
"Sayang...." Radit memaksa duduk bersama Arini dikursi meja rias yang berukuran sedang, hingga Arini sedikit memajukan posisi duduknya.
Radit menciumi leher Arini," Mau kemana jam segini udah rapi, kan masih pagi." Dengan menumpukan dagunya dipundak Arini.
Arini tersenyum dan melingkarkan lengannya diwajah Radit," Aku nggak kemana-mana, dirumah aja."
Arini yang masih menggunakan tank top, membuat bagian atas buah dadanya sedikit terlihat menonjol. Radit menyusupkan tangannya disana.
"Kamu ngerasa nggak, kalau ini jadi tambah besar?" Tanya Radit dengan sedikit meremasnya.
Arini menatap Radit dari pantulan cermin," Ih apaan sih tanya begituan."
"Aku tanya serius sayang.... tadinya kan segini...," Radit menangkupkan tangannya di udara membayangkan tangannya yang sedang memegang buah dada Arini,".... sekarang jadi segini." Dengan sedikit melebarkan tangkupan tangannya.
"Emang gitu?"
"Heem... jadi tambah betah tangan aku diem disini." Jawab Radit dengan memainkan bagian ujung buah dada Arini.
"Ih mulai deh."
"Emang kamu nggak suka?" Tanya Radit setengah berbisik.
"Jangan tanya yang begituan ah." Jawab Arini dengan wajah yang sudah memerah karena malu.
Arini menepuk tangan Radit yang semakin gencar memainkannya," Mas udah."
"Kenapa?"Ucap Radit dengan suara parau.
" Nanti keterusan."
"Bagus dong, emang itu yang aku mau." Jawab Radit dengan tersenyum nakal.
Radit menundukan wajah, menyerukan kepalanya didada Arini. Mengeluarkan isi yang ada didada Arini, lalu mencium, menyusur dan menghisapnya.
"Mas aku udah mandi." Ucap Arini dengan membelai rambut Radit yang ada dibawah wajahnya. Ia pastikan tidak akan bisa menolak kalau Radit sudah beraksi seperti ini, karena gairahnya pun sudah terpancing.
Radit menghentikan kegiatannya," Kamu mandi lagi ya, temenin aku." Jawab Radit dengan suara manjanya, kemudian melanjutkannya lagi.
"Tapi aku belum siapin sarapan."
Radit membuka keatas tank top Arini, dan melemparkannya keatas tempat tidur," Biar Simbok aja." Seraya menarik tangan Arini menuju kamar mandi.
Episode drama percintaan pun kembali dimulai dikamar mandi. Di dalam bathtube dengan busa yang melimpah ruah berjatuhan di atas lantai.
******
Arini membantu mengancingkan kemeja Radit, rambut Arini yang sama basah dengan dirinya, membuat Radit tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum gitu?" Tanya Arini.
Radit memegang pinggul Arini dengan kedua tangannya," Kamu makin sexy kalau rambutnya basah."
"Mulai deh mulai."
Radit mencuri sebuah kecupan dibibir Arini,"Aku sayang kamu."
Bluuussshhh....
Pipi Arini langsung memanas, padahal kata-kata itu sering Radit katakan kepadanya setiap hari, tapi selalu berhasil membuatnya salah tingkah.
"Haaah...," Radit membuang nafasnya,".... jadi males ke Rumah Sakit, pengennya berdua terus sama kamu." Ucap Radit dengan mengusap lembut pipi Arini.
Arini menyimpan tangannya didada Radit," Yang sakit nanti nggak sembuh-sembuh dong." Candanya.
Radit terkekeh," Kalau nanti aku libur dua tau tiga hari, kita bulan madu ke dua yuk, nggak usah jauh-jauh, ke Bali aja biar nggak capek dijalan."
Mata Arini langsung berbinar saat mendengar kata Bali.
"Pengen banget ya ke Bali?" Radit menjentikan telunjuknya di dagu Arini.
__ADS_1
Arini langsung tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Namun tak lama dari itu, tiba-tiba Radit memegang perutnya, terasa ada sesuatu yang aneh yang membuat perutnya terasa tidak nyaman.
"Mas kenapa?"
"Nggak tahu nih.... kembung kayaknya.... mungkin kelamaan dikamar mandi kali ya."
"Aku bikinin teh manis anget ya, biar enakan perutnya."
"Iya sayang.... nanti aku nyusul."
"Ya udah kalau gitu."
Sepeninggal Arini, Radit kembali berkemas, mempersiapkan apa saja yang akan dia bawa ke Rumah Sakit.
Setelah semuanya selesai, Ia pun turun menyusul Arini yang kini sedang menyimpan teh untuknya di meja makan.
"Mas ini tehnya."
" Makasih sayang...," Menggeret kursi dan mendudukinya,".... pagi jagoan Ayah." Sapanya kepada Nuno yang sedang memakan telur ceplok.
"Pagi juga Yah..." Jawab Nuno yang kemudian meneruskan makannya kembali.
Radit meneguk teh manis itu, terasa hangat menyusur kedalam bagian perutnya.
"Mas mau sarapan apa?"
Radit sedikit berpikir, melihat makanan yang ada di atas meja. Nasi goreng, mie goreng, acar sayuran, telur ceplok dan roti tawar. Tapi dari sekian banyaknya makanan tidak ada satupun yang membuat selera makannya menjadi naik.
" Nasi goreng aja ya, kan dari semalem Mas nggak makan." Saran Arini.
"Ya udah."
Arini mengambilkan nasi goreng bersama telur ceploknya. Namun pada suapan kedua, Radit langsung berlari menuju wastafel.
"Loh Mas, kenapa?" Tanya Arini seraya menyusul Radit.
Didepan wastafel, Radit memuntahkan kembali nasi goreng yang baru saja dia telan.
"Hooeekk... hoeekk...."
"Mas masuk angin kayaknya." Ucap Arini dengan memijit tengkuk Radit.
"Hoeeekk...."
"Mas jangan dulu ke Rumah Sakit ya?"
Radit menggelengkan kepalanya seraya berkumur dan mencuci mulutnya.
"Aku nggak papa, cuma mual doang."
"Aku gosikin pake minyak angin ya." Dengan mengulurkan teh ke arah Radit.
Radit mengangguk dan mengambil teh manis yang diberikan Arini.
Arini menuntun Radit untuk duduk di kursi, kemudian meninggalkannya ke kamar untuk mengambil minyak angin.
"Bun.... Ayah kenapa?" Tanya Nuno saat Arini berjalan melewatinya.
"Masuk angin." Jawab Arini sambil berlalu menaiki tangga.
Nuno turun dari kursi dan berjalan mendekati Radit yang sedang bersandar di sofa dengan mata terpejam.
"Mana yang sakit Yah...." Seraya duduk disamping Radit,".... biar Nuno pijitin." Ucap Nuno dengan wajah sedih.
Radit membuka mata, kemudian menegakan badannya," Nggak ada yang sakit kok sayang, Ayah cuma masuk angin aja, jadinya muntah." Dengan mengelus rambut Nuno.
"Jadi yang sakit perut dong Yah?"
__ADS_1
Belum Radit menjawab, Radit merasakan perutnya kembali bergejolak, terasa mual. Ia pun segera berlari menuju wastafel, memuntahkan kembali isi perutnya, yang hanya cairan bening saja.
"Bundaaaa....," Teriak Nuno,"..... Ayah muntah lagi" Seraya berjalan dan berdiri didepan tangga menunggu Arini turun.
Arini bergegas menuruni tangga dengan setengah berlari dan itu hampir saja membuatnya terjatuh karena melewati beberapa anak tangga sekaligus. Untungnya ia masih sempat berpegangan pada besi penyangga.
"Bunda jangan lari, nanti jatuh." Ucap Nuno.
"Iya sayang, maaf."
Arini dan Nuno berjalan menghampiri Radit yang sudah kembali duduk di Sofa.
"Mas kita ke Dokter aja yuk." Dengan membuka kancing kemeja Radit dan mengoleskan minyak angin dibagian dada dan perutnya.
Radit langsung tertawa," Aku kan Dokter sayang, ngapain juga pergi ke Dokter."
"Iya, Bunda ini gimana sih." Sela Nuno yang juga ikut tertawa.
Arini berdecak," Tapi kan yang sakit Masnya sendiri, masa iya mau periksa sendiri, kan nggak mungkin."
"Aku nggap papa kok sayang."
"Nggak papa gimana, Mas itu muntah-muntah."
Radit meremas tangan Arini yang ada diperutnya," Aku udah enakan, tenang aja."
"Jangan bohong." Dengus Arini.
"Beneran aku nggak bohong." Jawab Radit dengan sangat meyakinkan seraya meneguk habis teh manis yang masih tersisa.
Radit mengancingkan kembali kemejanya, seolah tidak terjadi apa-apa dengan dirinya.
"Aku harus ke Rumah Sakit, nanti telat."
"Izin sehari kan nggak apa-apa Mas....nanti kalau keterusan gimana.... pokoknya Mas jangan kemana-mana." Ucap Arini dengan tegas.
"Aku cuma mual doang, tapi sekarang udah nggak."
Arini menghela nafasnya," Kok bisa secepat itu ilangnya?"
"Mungkin karena minyak angin itu kali." Jawab Radit dengan menunjuk minyak angin yang tergeletak di sofa, dengan matanya.
"Mas yakin udah nggak apa-apa?" Tanya Arini sambil membantu merapikan kemeja Radit.
"Yakin sayang."
"Tapi Mas terusin makannya dulu ya?"
"Kalau makan dulu nanti aku telat sampai di Rumah Sakitnya."
"Tapi Mas...."
"Aku janji, nanti di Rumah Sakit aku bakalan sarapan, oke." Potong Radit demi membuat Arini untuk tidak mengkhawatirkannya.
Arini mencebik," Ya udah awas kalau nggak....nanti siang aku ke Rumah Sakit, bawain makan siang."
"Iya sayang." Jawabnya dengan mengelus perut Arini, kebiasaan baru Radit yang entah kenapa sekarang-sekarang ini sangat dia sukai.
"Aku berangkat sekarang ya..." Seraya mencium kening Arini.
"Kalau ada apa-apa kabarin aku, trus nanti di Rumah Sakit, minta Dokter lain buat periksa badan Mas.... trus satu lagi, jangan ngebut dijalannya...," Kemudian beralih melihat Nuno,".... Nuno ingetin Ayah kalau terlalu cepet bawa mobilnya."
"Siap Mom...."
Jawaban yang selalu sama kalau sudah mendengar wejangan dari sang Ratu di rumah.
..........................................................
..........................................................
__ADS_1
...................................Bersambung......