disini juga?"
"I...iya Pah." Jawab Erika dengan tergagap.
"Loh Pak David... anda disini juga, bersama anak saya?" Ucap Papah Erika yang juga ternyata mengenal David.
Davi melihat Erika, dia baru tahu kalau Erika itu adalah anaknya Pak Toni yang suka dia bicarakan kalau setiap mereka bertemu.
"Pak Toni.... bagaimana kabarnya?" Ucap David seraya berdiri dan menjabat tangan Pak Toni.
__ADS_1
"Alhamduliah baik.... sebentar... jadi kalian itu....," Pak Toni seperti kebingungan untuk memulai perkataannya."
"Sayang... jadi Pak David ini pacar yang kamu maksud tadi?" Mengalihkan pandangannya kearah Erika.
David mengerutkan keningnya," Oh saya bu...."
"Ah iya Pah... David ini pacarnya Erika." Potong Erika sebelum David menyelesaikan perkataannya.
David pun menatap tajam Erika, meminta penjelasan. Namun dengan wajah memelas Erika mengedip-ngedipkan matanya, agar David mau menyetujui perkataanya.
"Oh ya....sudah berapa lama, kenapa kamu tidak pernah cerita kepada Papah kalau pacar kamu ini adalah Pak David?"
"Emmm.... baru dua mingguan kok Pah, belum lama." Jawab Erika pelan karena takut melihat David yang terus menatapnya dengan kesal.
"Ah Papah senang sekali mendengarnya, kamu tahu sayang. Pak David ini asisten sekaligus wakil presdir Wirrbell yang sangat handal, Pak Aditya beruntung sekali bisa memiliki karyawan yang handal dan setia seperti Pak David ini."
"Pak Toni terlalu berlebihan, saya masih banyak kekurangan, saya masih harus banyak belajar Pak."
"Inilah yang saya suka dari Pak David, selalu rendah hati."
Erika berdecak dalam hati, kenapa jadi seperti ini sih... bisa panjang urusannya kalau begini.
"Sayang... kapan-kapan ajak Pak David main kerumah untuk makan malam bersama ya?".
Benar yang Erika bilang, semuanya akan berbuntut panjang.
"Hah.... emmh... maksud Erika... iya Pah, nanti kalau David nggak sibuk, Erika ajak makan malam dirumah."
"Pak David saya sangat berharap anda mau terima undangan makan malam saya."
"Tapi say...."
Erika langsung menunjal kaki David, hingga David melihat Erika karena kakinya yang sakit karena ulahnya.
Erika memelototkan matanya, mengisyaratkan dengan mata agar David mengiyakan ajakan Papahnya.
"Ah iya.... maksudnya saya pasti akan datang."
Bodoh.... kenapa aku mau mengikuti kemauan cewek plastik ini, gerutu David dalam hati.
Erika menghembuskan nafasnya lega, akhirnya David mau menuruti kemauannya.
"Ya sudah kalau begitu, saya akan tunggu kedatangan Pak David." Kemudian melihat kearah Erika,"... Papah tidak akan mengganggu kencan kalian, Papah pulang duluan ya sayang... Pak David."
"Iya silahkan Pak."
"Hati-hati dijalannya ya Pah."
Pak Toni pun meninggalkan mereka dengan wajah berseri-seri.
Sekarang Erika kembali duduk dengan sangat gugup, bersiap menerima kemarahan David yang sudah menatap dirinya dengan sorotan yang sangat mematikan.
"Maksud kamu apa?"
"Maaf."
"Aku nggak butuh kata maaf, aku butuh penjelasan." Bentak David hingga Erika berjinjit karena takut.
Erika menundukan kepalanya," Jadi begini.... karena umur aku yang sudah dewasa dan belum punya pasangan juga, Papah ingin kenalkan aku dengan koleganya, dan aku nggak mau...."
Erika menjeda kata-katanya, sedikit melihat Erika yang sedang serius mendengarkan penjelasannya.
"....Jadi acara dinner ini sekalian aja aku jadikan alasan kalau aku sudah mempunyai pacar agar Papah membatalkan niatnya itu. Tapi sumpah aku nggak tahu kalau ternyata Papah juga ada acara dinner disini."
David memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa sakit. Drama yang biasanya ada di acara-acara sinetron kini hinggap dalam kehidupan pribadinya.
"Astaga...."
..........................................................
..........................................................
....................................Bersambung.....
__ADS_1