
Halaman depan dan parkiran kendaraan di rumah sakit telah dipenuhi dengan spanduk-spanduk ucapan penyemangat untuk Marissa dan do'a untuk kesembuhan Jovan.
Bahkan beberapa dari mereka menggelar tadarusan untuk kesembuhan Jovan. Selain itu, ada juga yang membagikan makanan dan minuman kepada para pekerja di rumah sakit dan keluarga pasien. Semua itupun diatasnamakan Jovan.
Aksi ini mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Sumbangan aneka panganan kian membludak, hingga pihak manajemen Jovan mengalokasikan ke berbagai tempat yang membutuhkan, seperti panti asuhan, panti jompo, anak-anak jalanan dan masih banyak lagi.
Sementara itu, Marissa yang masih berada di ruang ICU, sedang duduk termenung memandangi Jovan yang masih nampak tertidur. Kelelahan mental mulai ia alami, setelah beberapa pekan menemani Jovan yang belum menampakkan perubahan, sehingga membuat dirinya tidak tahu harus berbuat apa, keputusasaan pun mulai menghampiri dirinya.
Terlebih lagi, selama Marissa menemani Jovan, ia jarang bahkan hampir tidak pernah membuka laman media sosialnya, karena dirinya menginginkan ketenangan hati dan pikiran, sehingga ia tidak mengetahui keramaian akan pemberitaan tentang Jovan yang terjadi di luar sana.
"Mbak Risa, silahkan diminum dulu kopinya," ucap salah satu perawat sambil membawakan segelas kopi latte panas dan sepotong cake dari salah satu cafe ternama, yang merupakan pemberian dari para penggemar Jovan.
Marissa pun mengernyitkan dahinya dan memiringkan kepala, karena ia merasa tidak memesan minuman tersebut.
"Saya kan nggak mesan kopi, Mbak," ucap Marissa.
Perawat itupun mengajak Marissa ke jendela yang mengarah ke depan bangunan rumah sakit. Seketika itu juga, Marissa menitikkan air matanya.
"Mbak, mereka sudah bertahan berhari-hari, saling bergantian menunggui dan mendo'akan untuk kesembuhan mas Jovan," ucap sang perawat.
"Mereka juga mengirimkan paket makanan untuk kami setiap harinya. Makanan yang kami berikan untuk Mbak Risa juga berasal dari mereka," lanjut sang perawat.
"Mbak, istirahat saja dulu. Mas Jovan nggak akan kemana-mana kok," canda sang perawat yang membuat Marissa tertawa kecil.
__ADS_1
"Nah, kalau senyum gitu kan tambah cantik," puji sang perawat.
"Biasanya sebentar lagi, bundanya mas Jovan kan datang. Mbak Risa bisa istirahat, mungkin pergi ke spa untuk pijat dan relaksasi atau mungkin creambath di salon. Manjakan diri Mbak Risa sesaat, untuk recharge tenaga dan pikiran," lanjut sang perawat.
Seketika itu, Marissa membayangkan dirinya berendam di dalam air hangat dengan ditemani oleh lilin-lilin aromaterapi di sekelilingnya. Lalu, ia juga membayangkan dirinya berada di bawah pancuran air hangat yang membasahi ujung kepala hingga kakinya.
"Makasih, Mbak," ucap Marissa seraya memeluk sang perawat.
Lalu Marissa kembali ke ruang ICU, kemudian ia duduk di samping tempat tidur sambil menggenggam erat tangan Jovan.
Ia kemudian mencium tangan suaminya yang sangat ia rindukan akan pelukan hangatnya.
"Bang, look our hands, telapak tanganku cuma setengah tangan Abang. Bang, buruan bangun dong, aku kan pingin dipeluk sama Abang, dielus kepalanya, digandeng tangannya. Bangunlah Bang! Kalau nggak bangun aku pergi, nih! Aku mau spa, mau makan di restoran Jepang, mau ke toko buku, mau... pokoknya banyak! Makanya bangun dong, temenin aku jalan-jalan!" seru Marissa.
"Auk ah! Aku pergi yaa," ancam Marissa sambil melepaskan tangannya.
Marissa pun berpura-pura kesal, karena Jovan tetap diam tak bergerak.
"Ih kesel! Aku mau pergi juga nggak ditahan, tetap dicuekin! Udah ah, aku pulang! Aku tunggu Abang di rumah, yaa. Awas lho, jangan lama-lama tidurnya!"
Marissa bangkit dari duduknya dan perlahan melepaskan tangannya, kemudian ia membalikkan badannya ke arah pintu.
Tiba-tiba, Marissa merasa ada yang menarik pakaiannya, sehingga ia memalingkan wajahnya ke arah bawah. Seketika itu pun, jantungnya berdegup dengan kencang, karena tangan Jovanlah yang telah menarik pakaiannya.
__ADS_1
Marissa pun kembali duduk di samping Jovan.
"Bang, Abang! Jangan cuma bisa narik baju aku doang! Bangun siiiiih!" ucap Marissa.
Tetapi Jovan tetap tidak bereaksi.
"Oke, fix. Aku mau pulang dulu, aku mau nyalon, menipedi, spa, semuaaaa perawatan untuk memanjakan diri ini! Abang silahkan tidur, tapi kalau nanti aku ke sini, Abang harus janji, Abang akan bangun, trus ngobrol sama aku, cerita semua mimpi Abang selama Abang tidur, tapi sekarang aku mau mempercantik diri yang terparipurna!" ucap Marissa penuh semangat, yang tanpa ia sadari, semua kalimat yang ia ucapkan telah didengar oleh Jovanka dan Jorrian yang berdiri di depan pintu.
"Eh Ayah, Bunda sudah datang. Bun, aku titip Abang ya, aku mau nyalon bukan pilpres, hmm trus aku mau spa, mau jajan, mau ngedrakor, trus besok pagi, aku ke sini lagi. Titip ya, Bun, Yah," ucap Marissa sambil merapikan barang bawaannya.
"Kok bengong? yowes, aku pamit, assalamu'alaikum," ucap Marissa sambil mencium tangan kedua mertuanya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Jovanka dan Jorrian sambil matanya mengantarkan Marissa hingga ia keluar kamar.
"Icha kenapa?" tanya Jovanka.
"Hmm mungkin dia sudah capek, butuh udara segar, biarkan dia beristirahat," jawab Jorrian.
Marissa pun berjalan cepat menuju parkiran dengan diikuti oleh Silla.
"Mbak, kok tumben semangat banget? tanya Silla.
"Aku mau jajan trus ke spa, yaa. Aku mau istirahat," jawab Marissa.
__ADS_1