Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 39 Persiapan Pernikahan 2


__ADS_3

Setelah resign dari pekerjaannya, Marissa pun mulai disibukkan dengan persiapan pernikahannya.


Di pagi hari, sesaat setelah sarapan bersama, Marissa dan Alisa bersantai di teras belakang rumahnya.


"Hari ini jam 10, kamu harus memilih busana pengantin dan make-up," ucap Alisa.


"Harus hari ini, Te??" tanya Marissa.


"Iya, Cha. Jovan sudah membuatkan appointment untuk kamu."


"Yaaah, batal selonjoran deh!!", ucap Marissa sedikit kesal karena ternyata ia masih harus mengurusi persiapan pernikahannya.


" 2 bulan memang rasanya masih lama, tetapi itu waktu yang cukup singkat untuk mempersiapkan acara pernikahan, terlebih lagi, Om Alex akan mengumumkan keberadaan dirimu, sebagai putri Mario rahimullah. Jadi pekan depan, kamu akan ikut om Alex ke kantor notaris untuk pengesahan pemindahan saham dan beberapa surat-surat penting lainnya," jelas Alisa.


"Aaaah, ternyata jadi orang kaya itu ribet yaa?? saham, tanda tangan, notaris, urusan bank, apalagi??" keluh Marissa.


Alisa pun tertawa mendengar keluhan Marissa.


"Ga ribet, Cha. Nanti seiring berjalannya waktu, semuanya mengalir aja. Yang penting, kita dikelilingi oleh orang-orang yang amanah, yang takut kepada Allah, sehingga harta yang didapatkan juga berkah."


"Om Alex juga mempunyai yayasan yang menampung anak-anak putus sekolah dengan memberikan pendidikan ketrampilan yang akan memudahkan mereka mencari pekerjaan nantinya. Mungkin kamu bisa ikut andil, dengan memberikan kursus menggambar. Bagaimana?? kamu tertarik ??" tanya Alisa.


"Nanti ya Te, satu-satu dulu. Aku mau mempersiapkan pernikahanku dulu," tolak Marissa.


"Iya, Tante tidak minta kamu bergerak sekarang, take your time," ucap Alisa mengakhiri percakapannya dengan Marissa.


Marissa pun kembali masuk ke dalam kamarnya, untuk bersiap menuju kantor Ever After.


Sementara itu, Jovan juga tengah bersiap untuk menuju ke tempat yang sama.


"Van, hari ini kita selesaikan urusan pakaian dan undangan. Kemarin untuk paket acaranya sudah fix, kan??" tanya Jovanka.


"Sudah, Bun. Untuk makanannya juga sudah, tinggal food test, 2 pekan sebelum hari H," jawab Jovan.


"Van, duduk disini, Bunda mau bicara."


Jovan pun berpindah duduk di samping sang Bunda.


"Van, Icha yang akan kamu nikahi nanti, bukanlah Icha yang dulu kamu kenal. Saat ini, ia bagaikan putri kerajaan yang telah hilang bertahun-tahun lamanya. Bunda yakin, Icha akan dipersiapkan untuk menjadi penerus bisnis keluarga. Untuk itu, beban yang akan ditanggung oleh Icha nantinya cukup berat. Kamu yang nantinya akan mendampingi seumur hidupnya, jadilah pendengar yang baik untuknya. Wanita hanya butuh seseorang untuk mendengar segala isi hatinya, cukup hanya didengar saja, sudah dapat mengurangi keresahan, kegundahan atau apapun yang mengganggu hatinya."


"Jadilah suami, teman, sahabat, kakak dan ayah untuknya. Walaupun kalian sudah saling mengenal, tetapi untuk menjadi pasangan yang telah menikah nantinya akan membutuhkan waktu untuk beradaptasi juga. Bunda percaya, hal itu bukanlah hal yang harus dikhawatirkan dan kalian akan dengan mudah melakukannya."


" Lalu, dalam setiap hubungan yang terpenting adalah komunikasi dan kejujuran. Kamu pasti sudah paham untuk urusan yang satu ini. Tetapi menjadi pendamping hidup seorang wanita itu bukan hal yang mudah tetapi bukan juga hal sulit. Diamnya wanita bisa mempunyai 1000 arti, untuk itu berhati-hatilah dalam mengartikannya."


"Serumit itukah, Bun??"

__ADS_1


"Terkadang iya, tetapi seringkali juga tidak. Kamu bisa lihat bagaimana ayahmu memperlakukan Bunda, kan?? dimata Bunda, ayahmu adalah sosok suami idaman, telinga dan dadanya selalu ada untuk Bunda. Semarah-marahnya ayahmu, ia tidak pernah sekali pun berkata kasar ataupun berteriak."


"Jika ada istilah, genetik tidak akan kemana, maka pembawaan tenang ayahmu, diturunkan kepada kalian semua," ucap Jovanka.


"Tapi Bang Josie adalah yang paling kalem dari kami bertiga, Bun. Terkalem, tersabar dan termisterius," ucap Jovan menimpali perkataan Jovanka.


Jovanka pun menarik nafasnya dengan berat, lalu ia pun berkata,


"Aaaah, Josie si kalem. Ternyata ini adalah salah satu cara Allah untuk menyelamatkan keluarga kita dari perselisihan."


"Maksud Bunda??" tanya Jovan.


"Allah telah memanggil Josie terlebih dahulu, agar kalian berdua tidak memperebutkan cinta yang sama. Bunda tidak bisa membayangkan, jika kalian berdua datang dan mengatakan bahwa kalian mencintai orang yang sama."


Jovan pun terdiam dan menundukkan kepalanya.


"Jika Bunda yang diberi kewenangan untuk memutuskan siapa yang akan menjadi pendamping untuk Icha, Bunda akan tetap memilih kamu daripada Josie."


Jovan pun mengernyitkan dahinya.


"Kok, kenapa, Bun?? kenapa bukan Bang Josie??"


"Karena kamu lebih berpengalaman dalam meng-handle Icha ketimbang Josie."


"Kamu cukup lama satu sekolah bersama Icha, berapa tahun kalian berangkat bersama?? berapa kali kamu harus direpotkan dengan urusan sekolah Icha, tetapi walaupun kamu menggerutu, kamu tetap mengerjakannya dengan baik dan tetap memberikan yang terbaik untuk Icha. Icha juga lebih sayang kepada kamu ketimbang kepada Josie," jawab Jovanka.


"Ah Bunda ngarang lagi deh, itu ga mungkin, tidak mungkin Icha lebih sayang ke aku ketimbang ke Bang Josie," sangkal Jovan.


"Van, Bunda memperhatikan sejak kalian berdua masih kecil, jika ada Josie dan kamu, Icha lebih sering berlari ke arah Josie, tetapi matanya mencari keberadaanmu, seolah-olah ia ingin kamu cemburu, tetapi kamu selalu bersikap acuh. Jika ada Josie, kamu selalu melepaskan Icha, itu yang membuat Icha tidak terima, itulah yang membuat dia sering marah padamu dan bersikap lembut pada Josie."


Jovan pun terdiam, mengingat kata-kata Jordan yang tidak jauh berbeda dengan Jovanka.


Jovanka pun meraih tangan bungsunya itu dan mengenggamnya erat.


"Van, jangan pernah berfikiran bahwa kamu adalah pilihan kedua buat Icha, hilangkan pikiran itu. Dia memilihmu karena dirimulah yang membuat dirinya merasa nyaman dan dilindungi. Kalian mempunyai bahasa yang sama dan jokes yang tidak pernah salah."


"Icha bercerita ketika kalian ke Manado, saat kamu membelikannya satu set pakaian baru, tanpa bertanya ukuran dan model yang Icha suka. Ntah bagaimana, tetapi kamu berhasil memilihkan model pakaian yang Icha sukai dan itu menjadi pakaian favoritnya."


"Icha juga bercerita bagaimana awal pertemuan kalian di Juanda. Icha bilang bahwa pada saat itu ia tidak mengerti kenapa ia mau saja menuruti perkataanmu, seseorang yang baru dikenalnya."


"Itu semua, menunjukkan ikatan yang telah terjalin sejak lama. Itulah kenyataan yang terjadi tanpa kalian sadari."


"Pesan Bunda, jagalah komunikasi, selain itu yang paling penting selain komunikasi adalah rasa percaya. Bunda rasa, untuk urusan yang satu ini, tidak akan menjadi masalah untuk kalian berdua."


"Iya, Bun, In syaa Allah. Aku akan selalu berusaha menjadi suami dan sahabat terbaik untuk Icha."

__ADS_1


Kemudian, pagi itu Jovan dengan ditemani kedua orang tuanya pun berangkat menuju kantor Ever After.


Sesampainya disana, Marissa yang telah tiba terlebih dahulu, sedang melihat-lihat gaun pengantin yang terpajang di ruang display pun menghampiri Jovanka untuk memberikan salamnya.


Jovan pun tersenyum, karena melihat Marissa memakai gamis yang ia beli di Manado.


"Bajunya bagus," puji Jovanka.


"Ini kan Bang Jovan yang beliin sewaktu di Manado," jawab Marissa.


"Ooo jadi ini bajunya ??!! pinter juga kamu milihnya, Van !!" puji Jovanka.


"Naaah, karena Abang pintar milih baju buatku, sekarang pilihin bajunya lagi dong!!" pinta Marissa.


"Mbak, tolong bawakan baju yang kemarin saya pesan," pinta Jovan kepada karyawati Ever After.


"Sekalian dengan baju saya juga, ya Mbak. Terima kasih," tambah Jovan.


Tak lama kemudian,


"Ini baju akad prianya dan ini untuk wanitanya, kemudian ini baju untuk resepsi," ucap karyawati Ever After sambil membawakan 4 pasang busana pengantin.


"Cha, konsep untuk akad, tetap dengan warna putih. Abang pakai jas koko panjang, Icha pakai gaun... "


"Bling-blingnya banyak banget, Bang!!" potong Marissa.


"Suka ga??" tanya Jovan.


Marissa menatap gaun berwarna putih tulang berbahan tile tumpuk yang dihiasi dengan butiran kristal swarovski yang tersebar acak pada bawah gaunnya, dengan mata berbinar.


"Suka, bangeeet!!!" jawab Marissa.


"Eh Bang, tapi ini harganya berapa??" tanya Marissa dengan berbisik.


"Kenapa kok nanya harganya?? tugas kamu cuma jawab iya atau tidak, katanya mau terima beres??" jawab Jovan dengan berbisik juga.


"Kamu coba saja gaunnya dulu. Setelah itu coba cheongsamnya juga," lanjut Jovan.


Marissa pun meraba kain busana pengantin yang akan digunakan pada saat resepsi nanti.


"Bun, bajunya bagus banget!!" ucapnya dalam hati sambil melihat ke arah Jovanka.


"Cha, kamu coba saja dulu. Mau Bunda bantu?"


"Ga usah, Bun. Aku coba sendiri," jawab Marissa sambil berjalan ke ruang ganti.

__ADS_1


__ADS_2