Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 77 Goes to Singapore


__ADS_3

Sebulan pun berlalu, penjualan novel "Menemukan Cinta yang Hilang", telah berhasil menembus rekor penjualan novel sebelumnya pada bulan pertama.


Permintaan untuk acara meet and greet serta penandatanganan novel pun mulai berdatangan, yang tentu saja membuat Bian mulai mengatur jadwal Jovan kembali.


Permintaan wawancara dari radio ke radio, dari stasiun televisi ke stasiun televisi, hingga podcast celebriti ibu kota pun berdatangan, sehingga membuat waktu Jovan banyak tersita di luar.


Sementara itu, Marissa telah memulai penulisan novelnya, "Aku, si Cinta yang Hilang". Ide untuk membuat jawaban dari novel Jovan pun membuatnya bersemangat. Menuliskan semua rasa yang tertahan selama belasan tahun, membuatnya dengan cepat menyusun kata demi kata pada novelnya.


Kesibukan keduanya, membuat waktu untuk bertemu menjadi berkurang. Terlebih dengan adanya jadwal meet and greet film di beberapa kota di Indonesia, yang mengharuskan Jovan pergi ke luar kota dan ke negara jiran.


"An, saya minta 1 hari 1 kota, kalau bisa PP aja," pinta Jovan.


"Oke Bang, semua jadwal wawancara aku jatahin per-15 menit untuk 1 media, kemudian untuk sesi foto 10 menit/media. Jadwalnya dari jam 8 pagi sampai 4 sore, break 1 jam untuk shalat dan makan," jawab Bian sambil menunjukkan jadwal rencana kegiatan Jovan.


"Bulan depan, kita mulai promosi di Singapura dan Malaysia. Nanti kita berangkat pagi ke Singapura, malamnya kita langsung ke KL. Di KL, jadwalnya 3 hari. Nanti Abang akan muncul di beberapa acara TV secara live, sudah aku kirim agenda acaranya ke e-mail, " tambah Bian.


"Hmmm jangan langsung, aku minta waktu untuk refresing. Kita ke Singapura, sehari sebelum jadwal wawancara. Aku mau main!! Nanti di Malaysia juga, aku minta waktu untuk liburan setelah jadwal wawancara," pinta Jovan.


"Mau kemana, Bang?" tanya Bian.


"Universal Studio, Sentosa, Genting, Legoland, Langkawi, hmmm pulangnya mampir ke Batam, aku kangen kulinernya," jawab Jovan.


"Lho emangnya pernah tinggal di Batam?" tanya Bian.


"Nggak pernah, tapi Bunda sering belanja disana, lebih murah walaupun modal tiket feri PP, tetap lebih murah belanja di Batam. Nah kulinernya itu, seafoodnya yang hanya ada di Batam, gong gong. Pasti nggak tahu, kan?"


"Apa tuh gong-gong?" tanya Bian.


"Siput laut, semacam itu, enak. Cuma direbus, trus dimakan pakai saus sambal, beeuuu enaaak!! Aku minta 2 hari disana," jawab Jovan penuh semangat.


"Oke, ntar aku booking hotelnya," ucap Bian tak kalah semangat.


"Di Batam Center aja, yang dekat Masjid," pinta Jovan.


"Siaap!!"


Rencana promosi ke kampung halamannya dan negeri Jiran, Malaysia pun disampaikannya kepada Marissa.


"Yang, bulan depan Abang ada jadwal ke Singapura dan Malaysia untuk meet and greet, ikut yaa?"

__ADS_1


"Berapa hari, Bang?" tanya Marissa.


"Di Singapura 2 hari trus lanjut ke KL 5 hari, nanti kalau mau kita mampir ke Genting trus pulangnya mampir ke Batam," jawab Jovan.


"Ngapain ke Genting, memangnya ada yang bocor?"


"Iya, Sayang yang 'bocor'," jawab Jovan sambil mencubit pipi Marissa.


"Oh. Hmmm tapi kalau aku ikut, aku ngapain waktu acara meet and greetnya Abang?"


"Yaa ikut dong, Sayang duduk di samping Abang. Kan Cintanya sudah ketemu, jadi harus bareng terus," jawab Jovan.


"Aku bengong aja, dong?"


"Kenapa bengong? Kan nanti pasti akan ada pertanyaan untuk Sayang juga, lagipula ini kan cerita kita berdua."


"Traktir pizza sama gelato," pinta Marissa.


"Ya Allah, cuma pizza sama gelato? Abang bisa beliin tiap hari!! Ikut yaa?"


"Woke, tapi aku sambil lanjut nulis ya, Bang," jawab Marissa.


"Iya. Oiya, ingetin Abang untuk lihat jadwal masuk kuliah, katanya akhir pekan ini jadwalnya keluar."


"Eh Bang, nanti Abang pakai masker lagi?" tanya Marissa.


"Iya, Abang tetap pakai maskernya, tapi kalau masker bengkuang, Sayang aja yang pakai," canda Jovan.


"Oh, hmmm baiklah," jawab Marissa datar.


"Eh, tumben nggak dibalas?" tanya Jovan yang sedikit heran, karena biasanya Marissa akan menjawab dengan kalimat yang tidak dapat ditebak.


"Lagi nggak mood," jawab Marissa lagi.


Jovan pun mengangkat badan Marissa untuk duduk di pangkuannya.


"Kenapa?" tanya Jovan sambil membelai kepala Marissa yang bersandar di bahunya.


"Nggak tahu."

__ADS_1


"Abang pesenin pizza sama gelato sekarang, yaa?"


Marissa menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.


"Yakin?" tanya Jovan.


"Enggak. Aku maunya ramen yang pedes sama sushi mentai, minumnya es matcha latte, pizzanya kapan-kapan aja," jawab Marissa santai tanpa ekspresi yang membuat Jovan gemas hingga mencium kedua pipi Marissa.


"Kok cuma pipi?" tantang Marissa sambil memanyunkan bibirnya.


Jovan pun menerima tantangan Marissa dengan senang hati.


Di akhir pekan itu pun, Jovan dan Marissa berangkat menuju Singapura dengan pengawalan ketiga bodyguardnya dan Bian. Walaupun mereka berangkat bersama dengan rombongan para pemain filmnya, yang total berjumlah 25 orang, pengawalan terhadap keduanya tidak berkurang, sehingga membuat beberapa dari pemain dan kru bertanya-tanya, siapakah sebenarnya Jovan dan Marissa, hingga mereka berdua selalu di dampingi oleh ketiga pengawal pribadinya.


Adam pun mulai bertindak sebagai jubir Jovan.


"Untuk menjawab pertanyaan yang tidak kalian ungkapkan, silahkan diselesaikan membaca novel ke-dua Mas Jovan."


"Disana, kalian akan mendapatkan jawaban tentang keberadaan kami di sekitar Mas Jovan dan Mbak Risa," lanjut Adam.


Kembali ke kampung halamannya kali ini dirasakan berbeda oleh Jovan, karena ini adalah kali pertamanya ia bersama dengan Marissa bukan karena jumlah rombongan yang menyertainya. Banyak tempat yang ia ingin tunjukkan kepada Marissa, dimana ia menghabiskan waktu di saat ia merindukan sosok adik kecilnya.


Kenangan berlibur pertama dan terakhir mereka bersama di Singapura, membuatnya ingin mengajak Marissa ke tempat-tempat yang dulu mereka kunjungi bersama. Senyuman pun tak lepas dari wajahnya, yang tak sabar untuk menginjakkan kakinya di Bandara Internasional Changi.


Penerbangan pagi itu pun berjalan lancar sesuai dengan jadwal. Sesampainya di Bandara Internasional Changi, mereka telah ditunggu oleh pihak penyelenggara acara dan mereka pun segera diarahkan untuk memasuki bis yang telah menunggu mereka.


Lokasi pertama yang mereka kunjungi adalah restoran yang menyajikan makanan khas Melayu di kawasan Bencoolen.


Wajah bahagia Jovan pun terpancar dari senyuman yang tak lepas.


"Yang, do you remember waktu kita makan di food court, terus kita berdua..."


"Naik mobil-mobilan, I do remember that," potong Marissa.


"Pokoknya nanti, setelah acaranya selesai, kita jalan-jalan yaa," ajak Jovan yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Marissa.


"Eh Bang Jordan, lagi terbang atau...?" tanya Marissa.


"Nanti malam, Abang sudah janjian dinner di Marina Bay," jawab Jovan.

__ADS_1


"Berarti sekalian sama jadwal dinner kita nanti malam?"


"Iya, sekalian."


__ADS_2